Tampilkan postingan dengan label materi klas IX. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi klas IX. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2011

SEJARAH MASUK DAN PERKEMBANGAN ISLAM DIINDONESIA


SEJARAH MASUK DAN PERKEMBANGAN ISLAM DIINDONESIA
by sariono sby
posted, http://referensiagama.blogspot.com

KARAKTERISTIK MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
Masuknya pengaruh agama dan kebudayaan Islam di Indonesia memiliki latar berlakang yang sama dengan agama Hindu-Budha, yaitu melalui jalur perdagangan dengan pedagang Arab, India dan Cina yang terlebih dahulu telah memeluk agama Islam.
Agama Islam diperkenalkan dan disebarluaskan dengan cara yang damai, tidak melalui peperangan atau pemaksaan. Peranan wali dari penduduk asli Indonesia turut serta dalam penyebaran agama Islam, yang menjadi menarik perhatian masyarakat adlah mereka tidak membuat dirinya menjadi berbeda dengan lainnya. Penggunaan pakaian dan pendekatan bahasa adalah cara yang efektif, diperkenalkannya unsur-unsur kesenian menambah khasanah kebudayaan Indonesia
PROSES MASUKNYA AGAMA ISLAM
Rute perdagangan melalui laut yang sering dipakai dalam oleh bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lainnya adalah Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Samudera Indonesia, Teluk Persia, Laut Merah, Laut Hitam, sampai Laut Tengah.
Sejak abad ke 7, sistem perdagangan Islam sudah terasa lebih maju dari bangsa-bangsa lainnya. Hal ini ditandai dengan :
1. Munculnya sistem perdagangan bebas, yaitu jual beli barang tanpa batas syarat.
2. Menggunakan perdagangan saham, bagi bangsawan bisa memberikan modal kepada suatu perusahaan dagang dengan membeli saham.
3. Banyaknya pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai oleh pedagang Islam.

SUMBER BUKTI MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA :
a. Catatan Pedagang Arab
Berdasarkan catatan dari Ibnu Hordadzbeth (844-848), Sulayman (902), Ibnu Rosteh (903), Abu Zayid (916) dan Mas’udi (955) menyebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya melakukan perdagangan dengan kerajaan Oman dengan menjual kayu, timah, gading, rempah-rempah, merica, pala dan lain-lain. Ini terjadi pada tahun 7 saat Sriwijaya dipimpin oleh Raja Zabaq.
b. Catatan Ibnu Batuta
Ibnu Batuta mendapat tugas untuk melakukan pelayaran ke Cina atas perintah Moh. Ibn Tuglag dari India. Ia mengemukakan bahwa di Indonesia sudah menggunakan nama-nama yang bernuansa Arab, yakni Syekh dan Malik.
c. Catatan Marcopolo
Saat perjalanan pulang Marcopolo dari Cina dan singgah di Perlak sudah melihat adanya kerajaan Islam di Tumasik dan Samudera Pasai. Kedua kerajaan tersebut menguasai Selat Malaka dan melakukan hubungan dagang ke Gujarat dan Benggala
d. Catatan Ma Huan
Pada tahun 1400 M, Ma Huan adalah seorang penulis muslim asal Cina ikut serta bersama Laksamana Cheng-Ho yang juga Muslim melakukan eskpedisi ke tanah Jawa. Catatannya yang ditulis dalam buku Yingyai Seng-lan, menuturkan bahwa orang Cina yang bermukim di Jawa berasal dari Kanto, Zhangzhou, dan Quanzhou, kebanyakan dari mereka telah masuk Islam dan mentaati agama.
e. Catatan Tome Pires
Dalam catatan orang Portugis yang bernama Tome Pires menyebutkan bahwa pada awal abad XVI kerajaan-kerajaan di Sumatera telah menganut ajaran Islam, di Tuban dan Gresik sudah terdapat keturunan ketiga para pengusaha-pengusaha beragama Islam.
f. Batu Nisan
Ditemukannya batu nisan yang memiliki corak bernuansa Islam, antara lain:
1. Makam Fatimah binti Maimun, diperkirakan meninggal pada tahun 1025.
2. Makam Sultan Malik al-Saleh, meninggal tahun 1297.
3. Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim, meninggal tahun 1419

WALI SONGO :
1. Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi, menyebarkan agama Islam di Gresik dengan menggunakan pendekatan pergaulan.
2. Sunan Ampel, menyebarkan agama Islam di Surabaya.
3. Sunan Bonang putra Sunan Ampel, menyebarkan Islam di Tuban.Sunan Drajat putra ketiga Sunan Ampel, menyebarkan Islam di Sedayu (Surabaya).
4. Sunan Giri (Raden Paku) murid Sunan Ampel, menyebarkan Islam di Gresik
5. Sunan Muria, menyebarkan Islam di daerah pedalaman Kudus.
6. Sunan Kudus (Udung), menyebarkan Islam di Kudus.
7. Sunan Kalijaga (Joko Said), menyebarkan Islam di Kadilangu (Demak).Sunan
8. Gunung Jati (Fatahillah), menyebarkan Islam di Cirebon

PENGARUH DAN PENINGGALAN BUDAYA WALI SONGO
• Raden Fatah sewaktu menjadi raja Demak tidak memakaipakaian adat Arab, tetapi memakai kuluk, jamang dan sumping.
• Cerita wayang lebih bervariasi, diambil cerita-cerita rakyat dan cerita dari kitab Mahabarata dan Ramayana. Bentuk wayang yang semula boneka dimodifikasi menjadi pipih terbuat dari kulit.
• Menara Mesjid Kudus mirip dengan candi dengan bentuk atap menyerupai pura.
• Sunan Giri menciptakan lagu-lagu bernuansa Islam, seperti Ilir-ilir dan Jamuran

AKULTURASI BUDAYA HINDU-BUDDHA DENGAN SILAM
• UPACARA ADAT
Pada tahun 1284 Saka atau 1362 M, raja Hayam Wuruk melakukan acara srada untuk memperingati wafatnya Rajapatni. Tradisi penghormatan terhadap roh nenek moyang terasa masih sangat kental, walaupun sudah masuk agama Hindu-Budha. Di saat masuknya agama Islam, upacara seperti ini tidak hilang malah dibumbui dengan unsur-unsur Islam.
• SENI BANGUNAN
Arsitektur bangunan mesjid dibuat secara khusus untuk membedakan dengan bangunan lainnya. Biasanya atap mesjid dibuat bertingkat, denah persegi panjang, memiliki serambi depan atau samping, dikelilingi benteng dan gerbang berbentuk gapura. Contoh-contoh mesjid seperti ini dapat dijumpai pada Mesjid Marunda, Mesjid Agung Demak, Mesjid Agung Banten, dan Mesjid Agung Cirebon.
• SENI SASTRA
Sastra karya Hamzah Fanshuri merupakan contoh hasil akulturasi kebudayaan Islam dengan Budha, seperti terlihat dalam karyanya yang berjudul Syair Perahu yang mengibaratkan hidup manusia di dunia bagaikan mengarungi lautan, dan Syait Si Burung Pingai yang menggambarkan jiwa manusia sama seperti burung yang sama seperti dzat Tuhan

1. SAMUDRA PASAI
• Orang Gujarat, Persia dan Arab yang berdagang dan menetap di muara Sungai Perlak dan muara Sungai Pasai mendirikan sebuah kesultanan. Dinasti Fatimiah runtuh tahun 1268 dan digantikan oleh dinasti Mamaluk yang beraliran Syafi’i, mereka menumpas orang-orang Syiah di Mesir, begitupula di pantai Timur Sumatera.
• Utusan dinastri Mamaluk yang bernama Syekh Ismail mengangkat Marah Silu menjadi sultan di Pasai, dengan gelar Sultan Malikul Saleh. Marah Silu yang semula menganut aliran Syiah berubah menjadi aliran Syafi’i.
• Sultan Malikul Shaleh digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Malikul Thahir, putra keduanya yang bernama Sultan Malikul Mansur memisahkan diri dan kembali menganut aliran Syiah.
• Saat Majapahit melakukan imperium ke seluruh Nusantara, kesultanan di Pasai tunduk dan berada di bawah kekuasaan Majapahit.
• Nama-nama sultan pengganti Sultan Malikul Saleh yang pernah berkuasa di Samudera Pasai adalah
1) Sultan Muhammad yang bergelar Sultan Malikul Tahir (1297-1363).
2) Sultan Ahmad yang bergelar Sultan Malik Az-Zahir (1326-1348).
3) Sultan Zainal Abidin (1348-1383)
• Sumber-sumber yang menyatakan keberadaan kesultanan di Pasai didapat dari catatan Ibnu Batuta saat ekspedisi dari India ke Cina tahun 1345 dan catatan Marcopolo dari Venesia tahun 1292.

2. KERAJAAN MALAKA
• Didirikan oleh Paramisora, pangeran Majapahit yang melarikan diri ke Tumasik setelah terjadi Perang Paregreg (1401-1406). Pelariannya ke Tumasik (Singapura) dilanjutkan ke Semenanjung Malaka.
• Paramisora membuat pelabuhan sebagai tempat singgah para pedagang dari luar negeri maupun dalam negeri.
• Paramisora mengganti agama lamanya dengan agama Islam dan berganti nama menjadi Sultan Iskandar Syah.
• Kesultanan berikutnya adalah Muhammad Iskandar Syah (1414-1424) yang menikah dengan putri dari Pasai.
• Sultan Mudzafat Syah menggantikan Muhammad Iskandar Syah melalui kudeta, selanjutnya kesultanan dilanjutkan Sultan Mansur Syah (1458-1477), Sultan Mahmud Syah (1488-1511).
• Tahun 1511 saat Kerajaan Malaka dipimpin Sultan Mahmud Syah, terjadi penyerbuan oleh bangsa Portugis yang dipimpin oleh Alfonso d’Alburquerque.
• Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke Johor dan mendirikan kerajaan Johor
• Masalah perpajakan diurus seorang tumenggung yang menguasai wilayah tertentu, urusan perdagangan laut diurus oleh syahbandar dan urusan perkapalan diurus oleh laksamana.

3. KERAJAAN ACEH
• Kerajaan Aceh didirikan Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1530
• Tahun 1564 Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan Alaudin al-Kahar (1537-1568).
• Pada masa kerajaan Aceh dipimpin oleh Alaudin Riayat Syah datang pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk meminta ijin berdagang di Aceh.
• Penggantinya adalah Sultan Ali Riayat dengan panggilan Sultan Muda, ia berkuasa dari tahun 1604-1607. Portugis melakukan penyerangan tapi usaha ini tidak berhasil.
• Setelah Sultan Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Muda dari tahun 1607-1636, kerajaan Aceh mengalami kejayaan dalam perdagangan. Banyak terjadi penaklukan di wilayah yang berdekatan dengan Aceh seperti Deli (1612), Bintan (1614), Kampar, Pariaman, Minangkabau, Perak, Pahang dan Kedah (1615-1619).
• Gejala kemunduran Kerajaan Aceh muncul saat Sultan Iskandar Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Thani (1637-1642). Pada masa ini terjadi pertikaian antara golongan bangsawan (Teuku) dengan golongan agama (Teungku), sedangkan golongan agama sendiri tidak pernah bersatu karena terdapat dua aliran yang berbeda, Syiah dan Sunni.

4. KERAJAAN DEMAK
• Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fatah. Yaitu keturunan Raja Brawijaya V yang menikah dengan putri Cina. Ketika Majapahit masih berkuasa walaupun dalam keadaan lemah, Raden Fatah diangkat menjadi bupati di Bintoro (Demak) dengan gelar Sultan Alam Akbar al Fatah. Tahun 1500 Demak menyerang Majapahit dan memindahkan pusat pemerintahan di Demak.
• Setelah Raden Fatah wafat, Demak diserahkan kepada Cu-cu atau Sumangsang, Selanjutnya Demak diperintah oleh Dipati Unus dari tahun 1507.
• Tahun 1513 Demak memimpin pasukan yang dipimpin oleh Dipati Unus melakukan usaha merebut Selat Malaka dari Portugis. Karena kejadian itu, Dipati Unus dikenal dengan panggilan Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran yang menyeberang ke Utara.
• Sultan Trenggana menggantikan saudaranya Dipati Unus dari tahun 1521-1546. Sultan Trenggana memperluas wilayah kekuasaan Demak ke Madiun (1529), Blora (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), Lamongan, Blitar, Wirasaba (1535), Kediri (1539), dan Blambangan (1546). Usaha Demak memperluas wilayah dilanjutkan ke Banten, Cirebon dan Jayakarta pada tahun 1525 dibawah pimpinan Fatahillah.
• Wafatnya Sultan Trenggana saat penaklukan Blambangan menimbulkan konflik keluarga yang ingin menguasai tahta kerajaan Demak. Adiknya yang bernama Pangeran Seda ing Lepen menjadi raja Demak, namun tidak berlangsung lama dan digantikan oleh Pangeran Prawata putra Sultan Trenggana. Namun Arya Penangsang putra Pangeran Seda ing Lepen sama-sama menginginkan tahta kerajaan Demak.

5. KERAJAAN BANTEN
• Untuk mengurangi pengaruh Portugis di Nusantara, Fatahillah membuat kerajaan Banten sebagai kerajaan bawahan Demak. Fatahillah melanjutkan penaklukannya ke Cirebon, dan kekuasaan Banten diserahkan kepada puteranya yang bernama Hasannudin.
• Pada tahun 1522 Banten memutuskan untuk melepaskan diri. Dengan demikian, Hasanuddin adalah pendiri dan peletak cikal-bakal kerajaan Banten. Hasanuddin dinikahkan dengan putri Sultran Trenggono
• Hasanuddin memiliki dua putera yaitu Maulana Yusuf dan Pangeran Jepara. Pangeran Jepara menikah dengan putri penguasa Jepara, Ratu Kali Nyamat dan menjadi pengganti penguasa Jepara.
• Pada tahun 1570 Banten diperintah Maulana Yusuf. Ia melakukan penaklukan ke kerajaan Pajajaran yang masih beragama Hindu.
• Setelah Maulana Yusuf wafat tahun 1580, kekuasaan diberikan kepada Maulana Muhammad. Proses peralihan kekuasaan ini mendapat tentangan dari Pangeran Jepara. Usaha Pangeran Jepara untuk menguasai Banten dilakukan dengan penyerangan, namun gagal karena Maulana Yusuf dibantu oleh para ulama.
• Tahun 1651-1682, Banten mengalami kejayaan saat diperitah oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Ia sangat keras terhadap Belanda. Anehnya, Sultan Haji (putra Sultan Ageng Tirtayasa) tidak menyetujui dan malah bersekutu dengan Belanda.

6. KERAJAAN MATARAM
• Jaka Tingkir menantu Pangeran Trenggono memindahkan pusat pemerintahan dari Demak ke Pajang, dan kemudian mendirikan kerajaan Pajang dan menjadi raja pertama di Pajang dengan gelar Hadiwijaya.
• Jaka Tingkir melakukan penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Timur. Ia memberikan hadiah kepada dua orang yang telah berjasa selama penaklukan, mereka adalah Ki Ageng Pamanahan yang ditempatkan di Mataram dan Ki Ageng Panjawi yang ditempatkan di Panjawi.
• Pada tahun 1578 didirikan keraton oleh Pamanahan di Plered sebagai ibukota wilayah Mataram. Setelah Pamanahan, kekuasaan wilayah dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Senapati. Kelak, Senapati yang menjadi peletak cikal-bakal kerajaan Mataram.
• Pada tahun 1613-1645, Sultan Agung membawa Kerajaan Mataram ke dalam masa kejayaan.
• Amangkurat I putera dari Sultan Agung melakukan kerjasama dengan Belanda untuk dapat mengatasi pemberontakan-pemberontakan di daerah. Belanda berkeinginan untuk menguasai tanah Jawa yang subur dengan memecah Mataram menjadi beberapa kerajaan kecil dan memaksa untuk dilakukan Perjanjian Giyanti (1755). Isi dari Perjanjian Giyanti adalah membagi kerajaan Mataram menjadi dua wilayah kekuasaan, yaitu Kesultanan Yogyakarta dengan Mangkubumi sebagai raja dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I, dan Kasunanan Surakarta dengan raja Susuhunan Pakubuwono III.
• Tahun 1813, oleh Belanda wilayah Mataram dibagi menjadi 4 bagian yaitu Yogyakarta, Surakarta, Pakualaman dan Mangkunegaran.

7. KERAJAAN GOA TALLO
• Goa dan Tallo merupakan kerajaan kembar, pada tahun 1603 Goa menjadi kerajaan Islam Daeng Manrabia masuk Islam dan bergelar Alauddin, Tallo menjadi kerajaan Islam saat Kraeng Matoaya masuk Islam dan bergelar Sultan Abdullah. Wilayahnya meliputi sebagian besar Sulawesi dan bagian timur Nusa Tenggara.
• Setelah Alaudin meninggal, tahta diserahkan kepada Hasanuddin (1654-1660). Usaha ayahnya menentang Belanda dilanjutkan, bahkan kegigihannya sangat merepotkan. Oleh karena itu Hasanuddin dikenal dengan “ayam jantan dari timur”. Penguasa Makassar selanjutnya adalah Mapasomba, putra Hasanuddin.
• Bone merupakan wilayah kekuasaan Makassar yang dipimpin oleh Aru Palaka menawarkan kerjasama untuk membantu Belanda. Tahun 1667, Belanda dapat menghancurkan Makassar dan memaksa dilakukan Perjanjian Bongaya, yang isinya antara lain
1) Pengakuan hak monopoli Belanda.
2) Belanda dapat mendirikan benteng-benteng pertahanan di Makassar.
3) Makassar melepaskan daerah-daerah kekuasaan.
4) Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone

8. KERAJAAN TERNATE DAN TIDORE
• Di pulau Maluku terdapat empat kerajaan besar, yaitu Jailolo, Bacan, Ternate dan Tidore. Ternate dan Tidore merupakan kerajaan besar yang menguasai persaingan perdagangan dibandingkan dengan lainnya. Dalam persaingannya Ternate membentuk Uli lima (persekutuan lima) yang terdiri dari Bacan, Obi, Seram dan Ambon, sedangkan Tidore membentuk Uli siwa (persekutuan sembilan) yang terdiri dari Jailolo, Makian, dan pulau-pulau kecil di Maluku sampai Irian.
• Portugis bersekutu dengan Ternate dan Spanyol bersekutu dengan Tidore. Dengan perjanjian Saragosa Spanyol menguasai Filipina dan Portugis menguasai Maluku.
• Sultan Tabariji dari Ternate ditangkap tanpa alasan jelas dan dibuang ke Goa. Melihat kejadian tersebut Sultan Hairun sebagai penguasa kerajaan Ternate secara terang-terangan menentang hak monopoli Portugis di Maluku, dengan tipu muslihat Sultan Hairun dibunuh oleh bangsanya sendiri.
• Tahun 1570 Sultan Baabulah berhasil mengusir Portugis dari tanah Ternate. Akhirnya Portugis keluar dari Maluku dan tinggal di daerah Timor Timur.

Kamis, 24 Februari 2011

TAKABUR


TAKABUR
by sariono sby
posted, referensiagama.blogspot.com

Saat ini banyak kita jumpai orang yang suka membanggakan diri, menganggap dirinya paling hebat dan melihat orang lain tidak sehebat dirinya.

Antara sikap yang amat tidak digemari oleh manusia untuk dihadapi ialah sikap sombong atau takabbur. Walaupun sikap ini tidak menyebabkan kekurangan kepada diri orang lain secara fizikalnya, tetapi mengucapkan perkataan-perkataan yang berbaur ketakburan atau kesombongan menyebabkan orang yang mendengar merasa meluat, tersinggung dan panas hati.

Di bawah ini kita akan coba mengupas secara terperinci mengenai sikap sombong atau takabbur ini.
A. PENGERTIAN TAKABUR

Sombong atau takabbur artinya perasaan tinggi diri oleh si pelaku terhadap satu atau lebih mengenai dirinya dalam aspek-aspek kehidupan. Seseorang itu boleh bersikap sombong kepada orang di sekelilingnya jika dia mendapati kedudukannya lebih tinggi berbanding orang di sekelilingnya. Kesombongan atau ketakabburan juga boleh berlaku apabila manusia mendapati keturunannya, sifat lahiriahnya sama ada cantik, kacak atau perkasa ataupun kaya dari segi material adalah lebih berbanding dengan orang lain.

Di dalam hal ini kita perlu menyadari hakikat bahawa tidak ada satu makhlukpun di dunia ini yang mengatakan bahawa dia berhak untuk berlaku sombong. Ini karena, kesombongan atau kebanggaan itu menunjukkan kebesaran atau kehebatan diri seseorang. Sedangkan kebesaran atau kehebatan adalah kriteria mutlak yang menjadi milik Allah s.w.t., dan tidak ada seorangpun yang boleh memilikinya. Ini seiring dengan sebuah hadis Qudsi yang bermaksud:

"Allah Ta'ala berfirman (di dalam Hadis Qudsi): Kesombongan adalah selendangKu dan kebesaran adalah sarungKu. Maka barang siapa menyamai-Ku salah satu dari keduanya, maka pasti Kulemparkan ia ke dalam Jahannam dan tidak akan Kupedulikan lagi."

Apabila kita meneliti maksud hadis ini, ia dengan jelas menyatakan bahawa kesombongan dan kebesaran itu hanya milik Allah s.w.t. semata-mata, tetapi bagaimanakah perasaan ini masih boleh timbul di dalam hati manusia?

Sebenarnya, perasaan sombong atau takabbur boleh berlaku apabila timbulnya suatu pandangan terhadap orang lain dengan pandangan yang kecil dan hina. Pandangan tersebut mungkin suatu pandangan yang secara faktanya benar. Umpamanya jika kita membandingkan pendapatan sebanyak Rp. 7000.000 sebulan dengan pendapatan sebanyak Rp.3500.000 sebulan, tentulah jumlah pendapatan pertama jauh lebih besar berbanding dengan jumlah pendapatan kedua. Walau bagaimanapun, kesombongan itu berlaku apabila pandangan tersebut beriringan dengan anggapan orang yang dipandangnya itu lebih kecil, serba kekurangan atau kurang berharga berbanding dengan dirinya. Ketakabburan berlaku apabila pandangannya itu tidak disertakan dengan kesyukurannya kepada Allah s.w.t. karena memberi kelebihan tersebut. Secara tidak langsung dia menganggap apa yang dimilikinya itu tidak mempunyai kaitan dengan rahmat atau rezeki yang diberikan oleh Allah. Ataupun dia menganggap bahawa dia sememangnya individu istimewa karena itu Allah memilihnya untuk memiliki kelebihan tersebut. Maka orang yang sombong dan takabbur itu menganggap dirinya lebih mulia dan terhormat berbanding dengan orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud;

"Sombong itu ialah menolak kebenaran dan menghinakan makhluk."

B. MACAM PERKARA YANG MENJADI OBYEK TAKABUR
Perkara-perkara yang biasanya menjadi bahan kesombongan atau ketakabburan sebagaimana yang dinyatakan di dalam Kitab Ihya Ulumuddin (tulisan Imam Al-Ghazali) ada tujuh perkara, iaitu ilmu pengetahuan, amalan dan peribadatan, keturunan, keindahan dan kelebihan pada bentuk fizikal, harta kekayaan, kekuatan fizikal dan kuasa atau pengaruh.

1) Dalam aspek ilmu pengetahuan, lazimnya kesombongan itu berlaku apabila seseorang itu telah mendapat pengiktirafan daripada masyarakat tentang ilmu yang ada padanya. Mungkin apabila orang memberi 'title' ustaz, orang alim atau sebagainya, pada anggapannya dia benar-benar telah berilmu. Lantas, orang yang sombong inipun menganggap orang lain itu bodoh dan jahil

Sebaliknya, haruslah disedari bahawa menuntut ilmu pengetahuan bagi seorang muslim sebenarnya adalah untuk membawa diri dan jiwanya kepada suatu keinsafan tentang kedudukannya sebagai seorang hamba dan kedudukan Tuhannya sebagai Pencipta. Ilmu pengetahuan yang dimilikinya seharusnya akan menambahkan lagi nilai ketakwaan kepada Allah s.w.t.. Seiring dengan firman Allah yang bermaksud;

"Bahawasanya yang dapat merasakan takut kepada Allah dari golongan hamba-hamba-Nya itu ialah alim ulama"

2) Amalan dan peribadatan. Memang tidak dinafikan, apabila masyarakat mengiktiraf seseorang itu sebagai orang warak dan bertakwa, bagi mereka yang sombong dan takabbur, dia akan mengira-ngira dia telah banyak melakukan amal ibadat. Dia akan mengharapkan agar dia diberi keutamaan dalam majlis-majlis tertentu, diraikan dan diberi puji-pujian oleh masyarakat.

3) Keturunan atau salasilah. Tanpa sedar, manusia lazimnya akan berbangga dengan keturunan mereka seperti daripada kerabat diraja, golongan aristokrat, bangsawan dan sebagainya. Perasaan ini secara tanpa sedar juga pernah dialami oleh seorang sahabat Rasulullah s.a.w., yakni Abu Dzar. Beliau berkata;

"Pada suatu hari, ketika aku berada di hadapan Rasulullah s.a.w., datanglah seorang yang berkulit hitam. Lantas saya menyapanya, "Hai anak orang hitam" Apabila Rasulullah s.a.w. terdengar sahaja aku menyebut anak orang hitam, baginda menempelakku dengan mengatakan; Hai Abu Dzar, tidak ada kelebihan bagi seseorang yang berketurunan kulit putih di atas orang yang berketurunan kulit hitam. Alangkah menyesalnya aku apabila telah terlanjur mengucapkannya. Lalu akupun membaringkan tubuhku dan berkata kepada orang tersebut; Nah saudara, pijaklah pipiku ini."

4) Kecantikan atau ketampanan. Kesombongan atas sebab ini amat mudah untuk diterima oleh sesiapa sahaja. Suatu anugerah yang Allah berikan sejak dari manusia dilahirkan. Orang yang cantik atau tampan mudah sahaja menjadi tumpuan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Seseorang yang tidak mempunyai iman yang kuat, sudah pasti amat mudah merasa bangga dan sombong dengan apa yang ada padanya.

5) Kesombongan amat mudah berlaku di kalangan mereka yang berada dan kaya. Terdapat satu kisah yang menceritakan tentang perkara ini yang boleh dijadikan sebagai suatu pengajaran;

Abu Bakar Al-Hazali berkata:

"Suatu hari kami bersama Hassan. Lalu Ibn al-Ahlam datang kepada kami hendak bercukur. Dia memakai jubah sutera tersusun di atas betis, tersingkap pula bahagian luarnya. Dia berjalan berlenggang. Perbuatannya yang sedemikian itu dilihat oleh Hassan, lalu Hassan pun berkata: "Sombongnya, dia memalingkan pipi dan menampakkan kebodohannya. Engkau akan terlihat kebodohanmu dalam nikmat yang tidak disyukuri dan tidak menggunakannya sesuai dengan perintah Allah serta tidak pula memberikan haknya pada setiap yang memerlukan. Nikmat itu hak Allah dan dengannya syaitan sentiasa mencari mangsa. Demi Allah, seseorang yang berjalan dengan wataknya atau bergerak seperti orang gila itu lebih baik daripada ini." Ibn al-Ahlam mendengar lalu dia kembali dan minta maaf kepadanya. Hassan berkata, "Jangan kau minta maaf padaku, tapi bertaubatlah kepada Allah. Tidakkah engkau dengar firman Allah,

(Yang maksudnya berbunyi) :"Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong, sesungguhnya engkau itu tiada dapat menembusi bumi dan tidak akan engkau sampai setinggi gunung." (Al-Isra' :37)

6) Kekuatan dan keperkasaan tubuh. Manusia amat mudah merasa amat bangga dan sombong apabila memiliki tubuh yang kuat dan perkasa. Kelebihan yang dimilikinya kadang-kadang menjadi bahan untuk mengancam orang lain yang lebih lemah. Atau untuk memaksa orang-orang yang lebih lemah menuruti kemahuannya. Di dalam hal ini, Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud;

"Orang yang paling gagah perkasa di antara kamu semua ialah orang yang dapat mengalahkan nafsunya pada waktu marah dan orang yang tersabar di antara kamu semua itu ialah orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain padahal ia mampu untuk membalasnya."

7) Manakala perkara yang terakhir sekali yang dinyatakan oleh Imam al-Ghazali sebagai perkara yang boleh menimbulkan kesombongan ialah pengaruh ataupun kuasa.

Pemimpin yang tertipu dengan perasaannya, walau di peringkat mana sekalipun kepimpinannya akan merasa bahawa dirinya sudah cukup hebat berbanding orang lain.

C. BAHAYA SIKAP TAKABUR

Kesombongan atau takabbur merupakan suatu perasaan yang apabila ia timbul dan tidak dikendalikan dengan baik dan penuh keinsafan, akan menjadikan pemiliknya amat kerugian.
1. Sikap ini mampu menjadi penghalang bagi seseorang untuk ditempatkan di dalam syurga, disebabkan sifat ini menjadi pemisah antara seseorang dengan akhlak dan budi pekerti kaum mukmin keseluruhannya. Sebagaimana yang telah dinyatakan sebelum ini, takabbur atau sombong adalah rasa tinggi diri berbanding dengan orang lain. Seseorang yang memiliki sifat ini sudah pasti tidak mempunyai perasaan menyayangi saudara mukminnya yang lain sebagaimana dia menyayangi dirinya sendiri.

2. Orang yang sombong juga tidak akan dapat meninggalkan perasaan dendam, memberi nasihat kepada saudara muslim yang lain secara jujur atau ikhlas dan tidak dapat melaksanakan budi pekerti yang baik.

3. Sifat sombong atau takabbur juga sebenarnya menyebabkan seseorang itu awal-awal lagi akan disisihkan oleh Allah swt di dunia sebagaimana firman-Nya yang bermaksud;

"Nanti Aku palingkan daripada ayat-ayatKu orang-orang yang sombong di muka bumi tanpa kebenaran." (Al-A'raf: 146)

4. Selain itu natijah kesombongan juga, menyebabkan pintu hati pengamalnya tertutup dari menerima hidayah dan kebaikan dari Allah sebagaimana firman Allah yang bermaksud;

"Demikianlah Allah menutup tiap-tiap hati orang yang sombong lagi ganas (memaksa rakyat)." (Surah Al-Mukmin : 35)

5. Apa yang lebih malang, pemilik sifat takabbur yang menafikan hak-hak Allah akan ditempatkan ke dalam neraka seiring dengan firman Allah yang bermaksud:

"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan dirinya dari menyembahKu, mereka itu akan masuk neraka Jahannam dengan menderita kehinaan." (Surah Al-Mu'min: 60)

Dan ini diperkukuhkan lagi oleh dua buah hadis yang berbunyi yang bermaksud;

"Tidak akan masuk ke dalam syurga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan."

Manakala Hadith kedua bermaksud;

"Tidak akan masuk syurga seseorang yang bakhil dan berbuat sewenang-wenang (karena kesombongannya)."

D. KESIMPULAN

Sebagai suatu kesimpulan, sesungguhnya sifat sombong atau takabbur, selain ia dicela di dunia oleh Allah serta orang-orang mukmin, ia adalah sifat yang amat merugikan seseorang itu di dunia dan di akhirat. Apakah kita sebagai hamba yang penuh kedhaifan dan serba kekurangan ini layak untuk menganggap diri kita hebat? Sebagai manusia, Allah menganugerahkan kepada kita kelebihan-kelebihan tertentu agar kita menjadi lebih mudah untuk meniti perjalanan hidup ke arah kehidupan yang lebih abadi. Kelebihan yang diberi bukanlah bererti yang kita diberi izin untuk mendabik dada kepada orang lain. Suatu hakikat yang perlu kita sama-sama sedari ialah, tidak ada manusia yang sempurna dari segala segi. Di mana kelebihan manusia, di situlah sebenarnya kelemahan atau kekurangannya berada.

Maka kita sewajarnya sama-sama menginsafi bahawa keagungan, kehebatan dan sifat sombong itu hanya dimiliki oleh Allah. Dan bagi manusia, sifat sombong atau takabbur sebaik-baiknya dengan dengan sifat tawaddhu'. Sifat tawaddhu' adalah sifat rendah diri dan menginsafi diri bahawa manusia itu perlu sentiasa berada di bawah ketundukan dan ketaat kepada Allah s.w.t. Sifat inilah sebenarnya yang mengangkat darjat manusia di sisi Allah s.w.t. Sebagaimana hadis Rasulullah yang bermaksud;

"Barang siapa bertawaddhu' karena Allah, maka akan diangkat darjatnya oleh Allah, barang siapa yang sombong, maka akan dijatuhkan darjatnya oleh Allah, barang siapa bersikap bersederhana (tidak boros dan tidak pula kikir), maka akan dijadikan kaya oleh Allah, barang siapa membazir, maka akan dijadikan miskin oleh Allah dan barang siapa memperbanyak ingatan kepada Allah, maka dicintai oleh Allah."

Sabtu, 12 Februari 2011

RUKUN IMAN KEENAM BERIMAN KEPADA QADA’ DAN QADAR


RUKUN IMAN KEENAM
BERIMAN KEPADA QADA’ DAN QADAR
by sariono sby Posted, http://referensiagama.blogspot.com

PENGERTIAN QADA’ DAN QADAR:

Qada’ dan Qadar merupakan rukun Iman keenam sebagaiman sabda Nabi s.a.w apabila ditanya Jibril a.s berkenaan Iman:

أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

Maksudnya: “Hendaklah kamu percaya kepada Allah, MalaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, Hari Akhirat, dan beriman pula dengan Qadar (ketentuan) baik dan buruk”. [al-Bukhari, Muslim].

Kalimah Qada’ wal Qadar jika disebut salah satunya tanpa yang satu lagi seperti dalam hadis di atas di mana hanya menggunakan kalimah Qadar tanpa Qada maka ia membawa makna yang meliputi keduanya dan jika bersamaan keduanya maka terdapat makna yang berbeza. [Majmuk Fatawa Ibn Usaimin, 2/79&80].

Qadar bermaksud:

“Ketentuan Allah s.w.t terhadap makhlukNya semenjak Azali” [Ibid]

Qada’ pula bermaksud:

“Pelaksanaan Allah s.w.t terhadap ketentuan tersebut” [Ibid].

Ini berdasarkan firman Allah s.w.t:

قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

Maksudnya: “ia menjawab: “Demikianlah keadaannya tak usahlah dihairankan; Tuhanmu berfirman: hal itu mudah bagiKu; dan Kami hendak menjadikan pemberian anak itu sebagai satu tanda (yang membuktikan kekuasaan Kami) untuk umat manusia dan sebagai satu rahmat dari Kami; dan hal itu adalah satu perkara yang telah ditetapkan berlakunya.” [Maryam: 21].

Allah s.w.t menyatakan pelaksanaan terhadap sesuatu ketentuan yang telah ditetapkan semenjak azali sebagai Qada’ dalam ayat ini dan sekaligus menolak bidaah Muktazilah Moden (Hizb-ut-Tahrir) yang mengatakan Qada’ tidak warid dalam naqal.

Adapun berkenaan Qadar adalah berdasarkan sabda Nabi s.a.w:

“كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة وعرشه على الماء”

Maksudnya: “Allah s.w.t telah menulis takdir makhluk sebelum Dia mencipta langit-langit dan bumi dalam jarak 50 ribu tahun dan Arasy-Nya berada di atas air”. [Muslim].

HUKUM BERIMAN KEPADA QADA DAN QADAR

Jelas pada hadis terdahulu bahawa Qadar dan Qada termasuk rukun Iman yang enam maka mereka yang tidak percaya dengan perkara ini adalah kufur. Ingkar kepada Qadar bermakna ingkar kepada Qudrat Allah s.w.t sebagaimana kata Imam Ahmad bin Hanbal r.h:

القدر قدرة الله

Maksudnya: “Qadar itu Kekuasaan Allah”. [Tuhfah al-Saniyyah fi Syarhi al-Haiyyah, syeikh Muhsin al-Abbad].

Berkata Saidina Ibn Abbas r.a:

القدر نظام التوحيد فمن وحد الله وكذب بالقدر فقد نقض تكذيبُه توحيده

Maksudnya: “(Beriman kepada) Qadar itu termasuk dalam Tauhid, maka sesiapa yang mentauhidkan Allah tetapi mengingkari Qadar maka pengingkarannya itu membatalkan tauhidnya”. [Ibid].

Beriman kepada QADA DAN QADAR membawa makna seseorang muslim itu hendaklah yakin dan percaya dengan sebenar-benarnya bahawa segala yang berlaku dalam alam ini sama ada yang baik atau buruk, Iman atau Kufur, Sunnah atau Bidaah, semuanya adalah berlaku dengan kehendak dan kekuasaan Allah s.w.t dan Allah s.w.t jua yang menjadikannya. Firman Allah s.w.t:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Maksudnya: “dan Allah jua yang menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan” [al-Saffat: 96].

Sabda Nabi s.a.w:

واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعواعلى أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت الصحف

Maksudnya : “dan ketahuilah bahawa jikalau makhluk sekaliannya berhimpun untuk memberi kamu suatu manfaat tidaklah perkara itu bermanfaat bagi kamu melainkan Allah telah menetapkannya untukmu dan jikalau mereka berhimpun untuk memudaratkan kamu maka tidaklah akan memudaratkan kamu melainkan Allah jua yang telah menetapkannya bagimu, telah diangkat Qalam dan telah seslesi ditulis suhuf (tempat tulisan takdir)”. [al-Tarmizi, Ahmad]

MANFAAT BERIMAN DENGAN QADA DAN QADAR

Terdapat empat manfaat yang perlu kita beriman dalam masalah QADA DAN QADAR ini iaitu:

Pertama: Beriman bahawa Allah s.w.t mengetahui semua yang akan berlaku sebelum ianya berlaku sebagaimana firman Allah s.w.t dalam surah al-Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Maksudnya: “dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya”.

Firman Allah s.w.t:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Maksudnya: “Sesungguhnya di sisi Allah pengetahuan yang tepat tentang hari kiamat. dan Dia lah jua yang menurunkan hujan, dan yang mengetahui dengan sebenar-benarnya tentang apa yang ada dalam rahim (ibu Yang mengandung). dan tiada seseorang pun yang betul mengetahui apa yang akan diusahakannya esok (sama ada baik atau jahat); dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi negeri manakah ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi amat meliputi pengetahuanNya”. [Luqman: 34]

Maka martabat yang pertama ini termasuk dalam beriman dengan sifat Ilmu bagi Allah s.w.t.

Kedua: Tulisan dan catatan Allah s.w.t terhadap ilmuNya akan perkara-perkara tersebut dalam Kitab di sisNya di atas Arasy sebagimana firman Allah s.w.t:

وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Maksudnya: “dan (ingatlah) tiap-tiap sesuatu Kami catitkan satu persatu dalam Kitab (ibu Suratan) yang jelas nyata”. [Yasin: 12]

Berkata Ibn Kasir r.h: “Semua perkara yang berlaku telah pun ditulis (sebelum berlakunya) dalam kitab yang dibentang dan ditetapkan dalam Lauh Mahfuz dan maksud Imam Mubin dalam ayat ini adalah Ibu Kitab” [Ibn Kasir, 6/568]

Demikianlah tafsir ayat ini dengan sepakat Mujahid, Qatadah, dan Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam rahimahumullah dan Ibn Jarir al-Tabari r.h tidak menyebutkan sebarang khilaf dalam tafsirannya.

Sabda Rasulullah s.a.w:

“كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة وعرشه على الماء”

Maksudnya: “Allah s.w.t telah menulis takdir makhluk sebelum Dia mencipta langit-langit dan bumi dalam jarak 50 ribu tahun dan Arasy-Nya berada di atas air”. [Muslim].

Imam al-Nawawi r.h dalam Syarah Muslim menjelaskan bahawa hadis ini menunjukkan peringkat penulisan Allah s.w.t terhadap takdir yang telah diketahuiNya sebelum itu lagi. [al-Minhaj, 16/203].

Ketiga: Martabat beriman bahawa semua yang berlaku dalam alam ini adalah dengan masyiah (kehendak) Allah s.w.t. Hal ini telah ijmak Ahli Sunnah wal Jamaah dan terkenal dalam akidah mereka dengan ibarat:

ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن

Maksudnya: “Apa yang Allah s.w.t kehendaki pasti berlaku dan apa yang Allah s.w.t tidak kehendaki pasti tidak akan berlaku”.

Firman Allah s.w.t:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Maksudnya: “dan sekiranya Allah menghendaki nescaya orang-orang yang datang kemudian daripada Rasul-rasul itu tidak berbunuh-bunuhan sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan (yang dibawa oleh Rasul mereka). tetapi mereka bertelingkah, maka timbulah di antara mereka: orang yang beriman, dan orang yang kafir. dan kalaulah Allah menghendaki tentulah mereka tidak berbunuh-bunuhan; tetapi Allah melakukan apa yang dikehendakiNya”. [al-Baqarah: 253].

Firman Allah s.w.t:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Maksudnya: “dan tiadalah kamu berkemahuan (melakukan sesuatu perkara) melainkan dengan cara yang dikehendaki Allah; Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana (mengaturkan sebarang perkara yang dikehendakiNya)”. [al-Insan: 30].

Dalam ayat ini, Allah s.w.t menjelaskan bahawa segala kehendak manusia itu bergantung pada kehendak Allah s.w.t. Jika kehendak mereka sesuai dengan kehendak Allah dan diizinkan Allah untuk berlaku maka barulah ia berlaku jika tidak maka sama sekali tidak akan terjadi.

Firman Allah s.w.t dalam surah al-Takwir ayat 29:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Maksudnya: “dan kamu tidak dapat menentukan kemahuan kamu (mengenai sesuatupun), kecuali dengan cara yang diatur oleh Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan seluruh alam”.

Dalam surah Hud ayat 34 Allah s.w.t berfirman menceritakan perkataan RasulNya yang pertama, Nuh a.s.:

وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Maksudnya: “dan tidak ada gunanya nasihatku kepada kamu, jika Aku hendak menasihati kamu, kalau Allah hendak menyesatkan kamu (kerana kamu tetap berdegil); Dia lah Tuhan kamu dan kepadanya kamu akan kembali”.

Ayat ini menunjukkan dengan jelas, baik dan buruk, Iman dan Kufur seseorang, semuanya berlaku dengan kehendak Allah s.w.t.

*Perlu diberi perhatian juga bahawa Iradah dan Masyiah Allah itu terdapat dua jenis:

1- Iradah Kauniah: Iaitulah kehendak Allah s.w.t berkenaan kejadian alam ini seperti adanya baik dan jahat, iman dan kufur, tauhid dan syirik, dan sunnah dan bidaah. Iradah Kauniah mesti terjadi jika Allah s.w.t mengkehendakinya terjadi walaupun tidak semuanya diredai Allah s.w.t seperti kufur, Allah s.w.t mengkehendaki kufur tetapi tidak meredainya.

2- Iradah Syar’iyyah: Kehendak Allah yang berkaitan urusan sayriat seperti kehendak Allah s.w.t supaya hamba-Nya beriman dan mentauhidkanNya. Kehendak ini tidak semestinya berlaku kepada semua makhluk tetapi semua kehendak jenis ini diredai Allah s.w.t.

Keempat: Penciptaan Allah s.w.t terhadap takdir yang ditetapkanNya atau disebut marhalan ‘Penciptaan Perbuatan’ dan inilah yang dimaksudkan dengan Qada’. Maka apa yang Allah s.w.t berkehendak untuk berlaku maka Dia jualah yang menciptanya untuk berlaku. Dalilnya firman Allah s.w.t:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Maksudnya: “dan Allah jua yang menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan” [al-Saffat: 96].

Maka apabila seseorang melakukan sesuatu perkara seperti makan maka dia makan adalah dengan kehendak yang Allah jadikan pada dirinya dan berlakunya perbuatan makan itu kerana mendapat izin dan perkenan Allah s.w.t dan perbuatannya makan itu makhluk (ciptaan) Allah s.w.t kerana Allah jua yang mencipta kekuatan (qudrat) pada makhlukNya untuk makan.

JENIS-JENIS QADAR:

Qadar itu terdapat beberapa jenis berdasarkan marhalah penulisannya dan kesemuanya terdapat lima jenis:

Pertama: Takdir Am sebelum penciptaan alam iaitulah yang dijelaskan terdahulu yang tertulis dalam Lauh Mahfuz. Takdir dalam Lauh Mahfuz ini tidak berubah bahkan Lauh Mahfuz adalah Ummul Kitab sebagaimana firman Allah s.w.t:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

Maksudnya: “Allah menghapuskan apa jua yang dikehendakiNya dan ia juga menetapkan apa jua yang dikehendakiNya. dan (ingatlah) pada sisiNya ada “Ibu Segala suratan”. [al-Ra'd: 39].

Maka yang tertulis di dalam Lauh Mahfuz ini adalah berdasarkan Ilmu Allah yang azali lagi abadi yang tidak akan berubah.

Kedua: Takdir Rezeki, Ajal, dan amalan manusia sebelum diciptakan mereka sebagaimana dalam hadis debat Adam a.s dengan Musa a.s:

أتلومني على أمر قدره الله علي قبل أن يخلقني بأربعين سنة

Maksudnya: “(berkata Adam) Adakah kamu mencela aku atas urusan yang telah ditakdirkan Allah s.w.t berlaku atasku sebelum Dia mencipta aku dalam jarak 40 tahun?”

Ketiga: Takdir yang di atas juga setelah menjadi janin dan ditiupkan ruh. Ini berdasarkan hadis:

إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما ثم يكون في ذلك علقة مثل ذلك ثم يكون في ذلك مضغة مثل ذلك ثم يرسل الملك فينفخ فيه الروح ويؤمر بأربع كلمات بكتب رزقه وأجله وعمله وشقي أو سعيد فوالذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة فيدخلها

Maksudnya: “Sesungguhnya kejaidn seseorang kamu dikumpulkan dalam perut ibunya selama 40 hari kemudian dalam tempoh itu ia menjadi segumpal darah kemudian dalam tempoh itu ia menjadi segumpal daging kemudian diutuskan malaikat dan ditiup ruh padanya dan diperintah untuk menulis empat perkara iaitu rezekinya, ajalnya, amalannya, dan kedudukannya sama ada celaka (ahli neraka) atau bahagia (ahli syurga), maka demi Zat yang tiada sembahan yang berhak disembah kecuali dia sesungguhnya seseorang kamu beramal dengan amalan ahli syurga sehingga antara dia dan syurga tinggal sehasta sahaja lagi lalu didahului dengan kitab (takdir) maka dia beramal dengan amalan ahli neraka dan memasukinya dan seseorang kamu beramal dengan amalan ahli neraka sehingga antara dia dengan neraka jaraknya sehasta sahaja lagi lalu didahului takdir maka dia beramal dengan amalan ahli syurga lalu memasukinya”. [al-Bukhari & Muslim].

Keempat: Takdir Tahunan yang ditentukan pada malam Lailatul Qadar berdasarkan firman Allah s.w.t dalam surah Qadar ayat 4:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

Maksudnya: “pada malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut)”.

Kelima: Takdir Harian berdasarkan firman Allah s.w.t:

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

Maksudnya: “sekalian makhluk yang ada di langit dan di bumi sentiasa berhajat dan memohon kepadaNya. tiap-tiap masa Dia di dalam urusan (mencipta dan mentadbirkan makhluk-makhlukNya)”. [Al-Rahman: 29]

Maka demikianlah martabat penulisan takdir itu dan empat takdir yang terkemudian semuanya bergantung dan pecahan daripada takdir yang telah ditetapkan dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).

TAKDIR DAN USAHA:

Ahli Sunnah wal Jamaah percaya bahawa manusia itu bukanlah perlu menyerah sahaja kepada Allah s.w.t tanpa berbuat apa-apa kerana usaha adalah termasuk dalam takdir Allah s.w.t iaitu Allah s.w.t telah menetapkan dalam Alam ini setiap yang berlaku ada sebabnya, maka atas wujudnya sebablah manusia berusaha. Sabda Nabi s.a.w:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى }

Maksudnya: “Tidaklah ada seorang daripada kamu melainkan telah ditetapkan baginya tempat sama ada di syurga atau neraka”. Tanya Sahabat: ‘Wahai Rasulullah, tidak bolehkan jika demikian kami bertawakkal sahaja?’ Jawab baginda: “Berusahalah kerana setiap kamu dimudahkan baginya (berdasar apa yang ditetapkan padanya)”. Lalu Nabi s.a.w membaca : فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى hingga firman Allah: لِلْعُسْرَى

[Hadis riwayat al-Bukhari & Muslim].

Maksudnya Nabi s.a.w menyatakan bahawa setiap manusia akan dimudahkan untuk berusaha ke arah takdir yang ditetapkan baginya. Ini sesuai dengan firman Allah s.w.t:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10)

Maksudnya: “Jelasnya: adapun orang yang memberikan apa yang ada padanya ke jalan kebaikan dan bertaqwa (mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan segala laranganNya), serta ia mengakui dengan yakin akan perkara yang baik, maka sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesenangan (syurga). sebaliknya: orang yang bakhil (daripada berbuat kebajikan) dan merasa cukup dengan kekayaan dan kemewahannya, -serta ia mendustakan perkara yang baik, maka Sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesusahan dan kesengsaraan”. [al-Lail: 5-10]

Oleh itu, tidak ada hujah ke atas Jabariah yang berdalih dengan takdir kerana takdir itu rahsia Allah s.w.t, seseorang itu tidak mengetahui nasibnya kecuali setelah dia berusaha dan mendapat natijah usahanya. Demikian juga Allah s.w.t telah menetapkan bagi manusia itu hasil sekedar apa yang diusahakannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah s.w.t dalam kitab-Nya dan telah diketahuiNya sejak azali.

Dalam hadis yang lain menyatakan:

قال عمر يا رسول الله أرأيت ما نعمل فيه أمر مبتدع أو مبتدأ أو فيما فرغ منه ؟ فقال فيما قد فرغ منه يا ابن الخطاب وكل ميسر أما من كان من أهل السعادة فإنه يعمل للسعادة وأما من كان من أهل الشقاء فإنه يعمل للشقاء

Maksudnya: “Berkata Umar: Wahai Rasulullah, apakah yang kita lakukan (amalan makhluk) ini perkara yang baharu atau telah pun telah ditetapkan oleh Allah? Jwab Nabi s.a.w: Telah ditetapkan wahai Ibn al-Khattab dan setiap orang itu dimudahkan baginya (berdasarkan takdir yang telah ditetapkan), maka sesiapa yang ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”. [al-Tarmizi, Ahmad-sahih-].

Maka dengan jawapan Rasulullah s.a.w ini, terungkailah segala kemusykilan dan jelaslah jalan bahawa tiada pertentangan antara usaha dan takdir. Wallahua’lam.

TAKDIR DAN REDA:

Kita diperintahkan reda dalam takdir yang Allah s.w.t redainya dan tidak mencela pelakunya seperti Iman, Islam, dan musibah alam seperti cedera, sakit, kemalangan, dan kematian.

Adapun takdir yang Allah s.w.t mencela pelakunya maka kita dilarang meredainya seperti perbuatan dosa, walaupun ianya berlaku dengan kehendak Allah s.w.t tetapi kehendak kauni dan Allah s.w.t mencela pelakunya maka dalam hal semacam ini kita dilarang meredainya. [Majmuk Fatawa Ibn Taimiah, 8/190-192].

Jumat, 11 Februari 2011

BERIMAN KEPADA QADA DAN QADAR


BERIMAN KEPADA QADA DAN QADAR
by sariono sby
posted, http://referensiagama.blogspot.com




A.Pengertian iman kepada qada dan qadar

Iman kepada qada dan qadar artinya meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini dikuasai oleh suatu hukum yang pasti dan tetap yang tidak tunduk kepada kemauan manusia. Segala sesuatu itu meliputi semua kejadian yang menimpa seluruh makhluk hidup, baik berupa hidup atau mati, baik atau buruk,kemunculan atau kemusnahan.

1.Qada
Qada mempunyai beberapa arti yang dapat dilihat dalam ayat-ayat Al-Qur’an berikut:
a. Qada yang berarti hukum atau keputusan terdapat pada surah an-Nisa’ ayat 65.
b. Qada yang berarti mewujudkan atau menjadikan terdapat pada Surah Fussilat ayat 12.
c. Qada yang berarti kehendak terdapat pada Surah Ali ‘Imran ayat 47.
d. Qada yang berarti perintah terdapat pada Surah al-Isra’ ayat 23.

2.Qadar
Qadar juga mempunyai beberapa arti yaitu:
a. Qadar yang berarti mengatur serta menentukan sesuatu menurut batas-batasnya terdapat pada Surah Fussilat ayat 10.
b. Qadar yang berarti ukuran terdapat pada Surah ar-Ra’d ayat 17.
c. Qadar yang berarti ketentuan dan kepastian terdapat pada Surah al-Mursalat ayat 23.
d. Qadar yang berarti kekuasaan dan kemampuan terdapat pada Surah al-Baqarah ayat 236.
e. Qadar yang berarti perwujudan kehendak Allah swt. Terhadap semua makhluk-Nya dalam bentu-bentuk dan batasan-batasan tertentu terdapat pada Surah al-Qamar ayat 49.

3.Hubungan Qada dan Qadar
Qada dan qadar merupakan suatu kesatuan. Qada bersifat qadim ( lebih dahulu ada ), sedangkan qadar bersifat hudus (baru).
Seorang ahli bahasa Al-Qur’an, Iman ar-Raqib, mengatakan bahwa Allah swt. Mentakdirkan segala sesuatu dengan dua macam cara yaitu :
a.Memberikan qudrah atau kekuatan.
b.Membuat ukuran dan cara-cara tertentu.
Dalam kehidupan sehari-hari, kedua istilah tersebut sering disebut dengan takdir.

Menurut ulama ahlusunah waljamaah, berdasarkan pelakunya, ada dua macam perbuatan di alam semesta ini.
a.Perbuatan yang pertama adalah perbuatan yang dilakukan Allah swt. terhadap makhluk-Nya. Dalam hal ini, tidak ada kekuasaan dan pilihan bagi semua makhluk, kecuali menerimanya.
Contoh : turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sehat, dan sakit.
b.Perbuatan yang kedua adalah perbuatan yang dilakukan oleh semua makhluk. Semua makhluk melakukan segala perbuatan berdasarkan kehendak dan keinginan yang diberikan Allah swt. kepada mereka. Allah swt. juga memberikan kemampuan dan potensi kepada semua makhluk untuk melaksanakan kehendak dan keinginan mereka.
Sebagai seorang yang beriman, kita harus mengerti segala kejadian yang menimpa diri kita. Hal itu adalah semata-mata kekuasaan Allah swt. Dengan memahaminya, kita akan bisa berlapang dadamenerima segala takdir yang datang dari Allah swt.

Syekh Muhammad Saleh al-Usaimin mengemukakan bahwa takdir itu mempunyai 4 tingkatan :
a.Al-‘ilmu atau pengetahuan adalah mengimani dan meyakini bahwa Allah swt. Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dihadapan-Nya.
b.Al-Kitabah atau penulisan adalah mengimani bahwa Allah swt. telah menuliskan segala ketetapan dalam Lauh Mahfuz yang ada di sisi-Nya. Menurut bahasa, lauh berarti papan catatan dan mahfuz berarti terjaga atau terpelihara. Laul Mahfuz adalah tempat pencatatan ketetapan Allah swt. atas makhluk-Nya yang terpelihara disisi-Nya.
c.Al-Masyi’ah atau kehendak adalah kehendak Allah swt. terhadap segala sesuatu yang yang terjadi atau tidak terjadi, baik di langit maupun di bumi.
d.Al-Khalqu atau penciptaan adalah mengimani Allah swt. sebagai pencipta segala sesuatu serta meyakini bahwa semua yang terjadi dari perbuatan Allah swt. adalah ciptaan Allah swt.

B.Bukti-Bukti Adanya Qada dan Qadar
Bukti qada dan qadar dapat dilihat pada alam ini, termasuk pada manusia. Kapan dan di mana kita dilahirkan kita tidak dapat memilihnya. Kita juga tidak bisa memilih jenis kelamin atau bentuk rupa yang kita inginkan. Semua itu telah ditakdirkan Allah swt. dan manusia tinggal menerimanya saja.
Bukti yang lain adalah ketentuan yang berhunbungan dengan soal mati. Datangnya kematian adalah sebuah misteri dan di luar kekuasaan makhluk. Semua makhluk tinggal menerima saja. Benda-benda di alam ini, seperti matahari, bumi, bulan, bintang-bintang, dan planet-planet. Semua benda itu memiliki takdir yang tidak dapat dilanggarnya. Semua benda-benda langit itu berjalan teratur di angkasa sesuai ketentuan Allah swt. Semua itu disebut dengan sunatullah. Dari semua hal tersebut, semua orang Islam wajib mengimaninya.

C.Sunnatullah

Menurut bahasa, sunnatullah berasal dari kata sunnah yang bersinonim dengan tariqah yang berarti jalan yang dilalui atau sirah yang berarti jalan hidup. Kemudian, kata tersebut digabung dengan lafal Allah sehingga menjadi kata sunatullah yang berarti ketentuan-ketentuan atau hukum Allah swt. yang berlaku atas segenap alam dan berjalan secara tetap dan teratur.
Sunnatullah terdiri dari dua macam, yaitu
1.Sunnatullah qauliyah adalah sunnatullah yang berupa wahyu yang tertulis dalam bentuk lembaran atau dibukukan, yaitu Al-Qur’an.
2.Sunnatullah kauniyyah adalah sunnatullah yang tidak tertulis dan berupa kejadian atau fenomena alam. Contohnya, matahari terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat.

Kedua sunatullah tersebut memiliki persamaan, yaitu
1.Kedua-duanya berasal dari Allah swt.
2.Kedua-duanya dijamin kemutlakannya.
3.Kedua-duanya tidak dapat diubah atau diganti dengan hukum lainnya.
Contohnya adalah hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa barang siapa yang beriman dan beramal saleh, pasti akan mendapat balasan pahala dari Allah swt. Selain memiliki persamaan, keduanya juga mempunyai perbedaan. Sunatullah yang ada di alam, dapat diukur. Lain halnya dengan sunnatullah yang ada dalam AL-Qur’an. Walaupun hal itu pasti terjadi, tetapi tidak diketahui secara pasti kapan waktunya.

D.Ikhtiar dan Tawakal
Ikhtiar berarti memilih. Menurut istilah, ikhtiar adalah berusaha secara maksimal dalam mencapai tujuan dan hasil, serta bergantung sepenuhnya kepada kehenak Allah swt.
Islam menghendaki agar setiap muslim berusaha sekuat tenaga dengan cara yang halal untuk mengubah nasibnya. Di samping itu, setiap muslim juga harus berusaha mencegah terjadinya suatu bencana atau kegagalan dalam meraih cita-cita.
Terjadi atau tidak terjadinya sesuatu disebabkan oleh dua hal yaitu :
1.Gazirah adalah insting atau bakat pembawaan lahir. Contohnya, perasaan lapar menyebabkan kita makan. Gazirah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih, selain memenuhinya.
2.Ikhtiar adalah usaha secara maksimal sesuai dengan potensi dan kemampuan yang diberikan Allah swt. Contohnya, ketekunan dan keuletan belajar menyebabkan orang memiliki banyak ilmu. Akan tetapi, mutu ilmu pengetahuan dan jumlah kekayaan yang diperoleh itu tergantung pula kepada kekuatan ikhtiar yang diberikan Allah swt.
Tegasnya, yang memberikan kekuatan memilih adalah Allah swt., sedangkan yang memilih adalah manusia. Apabila usaha tersebut hasilnya baik, hal itu tentu saja karena proses usaha yang dilaksanakn juga baik. Demikian sebaliknya, apabila usaha tersebut gagal, hal itu disebabkan proses usaha yang kurang baik.
Tawakal adalah berserah diri kepada Allah swt., berserah diri kepada qada dan qadar Allah swt., terjadi setelah berusaha semaksimal mungkin.
Menurut Muhammad bin Abdul Wahab, tawakal adalah pekerjaan hati manusia dan pucak tertinggi keimanan. Sifat ini akan datang dengan sendirinya jika iman seseorang sudah matang.
Menurut HAMKA, seseorang disebut beriman apabila belum mencapai puncak tawakal. Tawakal menjadi dasar keimanan semua amal.
Menurut al-Gazali, orang-orang yang bertawakal terbagi menjadi empat bagian yaitu :
1.Orang yang berusaha memperoleh sesuatu yang dapat membawa manfaat kepadanya.
2.Orang yang berusaha memelihara sesuatu yang dimilikinya supaya mendapatkan hal-hal yang bermanfaat.
3.Orang yang merusaha menolak dan menghindarkan diri dari hal-hal yang menimbulkan mudarat atau bencana.
4.Orang yang berusaha menghilangkan mudarat yang menimpa dirinya.

Selanjutnya, al-Gazali menjelaskan bahwa dalam penerapannya tawakal terdiri atas tiga tingkatan, yaitu :
1.Tawakal adalah keadaan hati yang senantiasa tenang dan tentram terhadap apa yang dijanjikan Allah swt.
2.Taslim adalah menyerahkan urusan kepada Allah swt. karena Dia mengetahui segala sesuatu mengenai diri dan keadaannya.
3.Tafhid adalah rida atau rela menerima segala ketentuan Allah swt. bagaimanapun bentuk dan keadaannya.

Berdasarkan al-Qur’an Surah at-Talaq ayat 3, Allah swt. akan mencukupkan segala keperluan orang-orang yang bertawakal dan bila dijabarkan orang yang bertawakal akan :
1.Mendapatkan limpahan sifat ‘aziz atau kehormatan dan kemuliaan.
2.Memiliki keberanian dalam menghadapi musibah atau maut.
3.Menghilangkan keluh kesah dan gelisah, serta mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kegembiraan.
4.Mensyukuri karunia Allah swt. serta memiliki kesabaran apabila belum memperolehnya.
5.Memiliki kepercayaan diri dan keberanian dalam menghadapi setiap persoalan.
6.Mendapatkan pertolongan, perlindungan, serta rezeki yang cukup dari Allah swt.
7.Mendapatkan kepercayaan dari orang banyak karena budi pekertinya yang terpuji dan hidupnya yang bermanfaat bagi orang lain.

E.Fungsi Iman kepada Qada dan Qadar
1.Iman kepada qada dan qadar akan membuat seseorang makin mantap dalam meyakini bahwa Allah swt. adalah Tuhan Yang Maha Esa, Mahakuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, Mahaadil, dan Mahabijaksana.
2.Iman kepada qada dan qadar akan menumbuhkan kesadaran kepada umat manusia bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini berjalan sesuai dengan kebijaksanaan dan ketentuan Allah swt.
3.Iman kepada qada dan qadar akan mendorong manusia untuk melakukan penelitian-penelitian terhadap benda-benda alam dan hukum-hukum Allah swt. yang kemudian dirumuskan dalam berbagai teori ilmu pengetahuan.
4.Iman kepada qada dan qadar akan menumbuhkan sifat terpuji, sabar, bersyukur, bertawakal, raja’, kanaah, optimis, dinamis, inovatif, dan kreatif.
5.Iman kepada qada dan qadar akan menghilangkan sikap tercela, seperti sombong, kufur nikmat, iri hati, dengki, pesimis, dan statis.
http://referensiagama.blogspot.com

sumber rujukan: http://bujang-anakbaik.blogspot.com/2010/10/materi-agama-iman-kepada-qada-dan-qadar.html