Tampilkan postingan dengan label Tafsir Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2011

AYAT-AYAT TENTANG IMU PENGETAHUAN


AYAT-AYAT TENTANG IMU PENGETAHUAN
Created and published : //http.referensiagama.blogspot.com
by sariono sby

BAB I
PENDAHULUAN
Al-Qur’a>n sebagai sumber pemikiran Islam tiada ternilai harganya dalam memberikan inspirasi edukatif yang perlu dikembangkan secara filosofi maupun ilmiah. Pengembangan demikian diperlukan sebagai kerangka dasar membangun sitem pendidikan Islam. Salah satu diantaranya ialah dengan cara mengintrodusir konsep-konsep al-Qur’a>n tentang kependidikan.
Dalam kajian al-Qur’a>n, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Ini dapat kita perhatikan dalam kisah kejadian manusia pertama, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’a>n syrat al-Baqarah ayat 31;
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎz�tä ’n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ’ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJó™r'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%ω»|¹ ÇÌÊÈ
dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
Secara garis besar objek ilmu dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu alam materi dan alam non materi. Dalam kaitan dengan dua cabang ilmu ini sains mutakhir hanya mengarahkan pandangan kepada alam materi. Oleh karena itu mereka tidak mengakui adanya realitas yang tidak dapat dibuktikan dengan alam materi. Dengan demikian objek ilmu hanya mencakup sains kealaman dan terapannya.
Berbeda dengan sains mutakhir, sebagian ilmuwan Muslim khususnya kaum sufi melalui ayat-ayat al-Qur’a>n memperkenalkan ilmu yang mereka sebut al-H{ad}ara>t al-Ila>hiyah al-Khams (lima kehadiran ilahiyah) untuk menggambarkan hierarki keseluruhan realitas wujud. Kelima hal ini adalah :
1. Alam Na>sut (alam materi)
2. Alam Malakut (alam kejiwaan)
3. Alam Jabaru>t (alam ruh)
4. Alam La>hu>t (sifat-sifat ilahiyah)
5. Alam Ha>hu>t (wujud Z{at Ilahi).
Guna meraih kelima cabang tersebut al-Qur’a>n telah memberikan tuntunan sebagai berikut;
ª!$#ur Nä3y_t�÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«ø‹x© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t�»|Áö/F{$#ur noy‰Ï«øùF{$#ur öNä3ª=yès9 šcrã�ä3ô±s? ÇÐÑÈ
dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memperoleh pengetahuan)
Di dalam al-Qur’a>n ayat-ayat yang membicarakan Ilmu Pengetahuan sangat banyak, sebagaimana penulis temukan dalam ensiklopedi yaitu:
1. Mukjizat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’a>n, terdiri:
a. Ginokologi (ilmu janin), terdapat dalam 16 ayat
b. Tumbuh-tumbuhan, terdapat dalam 17 ayat
c. Hewan, burung, hewan melata, binatang air, serangga, terdapat dalam, terdapat dalam 43 ayat
e. Pohon hijau : (2 ayat)
f. Pembentukan air susu : ( 2 ayat)
g. Makhluk diciptakan berpasang-pasangan : (14 ayata)
i. Keistimewaan sidik jari manusia : (1 ayat)
j. Manfaat kurma bagi wanita bersalin : (2 ayat)
k. Pentingny akeseimbangan gizi : (2 ayat)
l. Energi angin : (8 ayat)
m. Air sebagai sumber kehidupan : (12 ayat)
n. Bahaya Alkohol bagi manusia : (3 ayat)
2. Fenomena Geografis dalam al-Qur’a>n terdapat dalam 29 ayat
3. Fenomena Alam dalam al-Qur’a>n, terdapat dalam 120 ayat
4. Ilmu Bumi dalam al-Qur’a>n, terdapat dalam 72 ayat
5. Keutamaan negeri-negeri, terdapat dalam 13 ayat
Melihat kenyataan bahwa ayat-ayat tentang ilmu pengetahuan sangat banyak, maka dalam makalah ini penulis memfokuskan kajian pada al-Qur’a>n surat al-‘Alaq ayat 1 s/d 5, dengan pertimbangan:
1. Surat al-‘Alaq merupakan surat yang pertama yang diturunkan oleh Alla>h
2. Dalam surat al-Alaq terdapat dasar-dasar ilmu pengetahuan
3. Lima ayat dalam surat al-‘Alaq mempnyai relevansi dengan perspektif “Kependidikan”.
4. Al-Qur’a>n surat al-‘Alaq ayat 1 s/d 5 adalah :
ù&t�ø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ
ù&t�ø%$# y7š/u‘ur ãPt�ø.F{$# ÇÌÈ “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Sebelum ayat tersebut turun ada sesuatu yang sangat menarik sehingga perlu penulis paparkan pada Bab Pendahuluan ini, dimana sebagaimana tercatat dalam buku sirah ibn Hisham, yang dikutip oleh Nurwadjah Ah}mad, bahwa Nabi Muh}ammad saw mulai melakukan kontemplasi (khalwat) ketika beliau menginjak usia 36 tahun. Sementara beliau menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun. Itu artinya dari permulaan melakukan kontemplasi (khalwat) hingga mendapat wahyu terdapat rentang waktu kurang lebih tiga setengah tahun, ini waktu yang relatif panjang. Nabi melakukan kontemplasi (khalwat) pada saat melihat tatanan masharakat sekitarnya yang sudah mulai rusak, dan terasing dari kemanusiaannya. Beliau melakukan kontemplasi (khalwat) bukan sekedar mengasingkan diri, tetapi mempunyai tujuan untuk mencari solusi bagaimana mengubah tatanan masharakat kearah yang lebih baik.
Dengan demikian pada saat Muh}ammad mencari kebenaran beliau memulainya dengan cara penyucian jiwa. Secara tersirat beliau menyadari bahwa dengan upaya melakukan menyucian jiwa akan memudahkan dalam menemukan solusi yang diharapkan. Lebih lanjut kenyataan ini telah menjadikan Muh}ammad siap melakukan komonikasi rahasia dengan Jibril. Lebih lanjut Nurwadjah Ah}mad menceritakan maksud suatu hadith bahwa sebelum Nabi mendapat wahyu pertama, pada awalnya ia sering mimpi yang benar (na>m al-S}a>lih}ah}). Maksudnya, keterhubungan Nabi dengan wilayah Ila>hi tidak bisa sekaligus, belaiu harus melalui tahap-tahap hingga akhirnya mampu menangkap penangkapan Jibril maupun sinyal-sinyal Ilahi secara sempurna.





BAB II
PEMBAHASAN
A. Subjek dan Objek Pembelajaran
Guna menjelaskan siapa sebenarnya subjek (pendidik) dan objek (pserta didik) yang dapat disarikan dari surat al-‘Alaq ayat 1 s/d 5 tersebut kita dapat menyimak sebuah hadith s}ah}i>h sebagaimana dikutip oleh al-Maraghi, maksudnya Nabi saw. mendatangi gua Hira’ (Hira’ adalah nama sebuah gunung di Makkah) untuk beribadah selama beberapa hari. Hingga pada suatu hari beliau dikejutkan oleh kedatangan Malaikat membawa wahyu Ila>hi. Malaikat berkata kepadanya ”Bacalah” Beliau menjawab, ”saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk kedua kalinya Malaikat memegang Nabi dan mengguncangnya hingga Nabi kepayahan, dan setelah itu dilepaskan. Malaikat berkata lagi kepadanya, ”Bacalah” Nabi menjawab, ”saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk ketiga kalinya Malaikat memegang Nabi dan mengguncang-guncangkannya hingga beliau kepayahan. Setelah itu barulah Nabi mengucapkan apa yang diucapkan oleh Malaikat, yaitu surat al-’Alaq ayat 1 s/d 5.
Dengan memperhatikan maksud hadith di atas maka menurut hemat penulis yang bertugas sebagai pendidik adalah Malaikat (Jibril). Sedangkan menurut Nurwadjah Ah}mad yang menjadi peserta didik adalah Muh}ammad, sebab beliau merupakan orang yang sedang mencari sesuatu petunjuk (pelajaran) dengan jalan kontemplasi (khalwat). Dengan semangat yang tinggi dan tidak mengenal kata putus asa, pada gilirannya apa yang beliau (Muh}ammad) cita-citakan mencapai keberhasilan. Menyimak perjalanan seorang murid dengan usaha yang gigih tersebut, dapat ditarik suatu keteladanan bahwa seharusnya seorang murid (termasuk kita semua) disamping dalam t}alab al-‘ilmi dengan gigih, tekun, dan ulet juga dengan penyucian jiwa yaitu memperbanyak taqarrub ila Alla>h.
B. Materi Pendidikan dan Pengajaran
1. Aqidah (Keimanan)
Kata Rabb pada surat al-‘Alaq ayat pertama dan ketiga apabila berdiri sendiri maka yang dimaksud adalah “Tuhan” yang tentunya antara lain karena Dialah yang melakukan tarbiyah (pendidikan) yang pada hakekatnya adalah pengembangan, peningkatan, serta perbaikan makhluk ciptaan-Nya.
2. Al-Qur’a>n dan Alam Semesta
Menurut Quraish Shihab, ”apabila suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut” Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa sesuai dengan arti iqra’ (membaca, menelaah, meneliti, menyampaikan dan lain sebagainya), maka objeknya bersifat umum, yaitu mencakup bacaan suci, baik itu ayat-ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Alhasil perintah iqra’ mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri.
Dengan bahasa yang lebih tegas Nurwadjah Ah}mad berpendapat bahwa, Tuhan menyuruh Muh}ammad agar membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis (qur’a>niyyah) ataupun ayat-ayat yang tercipta (kauniyyah), dan didalam membaca ayat-ayat Tuhan tersebut harus dilandasi atas nama Tuhan (bismi rabbik). Dengn demikian menurut hemat penulis bahwa ayat-ayat tertulis (qur’a>niyyah) adalah kitab al-Qur’a>n sedang ayat-ayat tercipta (kauniyyah) adalah alam semesta.
3. Biologi
Pada ayat kedua menyatakan khalaq al-insa>n min ‘alaq, Manusia adalah makhluk Alla>h yang pertama-tama disebut di dalam wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muh}ammad saw. Kita memahami hal itu karena manusialah yang dituju oleh al-Qur’a>n. Manusialah yang diberi keterangan, petunjuk,dan ketetapan-ketetapan hukum melalui kitab ini.
Pada ayat ini manusia disebut sebagai insa>n, maksudnya bahwa manusia sebagai makhluk ruh}ani yang mempunyai fitrah, keinginan, nafsu, akal, dan kemampuan-kemampuan yang lahir dari instrumen hidupnya itu. Dalam kaitan ini ada dua hal, yaitu:
a. Manusi diciptakan oleh Rabb, maka kalau seseorang mempunyai wajah cantik atau sebaliknya, itu semua datang dari Rabb. Oleh karena itu seseorang dilarang melecehkan sesama, tetapi jangan pula merasa rendah diri kepada sesama manusia.
b. Manusia diciptakan dari ’alaq (segumpal darah). Maksudnya adalah zigot, zat yang terjadi setelah sperma berpadu dengan ovum. Rabb-lah yang membentuk zat itu menjadi manusi, melalui proses yang sangat pelik. Maka manusia harus mengagumi keagungan Dia dan bershukur kepada-Nya.
C. Metode dan Tahap-Tahap Pembelajaran
1. Metode Pembelajaran
a. Pemberian Tugas (resitasi)
Metode pemberian tugas (resitasi) adalah cara pembelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggungjawabkannya. Pemberian tugas (resitasi) ini dapat merangsang anak untuk aktif belajar.
Metode pemberian tugas (resitasi) mempunyai beberapa kebaikan, diantaranya:
1) Pengetahuan yang diperoleh murid dari hasil belajar, hasil percobaan, hasil penyelidikan akan lebih meresap, tahan lama dan lebih otentik
2)Murid mempunyai keberanian mengambil inisiatif, bertanggungjawab dan berdiri sendiri
3) Dapat memperdalam, memperkaya dan memperluas wawasan tentang apa yang dipelajari
4) Dapat melatih dan membina kebiasaan peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri materi pembelajaran
5) Menimbulkan kegairahan bagi peserta didik dalam belajar sebab adanya variasi dalam pembelajaran
Dalam kontek pembelajaran pada surat al-’Alaq di atas, menurut hemat penulis bahwa guru (Jibril) dengan jelas telah memberika tugas (resitasi) kepada peserta didik (Muh}ammad) yang ujudnya adalah Muh}ammad selaku peserta didik diperintahkan untuk membaca (iqra>’). Pemberian tugas untuk membaca ini telah diulangi oleh pendidik (Jibril) sampai tiga kali. Tugas dengan pengulangan ini memberi makna bahwa tugas yang diberikan tersebut dipandang sangat penting dan bermakna bagi peserta pendidik, sebagaimana dijelaskan oleh Sakib Mah}mu>d bahwa perintah iqra’ dapat dimaknai: renungkan dengan cermat. Apa yang harus direnungkan? Segala sesuatu yang dapat diketahui dengan pancaindra seperti matahari, bulan, planet-planet, bintang-bintang, awan, gunung, sungai, air, tanaman, hewan, manusia, diri sendiri. dan lebih jauh Quraish Shihab berpendapat bahwa perintah iqra’ mencakup telaah terhadap alam raya, masharakat dan diri sendiri serta bacaan tertulis baik suci maupun tidak.
b. Pemodelan (Modeling)
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Model itu, memberi peluang yang besar bagi guru untuk memberi contoh cara mengerjakan sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Ketika guru mendemonstrasikan keterampilan atau pengetahuan tertentu paserta didik memperhatikan, mengamati kemudian mempraktikkan atau menirukan apa yang telah diperankan pendidik sebagai modeling.
Dalam pembelajran yang dialamai Muh}ammad saw, menurut pandangan penulis bahwa setelah pendidik (Jibril) menggunakan metode pemberian tugas (resitasi) kemudian dilanjutkan dengan pemodelan (modeling), yaitu pendidik memberikan contoh atau model bagaimana tatacara membaca, mengucapkan atau melafaz}kan materi pembelajaran dengan benar dan tepat baik itu menyangkut makhraj maupun tajwidnya.
Sementara pendidik (Jibril) memerankan sebagai model dan bertugas memberikan contoh kepada peserta didik, sementara peserta didik (Muh}ammad saw) memperhatikan, menyimak dan mengamati dengan penuh keseriusan kemudian mempraktikkan sesuai dengan apa yang telah didemonstrasikan oleh pendidik (Jibril)
b. Metode latihan atau drill
Metode ini merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan ketangkasan, keterampilan atau kebiasaan tertentu dari apa yang peserta didik pelajari.
Metode latihan atau drill ini secara jelas dapat kita petik pada saat peserta didik (Muh}ammad saw) berlatih membaca dan menirukan apa yang telah diajarkan dan diucapkan oleh pendidik (Jibril).
Menyimak beberapa metode pembelajaran yang telah digunakan oleh Pendidik (Jibril), maka dapat penulis tarik pengertian bahwa dalam proses belajar mengajar anatara pendidik (Jibril) dengan peserta didik (Muh}ammad saw) menggunakan tiga metode (pemberian tugas (resitasi), pemodelan (modeling), dan latihan (drill) secara simultan dan sesuai dengan kebutuhan menurut pendidik (Jibril)
1. Tahap-Tahap Pemebelajaran
a. Pada tahap awal, pembelajaran lebih memfokuskan pada hal-hal yang bersifat inderawi (khalaqa al-insa>na min ’alaq)
Al-Maraghi menafsirkan ayat tersebut bahwa, Alla>h menciptakan manusia dari segumpal darah (’Alaq), kemudian membekalinya dengan kemampuan menguasai alam bumi, dan dengan ilmu pengetahuannya bisa mengolah bumi serta menjinakkannya apa yang ada padanya untuk kepentingan umat manusia.
Lbih jauh Sakib Mah}mu>d menjelaskan maksud Manusia diciptakan dari ’alaq (segumpal darah), adalah zigot, zat yang terjadi setelah sperma berpadu dengan ovum. Rabb-lah yang membentuk zat itu menjadi manusia, melalui proses yang sangat pelik. Maka manusia harus mengagumi keagungan Dia dan bershukur kepada-Nya.
b. Setelah peserta didik mengetahui hal-hal yang bersifat inderawi, pembelajarannya dapat ditingkatkan kepada masalah-masalah yang bersifat abstrak dan spiritual (bismi rabbik alladhi> khalaq)
c. Setelah peserta didik menguasai dua hal tersebut, maka langkah berikutnya dalam proses pembelajaran adalah ditingkatkan pada kemampuan menuangkan / menuliskan idea / gagasan, sebab dengan demikian apa yang telah dipahami akan menjadi khazanah keilmuan khususnya generasi yang akan datang (’allama bi al-qalam)
d. Tahapan berikutnya adalah pembelajaran yang berkaitan dengan upaya-upaya yang akan meningkatkan seseorang (peserta didik) untuk mendapatkan pengetahuan dan hidayah dari Alla>h SWT (’allam al-insa>na ma>lam ya’lam).
D. Interaksi Pendidik dan Peserta Didik
Menyimak peristiwa turunnya surat al-’Alaq ayat 1 s/d 5 sebagaimana digambarkan dalam maksud hadith diatas, maka nampak dengan jelas bahwa dalam proses pembalajaran telah terjalin interaksi antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi ini berlangsung secara aktif dan dari dua arah, maksudnya pendidik (Jibril) memberikan tugas dan sekaligus memberikan pemodelan atau contoh pada saat murid belum dapat melaksanakan tugas tersebut sedangkan peserta didik (Muh}ammad) aktif memberikan jawaban walupun jawabannya berupa aku belum bisa membaca (ma> ana> biqa>riin) dan sakaligus sang murid aktif mempraktikkan atau menirukan apa yang diajarkan oleh pendidik.
Berkaitan dengan interaksi dalam pembelajaran ini ada beberapa prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli psikologi pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Syaiful Sagala sebagai berikut:
1. Law of Effect, yaitu bila hubungan antara stimulus dengan respon terjadi dan diikuti dengan keadaan memuaskan, maka hubungan itu diperkuat
2. Spread of Effect, yaitu reaksi emosional yang mengiringi kepuasan itu tidak terbatas kepada sumber utama pemberi kepuasan, tetapi kepuasan mendapat pengetahuan baru
3. Law of Exercice, yaitu hubungan antara perangsang dan reaksi diperkuat dengan latihan dan penguasaan
4. Law of Readiness, yaitu bila satuan-satuan dalam sistem syaraf telah siap berkonduksi, maka hubungan akan memuaskan
5. Law of Primacy, hasil belajar yang diperoleh melalui kesan pertama akan sulit digoyahkan
6. Law of Intensity, ialah belajar memberi makna yang dalam apabila diupayakan melalui kegiatan yang dinamis
7. Law of Recency, yaitu bahan yang baru dipelajari akan lebih mudah diingat
Berpijak pada uraian di atas, menurut hemat penulis prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh ahli psikologi pendidikan diatas, sebenarnya telah dilakukan oleh Rasu>lulla>h saw dalam proses pembelajaran, misalnya:
1.1. Law of Effect
Ini dapat kita perhatikan ketika Jibril berinteraksi dengan Muh}ammad dalam proses poembelajaran yang menimbulkan kepuasan
1.2. Spread of Effect
Dalam pembelajaran tersebut Muh}ammad sangat puas dimana beliau mendapatkan sesuatu yang selama ini sangat belaiu harapkan yaitu pengetahuan baru
1.3. Law of Exercice.
Pada awal pembelajaran Muh}ammad belum mempunyai kemampuan sesuai yang diperintahkan oleh pendidi (Jibril), tetapi melalui latian dengan bimbingan pendidik, akhirnya peserta didik dapat menguasai apa yang diajarkan oleh pendidik (Jibril)
1.4. Law of Readiness
Dengan latian dan penyucian jiwa yang dilakukan oleh Muhammad baik selama berada di tengah-tengah masharakat Quraish maupun selama khalwat di gua h}ira’ telah menjadikan dan membentuk jiwa Muh}ammad untuk siap menerima pembelajaran dan pengetahuan yang baru
1.5. Law of Primacy
Pembelajaran yang telah diterima itu merupakan kesan pertama yang tiada ternilai harganya dan tidak mungkin terlupakan untuk selamanya. Sebab Muh}}ammad disamping sangat terkesan kepada Pendidik (Jibril) juga materi pembelajaran itu sendiri yang merupakan kunci atau dasar-dasar untuk mengetahui rahasia dunia dan akhirat
1.6. Law of Intensity
Pembelajaran berlangsung secara dinamis dan melalui tahapan-tahapan, diantaranya mula-mula guru (jibril) member tugas kepada Muh}ammad untuk membaca, kemudian dilanjutkan dengan memberikan contoh bagaimana tatacara membaca yang benar, dan berikutnya Muh}ammad (murid) dengan penuh keseriusan dan tanggung jawab menirukan dan berlatih apa yang diajarkan oleh pendidik. Berpijak pada pembelajaran model diatas akhirnya pembelajaran memperoleh hasil yang sangat memuaskan
1.7. Law of Recency
Materi pembelajaran yang baru Muh}ammad terima adalah materi yang relevan dengan kebutuhan masharakat, maka bagi peserta didik (Muh}ammad) yang sejak lama telah mempersiapkan jiwanya untuk menerima pembelajaran dan materi (wahyu) akhirnya apa yang baru beliau pelajari dan beliau terima mudah diingat.
Berdasarkan pada uraian yang telah kami paparkan, dimana proses pembelajaran berlangsung secara dua arah, yaitu antara pendidik dan peserta didik keduanya melaksanakan pembelajaran dengan aktif sebagaimana telah kami paparkan diatas, dengan demikian penulis berkesimpulan bahwa pembelajaran dikatakan berhasil.
E. Jalur Komonikasi (hubungan) dalam Kehidupan Manusia.
1. Hubungan Manusia dengan Tuhan (h}abl min Alla>h)
Di dalam kita mengkaji hubungan manusia dengan Alla>h janganlah dibayangkan sebagai hubungan antara dua subyek, sebab di dalam hal hubungan dengan Tuhan ini terdapat wilayah suci dan luhur, lepas sama sekali dari sifat yang lain yaitu manusia. Hubungan manusia dengan Alla>h tidak didasarkan kepada hak dan kewajiban timbal balik. Tidak merupakan perjanjian (kontrak) antara manusia dengan Alla>h. Oleh karenanya tidak benar apabila seseorang diwajibkan melakukan sesuatu oleh Allah berarti ia harus mendapatkan sesuatu pula dari Alla>h.
Di dalam hubungan manusia dengan Tuhan ini, manusia berkedudukan sebagai hamba. Oleh karenanya merupakan suatu keharusan untuk mengabdikan dirinya kepada Alla>h. Pengabdian ini berupa kewajiban-kewajiban manusia mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini banyak dijelaskan dalam ayat al-Qur’an diantaranya:
a. Al-Qur’a>n surat al-Rum (30), ayat 30
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |Nt�ôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# t�sÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw @ƒÏ‰ö7s?
È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 š�Ï9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$# ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ .
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia enurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
b. Al-Qur’a>n surat al-Baqarah ayat 21
$pkš‰r'¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#r߉ç6ôã$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? .
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
Hubungan antara manusia dengan Tuhan yang bersifat penghambaan diri (penyerahan diri) manusia kepada-Nya tidaklah membawa faedah apapun kepada sang H}>a>liq (Alla>h), melainkan kepada yang menyembah (manusia). Diantaranya ialah manusia mempunyai tujuan hidup. Tujuan ini merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia, sebab tanpa tujuan yang jelas manusia tidak mempunyai ketenangan, kesetabilan , dan kepercayaan diri.
Tujuan hidup menimbulkan rasa shukur dalam hati manusia, menghilangkan sifat ujub, takabur, dan meniadakan sifat keserakahan. Seseorang yang telah memperoleh nikmat setelah berusaha baik sedikit ataupun akan senantiasa menshukurinya sebab ia sadar betul bahwa apa yang telah mereka peroleh dari usahanya itu semata-mata atas pemberian dan karunia Tuhan (Alla>h).
2. Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia (h}abl min al-Na>s)
Hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lain merupakan hubungan timbal balik, maksudnya masing-masing mempunyai hak dan kewajiban dalam hidup bersama itu. Hak dan kewajiban manusia umumnya adalah sama pada satu pihak dan pada pihak yang lain adalah berbeda-beda. Dengan demikian di dalam soal-soal hak dan kewajiban itu, terdapat faktor-faktor yang sama disamping faktor-faktor yang berbeda.
Sebagai gambaran bahwa seorang pendidik mendapat “haknya” untuk disebut pendidik, karena mereka mempunyai kelebihan “keadaan dan prestasi” dari pada si terdidik. Sekaligus pula hak pendidik ini membawa perbedaan kewajiban antara mereka dengan pihak si terdidik.
Dengan ilustrasi di atas jelaslah kiranya apa yang dimaksud dengan kesamaan dan perbedaan dalam hak dan kewajiban. Dengan dasar kesamaan hak dan kewajiban serta perbedaan-perbedaan kewajiban karena keadaan dan prestasi, oleh karenanya manusia diwajibkan tolong-menolong. Sebagaimana di gambarkan Alla>h dalam firman-Nya:
tbqãZÏB÷sßJø9$#ur àM»oYÏB÷sßJø9$#ur öNßgàÒ÷èt/ âä!$uŠÏ9÷rr& <Ù÷èt/ 4 šcrâ�ßDù'tƒ Å$rã�÷èyJø9$$Î/
tböqyg÷Ztƒur Ç`tã Ì�s3ZßJø9$# šcqßJŠÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# šcqè?÷sãƒur no4qx.¨“9$# šcqãèŠÏÜãƒur
©!$# ÿ¼ã&s!qß™u‘ur 4 y7Í´¯»s9'ré& ãNßgçHxq÷Žz�y™ ª!$# 3 ¨bÎ) ©!$# ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÐÊÈ
dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
2. Hubungan Manusia dengan Alam (h}abl min al-Ah sebagai bekal manusia dalam mengarungi hidup di dunia.
a. Hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan (Flora)
Tumbuh-tumbuhan termasuk makhluk Alla>h yang secara langsung dan tidak langsung dapat dirasakan manfaatnya dan sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Manusia dalam hidupnya banyak tergantung pada tumbuh-tumbuhan, karena , makanan pokok manusia sebagian besar berasal dari tumbuh-tumbuhan. Seperti beras, jagung, buah-buahan, sayur-sayuran, bahan bangunan dan lain sebaginya. Dengan demikian pada prinsipnya Alla>h telah memberikan karunia yang tidak terhingga kepada manusia.
Dalam kaitannya dengan tumbuh-tumbuhan tersebut, manusia sebagai penguasa (h}alifah ) mempunyai kewajiban untuk mengelola alam dengan baik, yaitu melalui:
1) Menjaga, memelihara dan melestarikan alam.
Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# ’Îû ÇÚö‘F{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw �=Ïtä† tûïωšøÿßJø9$# ÇÐÐÈ
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
2) Tidak menebang pohon sembaranga
(#qà)ÏÿRr&ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# Ÿwur (#qà)ù=è? ö/ä3ƒÏ‰÷ƒr'Î/ ’n<Î) Ïps3è=ök­J9$# ¡ (#þqãZÅ¡ômr&ur ¡
¨bÎ) ©!$# �=Ïtä† tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÒÎÈ
dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
3) Menanam pohon yang bermanfaat
4) Membayar zakat tanaman
b. Hubungan manusi Hewan
Hewan melata yang ada di bumi dan burung-burung yang berterbangan di udara, merupakan makhluk ciptaan Alla>h yang memiliki ruh (nyawa).
$tBur `ÏB 7p­/!#yŠ ’Îû ÇÚö‘F{$# Ÿwur 9ŽÈµ¯»sÛ çŽ�ÏÜtƒ Ïmø‹ym$oYpg¿2 HwÎ) íNtBé& Nä3ä9$sVøBr& 4
$¨B $uZôÛ§�sù ’Îû É=»tGÅ3ø9$# `ÏB &äóÓx« 4 ¢OèO 4’n<Î) öNÍkÍh5u‘ šcrçŽ|³øtä† ÇÌÑÈ
dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab. kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Dalam kaitannya dengan hubungan manusia dengan hewan ini, manusia dapat memanfaatkannya sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Alla>h, sebagai berikut:
1) Hewan yang boleh dibunuh sebab berbahaya, seperti anjing galak, tikus, burung gagak, dan burung elang
2) Hewan yang tidak boleh dibunuh, karena tidak membahayakan, misalnya semut dan tawon
3) Memberi makanan dan minuman
4) Tidak mempermainkan hewan
5) Jika akan mengambil manfaatnya, maka hendaknya disembelih dengan cara yang baik
6) Tidak membebani terlalu berat, bagi hewan yang dimanfaatkan untuk angkutan atau kendaraan
7) Tidak menyiksa atau menyakiti
8) Membayar zakat


BAB III
KESIMPULAN
1. Surat al-‘Alaq ayat 1 s/d 5 adalah salah satu firmanAlla>h yang menjelaskan ilmu pengetahuan dan mempunyai relevansi dengan perspektif Kependidikan
2. Malaikat Jibril bertugas subjek (pendidik) sedangkan Muh}ammad sebagai objek (peserta didik)
3. Dalam surat tersebut terdapat tiga materi pokok, yaitu:
a. Aqidah (keimanan)
b. al-Qur’a>n dan alam semesta
c. Biologi
4. Penulis menemukan tiga metode pembelajaran, yaitu:
a. Pemberian tugas (resitasi)
b. Pemodelan (Modelling)
c. Latihan (drill)
5. Materi pembelajaran sudah menggunakan tahapan secara hirarkis dan sistematis, yaitu :
a. Materi pembelajaran bersifat inderawi (khalaqa al-insa>na min ’alaq)
b. Materi pembelajaran bersifat abstrak dan spiritual (bismi rabbik alladhi> khalaq)
c. Pembelajaran diarahkan pada kemampuan menuangkan / menuliskan idea / gagasan, sebab dengan demikian apa yang telah dipahami akan menjadi khazanah keilmuan khususnya generasi yang akan datang (’allama bi al-qalam)
d. Pembelajaran berkaitan dengan upaya-upaya peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan dan hidayah dari Alla>h SWT (’allam al-insa>na ma>lam ya’lam).

5. Interaksi pembelajaran terjadi secara dua arah yaitu antara pendidik (Jubril) dan peserta didik (Muh}ammad) dan keduanya bersifat aktif.
6. Jalur atau hubungan dalam kehidupan manusia ada tiga, yaitu:
a. Hubungan manusia dengan Alla>h (h}abl min Alla>h)
b. Hubungan manusia dengan manusia yang lain (h}abl min al-Na>s)
c. Hubungan manusia dengan alam sekitar (h}abl min al-A

Senin, 04 Juli 2011

AYAT-AYAT TENTANG MATERI PENDIDIKAN ISLAM


AYAT-AYAT TENTANG MATERI PENDIDIKAN ISLAM
Published://http.referensiagama.blogspot.com by sariono sby

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan aktivitas yang sengaja dilakukan untuk mengaktualisasikan segala potensi yang ada pada diri peserta didik,baik yang menyangkut ranah afektif, kognitif maupun psikomotorik. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan individu secara penuh yang sarat akan norma dan nilai- nilai .
Bahkan apabila dikaji secara teliti, Islam merupakan agama ilmu ( akal ) dan agama amal. Karena itu Islam selalu mendorong umatnya untuk mempergunakan akalnya guna menuntut ilmu pengetahuan agar dengan demikian mereka dapat mengetahui dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Sebagai sumber pedoman bagi umat Islam, Al-Qur’an mengandung nilai-nilai yang membudayakan manusia, begitu pula dengan nilai yang berkaitan dengan pendidikan banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’an mengandung motivasi kependidikan bagi umat manusia. Tapi pada makalah ini kami membatasinya pada ayat-ayat yang berkenaan dengan materi pendidikan islam.















BAB II
PEMBAHASAN
A. Materi Pendidikan
Dari segi etimologi atau bahasa, kata pendidikan berasal kata "didik" yang mendapat awalan pe- dan akhiran -an sehingga pengertian pendidikan adalah sistem cara mendidik atau memberikan pengajaran dan peranan yang baik dalam akhlak dan kecerdasan berpikir.
Kemudian ditinjau dari segi terminology, banyak batasan dan pandangan yang dikemukakan para ahli untuk merumuskan pengertian pendidikan, namun belum juga menemukan formulasi yang tepat dan mencakup semua aspek, walaupun begitu pendidikan berjalan terus tanpa menantikan keseragaman dalam arti pendidikan itu sendiri. Pengertian pendidikan yang kami maksud sebagai berikut:
1. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
2. Dalam ”Basic Kompetensi guru”, Kata pendidikan dapat artikan yaitu:
a. Mengembangkan dan memberikan bantuan untuk berbagai tingkat pertumbuhan atau mengembangkan pengetahuan, kebijaksanaan, kualitas jiwa, kesehatan fisik dan kompetensi.
b. Memberikan pelatihan formal dan praktek yang di supervisi.
c. Menyediakan informasi.
d. Meningkatkan dan memperbaiki.
Sedangkan kata materi yang berarti bahan semakna dengan isi kurikulum. Dalam konteks pendidikan, Materi pendidikan adalah komponen penting yang harus disesuaikan dalam pendidikan, karena akan menyebabkan kesalahan yang sangat besar apabila sebuah materi pembelajaran tidak disusun sedemikaian rupa.
Apabila dikaitkan dengan ”PP No. 19 tahun 2005 Bab 1 ayat 1 pasal 5)” sebagaimana dikutip Dr. Wina Sanjaya, M. Pd, mengemukakan bahwa materi atau bahan pendidikan disebut standar isi yaitu : ruang lingkup materi dan tingkat komponen yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Maka hakikat dari penggunaan dan penyesuaian materi adalah agar peserta didik mampu terarah dengan baik, tidak hanya sekedar belajar tanpa meteri yang dipersiapkan dengan matang dan disesuaikan dengan usia perkembangan peserta didik.

B. Ayat-ayat tentang materi pendidikan.
Seperti yang telah kami sebutkan di atas bahwa banyak sekali ayat-ayat tentang pendidikan, begitu juga tentang materi pendidikan, di antaranya yaitu :
1. Al Qur’an surat Luqman ayat 12-19 sebagai berikut:
ô‰s)s9ur $oY÷s?#uä z`»yJø)ä9 spyJõ3Ïtø:$# Èbr& öä3ô©$# ¬! 4 `tBur öà6ô±tƒ $yJ¯RÎ*sù ãä3ô±o„ ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî Ó‰‹ÏJym ÇÊËÈ
12. Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9
ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ
13. Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $·Z÷dur 4’n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur ’Îû Èû÷ütB%tæ
Èbr& öà6ô©$# ’Í< y7÷ƒy‰Ï9ºuqÎ9ur ¥’n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ
14. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.
bÎ)ur š‚#y‰yg»y_ #’n?tã br& š‚͍ô±è@ ’Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@‹Î6y™ ô`tB z>$tRr& ¥’n<Î) 4 ¢OèO ¥’n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.
¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù ’Îû >ot÷‚|¹ ÷rr& ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$#
÷rr& ’Îû ÇÚö‘F{$# ÏNù'tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#‹ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4’n?tã !$tB y7t/$|¹r& (
¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷“tã Í‘qãBW{$# ÇÊÐÈ
17. Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Ÿwur öÏiè|Áè? š‚£‰s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? ’Îû ÇÚö‘F{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä†
¨@ä. 5A$tFøƒèC 9‘qã‚sù ÇÊÑÈ
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
ô‰ÅÁø%$#ur ’Îû šÍ‹ô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr& ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9
ÎŽÏJptø:$# ÇÊÒÈ
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

2. Surat Yusuf ayat 4- 8 sebagai berikut:
øŒÎ) tA$s% ß#ß™qムÏm‹Î/L{ ÏMt/r'¯»tƒ ’ÎoTÎ) àM÷ƒr&u‘ y‰tnr& uŽ|³tã $Y6x.öqx. }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur öNåkçJ÷ƒr&u‘ ’Í< šúïωÉf»y™ ÇÍÈ
4. (ingatlah), ketika Yusuf Berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, Sesungguhnya Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."

tA$s% ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw óÈÝÁø)s? x8$tƒöäâ‘ #’n?tã y7Ï?uq÷zÎ) (#r߉‹Å3uŠsù y7s9 #´‰øŠx. ( ¨bÎ) z`»sÜø‹¤±9$# Ç`»|¡SM~Ï9 Ar߉tã ÑúüÎ7•B ÇÎÈ
5. Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."

y7Ï9ºx‹x.ur šŠÎ;tFøgs† y7•/u‘ y7ßJÏk=yèãƒur `ÏB È@ƒÍrù's? Ï]ƒÏŠ%tnF{$# OÏFãƒur ¼çmtFyJ÷èÏR šø‹n=tã #’n?tãur ÉA#uä z>qà)÷ètƒ !$yJx. $yg£Jn@r& #’n?tã y7÷ƒuqt/r& `ÏB ã@ö6s% tLìÏdºtö/Î) t,»ptôžÎ)ur 4 ¨bÎ) y7­/u‘ íOŠÎ=tæ ÒOŠÅ3ym ÇÏÈ
6. Dan Demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana dia Telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

ô‰s)©9 tb%x. ’Îû y#ß™qムÿ¾ÏmÏ?uq÷zÎ)ur ×M»tƒ#uä tû,Î#ͬ!$¡¡=Ïj9 ÇÐÈ
7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.

øŒÎ) (#qä9$s% ß#ß™qã‹s9 çnqäzr&ur =ymr& #’n<Î) $oYŠÎ/r& $¨YÏB ß`øtwUur îpt7óÁãã ¨bÎ) $tR$t/r& ’Å"s9 9@»n=|Ê AûüÎ7•B ÇÑÈ
8. (yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

3. Surat Hud ayat 42-46 sebagai berikut:
}‘Édur “̍øgrB óOÎgÎ/ ’Îû 8löqtB ÉA$t6Éfø9$$x. 3“yŠ$tRur îyqçR ¼çmoYö/$# šc%Ÿ2ur ’Îû 5AÌ“÷ètB ¢Óo_ç6»tƒ =Ÿ2ö‘$# $oYyè¨B Ÿwur `ä3s? yì¨B tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÍËÈ
42. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. dan Nuh memanggil anaknya,[719] sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

tA$s% ü“Ír$t«y™ 4’n<Î) 9@t6y_ ÓÍ_ßJÅÁ÷ètƒ šÆÏB Ïä!$yJø9$# 4 tA$s% Ÿw tLÄŒ$tã tPöqu‹ø9$# ô`ÏB ̍øBr& «!$# žwÎ) `tB zOÏm§‘ 4 tA%tnur $yJåks]÷t/ ßlöqyJø9$# šc%s3sù z`ÏB šúüÏ%tøóßJø9$# ÇÍÌÈ
43. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari Ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha penyayang". dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Ÿ@ŠÏ%ur ÞÚö‘r'¯»tƒ ÓÉën=ö/$# Ï8uä!$tB âä!$yJ|¡»tƒur ÓÉëÎ=ø%r& uÙ‹Ïîur âä!$yJø9$# zÓÅÓè%ur ãøBF{$# ôNuqtFó™$#ur ’n?tã Äd“ÏŠqègø:$# ( Ÿ@ŠÏ%ur #Y‰÷èç/ ÏQöqs)ù=Ïj9 tûüÏJÎ=»©à9$# ÇÍÍÈ
44. Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan[720] dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi[721], dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ."

3“yŠ$tRur ÓyqçR ¼çm­/§‘ tA$s)sù Å_Uu‘ ¨bÎ) ÓÍ_ö/$# ô`ÏB ’Í?÷dr& ¨bÎ)ur x8y‰ôãur ‘,ysø9$# |MRr&ur ãNs3ômr& tûüÏJÅ3»ptø:$# ÇÍÎÈ
45. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya."

tA$s% ßyqãZ»tƒ ¼çm¯RÎ) }§øŠs9 ô`ÏB šÎ=÷dr& ( ¼çm¯RÎ) î@uHxå çŽöxî 8xÎ=»|¹ ( Ÿxsù Ç`ù=t«ó¡n@ $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íNù=Ïæ ( þ’ÎoTÎ) y7ÝàÏãr& br& tbqä3s? z`ÏB tûüÎ=Îg»yfø9$# ÇÍÏÈ
46. Allah berfirman: "Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya[722] perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan."

4. Surat Maryam ayat 27-33 sebagai berikut:
ôMs?r'sù ¾ÏmÎ/ $ygtBöqs% ¼ã&é#ÏJøtrB ( (#qä9$s% ÞOtƒöyJ»tƒ ô‰s)s9 ÏM÷¥Å_ $\«ø‹x© $wƒÌsù ÇËÐÈ
27. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. kaumnya berkata: "Hai Maryam, Sesungguhnya kamu Telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

|M÷zé'¯»tƒ tbr㍻yd $tB tb%x. Ï8qç/r& r&tøB$# &äöqy™ $tBur ôMtR%x. Å7•Bé& $|‹Éót/ ÇËÑÈ
28. Hai saudara perempuan Harun[902], ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina",

ôNu‘$x©r'sù Ïmø‹s9Î) ( (#qä9$s% y#ø‹x. ãNÏk=s3çR `tB šc%x. ’Îû ωôgyJø9$# $wŠÎ6|¹ ÇËÒÈ
29. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"

tA$s% ’ÎoTÎ) ߉ö7tã «!$# zÓÍ_9s?#uä |=»tGÅ3ø9$# ÓÍ_n=yèy_ur $wŠÎ;tR ÇÌÉÈ
30. Berkata Isa: "Sesungguhnya Aku Ini hamba Allah, dia memberiku Al Kitab (Injil) dan dia menjadikan Aku seorang nabi,

ÓÍ_n=yèy_ur %º.u‘$t7ãB tûøïr& $tB àMZà2 ÓÍ_»|¹÷rr&ur Ío4qn=¢Á9$$Î/ Ío4qŸ2¨“9$#ur $tB àMøBߊ $|‹ym ÇÌÊÈ
31. Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup;

#Ct/ur ’ÎAt$Î!ºuqÎ/ öNs9ur ÓÍ_ù=yèøgs† #Y‘$¬7y_ $|‹É)x© ÇÌËÈ
32. Dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan Aku seorang yang sombong lagi celaka.

ãN»n=¡¡9$#ur ¥’n?tã tPöqtƒ ‘N$Î!ãr tPöqtƒur ÝVqãBr& tPöqtƒur ß]yèö/é& $|‹ym ÇÌÌÈ

33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali".

5. Surat Al Baqarah ayat 132-133 sebagai berikut:
4Óœ»urur !$pkÍ5 ÞO¿Ïdºtö/Î) Ïm‹Ï^t/ Ü>qà)÷ètƒur ¢ÓÍ_t6»tƒ ¨bÎ) ©!$# 4’s"sÜô¹$# ãNä3s9 tûïÏe$!$# Ÿxsù £`è?qßJs? žwÎ) OçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡•B ÇÊÌËÈ
132. Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

÷Pr& öNçGYä. uä!#y‰pkà­ øŒÎ) uŽ|Øym z>qà)÷ètƒ ßNöqyJø9$# øŒÎ) tA$s% Ïm‹Ï^t7Ï9 $tB tbr߉ç7÷ès? .`ÏB “ω÷èt/ (#qä9$s% ߉ç7÷ètR y7yg»s9Î) tm»s9Î)ur y7ͬ!$t/#uä zO¿Ïdºtö/Î) Ÿ@ŠÏè»yJó™Î)ur t,»ysó™Î)ur $Yg»s9Î) #Y‰Ïnºur ß`øtwUur ¼ã&s! tbqßJÎ=ó¡ãB ÇÊÌÌÈ
133. Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia Berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami Hanya tunduk patuh kepada-Nya".


C. Materi pendidikan dalam Islam
Merujuk pada ayat-ayat tentang materi pendidikan baik dari surat Luqman ayat 12-19, Yusuf: 4-8, Hud: 42-46, Maryam: 27-33 dan Al Baqarah: 132-133, paling tidak terdapat tiga materi pendidikan. Ketiga materi pendidikan tersebut antara lain:
1. Materi Tauhid/Aqidah/ Keimanan.
2. Materi Ibadah/Syari’ah.
3. Materi akhlak.
Di bawah ini secara berurutan penulis paparkan kandungan dan tafsiran ayat tentang materi pendidikan , sebagai berikut :
1. Materi tauhid, terdapat dalam Al Qur’an :
a. Surat Luqman:
Pendidikan / Penanaman aqidah merupakan landasan pertama dalam pembentukan karakteristik dan moral anak. Hal ini telah dicontohkan Luqman al-Hakim dalam ayat 13: “Wahai anakku, janganlah kamu berbuat syirk kepada Allah, karena sesungguhnya perbuatan syirk itu adalah kezaliman yang besar”. Dalam ayat tersebut, jelas-jelas Luqman menasehati anaknya untuk tidak melakukan perbuatan syirk. Nasehat Luqman adalah ajaran tauhid kepada Allah swt.
Pada ayat 12 dan 14 Allah telah menunjukkan dua kali tentang pentingnya syukur, baik syukur kepada Allah maupun syukur kepada kedua orang tua. Syukur kepada Allah sebagai manifestasi dari segala nikmat dan anugerah yang telah diberikan oleh-Nya kepada manusia, dan itu sebagai wujud aplikasi keimanan seseorang kepada Allah.
Dengan demikian, hakekat syukur adalah proporsionalisasi, yaitu menempatkan nikmat yang diperoleh pada tempatnya sesuai dengan tempatnya, dan internalisasi, yaitu peresapan dan penghayatan yang sangat mendalam dalam rangka ma’rifat (mengenal) sang pemberi, untuk apa dan bagaimana nikmat itu diberikan.
b. Surat Yusuf
Dalam Surat Yusuf ayat 6 dapat dipahami adanya pendidikan aqidah atau konsep ketuhanan oleh Y’akub kepada Yusuf, mengatakan “ Dan Demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana dia Telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak.”
c. Surat Hud
Materi pendidikan aqidah yang terdapat dalam Surat Hud yang mengkisahkan nabi Nuh dan amaknya, berisi ajakan Nabi Nuh kepada keluarga dan masyarakat umumnya untuk tidak menyembah berhala dan supaya meyakini kekuasaan dan kebesaran Allah.
Hal itu dilakukan karena pada saat itu masyarakat telah berpaling dari agama tauhid yang dibawa oleh nabi Idris dan berganti menganut agama raja dengan menyembah berhala.

d. Surat Maryam.
Dalam surat Maryam ayat 30, menyatakan dengan jelas sekali bahwa nabi Isa secara intuitif (dengan wahyu Allah) berbicara dalam rangka untuk membebaskan ibunya dari tuduhan perzinahan dan yang terpenting adalah menunjukkan kepada masyarakat tentang kekuasaan Allah.
Dari kisah peristiwa itu masyarakat yang telah menuduh Maryam berbuat serong akhirnya tertepis dan sadar bahwa terdapat Dzat Yang Maha Kuasa, yang dapat menghendaki sesuatu terjadi walaupun secara akal sehat hal itu tidak mungkin terjadi. Inilah pokok materi tauhid dalam surat Maryam.
e. Surat Al Baqarah.
Di dalam surat Al Baqarah ayat 132 dan 133 merupakan penegasan bahwa Rasul-rasul Allah menekankan kepada anak-anaknya bahwa Allah telah memilih agama Islam sebagai agamamu. Begitu Juga pertanyaan Ya’kub kepada anak-anaknya tentang apa yang akan mereka sembah setelah beliau meninggal ?
Anak-anak Ya’kub pun menjawab bahwa mereka menyembah Tuhan Ya’kub dan nenek moyangnya, yaitu tuhan Yang Maha Esa . Inilah bukti materi tauhid yang disampaikan oleh nabi Ibrahim dan Ya’kub kepada anak-anaknya.
Dengan demikian tidak dapat dipungkiri bahwa Syirk dalam persoalan aqidah merupakan suatu ancaman utama dalam sistem kepercayaan dan keyakinan umat Islam. Tercatat setidaknya 169 kali persoalan syirk diungkap dalam berbagai surat dalam al-Qur’an.

Menurut pemikiran penulis, karena begitu fundamentalnya persoalan tauhid ini, Allah seringkali menekankannya dalam al-Qur’an. Sehingga pantas dan patut jika materi pendidikan aqidah dalam Al Qu’an menenpati posisi pertama dan utama.
Syukur kepada kedua orang tua merupakan manifestasi dari segala perhatian dan curahan kasih sayang yang diberikan orang tua kepada anaknya. Syukur adalah aktualisasi diri dari nikmat yang Allah berikan dengan penggunaan yang semestinya, pada penggunaan yang diridlai Allah swt.



2. Materi Akhlak, terdapat dalam Al Qur’an, yaitu:
a. Surat Luqman.
Nilai-nilai pendidikan akhlak mulia juga ditunjukkan dalam surat Luqman mulai dari ayat 12 sampai dengan ayat 19, dengan komposisi bahwa ayat 12 dan 14 tentang bersyukur, ayat 14 dan 15 tentang berbakti kepada kedua orang tua, ayat 17 tentang sabar, ayat 18 tentang etika berkomunikasi, berjalan dan bersuara (bergaul dengan masyarakat).
Pada ayat ke 14 Surat Luqman, materi akhlak menekankan kepada anak agar senantiasa mengormati ibu terlebih dahulu, ini disebabkan karena ibu telah melahirkannya dengan susah payah, kemudian memeliharanya dengan kasih sayang yang tulus ikhlas, sehingga ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak karena kelemahan ibu yang berbeda dengan bapak. Di sisi lain peranan bapak dalam konteks kelahiran anak lebih ringan di banding dengan peranan ibu
Dalam ayat 17, Luqman memerintahkan anaknya agar bersikap sabar terutama dalam menjalankan perintah Allah, karena semua itu membutuhkan tenaga dan usaha yang tidak sedikit serta keteguhan hati yang tak berisiko tinggi. Dalam konteks inilah, idealnya sabar harus dimiliki setiap anak, karena dengan kesabaran, anak akan dapat mengahadapi segala persoalan yang arif dan dewasa serta tidak cepat putus asa. Di sinilah pentingnya materi sabar dalam pendidikan untuk anak-anak, dan ini telah dibuktikan Luqman al-Hakim kepada anaknya

Pendidikan Aklak lainnya dapat disaksikan dalam ayat 18-19 yang menyangkut masalah etika berkomunikasi, berjalan, bertutur kata, dan bertutur sapa (bergaul dengan masyarakat). Ayat tersebut terdapat dalam term sebagai berikut: ”wala tusha’ir khaddaka li al-nasi wala tamsyi fi al-ardli maraha”. Al-Sha’r secara etimologis berarti memalingkan leher dan muka ke arah lain dengan perasaan sombong

b. Surat Yusuf
Aspek pendidikan akhlak dalam surat Yusuf 4-5 yaitu bertujuan untuk membagun hubungan harmonis diantara yusuf dan saudara-saudaranya dengan cara Ya’kub meminta kepada Yusuf untuk tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya, yang dinilai dapat menyebabkan iri dan dengki.
Sedang dalam ayat 6 materi akhlak terdapat dalam peristiwa upaya Ya’kub mengatasi kecemburuan saudara Yusuf yang lain atas perlakuannya kepada Yusuf dan Bunyamin.

c. Surat Hud
Dalam surat Hud, materi akhlak ditunjukkan dalam nasehat dan ajakan Nabi Nuh kepada kan’an supaya meninggalkan pergaulan dengan masyarakat yang sudah terkontaminasi oleh tradisi kerajaan yang menyimpang.
Moralitas Kan’an yang telah terpengaruh pergaulan dengan orang-orang kafir, menjadikan Kan,an menjadi anak yang durhaka kepada ayahnya (Nuh) dan ini mengisyaratkan aklak madzmumah yang harus dihindari menurut ajaran Islam.
Apa yang dilakukan Nuh merupakan realisasi tangung jawab pendidikan kepada anaknya. Kasih sayang dan perhatian nabi Nuh dilakukan untuk keberhasilan dan keselamatan anaknya, merupakan tanggung jawab moral orang tua kepada anaknya.


d. Surat Maryam
Dalam surat maryam 27-28 materi akhlak terdapat pada peristiwa sikap su’udzan dan tuduhan yang dilakukan umat/masyarakat saat merupakan akhlak madzmumah, walaupun itu suatu kewajaran secara akal, karena masyarakat mengetahui bahwa dalam keluarga Maryam bukan orang yang jahat.
Pada ayat 32 surat maryam jelas sekali perkataan Isa kecil tentang berbakti kepada ibunya dan Allah tidak menjadikan orang yang sombong lagi celaka.
Menurut hemat penulis, protektif dan pembelaan Isa terhadap ibunya walaupun secara intuisi merupakan wujud akhlak terpuji seorang anak untuk menjunjung tinggi orang tua, disamping pembelajaran akhlak yang ditampilkan pure kepada kaum nabi Isa saat itu.
3. Materi tentang ibadah dalam Al-Qur’an.
Ibadah adalah sutu kegiatan penghambaan seorang manusia kepada Allah, ketaatan terhadap apa yang telah diperintahkannya. Oleh karenanya ibadah digolongkan dalam dua kategori yaitu ibadah Mahdzoh (seperti syahadat, shalat dan lain-lain) dan ibadah ghoiru mahdzoh (beramal sholeh, yang didalamya termasuk berakhlakul karimah).
Di dalam Al Qur’an perintah ibadah sangat banyak sekali. Namun yang secara langsung tersurat kontek pendidikan ibadah di antaranya adalah:
a. Surat Luqman.
Pada ayat 12 dan 14 terdapat materi pendidikan ibadah yaitu perintah bersyukur kepada Allah yang disampaikan oleh Luqman kepada anakanya. Syukur atas nikmat dan karunia dari Allah merupakan bentuk ungkapan terima kasih seorang hamba kepada Sang Khaliq.

Ungkapan syukur dapat diimplementasikan melalui:
1) Lisan atau ucapan disebut syukur bil qoul
2) Hati atau wajah dengan menampakkan gembira disebut syukur bil qolbi
3) Penglihatan atau perbuatan disebut syukur bil fi’li

Sedangkan pada ayat 17 terdapat pendidikan ibadah dari Luqman kepada anaknya dalam bentuk perintah sholat, amar ma’ruf-nahi munkar dan perintah bersabar. Perintah ibadah dalam ayat ini saling berkaitan satu sama lain, karena shalat membawa dampak terlindungi dari perilaku mungkar . Sementara rintangan yang mempengaruhi kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar tidaklah ringan. Karenaya diperlukan sikap sabar dalam menjalankan perintah Allah swt. tersebut.
b. Surat maryam.
Materi pendidikan ibadah dalam surat maryam, secara langsung ditunjukkan dalam ayat 31. Dalam ayat tersebut Isa mengabarkan kepada umatnya tentang perintah mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.
Sementara pada ayat 29, ketika maryam dituduh melakukan sesuatu yang amat mungkar, maryam langsung menunjuk kepada anaknya (Isa), karena saat itu Maryam sedang melakukan puasa tidak berkata-kata.

D. Analisis Penulis mengenai ayat-ayat tentang materi Pendidikan Islam
Penanaman aqidah merupakan landasan pertama dalam pembentukan karakteristik dan moral anak. Islam mengajarkan agar orang tua membimbing anaknya agar memilki ahlak yang baik termasuk ahlak kepada Tuhan.


Pendidikan ibadah merupakan keharusan bagi setiap individu untuk mengantarkan anak sebagai hamba Allah yang sejati. Pendidikan ibadah ini harus diberikan kepada anak-anak, sebagai manifestasi penghambaan seorang manusia kepada Tuhannya.
Menurut hemat penulis, agaknya dikaitkannya ibadah individual (shalat) dengan kewajiban ber-amar ma’ruf nahi munkar sebagai ibadah sosial merupakan konsekuensi logis dari pandangan filosofis tentang manusia sebagai makhluk pribadi dan sosial, di samping sebagai makhluk yang berdimensi lahiriah dan spiritual






















BAB III
KESIMPULAN

Bertolak dari paparan uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu :
1. Luqman al-Hakim adalah manusia biasa yang dapat menembus sifat-sifat, kebiasaan-kebiasaan serta karakteristik manusia pada umumnya. Dia memiliki keutamaan (al-hikmah) yang sangat jarang dimiliki manusia lain. Keadaan inilah yang dapat membawa dirinya pada derajat yang sangat terhormat di hadapan Allah. Ia diposisikan hampir sama dengan para Nabi, walaupun pada hakekatnya tidaklah sama.

2. Ayat tentang materi pendidikan dalam Al Qur’an meliputi pendidikan aqidah, ibadah dan akhlak/moral. Ketiga materi tersebut merupakan satu paket yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Bila ketiga tata nilai tersebut bisa diserap oleh anak-anak dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, mereka akan menjadi manusia kamil sebagaimana yang diidealkan oleh pendidikan Islam.

Wallahu A’lamu bish Shawab













DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghalayini, Musthafa.. Jami al-Durus al-Arabiyah. Vol. 1. (Beirut: Mansurat al-Maktabat al-Mishriyah, 1987)

Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya (revisi terbaru), (Semarang: CV. Asy Syifa’, 2000)

Hilmi ‘Ali Sya’ban, Nuh ‘Alaih al- Salam, (Beirut: Dar al Kutub al-‘Ilmiyah, 1991)

Modul Orientasi Pembekalan Calon PNS, Basic Kompetensi Guru, (Jakarta : Departemen Agama Republik Indonesia, 2004)

Muhammad Abd al-Baqi.. al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an al-Karim. (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1986)

Mujama’ Khadim al-Haromain asy Syarifain al-Malik Fahd Littiba’at al-Mushaf asy Syarif, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Medinah Munawaroh , 1412 H)

Musthafa, Ibrahim.. al-Mu’jam al-Wasith. (Beirut: Dar al-Fikr, 1990)

Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah,Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2002)

UUD 1945, Undang-Undang Republik Indonesia dan Perubahannya, (Penabur Ilmu, 2004)

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Cet. IV ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008)

W.J.S. Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : PN Balai Pustaka,1984)

AYAT - AYAT TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NABI NUH KEPADA KAN’AN


AYAT - AYAT TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NABI NUH KEPADA KAN’AN
created and publised://http.referensiagama.blogspot.com
by sariono sby

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan Islam adalah salah satu sarana untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berlangsung seumur hidup dan pelaksanaannya dimulai sejak anak dilahirkan sampai akhir hayat serta menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Dengan demikian, pelaksanaan pendidikan Islam tidak hanya formal tetapi juga informal dan non formal, sehingga pendidikan Islam dapat dilaksanakan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Memahami lingkungan pendidikan Islam tidaklah dapat dipisahkan dari pada pemahaman akan konsepsi pendidikan itu sendiri. Karena pendidikan merupakan suatu proses yang berlanjut terus menerus, sebagai suatu proses yang berlangsung dalam bermacam-macam situasi dan lingkungan, baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkunga sekola dan masyarakat. Tiap-tiap lingkungan tersebut dapat memberikan pengaruh pada proses pembentukan individu melalui pendidikan yang diterimanya baik langsung maupun tidak langsung.
Pendidikan Islam mula-mula diberikan di lingkungan keluarga karena keluarga adalah benteng utama tempat anak-anak diasuh dan dibesarkan serta merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk memperoleh pendidikan. Segala kelakuan dan tindakan orang-orang dewasa dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi anak itu sendiri. Pendidikan Islam ini selanjutnya diberikan di lingkungan, sehingga kehidupan beragama yang telah dibina dalam keluarga akan terus-menerus berkesinambungan. Islam sebagai agama terakhir yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, sebagaimana dijelaskan dalam surat al Maidah ayat 3:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينا
“Pada hari ini Aku sempurnakan agamamu dan telah-Ku cukupkan kepadamu rahmat-Ku dan telah-Ku ridhai Islam menjadi agama bagimu (QS. Al-Maidah: 3)”.



BAB II
PEMBAHASAN

TAFSIR PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA ( NABI NUH DAN KAN’AN ).
A. Pengertian Pendidikan Islam
Untuk memahami pengertian pendidikan dengan benar, pendidikan dapat dibedakan dari dua pengertian, pengertian pendidikan dalam arti teoritik filosofis dan pengertian yang bersifat pendidikan dalam arti praktis. Pengertian pendidikan dalam arti teoritik filosofis adalah pemikiran manusia terhadap masalah-masalah kependidikan untuk memcahkan dan menyusun teori-teori baru dengan berdasarkan pada pemikiran normatif, spekulatif, rasional empirik, nasional filosofis maupun historis filosofik.
Pengertian Pendidikan dalam arti praktis adalah suatu proses pemindahan pengetahuan ataupun pengembangan-pengembangan potensi-potensi yang dimiliki subjek didik untuk mencapai perkembangan secara optimal serta membudayakan manusia melalui proses transformasi nilai-nilai utama. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN, bab I pasal 1) pendidikan diartikan sebagai: “Usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi perannya dimasa yang akan datang”.
Menurut Drs. H.M. Chalib Thoha, MA, Pendidikan Islam adalah pendidikan yang falsafah dan tujuan serta teori-teori dibangun untuk melaksanakan praktek pendidikan yang didasarkan nilai-nilai dasar Islam yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Hadith Nabi.
Menurut Prof. Dr. Oemar Muhammad At-Toumy Al-Syaibani, Pendidikan Islam diartikan sebagai usaha merubah tingkah laku individu didalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitar melalui proses pendidikan.
B. Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan Pendidikan secara umum adalah untuk mencapai tujuan hidup muslim, yakni menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk Allah SWT agar mereka tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berakhlaq mulia dari beribadah kepada – Nya. Jika kita berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti bicara tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai iman dan taqwa kepada Allah SWT sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.
Menurut Dr. Hasan Lunggalung, Tujuan Pendidikan Islam adalah suatu istilah untuk mancari fadhilah, kurikulum pendidikan Islam berintikan akhlaq yang mulia dan mendidik jiwa manusia berkelakuan dalam hidupnya sesuai dengan sifat-sifat kemanusiaan yakni kedudukan yang mulia yang diberikan Allah SWT melebihi makhluk-makhluk lain dan dia diangkat sebagai khalifah.
Senada dengan pendapat tersebut Abdurrahman An-Nahlawi berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan penghambaan kepada Allah SWT dalam kehidupan manusia baik secara individual maupun secara sosial.
Selanjutnya menurut pendapat pendapat Prof. H. Abuddin Nata, MA, bahwa tujuan pendidikan Islam memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan dimuka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai dengan kehendak Tuhan.
2. Mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya dimuka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan.
3. Mengarahkan manusia agar berakhlaq mulia sehingga ia tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya.
4. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya sehingga ia memiliki ilmu, akhlaq dan ketrampilan yang semua ini dapat digunakan guna mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya
5. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.
Apabila perumusan tersebut dikaitkan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan al-hadith maka tujuan pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
a. Tujuan pendidikan Islam adalah menumbuhkan dan mengembangkan ketaqwaan kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT:
b. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam” (QS. Al-Imran: 102).
b. Tujuan pendidikan Islam adalah menumbuhkan sikap dan jiwa yang selalu beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah AKU ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-KU” (QS. Ad-Dariyaat: 56).
c. Tujuan pendidikan Islam adalah membina dan memupuk akhlaqul karimah sebagimana sabda Nabi Muhammad SAW:
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق (رواه البخاري)
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik” (HR. Bukhari).
Sedangkan menurut pendapat Dr. M. Athiyah al-Abrasi maka tujuan pendidikan Islam bukan hanya sekedar memahami otak murid-murid dengan ilmu pengetahuan tetapi tujuannya, ialah mendidik akhlaq dengan memperhatikan segi-segi kesehatan, pendidikan fisik dan mental, perasaan dan praktek mempersiapkan manusia menjadi anggota masyarakat. Suatu moral yang tinggi adalah tujuan utama dan tertinggi dari pendidikan Islam dan bukan sekedar mengajarkan kepada anak-anak yang tidak diketahui mereka, tetapi lebih jauh dari itu menanamkan fadhilah, membiasakan bermoral, sopan santun, islamiyah, tingkah perbuatan yang baik sehingga hidup ini menjadi suci, kesucian yang disertai keikhlasan.

C. Tanggung Jawab Orang tua dalam Pendidikan Islam
Rumah keluarga muslim adalah benteng utama tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan Islam. Yang dimaksud dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam. Menurut Abdurrahman An-Nahlawi, tujuan terpenting dari pembentukan keluarga adalah sebagai berikut:
1. Mendirikan syariat Allah SWT dalam segala permasalahan rumah tangga.
2. Mewujudkan ketentraman dan ketenangan psikologi.
3. Mewujudkan sunnah Rasul SAW dengan melahirkan anak-anak saleh sehingga Rasul SAW merasa bangga dengan kehadiran kita.
4. Memenuhi kebutuhan cinta kasih anak.
5. Menjaga fithrah anak agar tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan.
Dalam pandangan Islam , anak adalah amanah yang dibebankan oleh Allah SWT kepada orang tuanya. Oleh karena itu harus menjaga, memelihara dan mendidik serta menyampaikan amanah itu kepada yang berhak menerimanya. Karena manusia adalah milik Allah SWT, mereka harus mengantarkan anaknya untuk mengenal dan menghadapkan diri kepada Allah SWT.
Dengan demikian, Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam bab IV, pasal 10 menyebutkan: “Pendidikan Keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama. Nilai budaya, nilai moral dan keterampilan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً
“Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6).
Maksud dari ayat ini adalah setiap orang yang beriman harus melakukan self education dan melakukan pendidikan terhadap anggota keluarganya untuk menaati Allah dan Rasulnya. Sesuatu hal yang mustahil dalam pandangan Islam bila seseorang yang tidak berhasil mendidik diri sendiri akan dapat melakukan pendidikan kepada orang lain. Oleh karena itu, menyelamatkan orang lain harus lebih dulu menyelamatkan dirinya dari api neraka. Tidak ada seseorang yang tenggelam yang mampu menyelamatkan orang lain yang sama-sama tenggelam.
Tanggung jawab keluarga untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya melalui pendidikan Islam juga telah ditegaskan dalam hadith Nabi Muhammad SAW:
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه (رواه البيهقي)
“Tiap-tiap anak dalam keadaan suci (fithrah) maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan mereka Yahudi, Nasrani, dan Majusi” (HR. Baihaqi).
Pengertian fithrah dalam hadith ini adalah sikap tauhid kepada Allah SWT, sejak manusia dalam kandungan, mereka telah melakukan perjanjian dengan Allah SWT untuk beriman dan bertauhid kepada-Nya. Orang tuanya bertanggung jawab saat kekuatan akal pikiran manusia belum sempurna dalam memiliki tanggung jawab untuk memelihara perjanjian sampai anak mampu menemukan dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak ini berlangsung terus sampai akhir hayat.
Dalam kaitan ini pula menurut Abdurrahman An-Nahlawi, orang tua pendidik berkewajiban melakukan dua langkah, yaitu:
1. Membiasakan anak untuk mengingat kebesaran dan nikmat Allah SWT serta semangat mencari dalil dalam meng- Esakan Allah SWT melalui tanda-tanda kebesaran-Nya.
2. Membiasakan anak-anak untuk mewaspadai penyimpangan-penyimpangan yang kerap membiasakan dampak negatif terhadap diri anak.

D. Aspek-aspek Pendidikan Islam dalam Keluarga
Sebagai realisasi tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak, ada beberapa aspek yang sangat penting untuk diperhatikan orang tua, yaitu:
1. Pendidikan Ibadah
2. Pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an serta Pokok-pokok ajaran Islam
3. Pendidikan Akhlaqul Karimah
4. Pendidikan Aqidah Islamiyah
Keempat aspek inilah yang menjadi tiang utama dalam pendidikan Islam:
a. Pendidikan Ibadah
Pendidikan shalat keluarga disebutkan dalam hadith Nabi Muhammad SAW:
مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر سنين (رواه أبو داود)
“Perintahlah anak-anakmu untuk menjalankan ibadah salat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (belum mau menjalankanya)”. (HR. Abu Daud)
b. Pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an serta Pokok-pokok ajaran Islam
Sebagaimana hadith Nabi Muhammad SAW:
خيركم من تعلم القرأن وعلمه (رواه البيهقي)
“Sebaiknya-baiknya dari kamu sekalian adalah orang-orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Baihaqi)
Penanaman nilai-nilai baik yang bersifat universal, kapanpun dan dimanapun disebutkan oleh manusia. Menanamkan nilai-nilai baik tidak berdasarkan pertimbangan waktu dan tempat, meskipun kebaikan itu hanya sedikit jika dibandingkan dengan kejahatan, baik antara sebiji sawi dan seluas langit dan bumi maka yang baik akan tampak baik dan yang jahat akan nampak jahat sebagai kejahatan. Penanaman pendidikan ini harus disertai dengan contoh-contoh konkret yang masuk pikiran akal anak sehingga penghayatan mereka disertai dengan kesadaran nasional, sebab dapat dibuktikan secara empirik di lapangan.
c. Pendidikan Akhlaqul Karimah
Penekanan utama pendidikan keluarga dalam Islam adalah pendidikan akhlaq, dengan jalan melatih anak membiasakan berbuat baik, menghormati kepada kedua orang tua, bertingkah laku yang sopan dan baik dalam perilaku keseharian maupun bertutur kata. Pendidikan akhlaq tidak dikemukakan secara teoritik melainkan disertai contoh-contoh konkrit untuk dihayati maknanya, dicontohkan kesusahan ibu mengandung.
d. Pendidikan Aqidah Islamiyah
Pendidikan Islam dalam keluarga adalah pendidikan aqidah Islamiyah, Aqidah adalah inti dasar keimanan seseorang yang harus ditanamkan kepada anak secara dini.

E. Kisah Nabi Nuh dan Kan’an
Nu>h} as mempunyai nama lengkap: Nuh bin Lamik bin Matwasyalah bin Khanukh (Idris) bin Yarad bin Mahlayil bin Qanin bin Anwasy bin Syith bin Adam ‘alaihissalam. Dalam hadith Shahih Bukhar disebutkan sebuah hadith dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh adalah sepuluh abad, semua orang yang hidup pada masa itu memeluk Islam.” Secara umum dapat dikatakan, Nabi Nu>h ‘alaihissalam diutus Allah SWT ketika manusia menyembah berhala dan tenggelam dalam kesesatan dan kekafiran, kemudian Allah SWT mengutusnya sebagai rahmat bagi umatnya.
Nu>h} as ketika diangkat menjadi Rasul berusia 450 tahun, Wafat pada usia 950 tahun, dengan demikian Nu>h} as berdakwah kepada umatnya selama lima abad / 500 tahun. Meski demikian pengikut Nu>h} as yang beriman hanya sedikit yaitu kurang dari 100 orang (80 orang). Didalam Al-Qur’an Allah SWT menceritakan kisah Nu>h} as dan kaumnya serta adzab berupa banjir/taufan yang diturunkan-Nya kepada mereka yang kafir, juga kisah penyelamatan yang Dia lakukan kepadanya dan orang-orang yang berada didalam perahu. Diantara surat yang mengangkat kisah ini adalah:
Nama Nu>h} as. disebutkan dalam al-Qur’a>n sebanyak 50 kali[1] dan diabadikan menjadi nama surat pada urutan ke 71. Secara garis besar sejarah Nu>h} as. dalam al-Qur’a>n berisi tentang penjelasan berikut: Nu>h} as. rasul pertama yang diutus ke bumi,[2] dakwah nabi Nu>h} as.,[3] Nabi Nu>h} menghadapi cobaan,[4] gelar 'Abd Shaku>r /hamba yang bersyukur,[5] terkabulnya doa nabi Nu>h} as.,[6] Allah menghancurkan kaum Nu>h} as.[7] keselamatan Nu>h} as. di atas kapal,[8] dan pujian atas nabi Nu>h} as.[9]
Sedangkan nama Kan’a>n tidak terdapat secara langsung dalam ayat, melainkan sebuah interpretasi. Ayat-ayat yang menjelaskan interaksi Nu>h} as. dan Kan’a>n tidak terdapat dalam surat Nu>h} itu sendiri, melainkan dalam surat Hu>d ayat 42 sampai 48.
1. Pendidikan Nu>h} as. terhadap Kan’a>n
Tema ini mencermati salah satu sisi kehidupan nabi Nu>h} bersama anaknya Kan’a>n. Berdasarkan uraian di atas, Nu>h} merupakan rasul pertama yang diutus Allah ke bumi. Oleh karena itu dakwah yang dilakukan sangat berat, mendapat hambatan dan rintangan dari umatnya, dan tidak terkecuali dari anaknya sendiri Kan’a>n
Interaksi Nu>h} dengan Kan’a>n memuat prinsip-prinsip pendidikan yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Nu>h} dengan karakter kerasulannya tidak mampu mengantarkan Kan’a>n untuk beriman kepada Allah. Terbukti Kan’a>n lebih memilih bergaul dengan orang-orang kafir dari pada harus mengikuti seruan ayahnya. Pada diri Kan’a>n lebih terlihat dominasi rasional dari pada emosionalnya. Hal ini terlihat dengan jawabanya yang diplomatis untuk menyalamatkan diri dari gelombang banjir dengan naik ke atas gunung.
Nu>h} menyadari akan kegagalannya mendidik Kan’a>n, lalu menyesalinya dengan mengadukan kepada Allah untuk mengadakan pembelaan terhadap nasib anaknya. Allah menegaskan bahwa ikatan keluarga hanya terjadi bila dalam naungan keimanan yang sama. Pada akhirnya diselamatkanlah orang-orang yang menerima seruan pendidikan dari Nu>h} as.
2. Ayat-ayat yang berhubungan dengan pendidikan Nu>h} as. kepada Kan’a>n
Interaksi pendidikan Nu>h} kepada Kan’a>n terdapat dalam surat Hu>d ayat 42 sampai 48. Interaksi itu tidak dijumpai pada ayat lain, sekalipun pada surat Nu>h} sendiri. Ayat-ayat tersebut pada awalnya menggambarkan peristiwa banjir bandang yang terjadi pada kaum Nu>h}, dimana Kan’a>n tidak termasuk dalam bahtera. Kisah berakhir dengan tenggelamnya orang yang tidak beriman dan diselamatkanlah bahtera Nu>h}.
3. Penafsiran ayat

}‘Édur “̍øgrB óOÎgÎ/ ’Îû 8löqtB ÉA$t6Éfø9$$x. 3“yŠ$tRur îyqçR ¼çmoYö/$# šc%Ÿ2ur ’Îû 5AÌ“÷ètB ¢Óo_ç6»tƒ =Ÿ2ö‘$# $oYyè¨B Ÿwur `ä3s? yì¨B tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÍËÈ
42. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. dan Nu>h} memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

Penafsiran
a) “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung dan Nu>h} memanggil anaknya”.
Maksudnya anak laki-laki istrinya.[10] Nama anak tersebut ialah Kan’a>n, dan menurut satu pendapat bernama Ya>m.[11] Usia Nu>h} pada saat itu 600 tahun, dimana pada usia 400 tahun diangkat menjadi rasul, dan hidup selama 350 setelah peristiwa angin taupan.[12]
b) “sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil”.
Maksudnya Kan’a>n berada pada agama yang berbeda dengan ayahnya. Atau berada terpisah dari bahtera. Menurut satu pendapat, Nu>h} tidak mengetahui bahwa Kan’a>n kafir, bahkan menyangkanya mukmin. Oleh sebab itu Nu>h} melarangnya bergaul dengan orang kafir.[13]
c) "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir".
Kondisi kaum Nu>h} telah berpaling dari jalan agama nabi Idris. Mereka mengembara ke jurang Nil di Mesir dan membangun komunitas sosial. Strata sosial kaum Nu>h} ini –menurut H}ilmi> ‘Ali> Sya’ba>n- terdiri dari tiga tingkatan. Pertama; strata para raja (mulu>k). Mereka mentahbiskan dirinya sebagai tuhan dan senantiasa dikelilingi oleh para pengawal kerajaan. Kedua; strata punggawa (jaba>birah), mereka membantu raja untuk memenuhi kepuasannya. Untuk tujuan itu, mereka berlaku diktator terhadap masyarakat. Ketiga; strata rakyat (ra’iyyah), mereka terdiri dari para pelayan dan budak yang mengabdi pada raja dan para pembantunya.[14]
Agama raja adalah agama yang harus dianut rakyatnya, ialah menyembah berhala dan shirik kepada Allah. Penentangan terhadap agama raja ini merupakan tindak kriminal terberat. Kondisi sosial dipenuhi dengan kerusakan, kekufuran dan kesesatan. Mereka minum khamr, menyembah berhala dan meninggalkan Allah. Mereka kaum yang pertama kali musyrik dimuka bumi.[15]

tA$s% ü“Ír$t«y™ 4’n<Î) 9@t6y_ ÓÍ_ßJÅÁ÷ètƒ šÆÏB Ïä!$yJø9$# 4 tA$s% Ÿw tLÄŒ$tã tPöqu‹ø9$# ô`ÏB ̍øBr& «!$# žwÎ) `tB zOÏm§‘ 4 tA%tnur $yJåks]÷t/ ßlöqyJø9$# šc%s3sù z`ÏB šúüÏ%tøóßJø9$# ÇÍÌÈ
43. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nu>h} berkata: "Tidak ada yang melindungi hari Ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha penyayang". dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Kejadian tenggelamnya Kan’a>n -menurut satu riwayat yang sahih- ketika itu Kan’a>n berkuda dengan sombongnya, waktu banjir bandang datang, ia mengetahuinya kemudian memberi tahu ayahnya. Pada saat itulah Nu>h} mengajak naik perahu. Belum sampai Nu>h} mengulangi panggilannya, Kan’a>n sudah tenggelam ditelan gelombang yang besar. Riwayat lainya menyebutkan, Kan’a>n membuat rumah dari kaca di atas bukit T{ursina untuk melindungi dirinya dari air bah. Ketika banjir bandang datang, ia masuk kerumah itu dan menguncinya dari dalam. Namun kemudian banjir menenggelamkan semuanya.[16]

Ÿ@ŠÏ%ur ÞÚö‘r'¯»tƒ ÓÉën=ö/$# Ï8uä!$tB âä!$yJ|¡»tƒur ÓÉëÎ=ø%r& uÙ‹Ïîur âä!$yJø9$# zÓÅÓè%ur ãøBF{$# ôNuqtFó™$#ur ’n?tã Äd“ÏŠqègø:$# ( Ÿ@ŠÏ%ur #Y‰÷èç/ ÏQöqs)ù=Ïj9 tûüÏJÎ=»©à9$# ÇÍÍÈ
44. Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ."

a) Tempat mendaratnya bahtera Nu>h} di atas Ju>di>, sebuah gunung dekat Mosul pada hari jum’at tanggal 10 Muh}arram. Pada saat itulah Nu>h} memerintahkan semua umatnya yang selamat untuk berpuasa sebagai tanda bersyukur kepada Allah.[17]
b) Menurut Qutb Nu>h} dan sekelompok kaumnya berada pada negeri yang makmur pada saat itu. Lalu diterpa banjir bandang tersebut.[18]

3“yŠ$tRur ÓyqçR ¼çm­/§‘ tA$s)sù Å_Uu‘ ¨bÎ) ÓÍ_ö/$# ô`ÏB ’Í?÷dr& ¨bÎ)ur x8y‰ôãur ‘,ysø9$# |MRr&ur ãNs3ômr& tûüÏJÅ3»ptø:$# ÇÍÎÈ
45. Dan Nu>h} berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya."

a) “Dan Nu>h} berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku”.
Nabi Nu>h} mengadu kepada Allah, kenapa anaknya tenggelam bersama orang-orang kafir. Padahal janji Allah itu pasti benar untuk menyelamatkan orang yang beriman. Pengaduan ini dilakukan Nu>h}, karena dalam keyakinan Nu>h}, Kan’a>n termasuk orang beriman. Hal ini terbukti dengan larangan Nu>h} kepada Kan’a>n agar tidak bergaul dengan orang kafir. Bukti lainnya, tidak mungkin Nu>h} membela keluarganya kalau tidak beriman. Pada kenyataannya, Kan’a>n berpenampilan iman dan merahasiakan kekafirannya. Keadaanyang sebenarnya itulah yang dibertahukan Allah kepada Nu>h}.
Diriwayatkan, bahwa kaum nabi Nu>h} yang beriman dari golongan wanita ialah “ ‘Umrah”, lalu dinikahi oleh Nu>h} dan memiliki tiga anak, yaitu Sa>m, H}a>m dan Ya>fits. Wanita kedua yang beriman ialah “ Wa>li’ah” dan dinikahi oleh Nu>h} dengan keturunan Kan’a>n. Hanya saja “ Wa>li’ah” ini kemudian munafiq lalu murtad dan akhirnya menyembah berhala. Pada saat itulah Nu>h} memisahkan diri dari mereka dan senantiasa mengikuti nasehat ayahnya yang bernama “La>mik” agar tidak menyeleweng dan tetap beribadah kepada Allah.[19]
b) “dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar, dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya”.
Janji Allah untuk menyelamatkan keluarganya yang beriman sehingga Nu>h} meminta realisasinya.[20] Nu>h} meminta rahmat kepada Allah agar ia dapat memberi shafa>’at kepada anaknya.[21]

tA$s% ßyqãZ»tƒ ¼çm¯RÎ) }§øŠs9 ô`ÏB šÎ=÷dr& ( ¼çm¯RÎ) î@uHxå çŽöxî 8xÎ=»|¹ ( Ÿxsù Ç`ù=t«ó¡n@ $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íNù=Ïæ ( þ’ÎoTÎ) y7ÝàÏãr& br& tbqä3s? z`ÏB tûüÎ=Îg»yfø9$# ÇÍÏÈ
46. Allah berfirman: "Hai Nu>h}, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan."

a) “Allah berfirman: "Hai Nu>h}, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan)”.
Allah mengingatkan Nu>h} bahwa ikatan keluarga bukan didasarkan pada ikatan darah saja, tetapi ikatan akidah. Karena anaknya tidak beriman, maka bukan termasuk keluarganya. Ikatan akidah merupakan ikatan yang kuat, bahkan melebihi ikatan keluarga. [22]
b) “Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik”.
Perbuatannya tidak baik maksudnya kafir kepada Allah dan durhaka kepada nabi Allah.[23]
c) “Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”.
Atas peringatan Allah ini, Nu>h} menangis selama 40 tahun, bahkan –dalam satu riwayat- selama 300 tahun.[24] Terlepas dari validitas keterangan ini, setidaknya data ini menunjukkan bahwa Nu>h} memiliki tanggung jawab dan kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan Kan’a>n.

4. Kandungan ayat
Kandungan ayat 42 sampai 46 surat Hu>d tersebut di atas secara garis besar sebagai berikut:
a) Nu>h} mengajak Kan’a>n untuk naik bahtera dan melarang bersama orang kafir.
b) Kan’a>n tidak mau naik bahtera Nu>h} karena ingin menyelamatkan diri ke puncak gunung.
c) Bahtera Nu>h} berlayar di atas gelombang dan mendarat di bukit judi dengan selamat bersama orang yang beriman.
d) Nu>h} membela Kan’a>n dan mengadukan kepada Allah atas tenggelamnya Kan’a>n.
e) Allah menegaskan bahwa ikatan akidah merupakan ikatan keluarga sejati.
5. Analisa
a) Tujuan pendidikan Nu>h} terhadap Kan’a>n
Tujuan pendidikan Nu>h} terhadap Kan’a>n adalah untuk pembebasan teologis dengan menanamkan keimanan kepada Allah. Realitas keagamaan pada masa Nu>h} seperti yang digambarkan di atas, menyebabkan misi risalah Nu>h} yang pertama dan utama ialah membebaskan sistem kepercayaan masyarakat dari keterkungkungan terhadap praktek pengabdian kepada berhala dan hegemoni raja. Dalam kondisi ini, misi risalah juga menyangkut pemberdayaan moralitas sosial.
Nu>h} tidak mengenalkan konsep ketuhanan secara rinci kepada Kan’a>n. Akan tetapi konsep akidah itu dipahami dari larangan Nu>h} kepada Kan’a>n untuk meninggalkan pergaulan dengan orang kafir dan sekaligus meninggalkan praktek kekafiran bersama mereka. Konsep ketuhanan digambarkan (dalam ayat 43) dengan Allah yang maha kuasa, yang mana pada saat itu tidak ada manusia dapat melindungi dari azab-Nya selain Allah sendiri yang Maha Penyayang.
b) Materi pendidikan Nu>h} terhadap Kan’a>n
Materi pendidikan Nu>h} terhadap Kan’a>n menyangkut pendidikan akidah dan moral. Berdasarkan uraian di atas, kondisi keagamaan pada saat itu telah terjadi kemusyrikan yang luar biasa. Hegemoni dan intimidasi kerajaan begitu kuat terhadap masyarakat yang mencoba keluar dari sistem agama kerajaan yang musyrik. Pendidikan untuk pembebasan teologis menjadi misi utama pendidikan Nu>h}.
Pada aspek pendidikan moral, Nu>h} ingin memberdayakan moralitas Kan’a>n dengan meninggalkan pergaulan bersama orang-orang kafir. Nu>h} mengajak keluar dari tradisi kerajaan dan masyarakat pada umumnya yang tidak beragama. Lingkungan pergaulan ini telah membesarkan Kan’a>n menjadi sosok anak didik yang keras kepala. Di samping itu, moralitas Kan’a>n mungkin dipengaruhi oleh faktor genetika Kan’a>n dari keturunan ibunya. Ibunya (Wa>li’ah) meskipun mau beriman, namun akhirnya musyrik, bahkan murtad dari agama Nu>h} dan kembali menyembah berhala. Hal ini menegaskan dominasi pengaruh lingkungan terhadap prilaku anak didik. Dengan kata lain, ajar (lingkungan) mengalahkan dasar (genetika).
c) Karakter pendidik
Sikap nabi Nu>h} yang sangat menonjol diprofilkan oleh al-Qur’a>n surat al-Isra> ayat 3 dengan hamba yang banyak bersyukur ('abd shaku>r). Sikap sukur ini cerminan dari keimanan dan ketaqwaannya. Termasuk dalam realisasi sikap sukur nabi Nu>h}, ditunjukkan dalam rangka tanggung jawabnya yang tinggi untuk mendidik Kan’a>n. Meskipun pada akhirnya pendidikannya gagal, namun tetap komitmen untuk membela anaknya.
Pembelaan nabi Nu>h} atas kegagalan pendidikannya, dijelaskan dalam ayat 45. Pada ayat tersebut Nabi Nu>h} mengadu kepada Allah, kenapa anaknya tenggelam bersama orang-orang kafir. Menurut al-Suyu>t}i, Nu>h} meminta realisasi janji Allah untuk menyelamatkan keluarganya.[25] Dengan kata lain, menurut Sha’ba>n, Nu>h} meminta rahmat kepada Allah agar ia dapat memberi shafa>’at kepada anaknya.[26]
Uraian tersebut menunjukkan bahwa Nu>h} sebagai pendidik memiliki tanggung jawab yang tinggi untuk keberhasilan dan keselamatan anaknya. Karakter pendidik yang dicontohkan menekankan pada jiwa pendidik yang tidak membangun interaksi pendidikan secara transaksional. Maksudnya jasa pendidikan menyangkut tanggung jawab moral terhadap keberhasilan anak didik di dunia dan keselamatannya di akherat.
Tampaknya sikap emosional Nu>h} sebagai ayah Kan’a>n tidak sampai hati melihat anaknya mengalami musibah tenggelam. Nu>h} seakan telah kehilangan pertimbangan rasionalnya, kenapa harus membela anaknya yang secara terang-terangan tidak memenuhi seruan pendidikannya. Inilah yang ditegaskan dalam ayat 46, yang mana –menurut Qutb- Allah mengingatkan Nu>h} bahwa ikatan keluarga bukan didasarkan pada ikatan darah saja, tetapi ikatan akidah. Karena anaknya tidak beriman, maka bukan termasuk keluarganya dan ikatan akidah ini merupakan ikatan yang paling kuat, bahkan melebihi ikatan keluarga.[27]
Apa yang dilakukan Nu>h} merupakan realisasi sikap syukur yang dimilikinya. Ia menyadari akan tanggung jawab pendidikan terhadap anaknya. Kasih sayang dan perhatian dicurahkan untuk keberhasilan dan keselamatan anaknya. Implikasinya terhadap pendidikan, sang pendidik harus mengembangkan kasih sayang terhadap anak didik, bahkan –menurut al-Ghazali>- memposisikannya seperti anak sendiri.[28] Dengan demikian terhindar dari interaksi pendidikan yang bersifat transaksional, karena didasari atas tanggung jawab moral untuk keberhasilan dan keselamatan anak didik.



d) Etika anak didik.
Ujian terberat dalam dakwah Nu>h} datang dari keluarganya, yaitu anak dan istrinya. Berdasarkan penjelasan al-Qurt}ubi>, Kan’a>n berada pada agama yang berbeda dengan ayahnya. Akan tetapi Nu>h} tidak mengetahui bahwa Kan’a>n kafir, bahkan menyangkanya mukmin. Karena itu Nu>h} melarangnya bergaul dengan orang kafir.[29]
Sedangkan istri Nu>h} yang melahirkan Kan’a>n –menurut penjelasan Sha’ba>n- termasuk munafik dan menghalangi dakwahnya. Diriwayatkan, bahwa kaum nabi Nu>h} yang beriman dari golongan wanita ialah “ ‘Umrah”, lalu dinikahi oleh Nu>h} dan memiliki tiga anak, yaitu Sa>m, H}a>m dan Ya>fits. Wanita kedua yang beriman ialah “Wa>li’ah” dan dinikahi oleh Nu>h} dengan keturunan Kan’a>n. Hanya saja “Wa>li’ah” ini kemudian munafiq lalu murtad dan akhirnya menyembah berhala.[30]
Kondisi sosial-agama pada saat itu adalah agama raja yang harus dianut rakyatnya dengan menyembah berhala dan shirik kepada Allah. Penentangan terhadap agama raja ini merupakan tindak kriminal terberat. Kondisi sosial dipenuhi dengan kerusakan, kekufuran dan kesesatan. Mereka minum khamr, menyembah berhala dan meninggalkan Allah. Mereka kaum yang pertama kali musyrik dimuka bumi.[31]
Misi pendidikan nabi Nu>h} yang utama ialah mengajak umatnya menuju agama tauhid dan meninggalkan penyembahan berhala. Dalam kontek pendidikannya terhadap Kan’a>n, Nu>h} telah melakukan dengan penuh kesabaran. Akan tetapi reaksi Kan’a>n sebagai anak didik tidak menjunjung etika pendidikan dan etika pergaulan.
Pada diri Kan’a>n lebih menonjol dominasi rasional daripada ikatan emosiaonalnya. Dominasi rasional ini terlihat pada pilihannya untuk naik ke atas gunung untuk menyelamatkan dirinya dari banjir bandang. Kan’a>n mengabaikan ikatan emosionalnya yang semestinya mempertimbangkan pendidikan (ajakan) yang dilakukan oleh ayahnya sendiri. Sikap keras kepala Kan’a>n sebagai anak didik ini telah menyebabkan kegagalan misi pendidikan nabi Nu>h}.
e) Metode pendidikan
Metode pendidikan Nu>h} terhadap Kan’a>n mengedepankan pendekatan rasional-teologis. Tatkala seruan beriman tidak dihiraukan, maka Nu>h} mendesak beriman dengan pendekatan factual-rasional. Yakni fakta akan terjadinya banjir yang siap menenggelamkan semuanya telah di depan mata, pada saat itulah Nu>h} mengajak berfikir kepada Kan’a>n agar segera menyelamatkan diri dengan naik bahtera.
Reaksi Kan’a>n menunjukkan sikap keras kepala dan beralasan berdasarkan pada pertimbangan rasionalnya sendiri, yaitu akan menyelamatkan dirinya dengan naik di atas puncak gunung. Disinilah metode Nu>h} menawarkan pendidikannya dengan pendekatan rasional, dengan tujuan agar berhasil. Namun pertimbangan anak didik juga menggunakan dalil rasional. Hanya saja rasionalitas Nu>h} atas bimbingan ilahi, sedangkan rasionalitas Kan’a>n didasarkan pada keinginan sikap keras kepala. Akhirnya misi pendidikan Nu>h} gagal karena sikap keras kepala anaknya.
Nu>h} dalam kapasitas sebagai nabi dan rasul memiliki keistemewaan sebagai penyebar risa>lah ila>hiyah. Oleh karenanya, tanggung jawab utamanya ialah sebagai rasul adalah menyebarkan ajaran Allah. Atas pemahaman ini, maka keilmuan pendidikan Nu>h} diperoleh dari Allah melalui wahyu. Tugas sebagai rasul memiliki cakupan interaksi sosial yang} sangat luas, karena berhubungan dengan misi dakwah kepada kaumnya. Dalam kapasitas sebagai ayah, interaksinya dengan Kan’a>n sarat dengan nilai-nilai pendidikan. Interaksi pendidikan yang terdata dalam al-Qur’a>n menggambarkan bagaimana perjuangan gigih Nu>h} untuk menanamkan keimanan terhadap anaknya. Karena problem krusial yang dihadapi Kan’a>n adalah pergaulannya dengan komunitas ateis (kafir). Nu>h} dengan tegas menyeru Kan’a>n meninggalkan hubungan dengan orang kafir ( surat Hu>d ayat 42).
Seruan Nu>h} agar Kan’a>n segera bergabung dengan keimanannya semakin gencar dilakukan, terutama ketika datang angin topan dan banjir bandang yang siap menenggelamkan semua kehidupan. Seakan-akan Nu>h} menjadikan fakta lingkungan yang siap menenggelamkan itu sebagai sarana pendidikan keimanan. Namun demikian Kan’a>n menolak ajakannya, seraya dengan daya tawar rasionalitasnya ingin menyelamatkan diri dari gelombang banjir dengan naik ke atas gunung.
Dari gambaran di atas dipahami bahwa dalam rangka mendialogkan pendidikan keimanan yang diperoleh Nu>h} melalui intuisi, konsep keimanan tidak sepenuhnya dapat diterima dengan pendekatan dogmatis-doktriner. Bahkan, ketika pemahaman keimanan itu harus diyakini dapat menyelamatkan dari bahaya banjir, Kan’a>n tetap menolak beriman. Tampaknya, metode pendidikan interaktif-dialogis ini tidak membawa hasil, bahkan yang terjadi justru sebaliknya, yaitu kegagalan pendidikan keimanan.












BAB III
KESIMPULAN

Dari paparan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa :
1. Pendidikan: Nu>h} menyadari akan kegagalannya mendidik Kan’a>n, lalu menyesalinya dengan mengadukan kepada Allah SWT untuk mengadakan pembelaan terhadap nasib anaknya. Allah SWT menegaskan bahwa ikatan keluarga hanya terjadi bila dalam naungan keimanan yang sama. Pada akhirnya diselamatkanlah orang-orang yang menerima seruan pendidikan dari Nu>h} as.
2. Ujian terberat dalam dakwah Nu>h} datang dari keluarganya, yaitu anak dan istrinya.
3. Interaksi pendidikan Nu>h} kepada Kan’a>n terdapat dalam surat Hu>d ayat 42 sampai 48.
4. Kandungan ayat 42 sampai 46 surat Hu>d tersebut di atas secara garis besar sebagai berikut:
a) Nu>h} mengajak Kan’a>n untuk naik bahtera dan melarang bersama orang kafir.
b) Kan’a>n tidak mau naik bahtera Nu>h} karena ingin menyelamatkan diri ke puncak gunung.
c) Bahtera Nu>h} berlayar di atas gelombang dan mendarat di bukit judi dengan selamat bersama orang yang beriman.
d) Nu>h} membela Kan’a>n dan mengadukan kepada Allah SWT atas tenggelamnya Kan’a>n.
e) Allah SWT menegaskan bahwa ikatan akidah merupakan ikatan keluarga sejati.
5. Tujuan pendidikan Nu>h} terhadap Kan’a>n adalah untuk pembebasan teologis dengan menanamkan keimanan kepada Allah. Materi pendidikan Nu>h} terhadap Kan’a>n menyangkut pendidikan akidah dan moral
6. Karakter: Sikap nabi Nu>h} yang sangat menonjol diprofilkan oleh al-Qur’a>n surat al-Isra> ayat 3 dengan hamba yang banyak bersyukur ('abd shaku>r).
7. Metode pendidikan Nu>h} terhadap Kan’a>n mengedepankan pendekatan rasional-teologis.
Demikian sekelumit paparan yang dapat kami sampaikan, tentunya masih banyak kekurangan disana-sini, oleh karena itu masukan/saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA


Nata, H. Abuddin, “Kapita Selekta Pendidikan Islam“, Bandung: Angkasa Bandung, 2003, 28.
Departemen Agama RI, “Al-Qur’an dan Terjemahannya” , Jakarta: CV.Pustaka Agung Harapan, 2006, 142.
Toha, H.M. Chalib, “Kapita Selekta Pendidikan Islam”, Yogyakarta: Pustaka, cet ke-I, 1996, 98.
Undan-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pelaksanaan, Jakarta: Sinar Grafika, cet ke-3, 1992, 12.
Al-Syaibani, Oemar Muhammad Al-Toumy, “Falsafah At-Tarbiyah Al-Islamiyah”, Ter.Dr.Hasan Lunggalung, Jakarta: Bulan Bintang, cet. Ke-I, 1979, 399.
Lunggalung, Hasan, “Azas-azas Pendidikan Islam”, Jakarta: Pustaka A;-Husna, cet ke-II, 1992, 117.
An-Nahlawi, Abdurrahman, “Ushulut Tarbiyah Islamiyah wa Asalihiha fi Baiti wal Madrasatul wal Mujtama”, Jakarta: Gema Insani Press, cet ke-3, 2002, 117.
Nata, H. Abuddin, “Filsafat Pendidikan Islam”, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, cet. Ke-I, 1997, 53 – 54.
Bukhari, Imam, “Shahih Bukhari”, Jakarta: Wijaya, 1984.
Al-Abrasy, M. Athiyah, “Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam”, Jakarta: Bulan Bintang, cet ke-4, 1984.


[1] Terdapat pada surat dan ayat berikut: Ali Imran 33 dan 44, al-Ni>sa>> 163, al-An’a>m 84, al-A’ra>f 59 dan 69, al-Taubah 70, Yu>nus 71, Hu>d 25, 32, 36, 42, 45, 46, 48, 49, Yu>suf 102, 109, Ibra>hi>m 9, al-Nah}l 43, al-Isra> 3, 17, Maryam 58, al-Anbiya> 7, 25, al-H}aj 42, al-Mu’minu>n 23, al-Furqa>n 37, al-Syu’ara> 15, 106, 116, al-‘ankabu>t 14, al-Ah}za>b 7, al-S}a>ffa>t 75, 79, S}a>d 12, Gha>fir 31, al-Syu>ra 13, Qa>f 12, al-D}a>riyya>t 46, an-Najm 52, al-Qamar 9, al-H}adi>d 26, al-Tah}ri>m 10, Nu>h} 1, 21, 26.
[2]al-Qur’>an: 4 (al-Nisa>’):163, 6 (al-An’a>m):84, 11 (Hu>d):25, 26 (al-Shu’ara>’):107, 29 (al-Hasahr):14, 37 (al-S{a>ffat):75, 57 (al-H{adi>d):26, 71(Nu>h):1,2, 5.
[3]Ibid., 4 (al-Nisa>’)163, 7 (al-A’ra>f):59,61, 62, 63, 64, 10 (Yu>nus):71,72 , 11 (Hu>d):25, 26,28,-31, 42, 23 (al-Mu’minu>n):23, 26 (al-Shua>ra>):105, 106, 108, 26, 110, 71 (Nu>h}):1, 2, 3, 8-20.
[4]Ibid., 7 (al-A’ra>f):60, 61, 10 (Yu>nus):71, 11 (Hu>d):27, 32, 14 (Ibra>hi>m):9, 23 (al-Mu’minu>n):24-26, 25 (al-Furqa>n):37, 26 (al-Shu’ara’)>:105, 111-113,116-118, 38 (S{a>d):12, 40 (al-Mu’min):5, 50 (Qa>f):12, 53 (al-Najm):52, 54 (al-Qamar):9, 10, 66 (al-Tah}ri>m):10, 71 (Nu>h{):6, 7, 21-27.
[5]Ibid., 17 (al-Isra>’):3.
[6]Ibid., 21(al-Anbiya>’):76,77, 26 (al-Furqa>n):119, 37 (al-S{a>ffat):75, 54 (al-Qamar):11, 12..
[7]Ibid., 7 (al-A’ra>f):64, 9 (al-Tawbah):70, 10 (Yu>nus):73, 11(Hu>d):37, 43, 44, 89, 23 (al-Mu’minu>n):27, 25 (al-Nu>r):37, 26 (al-Shu’ara>’):120, 29 (al-‘Ankabu>ta):14, 37 (al-S{a>ffat):82, 40 (al-Mu’min):31, 51 (al-D{ariyyat):46, 53 (al-Najm):52, 54 (al-Qamar):11, 12, 71 (Nu>h}):25.
[8]Ibid., 7 (al-A’ra>f):64, 10 (Yu>nus):73, 11 (Hu>d):37,38, 40-44, 48, 23 (al-Mu’minu>n):27-29, 26 (al-Shu’ara>’):119, 29 (al-‘Ankabu>t):15, 37 (al-S{a>ffat):76, 54 (al-Qamar):13-15, 69 (al-Ha>qqah):11.
[9]Ibid., 17 (al-Isra>’):3, 37 (al-S{a>ffat):78-81, 66 (al-Tah}ri>m):10.
[10]al-Suyu>t}i>, al-Durr al-Manthu>r, 433.
[11]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’, vol. 7, 38.
[12]H}ilmi> ‘Ali> Sya’ba>n, Nu>h}} ‘Alaih al-Sala>m ( Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1991), 14.
[13]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’, vol. 7, 38.
[14]Sha’ba>n, Nu>h}, 9.
[15]Ibid, 11.
[16]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’, vol. 7, 40.
[17]Ibid.
[18]Qutb, Fi Zila>l, 68.
[19]Sha’ba>n, Nu>h}, 22.
[20]al-Suyu>t}i>, al-Durr al-Manthu>r, 437.
[21]Sha’ba>n, Nu>h}, 44.
[22]Qutb, Fi Zila>l, 66.
[23]al-Suyu>t}i>, al-Durr al-Manthu>r, 439.
[24]Ibid.
[25]al-Suyu>t}i>, al-Durr al-Manthu>r, 437.
[26]Sha’ba>n, Nu>h}, 44.
[27]Qutb, Fi Zila>l, 66.
[28]al-Ghaza>li>, Ihya>’, vol. 1, 69.
[29]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’, vol. 7, 38.
[30]Sha’ba>n, Nu>h}, 22.