Rabu, 09 Februari 2011

KHULAFA’ AL-RASYIDUN ( PEMBENTUKAN DAN PEKEMBANGAN KHILAFAH)


KHULAFA’ AL-RASYIDUN ( PEMBENTUKAN DAN PEKEMBANGAN KHILAFAH) by sariono sby


PENDAHULUAN

Wafatnya Nabi Muhammad sebagai pemimpin agama maupun negara menyisakan persoalan pelik. Nabi tidak meninggalkan wasiat kepada seorang pun sebagai penerusnya. Akibatnya, para sahabat mempermasalahkan dan saling berusaha untuk mengajukan calon pilihan dari kelompoknya.
Ahmad Amin mencatat sedikitnya ada tiga kelompok yang berkeinginan menjadi penerus Nabi, yaitu :


No. Kelompok/Golongan Calon Sebab
1 Ahl Bait Ali bin Abi Thalib Yang paling berhak adalah ahl-bait Rasulullah sendiri
2 Anshar Saad bin Ubadah Anshar merupakan golongan penolong Nabi di saat nabi teraniaya di Makkah dan beliau pun meninggal dalam keadaan puas terhadap Anshar
3 Kaum Muhajirin Abu Bakar al-Shidiq Kaum Muhajirin merupakan kaum yang pertama mempercayai ajaran Nabi dan selalu menemani beliau dalam suka dan duka

Perselisihan tersebut berdampak pada tertundanya pemakaman Rasulullah serta terjadinya peristiwa Saqifah , dimana Abu Bakar di baiat sebagai penerus Nabi. Abu Bakar terpilih sebagai penerus Nabi karena beliau tokoh yang disegani, arif dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah termasuk mengenai pengganti Rasulullah.

Masa Khulafa’ al-Rasyidun merupakan masa keemasan, zaman ideal, dimana pemerintahan dijalankan seperti halnya pemerintahan masa Nabi. Indikator yang dapat dilihat adalah :

a. Pembentukannya dengan suara rakyat
b. Kepala Negaranya merupakan pilihan rakyat
c. Pemerintahan dijalankan dengan musyawarah
d. Kedaulatan Hukum Ilahi daplikasikan dalam kehidupan bernegara, sehingga terdapat keyakinan bahwa segala gerak-gerik dipertanggungjawabkan kepada Allah
e. Kekuasaan negara tidak didominasi oleh satu kelompok ataupun golongan.

Selain mampu menciptakan tatanan pemerintahan ideal, masa Khulafa’ al-Rasyidun terkenal dengan kemampuannya mengalahkan 2 imperium besar sebelumnya yaitu Persia dan Roma.

B. Proses Pengangkatan
Berbicara mengenai Khulafa’ al-Rasyidun, pastilah semua sudah memahami betapa sosok-sosok khalifahnya merupakan sahabat terpercaya dan terbaik Nabi. Namun demikian tetaplah kita perlu mengetahui model pengangkatan mereka sebagai khalifah yang didasarkan pada prinsip musyawarah meskipun dengan teknik atau cara yang berbeda. Teknik yang dimaksud adalah :


No. Nama Khalifah Teknik yang Digunakan
1 Abu Bakar al-Shidiq Pembaiatan dilakukan perorangan (Umar bin Khattab) yang disetujui oleh semuanya
2 Umar bin Khattab Penunjukan Abu Bakar sebelum ia wafat yang diawali dengan konsultasi dengan pemuka-pemuka masyarakat



3 Usman bin Affan Pemilihan dari formatur yang ditunjuk Umar yang terdiri dari Usma bin Affan, Ali bin Thalib, Talhah, Zubair ibn Awwam, Saad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf
4 Ali bin Abi Thalib Sebagian besar penduduk Madinah

Lebih lanjut penjelasan proses pengangkatan Khulafa’ al-Rasyidun sebagai berikut :
a. Bersifat Penunjukan
Ini digunakan pada saat pemilihan khalifah Abu Bakar. Kronologis pemilihan Abu Bakar bukannya tanpa pro kontra. Banyak orang menganggap terutama bani Hasyim yang menganggap bahwa pemilihan Abu Bakar tersebut tidak sah dikarenakan beberapa alasan, (1) yang pantas menggantikan adalah dari pihak keluarga Nabi yaitu Ali, ini merupakan konsekuensi logis dari watak bangsa Arab yaitu ashabiyah, (2) belum sempurnanya pengurusan jenazah Nabi. Sekelompok orang sudah meributkan tentang pengganti Nabi. Untuk hal ini banyak orang yang menentangnya, diantaranya Umar bin Khtattab.
b. Bersifat akad atau perjanjian dari khalifah ke yang lainnya.ini digunakan pada pemilihan Umar bin Khattab.
c. Adanya panitia pemilihan yang digunakan pada pemilihan khalifah Usman
Hal ini berangkat dari kekhawatiran Umar sehingga ia mengangkat suatu Panitia pemilihan sesaat sebelum ia wafat.

Sedangkan cara proses pemlihan Ali dapat dipastikan salah satu dari ke-3 hal tersebut, hal ini sesuai dengan yang apa yang dikatakan Ali, “ Urusan ini adalah bukan urusan kalian tetapi ini adalah urusan tokoh-tokoh ahli syuura bersama pejuang Badr. Dan siapa saja yang disetujui oleh ahli syuura dan bekas pejuang Badr itulah dia yang berhak. Karena itu kami akan berkumpul dan memikirkan persoalan ini “.
Dari proses pengangkatan di atas dapat dipahami bahwa ke-4 khalifah selalu mengedepankan prinsip musyawarah dalam mengambil keputusan seperti yang dicontohkan Nabi sehingga merekapun layak mendapatkan laqab Khulafa’ al-Rasyidun.

C. Model Pemerintahan
Berbicara masalah model pemerintahan maka haruslah lebih dahulu diketahui masa pemerintahan para khulafa’. Adapun masa pemerintahan khulafa’ adalah sebagai berikut :

No. Nama Mulai Berakhir Lama Umur
1 Abubakar 11 H /632 M 13 H/634 M 2 th, 3 bln 63 th
2 Umar 13 H/634 M 23 H/644 M 10 th, 6 bln 63 th
3 Usman 23 H/644 M 35 H/655 M 12 th 82 th
4 Ali 35 H/655 M 40 H/661 M 4 th, 9 bln 63 th

Adapun indikator model pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidun yang merupakan model pemerintahan ideal dapat diketahui dari, (1) pidato pembaiatan sebagai kholifah, (2) gaya kepemimpinan.

a. Pidato pembaiatan sebagai kholifah dapat dipahami berikut ini :

No. Nama Isi Pidato
1 Abu Bakar Saudara sekalian saya telah dipilih untuk memimpin kalian. Jika saya berada di jalan yang benar, bantulah saya. Kebenaran adalah kepercayaan dan kebohongan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah diantara kalian adalah kuat di mata saya, setelah saya memberikan haknya. Insya Alllah orang yang kuat adalah lemah di mata saya, sesudah saya menjalankan keadilan baginya, Insya Allah. Apabila ada orang yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah , maka Allah akan menimpakan kehinaan terhadapnya. Bilamana menurunkan bencana. Patuhilah saya selama saya taat kepada perintah Allah dan RasulNya. Tetapi jika saya melanggar perintah Allah dan RasulNya, maka kalian tidak usah mematuhi saya. Laksanakan shalat Allah merahmati kalian.



3 Usman Amma ba’du, sesungguhnya tugas ini telah dipikulkan kepadaku dan aku telah menerimanya, dan sesungguhnya aku adalah seorang mutabi’ (yakni pengikut sunnah Rasul saw) dan bukan seorang mubtadi’ (yakni seorang yang berbuat bid’ah). Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai 3 hal selain kitab Allah dan Sunnah Nabi saw, yakni mengikuti apa yang telah dilakukan oleh orang orang sebelumku dalam hal-hal yang kamu kalian telah bersepakat dan telah kamu jadikan sebagai kebiasaan baru yang layak bagi para ahli kebajikan dalam hal-hal yang belum kamu jadikan sebagai kebiasaan dan mencegah diriku dari bertindak atas kamu kecuali dalam hal-hal yang kamu sendiri telah menyebabkannya
4 Ali ......... adalah wajib atas kamu sekalian taat kepada, baik dalam urusan yang kamu senangi atau yang kamu benci selama aku memerintahkan kamu dalam hal ketaatan kepada Allah. Tapi apabila aku memerintahkan kalian bermaksiat kepada Allah maka tidak ada kewajiban taat atas seseorang di dalam hal maksiat. Ketaatan hanyalah wajib dalam perbuatan kebaikan.9

Deskripsi pidato pembaiatan di atas secara otomatis telah memahamkan kita tentang model atau konsep pemerintahan yang dijalankan khulafa’. Para khulafa’, secara bersama-sama menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dan proses demokrasi. Indikator yang dapat dilihat, para khulafa’ secara tidak lansung menghilangkan jarak antara penguasa dengan rakyat dengan menekankan pentingnya kritik bila melakukan kesalahan sehingga hukum Allah dapat selalu ditegakkan.
b. Gaya Kepemimpinan
Berdasarkan indikator serta pidato pembaiatan khulafa’ al-Rasyidun setidaknya telah dapat diraba gaya kepeminpinannya. Namun lebih jelasnya dapat dipahami berikut ini :

No. Gaya Kepemimpinan Contoh
1 Kesederhanaan 1. Abubakar masih menjadi pedagang pakaian setelah menjadi khalifah
2. Ali pernah menggigil kedinginan karena pakaiannya sudah usang


2 Jiwa demokrasi, keberanian mengkritik pemimpin 1. Umar adalah khalifah yang sering dikritik rakyatnya seperti Salman al-Farisi, namun beliaupun tidak marah
2. Ali yang menghadapi cercaan kaum khawarij

D. Ekspansi Wilayah
Sepeninggalan Nabi para penggantinya pun tetap berupaya untuk menjalankan dakwah Islam dengan jalan melakukan ekspansi atau perluasan wilayah. Ekspansi di sini tidak identik dengan kekerasan. Islam dikembangkan perdamaian. Adapun rincian ekspansi yang para khalifah adalah sebagai berikut :

a. Khalifah Abu Bakar
Masa khalifah Abu Bakar lebih banyak terpakai untuk menstabilkan politik dalam negeri dengan adanya kemunculan Nabi palsu ataupun kelompok yang murtad sepeninggal Nabi. Mereka beranggapan ketika Nabi meninggal maka tidak perlu lagi megikuti ajaran yang dibawa. Untuk itu khalifah Abu Bakar mengirim 11 Panglima untuk menstabilkan politik. Adapun 11 khalifah yang dimaksud adalah sebagai berikut :

No. Nama Tugas
1 Khalid bin Walid Memerangi Tulaihah bin Khuwailid yang mengaku Nabi palsu dan pemberontakan di Battah Arab Selatan yang dipimpin Malik bin Nuwairah
2 Ikrimah bin Abu Jahal Memerangi Musailamah al-Kadzab yang mengahku sebagai Nabi dari Bani Hanifah yang terletak di pesisir timut Arab
3 Syurahbil bin Hasanah Membantu Ikrimah
4 Muhajir bin Umayyah Menundukkan pengikut Aswad al-Insa, orang yang pertama kali mengaku Nabi di daerah Yaman, dan memadamkan pemberontakan di daerah Hadramaut yang dipimpin Kais bin maksyuh
5 Huzaifah bin Muhsin al-Galfani Mengamankan daerah Daba karena pemimpinnya mengaku sebagai Nabi
6 Arfajah bin Harsamah Mengembalikan stabilitas daerah Oman dan Muhrah
7 Suwaid bin Muqarin Mengamankan daerah Tihamah yang terletak sepanjang Laut Merah


8 Al-Alla’ bin Hadrami Memadamkan pemberontakan kaum Riddah di daerah Bahrein
9 Amr bin As Memadamkan pemberontakan suku Kuda’ah dan Wadhi’ah
10 Khaid bin Sa’id Memadamkan pemberontakan suku-suku besar dekat perbatasan Suriah dan Irak
11 Maan bin Hajiz Memadamkan kaum Riddah dari suku Salim dan Hawazin di daerah Taif

Setelah ke-11 panglima di atas mampu menstabilkan politik dalam negeri maka khalifah Abu Bakar memfokuskan ekspansi ke luar yitu Persia dan Romawi Timur. Adapun panglima yang ditugaskan untuk ekspansi ke luar adalah :


No. Nama Tugas
1 Musanah bin Harisah al-Syaibani Menaklukkan beberapa wilayah Persia
2 Khalid bin Walid Membantu pasukan Musanah menaklukkan pusat kekerasan Persia dan berhasil dan setiap daerah taklukan diangkat seorang amir
3 Abu Ubaidah bin Jarah Menaklukkan daerah Romawi yaitu Homs Suriah Utara dan Antokia
4 Amr bin As Menaklukkan wilayah Palestina
5 Syurahbil bin Hasan Menundukkan Tabuk dan Yordania
6 Yazid bin Abu Sofyan Menaklukkan Damaskus dan Suriah Selatan

Ekspansi ke luar masa khalifah Abu Bakar ini menghasilkan 2 perang besar yaitu (1) perang Yarmuk, peperangan kaum muslimin di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid dengan pasukan Romawi (2) perang Mauqiah Zat as-Salasil, peperangan kaum muslimin dengan tentara Persia.

b. Khalifah Umar
Ekpansi masa ini berlansung sekitar 10 tahun dengan hasil yang gemilang, baik dikarenakan panglima maupun kebijakan khalifah. Adapun panglima yang diutus untuk ekspansi adalah sebagai berikut :

No. Nama Tugas
1 Abu Ubaidah bin Jarrah pengganti Khalid bin Walid Melumpuhkan kekuatan Romawi di Suriah, Palestina dan Yerussalem dengan hasil yang gemilang dimana Patriach Sophorius menyerahkan Yerussalem ke Umar



2 Yazid bin Abu Sufyan Menaklukkan daerah sekitar Palestina seperti Gaza, Askalon Caesara
3 Khalid bin Walid Menaklukkan Mesir yang beribukotakan Iskandariah
4 Muawiyah bin Abi Sofyan Menguasai Latkia dan Sidon
5 Sa’ad bin Abi Waqqas Memadamkan perlawanan pasukan Persia yang dipimpin panglima Rustam yang kemudian dikenal dengan perang Qadisiah. Sa’ad berhasil menaklukkan Babilon, Ctesiphon ibu kota Persia

Ekspansi masa khalifah Umar keseluruhan difokuskan ke luar negeri. Hal ini dikarenakan kestabilan politik dalam negeri tidak terdapat gangguan sehingga sangatlah wajar bila ekspansi masa ini merupakan yang paling gemilang.

c. Khalifah Usman bin Affan
Ekspansi masa ini lebih banyak bersifat merebut kembali wilayah yang sudah ditaklukkan pasukan Islam sebelumnya. Perebutan kembali kota Iskandariah yang dulu ditaklukkan Khalid bin Walid dibawah kepemimpinan Amr bin Ash adalah bukti adanya bentuk ekspansi masa Khalifah Usman. Namun demikian masa Usman wilayah Tripoli di Barat sampai seluruh Asia Tengah di Timur, Yaman, Azerbaijan, Turkistan dapat dikuasai.

d. Khalifah Ali bin Abi Thalib
Masa ini tidak terjadi ekspansi, khalifah Ali lebih banyak disibukkan oleh perpecahan di kalangan umat Islam sejak terbunuhnya Usman. Waqiah al Jamal atau perang unta dan peristiwa Tahkim merupakan bukti adanya kejadian dalam negeri yang harus segera diselesaikan.

E. Intisari
Pembahasan di atas dapat diintisarikan seperti di bawah ini dengan tujuan untuk mempermudah memahami proses pembentukan dan perkembangan Islam di masa Khulafa’ al-Rasyidun. Adapun gambaran komplit dapat dipahami berikut ini:

No Item Abu Bakar Umar Usman Ali
1 Proses Pengangkatan Inisiatif Umar Wasiat
Abu Bakar Forrnatur
Umar Ahl Madinah
2 Peristiwa
Penting Adanya tindakan pembersihan/
perang Riddah,
nabi palsu dan kaum murtad Ditaklukan
nya Persia Pembunuh Usman Banyaknya konflik internal, seperti perang Shiffin, Tahkim
3 Ekpsansi Lebih banyak terkosentrasi
dalam pemadaman pemberontakan
Damaskus, Suriah, Mesir dan Irak Afrika,
Siprus
Armenia
Kanul
Farghanah
4 Kontribusi Mengumpulkan al-qur’an 1. Pembenahan admisnist negara
2. Penanggalan Islam dari awal hijrah Nabi Penyusunan al-Qur’an Mushaf Usmani, perluasan masjid Nabawi Dapat menjaga kestsbilan dalam negeri
5 Meninggal Sakit Dibunuh Abu Lu’luah, budak Persia Dibunuh dalam upaya konspirasi diantaranya Ghafiqi Dibunuh oleh Aburrahman bin Muljam
6 Pribadi15 Bijaksana, saleh Berani, adil Lembut, Agamis Berani, bersikap ilmiah


F. Catatan Merah terhadap Kepemimpinan Masa Khulafa’ Al-Rasyidun
Laqab khulfa’al-Rasyidun (khalifah yang adil dan benar) merupakan jaminan terjadinya kekhalifahan ideal. Hali ini tercermin dengan adanya ciri khas dalam pemerintahan masa ini, dintaranya:
1. Khilafah berdasarkan pemilihan
2. Pemerintahan berdasarkan musyawarah
3. Baitul mal dianggap sebagai amanat bukan milik pribadi
4. Undang-undang Ilahi di atas segalanya

Keidealan kekhilafahan ini disebabkan para khalifahnya merupakan sosok sahabat terdekat Nabi sehingga kredibilitasnya tidak diragukan lagi oleh berbagai kalangan. Namun demikian, kita pun tidak dapat memungkiri adanya beberapa peristiwa yang dianggap “noda” dalam sejarah peradaban yang kemudian menjadi perbincangan sampai saat ini.
Kembalinya semangat ashabiyah atau kesukuan merupakan penyebab utama terjadinya maslah ini. Hal ini bermula dari pengangkatan kerabat Usman dalam tatanan pemerintahan, padahal Umar secara tegas mengingatkan hal ini dengan mengatakan “ Bertakwalah kepada Allah dan jangan mengangkat kaummu sebagai pejabat-pejabat yang berkuasa secara sewenang-wenang atas rakyat.
Penyimpangan Usman terhadap kebijakan sebelumnya dalam hal pengangkatan sanak saudara untuk menduduki jabatan penting dalam pemerintahan yang memicu kritikan rakyat adalah sebagai berikut:


No. Nama Kerabat Uraian
1 Marwan Memperoleh khumus (seperlima) dari ghanimah
2 Marwan bin Uqbah bin Abi Muaith- saudaranya seibu Untuk menggantikan Sa’’ad bin Abi waqqas sebagai gubernur Kufah
3 Abdullah bin Amir putra pamannya Dengan memecat abu Musa al-Asari sebagai gubernur Bashrah
4 Abdullah bin Sa’ad bib Abi Sarh – saudara sepersusuan Menggantikan Amru bin Ash sebagai gubernur Mesir
5 Muawiyah Memegang kekuasaan bukan hanya di Damaskus tapi juga daerah lain seperti palestina, Yordania dan Libanon
6 Marwan bin Hakam Sebagai sekeretaris Jenderal Negara



Abul A’la juga menjelaskan lebih lanjut bahwa selain diangkatnya sanak saudara di atas ada sebab lain yang memicu kekacauan dan kerusuhan, yaitu :

1. Anggota keluarga yang ditunjuk Usman tersebut merupakan kaum thulaqa’ (orang-orang yang dibebaskan dari tawanan: yakni keluarga-keluarga penghuni Makkah yang sampai saat-saat terakhir menunjukkan permusuhan dan perlawanan terhadap dakwah Nabi)
2. Dianggap tidak layak menempati jabatan pemerintahan karena mereka tidak berkesempatan bersahabat dengan Nabi
3. Perilaku sebagaian besar orang tersebut di atas sama sekali tidak menunjukkan perilaku ketakwaan dan kebersihan jiwa seperti perilaku
al-walid bin Uqbah yang pernah ditugaskan Nabi untuk mengumpulkan zakat dan sedekah dari Bani Musthalaq namun karena suatu hal dia lansung kembali ke Madinah tanpa berhadapan dengan mereka namun dengan berani ia melaporkan kepada Nabi bahwa Bani Musthalaq telah menolak pembayaran zakat dan hampir-hampir membunuhnya. Ia juga diduga pernah shalat subuh dalam keadaan mabuk, masa kepemimpinan khalifah sebelumnya.

Namun demikian uraian di atas setidaknya tidak mengurangi rasa takdzim kita pada kepemimpinan masa Khulfa’ al-Rasyidun. Sampai saat ini model kepemimpinan Khulafa’ merupakan model kepemimpinan ideal yang sampai saat kapanpun dan oleh siapapun ingin diterapkan sampai saat ini.

Selasa, 08 Februari 2011

PEMIKIRAN TASAWUF IBNU ARABI


PEMIKIRAN TASAWUF IBNU ARABI
by sariono sby

posted, http://referensiagama.blogspot.com

PENDAHULUAN
Tasawuf atau sufisme sebagaimana halnya mistisisme di luar agama Islam,mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Intisari dari mistisisme, termasuk di dalamnya sufisme, ialah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad,( bersatu dengan Tuhan)
Teori pengenalan merupakan salah satu pintu penting dari taswuf Islam,sekaligus merupakan salah satu landasan yang terbesr.


PEMBAHASAN

A. Sejarah singkat Ibnu Arabi.
1. Biografi Ibnu Arabi

Ibnu Arabi yang nama lengkapnya sebagaimana dinukil oleh Prof.Dr.Mukhtar solihin M.Ag dalam bukunya Ilmu Tswuf adalah Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad bin ‘Abdullah Ath-Tha’i Al-Haitami. Ia lahir di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol tahun 560 H dari kalangan berpangkat , hartawan dan ilmuwan. Namanya biasa disebut tanpa “ Al”untuk membedakan dengan Abu Bakar ibn Al-‘Arabi, seorang qadhi dari Seville yang wafat ada tahun 543 H. Di Seville (spanyol) iamempelajari Al-qur’an, hadis serta fiqih pada sejumlah murid seorang fqih Andalusia terkenal, yakni Ibn Hazm Al-Zhahiri. Ia berasal dari suku al-Taiy, satu rumpun Arab al-hatimi yang pada umumnya terdiri dari keluarga-keluarga saleh. Orang tuanya sendiri adalah seorang sufi yang punya kebiasaan berkelana.Pada usia delapan tahun, Ibnu arabi sudah merantau ke Lissabon untuk belajar agama dari seorang ulama, Syekh abu Bakar Khalaf.Selesai belajar Ulumul Quran dan hukum Islam, ia pindah lagi ke Seville yang pada masa itu merupakan pusat pertemuan para sufi di Spanyol. Ia menetap di sana selama 30 tahun untuk memperluas pengetahuan dbidang hukum Islam dan Ilmu Kalam serta mulai belajar tasawuf. Dari Sevilla ia sering berkunjung ke Cordoba dengan tujuan utama untuk menimba ilmu dari Ibnu Russyd, kunjungan inibiasanya ia lanjutkanke wilayah Tunisia dan Maroko.

Pada tahun 1201 M/598 H Ibnu Arabi meninggalkan Spanyol karena situasi politik pada masa itu tidak menguntungkan baginya serta tasawuf yang dianutnya tidak disukai di kawasan itu.Barangkali dengan tujuan utama untuk ibadah haji, ia berangkat menuju kawasan timur. Mesir adalah negeri pertama yang ia singgahi untuk beberapa lama, tetapi ternyata di daerah itu aliran tasawufnya tidak diterima masyarakat. Oleh karena itu ia melanjutkan pengembaraanya melalui Jerussalem dan menetap di Mekah untuk beberapa lama.
Di kawasan Saudi ternyata ia ditterima penguasa dan masyarakat dengan baik. Akan tetapi ia tidak menetap di kota suci itu, karena ternyata pengembaraan itu berakhir di Damaskus sebagai tempat menetapnya sampai ia meninggal tahun 1240 M/638 H dan dimakamkan di kaki gunung Qosiyun. Ia mempunyai dua orang putera yang seorang terkenal sebagai penyair sufi, namanya Sa’duddin dan yang satu lagi Imaduddin, keduanya dimakamkan berdekatan dengan Ibnu Arabi
Ibnu Arabi adalah penulis yang produktif, yang menurut Browne ada 500 judul karya tulis dan 90 judul diantaranya asli tulisan tangannya tersimpan di Perpustakaan Negara Mesir. Tetapi menurut Sya’roni, Ibnu Arabi menulis buku sekitar 400 judul buku saja termasuk Fusus dan Futuhat. Produktifitasnya dalam menulis terutama ia bermukim di Mekkah dan Damaskus atau sekitar 20 tahun terakhir masa hidupnya.

2. Guru-guru dan hasil karya Ibn Arabi
Ketika berusia 30 tahun, ia mulai berkenalan ke berbagai kawasan Andalusia dan kawasan Islam bagian barat. Diantara deretan guru-gurunya adalah
· Abu Madyan Al-Ghauts Al-talimsari
· Yasymin Musyaniyah ( seorang wali dari kalangan wanita )
Keduanya banyak mempengaruhi ajaran-ajaran Ibn Arabi, dikabarkan juga ia pernah berjumpa dengan Ibn Rusyd, filosof muslim dan tabib Istana dinasti Barbar dari Alomohad di Kordoba. Adapun hasil karya Ibn Arabi antara lain :
· Masyahid Al-Asrar
· Mathali’ Al-Anwar Al-Ilahiyah
· Hilyat Al-Abdal
· Kimiya Al-Sa’adat
· Muhadharat Al-Abrar
· Kitab Al-akhlaq
· Majmu’Al-rasa’il Al-Ilahiyah
· Mawaqi’Al-Nujum
· Al-Ma’rifah Al-Ilahiyah
· Al-Isra’Ila Maqam Al-Atsna.
Selain kitab-kitab tersebut ada karya beliau yang monumental yaitu, Al futuhat Al-Makiyyah yang ditulis pada tahun 1201 M, ketika ia sedang menunaikan ibadah haji dan Tarjuman Al-Asuywaq yang ditulisnya untukmengenang kecantikan, ketakwaan dan kepintaran seorang gadis cantik dari keluarga seorang sufi dari Persia.

B. Ajaran Tasawufnya
Ajaran sentral Ibn Arabi adalah tentang wahdat Al-wujud (kesatuan wujud). Meskipun demikian, istilah wahdat Al-wujud yang dipakai untuk menyebut ajaran sentralnya itu, tidaklah berasal dari dia, tetapi berasal dari Ibnu Taimiyah, tokoh yang paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran sentral tersebut. Setidaknya ibnu Taimiyah yang telah berjasa dalam mempopulerkan Wahdat Al-wujud ke tengah masyarakat Islam, meskipun tujuannya negatif. Meskipun semua orang sepakat menggunakan istilah Wahdat Al-wujud untuk menyebut ajaran sentral Ibn ‘Arabi, mereka berbeda pendapat dalam memformulasikan pengertian wahdat Al-wujud
Menurut Ibnu Taimiyah, wahdat Al-wujud adalah penyamaan Tuhan dengan alam. Menurutnya orang yang berfaham ini mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib Al-wujud yang dimiliki oleh khaliq adalah juga adalah mumkin Al-wujud yang dimiliki oleh makhluk. Selain itu ,orang-orang yang mempunyai faham ini juga mengatakan bahwa wujud alam sama dengan wujud Tuhan,tidak ada kelainan dan tidak ada perbedaan.
Paham ini merupakan perluasan dari paham hulul nya Husen Ibnu Mansur al-Hallaj.karena nasut yang ada dalam hulul diubah oleh Ibn ‘Arabi menjadi khalq (makhluk) dan lahut menjadi haq (tuhan). Khalq dan haq adalah dua aspek bagi sesuatu. Aspek yang sebelah luar disebut khalq dan aspek sebelah dalam disbut haq. Menurut paham ini tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek. Aspek luar merupakan ,ard dan khalq yang mempunyai sifat kemakhlukan, dan aspek dalam merupakan jauhar dan haq yang mempunyai sifat ketuhanan. Dengan kata lain dalam tiap-tiap yang berwujud itu terdapat sifat ketuhanan atau haq dan sifat kemakhlukan atau khalq.
Menurut Ibn ‘Arabi , wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khalik pula. Tidak ada perbedaan antara keduanya (khalik dan makhluk) dari segi hakikat. Adapun kalau ada yang mengira adanya perbedaan wujud khalik dan makhluk, hal itu dilihat dari sudut pandang pancaindra lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat apa yang ada pada dzat-Nya dari kesatuan dzatiyah, yang segala sesuatu berhimpun padan-Nya. Hal ini tersimpul dalam ucapan Ibn Arabi berikut ini :


“Mahasuci Tuhan yang telah menjadikan segala sesuatu dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu”.

Menurut Ibn Arabi, wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah, dan Allah adalah hakikat alam. Tidak ada perbedaan antara wujud yang qadim yang disebut khalik dengan wujud yang baru yang disebut makhluk. Tidak ada perbedaan antara ‘abid (menyembah) dengan ma’bud (yang disembah). Antara yang menyembah dan yang disembah adalah satu. Perbedaan itu hanyalah pada bentuk dan ragam dari hakikat yang satu. Untuk pernyataan tersebut Ibn ‘Arabi mengemukakannya lewat syairnya berikut ini :
“Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Demi syu’ur (perasaan) ku, siapakah yang mukallaf ?
Jika engkau katakan hamba, padahal dia (pada hakikatnya)Tuhan juga
Atau engkau katakan, lalu siapa yang dibebani taklif”

Kalau antara khaliq dan makhluk bersatu dalam wujudnya,mengapa terlihat dua ? menurut Ibn Arabi, manusia tidak memandangnya dari sisi yang satu, tetapi memandang keduanya bahwa keduanya adalah khalik dari sisi yang satu dan makhluk dari sisi yang lain. Jika mereka memandang keduanya dari sisi yang satu,atau keduanya adalah dua sisi untuk hakikat yang satu,mereka pasti mengetahui hakikat keduanya,yakni dzatnya satu yang tidak terbilang dan berpisah.
Sehubungan dengan hal ini, Ibn Arabi pun menyatakan dalam syairnya sebagai berikut :
“Pada satu sisi, Al-Haq adalah makhluk,maka pikirlah.
Pada sisi lain, Dia bukanlah makhluk, maka renungkanlah.
Siapa saja yang menangkap apa yang aku katakan, penglihatannya tidak pernah kabur.
Tidak ada yang dapat menangkapnya, kecuali orang yang memiliki penglihatan.
Satukan dan pisahkan(bedakan), sebab ‘ain (hakikat) itu sesungguhnya hanya satu
Hakikat itu adalah yang banyak,yang tidak kekal (tetap) dan yang tidak pula buyar”
Dari keterangan di atas terkesan bahwa wujud Tuhan adalah juga wujud alam dan wujud alam yang dalam istilah barat disebut panteisme, atau yang didefinisikan Henry C. Theissen berikut ini :
“Panteisme adalah teori yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terbatas adalah aspek modifikasi atau bagian dari satu wujud yang kekal dan ada dengan sendirinya. Ia memandang Tuhan sebagi satu dengan natural (alam). Tuhan adalah semuanya, semuanya adalah Tuhan. Ia muncul dalm berbagai bentuk masa kini yang diantaranya mempunyai pula unsur-unsur atestik,polteistik,dan teistik.

Apabila dilihat dari segi adanya kesamaan antara wujud Tuhan dan wujud alam serta antara wujud Tuhan bersatu dengan wujud alam,kemudian membandingkan dengan pengertian panteisme di atas, pemahaman Ibnu Taimiyah tentang wahdat Al- wujud ada benarnya. Meskipun demikian perlu diingat pula bahwa wujud yang disebut oleh Ibn Arabi maksudnya adlah wjud yang mutlak, yaitu wujud Tuhan. Satu-satunya wujud menurut Ibn Arabi adalah wujud Tuhan, tidak ada wujud selain wujud-Nya.
Selanjutnya Ibn Arabi menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan alam, menurutnya , alam ini adalah bayangan Tuhan aatau bayangan wujud yang hakiki.Alam tidak mempunyai wujud sebenarnya. Oleh karena itu, alam merupakan tempat tajali dan mazhar (penampakan ) Tuhan.
Ketika Allah menciptakan alam ini ,Ia juga memberikan sifat-sifat ketuhanan pada segala sesuatu. Alam ini seperti cermin yang buram dan seperti badan yang tidak bernyawa. Allah menciptakan manusia untukmemperjelas cermin itu. Dengan kata lain, alam ini merupakan mazhar (penampakan) dari asma dan sifat Allah yang terus menerus. Tanpa alam, sifat dan asma-Nya itu kehilangan maknanya dan senantiasa dalam bentuk zat yang tinggal dalam ke-mujarrad-an (kesendirian)-Nya yang mutlak yang tidak dikenal oleh siapapun.
Dalam Fushush Al-Hikam, Ibn Arabi menjelaskan hal tersebut dengan ungkapan syairnya :




“Wajah itu sebenarnya hanya satu, tetapi jika anda perbanyak cermin, ia pun menjadi banyak”
Untuk memperkuat pendiriannya, Ibn Arabi mrujuk sebuah hadits Qudsi yang artinya:



“Aku pada mulanya adalah perbendaharaan yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal,maka kuciptakan makhluk lalu dengan itulah mereka mengenal Aku”

Selanjutnya Ibn Arabi dalam sya’irnya menjelaskan tentang tanzih dan tasybih pada Tuhan :

“Jika engkau berkata tanzih, engkaumengikat-Nya. Jika engkau hanya berkata dengan Tasybih, engkau membatasi-Nya.”
Jika engkau berkata dengan kedua-duanya, engkau adalah benar dan engkau adalah imam dan tuan dalam berbagai pengetahuan.
Siapa saja yang berkata dengan dualistis Tuhan dan alam adalah musyrik, dan sipa saja yang berkata dengan pemisahan Tuhan dari alam, adalah muwahhid. Karena itu, berhati-hatilah terhadap tasybih jika engkau mengakui dualistis, dan berhati-hatilah engkau terhadap tanzih jika engkau megakui monoistis.
Engkau bukanlah Dia, tetapi engkau adalah Dia dan engkau melihatnya dalam ‘ain segala sesuatu baik sebagai sesuatu yang lepas maupun sebagai sesuatu yang terikat”

Ibn ‘Arabi kemudian menjelaskan bahwa firman Allah,

Mengandung pengertian, Tanzihkanlah Dia, sedangkan firman-Nya,

Mengandung pengertian, Tasybihkanlah Dia.Dengan demikian, firman Allah,



Mengandung pengertian, “Tasybihkanlah Dia dan jadilah dualistis, dan tanzihkanlah Dia dan jadilah monoistis”



Dari konsep wahda Al-wujud Ibn Arabi ini, muncul dua konsep yang sekaligus merupakan lanjutan atau cabang dari konsep dari wahdat al-wujud tersebut, yaitu konsep Al-hakikat Al-muhammadiyah dan konsep wahdat Al-adyan (kesamaan agama).

Menurut Ibn Arabi Tuhan adalah pencipta alam semesta. Adapun proses penciptaannya adalah sebagai berikut :
1. Tajalli Dzat Tuhan dalam bentuk a’yan tsabitah.
2. Tanazul Dzat Tuhan dari alam ma’ani ke alam ta’ayyunat (relitas-realitas rohaniyah), yaitu alam arwah yang mujarrad.
3. Tanazul kepada realitas-realitas nafsiyah,yaitu alam nafsiyah berfikir.
4. Tanazul Tuhan dalam bentuk ide materi yang bukan materi, yaitu alam mitsal (ide) atau khayal.
5. Alam materi, yaitu alam indrawi

Ibn Arabi juga menjelaskan bahwa terjadinya alam ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran Hakikat Muhammadiyah atau Nur muhammad. Menurutnya, tahapan-tahapan kejadian proses kejadian alam dan hubungannya dengan kedua ajaran itu dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Wujud Tuhan sebagai wujud mutlak, yaitu Dzat yang mandiri dan tidak berhajat pada apapun.
2. Wujud hakikat Muhammadiyah sebagai emanasi (pelimpahan) pertama dari wujud Tuhan kemudian muncullah segala yang wujud dengan proses tahapan-tahapannya sebagaimana dikemukakan di atas.

Karenanya, Ibn Arabi menolak ajaran yang mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dari tiada (cretio ex nihilio). Ia mengatakan bahwa Nur Muhammad itu qadim, dan merupakan sumber emanasi dengan berbagai kesempurnaan ilmiyah dan amaliyah yang terealisasikan pada diri para nabi semenjak Adam sampai Muhammad dan terealisasikan dari Muhammad pada diri para pengikutnya, kalangan para wali, dan insan kamil (manusia sempurna). Ibn Arabi kadang-kadang menyebut hakikat Muhammadiyah tersebut dengan Quthb dan kadang –kadang pula dengan ruh Al-khatam.



KESIMPULAN.

1. Ibn Arabi adalah berasal dari suku al-Taiy, satu rumpun Arab Al-Haitami yang pada umumnya terdiri dari keluarga-keluarga saleh.Dia memiliki nama lengkap muhammad bin ‘Ali bin Ahmad bin ‘Abdullah at-Tha’i Al-Haitami. Lahir di Murcia, andalusia tenggara Spanyol tahun 510 H.
2. Ibn Arabi adalah penulis yang produktif ,yang menurut Browne ada 500 judul karya tulis.Diantara hasil karya yang sangat monumental adalah Al-Futuhat Al-Makiyyah dan Tarjuman Al-Asywaq
3. Ajaran Tasawufnya adalah tentang Wahdat Al-wujud , menurutnya semua yang ada ini adalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khalik pula.
4. Dalam hubungannya antara Tuhan dengan Alam, dia menjelaskan bahwa alam ini adalah bayangan Tuhan atau bayangan wujud yang hakiki. Alam tidak mempunyai wujud sebenarnya.
5. Ibn Arabi juga menjelaskan bahwa terjadinya alam ini tidak dapat dilepaskan dari ajaran Hakikat Muhammadiyah atau Nur Muhammad.
.

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMUPENGETAHUAN


SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
by sariono sby

posted, http://referensiagama.blogspot.com




PENDAHULUAN

Sejarah adalah rekaman tentang semua rentetan peristiwa yang telah terjadi, yang berfungsi sebagai pengungkap segala sesuatu sesuai dengan fakta yang ada tanpa distorsi sedikitpun, tetapi pada kenyataannya ia hanya mengungkap sebagian rentetan peristiwa tersebut dan tidak bisa lepas sepenuhnya dari rekayasa yang biasanya dilakukan oleh penguasa politik. Meskipun fenomena semacam ini pernah terjadi, tetapi hal ini tidak bisa dianggap sebagai persoalan remeh bahkan harus diluruskan, karena menyangkut dan memengaruhi kehidupan generasi selanjutnya sebagai aktor sejarah berikutnya. Apalagi sejarah yang dimaksud adalah sejarah tentang ilmu pengetahuan yang merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, perlu adanya usaha yang sungguh-sungguh serta tanggung jawab moral dan akademik dalam pemaparan sejarah.
Sebelum memaparkan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, terlebih dahulu perlu tentang perbedaan antara pengetahuan dan ilmu agar tidak terjebak pada kesalahpahaman mengenai keduanya, sehingga pembaca bisa memahami dengan mudah dan benar apa yang dimaksud dengan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dalam makalah ini. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem, dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris. Sementara itu, pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai metafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, sedangkan ilmu sudah merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan mekanisme tertentu. Jadi ilmu lebih khusus daripada pengetahuan, tetapi tidak berarti semua ilmu adalah pengetahuan.
Uraian di atas mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan di sini adalah ilmu bukan pengetahuan. Ilmu beraneka-ragam. Maskoeri Jasin membagi ilmu pengetahuan ke tiga kategori besar. Pertama, Ilmu Pengetahuan Sosial yang meliputi psikologi, pendidikan, antropologi, etnologi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi. Kedua, Ilmu Pengetahuan Alam yang meliputi fisika, kimia, dan biologi (botani, zoologi, morfologi, anatomi, fisiologi, sitologi, histologi, dan palaentologi). Ketiga, Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa yang meliputi geologi (petrologi, vulkanologi, dan mineralogi), astronomi, dan geografi (fisiografi dan geografi biologi). Karena luasnya cakupan ilmu, penulis hanya fokus pada sejarah perkembangan sebagian ilmu dari masa ke masa yang terekam oleh literatur-literatur sejarah yang ada dan menyebutkan sebagian tokoh di balik penemuan teori ilmu danpengembangannya.












PEMBAHASAN
Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan
A. Ilmu Pengetahuan Zaman Purba
Secara garis besar, Amsal Bakhtiar membagi periodeisasi sejarah perkembangan ilmu pengetahuan menjadi empat periode: pada zaman Yunani kuno, pada zaman Islam, pada zaman renaisans dan modern, dan pada zaman kontemporer. Periodeisasi ini mengandung tiga kemungkinan. Pertama, menafikan adanya pengetahuan yang tersistem sebelum zaman Yunani kuno. Kedua, tidak adanya data historis tentang adanya ilmu sebelum zaman Yunani kuno yang sampai pada kita. Ketiga, Bakhtiar sengaja tidak mengungkapnya dalam bukunya. Jika kemungkinan pertama yang terjadi, maka informasi dari teks-teks agama tentang nama-nama yang Adam ketahui, misalnya, tidak termasuk ilmu tetapi hanya pengetahuan belaka. Jika kemungkinan kedua yang benar, maka bukan berarti pengetahuan yang tersistem hanya ditemukan dan dimulai pada zaman Yunani kuno, tetapi ia sudah ada sebelumnya hanya saja informasinya tidak sampai pada kita. Jika kemungkinan ketiga yang berlaku, maka penulis perlu mengungkapnya meski hanya sekilas karena keterbatasan referensi yang ada pada penulis.
Menurut George J. Mouly, permulaan ilmu dapat disusur sampai pada permulaan manusia. Tak diragukan lagi bahwa manusia purba telah menemukan beberapa hubungan yang bersifat empiris yang memungkinkan mereka untuk mengerti keadaan dunia. Masa manusia purba dikenal juga dengan masa pra-sejarah. Menurut Soetriono dan SDRm Rita Hanafie, masa sejarah dimulai kurang lebih 15.000 sampai 600 tahun Sebelum Masehi. Pada masa ini pengetahuan manusia berkembang lebih maju. Mereka telah mengenal membaca, menulis, dan berhitung. Kebudayaan mereka pun mulai berkembang di berbagai tempat tertentu, yaitu Mesir di Afrika, Sumeria, Babilonia, Niniveh, dan Tiongkok di Asia, Maya dan Inca di Amerika Tengah. Mereka sudah bisa menghitung dan mengenal angka. Meski agak berbeda dengan pendapat tersebut, Muhammad Husain Haekal (1888-1956) berpendapat lebih spesifik bahwa sumber peradaban sejak lebih dari enam ribu tahun yang lalu (berarti sekitar 4000 SM) adalah Mesir. Zaman sebelum itu dimasukkan orang ke dalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu, sukar sekali akan sampai kepada suatu penemuan yang ilmiah.
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai permulaan zaman pra-sejarah dan zaman sejarah, dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu lahir seiring dengan adanya manusia di muka bumi hanya saja penamaan ilmu-ilmu itu biasanya muncul belakangan. Penekanan terhadap kegunaan dan aplikasi cenderung lebih diutamakan daripada penamaannya. Teori ini berlaku secara umum terhadap beberapa – untuk tidak dikatakan semua– disiplin ilmu dari generasi ke generasi. Berbekal otak, pengalaman, dan pengamatan terhadap gejala-gejala alam, manusia purba sudah barang tentu memiliki seperangkat pengetahuan yang dapat membantu mereka mengarungi kehidupan. Seperangkat pengetahuan tersebut semakin lama akan semakin tersusun rapi karena inilah karakteristik dasar ilmu. Jika kita menafikan adanya ilmu tertentu yang mereka miliki, maka kita akan sulit menjawab pertanyaan: mungkinkah mereka bisa bertahan hidup bertahun-tahun tanpabekalapapun?
Selanjutnya Mouly menyebutkan bukti-bukti secara berurutan terhadap pernyataannya sebagai berikut: Usaha mula-mula di bidang keilmuan yang tercatat dalam lembaran sejarah dilakukan oleh bangsa Mesir, di mana banjir sungai Nil yang terjadi tiap tahun ikut menyebabkan berkembangnya sistem almanak, geometri, dan kegiatan survei. Keberhasilan ini kemudian diikuti oleh bangsa Babilonia dan Hindu yang memberikan sumbangan-sumbangan yang berharga meskipun tidak seinsentif kegiatan bangsa Mesir. Setelah itu muncul bangsa Yunani yang menitikberatkan pada pengorganisasian ilmu di mana mereka bukan saja menyumbang perkembangan ilmu dengan astronomi, kedokteran, dan sistem klasifikasi Aristoteles, namun juga silogisme yang menjadi dasar bagi penjabaran secara deduktif pengalaman-pengalaman manusia.
Peradaban Mesir kuno, misalnya, mewariskan peninggalan-peninggalan bermutu tinggi seperti piramida, kuil, dan sistem penatanan kota. Peninggalan-peninggalan ini tidak mungkin ada tanpa adanya ilmu yang mereka miliki. Proses pembangunan piramida yang menjulang tinggi dan tersusun dari batu-batu besar pilihan tak bisa lepas dari matematika dan arsitektur. Begitu pula dengan proses pembangunan kuil megah mereka. Sementara itu, sistem penataan kota membutuhkan arsitektur dan administrasi pemerintahan. Dengan kata lain, peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut menunjukkan adanya ilmu-ilmu tertentu yang mereka miliki sehingga mereka bisa mewujudkan impian mereka menjadi kenyataan. Menurut Haekal, Mesir adalah pusat yang paling menonjol membawa peradaban pertama ke Yunani atau Rumawi.
Sementara itu, menurut Betrand Russell, pada masa Babilonia lahir beberapa hal yang tergolong ilmu pengetahuan: pembagian hari menjadi dua puluh empat jam, lingkaran menjadi 360 derajat, penemuan siklus gerhana yang memungkinkan terjadinya gerhana bulan bisa diramal dengan tepat dan gerhana matahari dengan beberapa perkiraan. Pengetahuan bangsa Babilonia ini sampai ke tangan Thales , filosof Yunani.
B. Ilmu Pengetahuan Zaman Yunani Kuno
Yunani kuno sangat identik dengan filsafat. Ketika kata Yunani disebutkan, maka yang terbesit di pikiran para peminat kajian keilmuan bisa dipastikan adalah filsafat. Padahal filsafat dalam pengertian yang sederhana sudah ada jauh sebelum para filosof klasik Yunani menekuni dan mengembangkannya. Filsafat di tangan mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada generasi-generasi setelahnya. Ia ibarat pembuka pintu-pintu aneka ragam disiplin ilmu yang pengaruhnya terasa hingga sekarang. Sehingga wajar saja bila generasi-generasi setelahnya merasa berhutang budi padanya, termasuk juga umat Islam pada abad pertengahan masehi bahkan hingga sekarang. Tanpa mengkaji dan mengembangkan warisan filsafat Yunani rasanya sulit bagi umat Islam kala itu merengkuh zaman keemasannya. Begitu juga orang Barat tanpa mengkaji pengembangan filsafat Yunani yang dikembangkan oleh umat Islam rasanya sulit bagi mereka membangun kembali peradaban mereka yang pernah mengalami masa-masa kegelapan menjadi sangat maju dan mengungguli peradaban-peradaban besar lainnya seperti sekarang ini.
Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu ini terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Dari proses inilah kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat yang akhirnya kita nikmati dalam bentuk teknologi. Karena itu, periode perkembangan filsafat Yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia. Inilah titik awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti dan sekaligus mempertanyakan dirinya dan alam jagad raya.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal-usul alam adalah Thales (624-546 SM), setelah itu Anaximandros (610-540 SM), Heraklitos (540-480 SM), Parmenides (515-440 SM), dan Phytagoras (580-500). Thales, yang dijuluki bapak filsafat, berpendapat bahwa asal alam adalah air. Menurut Anaximandros substansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya yang dinamakan apeiron, bukan air atau tanah. Heraklitos melihat alam semesta selalu dalam keadaan berubah. Baginya yang mendasar dalam alam semesta adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya yaitu api. Bertolak belakang dengan Heraklitos, Parmenides berpendapat bahwa realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Phytagoras berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama alam dan sekaligus menjadi ukuran. Unsur-unsur bilangan itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Jasa Phytagoras sangat besar dalam pengembangan ilmu, terutama ilmu pasti dan ilmu alam. Ilmu yang dikembangkan kemudian hari sampai hari ini sangat bergantung pada pendekatan matematika. Jadi setiap filosof mempunyai pandangan berbeda mengenai seluk beluk alam semesta. Perbedaan pandangan bukan selalu berarti negatif, tetapi justeru merupakan kekayaan khazanah keilmuan. Terbukti sebagian pandangan mereka mengilhami generasi setelahnya.
Setelah mereka kemudian muncul beberapa filosof Sofis sebagai reaksi terhadap ketidakpuasan mereka terhadap jawaban dari para filosof alam dan mengalihkan penelitian mereka dari alam ke manusia. Bagi mereka, manusia adalah ukuran kebenaran sebagaimana diungkapkan oleh Protagoras (481-411 SM), tokoh utama mereka. Pandangan ini merupakan cikal bakal humanisme. Menurutnya, kebenaran bersifat subyektif dan relatif. Akibatnya, tidak akan ada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan dia tidak menganggap teori matematika mempunyai kebenaran absolut. Selain Protagoras ada Gorgias (483-375 SM). Menurutnya, penginderaan tidak dapat dipercaya. Ia adalah sumber ilusi. Akal juga tidak mampu meyakinkan kita tentang alam semesta karena akal kita telah diperdaya oleh dilema subyektifitas. Pengaruh positif gerakan kaum sofis cukup terasa karena mereka membangkitkan semangat berfilsafat. Mereka tidak memberikan jawaban final tentang etika, agama, dan metafisika.
Pandangan para filosof Sofis tersebut disanggah oleh para filosof setelahnya seperti Socrates (470-399 SM), Plato (429-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM). Menurut mereka, ada kebenaran obyektif yang bergantung kepada manusia. Socrates membuktikan adanya kebenaran obyektif itu dengan menggunakan metode yang bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Menurutnya, kebenaran universal dapat ditemukan. Bagi Plato, esensi mempunyai realitas yang ada di alam idea. Kebenaran umum ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam idea. Filsafat Yunani klasik mengalami puncaknya di tangan Aristoteles. Dia adalah filosof yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis (logika, metafisika, dan fisika) dan praktis (etika, ekonomi, dan politik). Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman bagi klasifikasi ilmu di kemudian hari. Dia dianggap sebagai bapak ilmu karena mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis. Karena demikian meresapnya serta lamanya pengaruh ajaran-ajaran Plato dan Aristoteles, A.N. Whitehead memberikan catatan bahwa segenap filsafat sesudah masa hidup keduanya sesungguhnya merupakan usulan-usulan belaka terhadap ajaran-ajaran mereka. Pendapat Whitehead tidak seluruhnya benar karena umat Islam, misalnya, selain mengembangkan filsafat mereka, mereka juga melakukan inovasi di beberapa persoalan filsafat Yunani sehingga memiliki karakteristik islami.
C. Ilmu Pengetahuan Zaman Islam Klasik
Ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, hadis, fiqih, usul fiqih, dan teologi sudah berkembang sejak masa-masa awal Islam hingga sekarang. Khusus dalam bidang teologi, Muktazilah dianggap sebagai pembawa pemikiran-pemikiran rasional. Menurut Harun Nasution, pemikiran rasional berkembang pada zaman Islam klasik (650-1250 M). Pemikiran ini dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam al-Qur`an dan hadis. Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani melalui filsafat dan sains Yunani yang berada di kota-kota pusat peradaban Yunani di Dunia Islam Zaman Klasik, seperti Alexandria (Mesir), Jundisyapur (Irak), Antakia (Syiria), dan Bactra (Persia).
W. Montgomery Watt menambahkan lebih rinci bahwa ketika Irak, Syiria, dan Mesir diduduki oleh orang Arab pada abad ketujuh, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dikembangkan di berbagai pusat belajar. Terdapat sebuah sekolah terkenal di Alexandria, Mesir, tetapi kemudian dipindahkan pertama kali ke Syiria, dan kemudian –pada sekitar tahun 900 M– ke Baghdad. Kolese Kristen Nestorian di Jundisyapur, pusat belajar yang paling penting, melahirkan dokter-dokter istana Hārūn al-Rashīd dan penggantinya sepanjang sekitar seratus tahun. Akibat kontak semacam ini, para khalifah dan para pemimpin kaum Muslim lainnya menyadari apa yang harus dipelajari dari ilmu pengetahuan Yunani. Mereka mengagendakan agar menerjemahkan sejumlah buku penting dapat diterjemahkan. Beberapa terjemahan sudah mulai dikerjakan pada abad kedelapan. Penerjemahan secara serius baru dimulai pada masa pemerintahan al-Ma’mūn (813-833 M). Dia mendirikan Bayt al-Ḥikmah, sebuah lembaga khusus penerjemahan. Sejak saat itu dan seterusnya, terdapat banjir penerjemahan besar-besaran. Penerjemahan terus berlangsung sepanjang abad kesembilan dan sebagian besar abad kesepuluh.
Buku-buku matematika dan astronomi adalah buku-buku yang pertama kali diterjemahkan. Al-Khawārizmī (Algorismus atau Alghoarismus) merupakan tokoh penting dalam bidang matematika dan astronomi. Istilah teknis algorisme diambil dari namanya. Dia memberi landasan untuk aljabar. Istilah “algebra” diambil dari judul karyanya. Karya-karyanya adalah rintisan pertama dalam bidang aritmatika yang menggunakan cara penulisan desimal seperti yang ada dewasa ini, yakni angka-angka Arab. Al-Khawārizmī dan para penerusnya menghasilkan metode-metode untuk menjalankan operasi-operasi matematika yang secara aritmatis mengandung berbagai kerumitan, misalnya mendapatkan akar kuadrat dari satu angka. Di antara ahli matematika yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin adalah al-Nayrīzī atau Anaritius (w. 922 M) dan Ibn al-Haytham atau Alhazen (w. 1039 M). Ibn al-Haytham menentang teori Eucleides dan Ptolemeus yang menyatakan bahwa sinar visual memancar dari mata ke obyeknya, dan mempertahankan pandangan kebalikannya bahwa cahayalah yang memancar dari obyek ke mata. Di bidang astronomi, al-Battānī (Albategnius) menghasilkan table-tabel astronomi yang luar biasa akuratnya pada sekitar tahun 900 M. Ketepatan observasi-observasinya tentang gerhana telah digunakan untuk tujuan-tujuan perbandingan sampai tahun 1749 M. Selain al-Battānī, ada Jābir ibn Aflaḥ (Geber) dan al-Biṭrūjī (Alpetragius). Jābir ibn Aflaḥ dikenal karena karyanya di bidang trigonometri sperik. Di bidang astronomi dan matematika, ada juga Maslamah al-Majrīṭī (w. 1007 M), Ibn al-Samḥ, dan Ibn al-Ṣaffār. Ibn Abī al-Rijāl (Abenragel) di bidang astrologi.
Dalam bidang kedokteran ada Abū Bakar Muḥammad ibn Zakariyyā al-Rāzī atau Rhazes (250-313 H/864-925 M atau 320 H/932 M) , Ibn Sīnā atau Avicenna (w. 1037 M), Ibn Rushd atau Averroes (1126-1198 M), Abū al-Qāsim al-Zahrāwī (Abulcasis), dan Ibn Ẓuhr atau Avenzoar (w. 1161 M). Al-Ḥāwī karya al-Rāzī merupakan sebuah ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya. Untuk setiap penyakit dia menyertakan pandangan-pandangan dari para pengarang Yunani, Syiria, India, Persia, dan Arab, dan kemudian menambah catatan hasil observasi klinisnya sendiri dan menyatakan pendapat finalnya. Buku Canon of Medicine karya Ibnu Sīnā sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 M dan terus mendominasi pengajaran kedokteran di Eropa setidak-setidaknya sampai akhir abad ke-16 M dan seterusnya. Tulisan Abū al-Qāsim al-Zahrāwī tentang pembedahan (operasi) dan alat-alatnya merupakan sumbangan yang berharga dalam bidang kedokteran.
Dalam bidang kimia ada Jābir ibn Ḥayyān (Geber) dan al-Bīrūnī (362-442 H/973-1050 M). Sebagian karya Jābir ibn Ḥayyān memaparkan metode-metode pengolahan berbagai zat kimia maupun metode pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejana-bejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal dari karya-karyanya. Sementara itu, al-Bīrūnī mengukur sendiri gaya berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi.
Dalam bidang botani, zoologi, mineralogi, karya orang Arab mencakup gambaran dan daftar berbagai macam tanaman, binatang, dan batuan. Beberapa di antaranya memiliki kegunaan praktis, yakni ketika karya tersebut dihubungkan dengan bidang farmakologi dan perawatan medis.
Selain disiplin-disiplin ilmu di atas, sebagian umat Islam juga menekuni logika dan filsafat. Sebut saja al-Kindī, al-Fārābī (w. 950 M), Ibn Sīnā atau Avicenna (w. 1037 M), al-Ghazālī (w. 1111 M), Ibn Bājah atau Avempace (w. 1138 M), Ibn Ṭufayl atau Abubacer (w. 1185 M), dan Ibn Rushd atau Averroes (w. 1198 M). Menurut Felix Klein-Franke, al-Kindī berjasa membuat filsafat dan ilmu Yunani dapat diakses dan membangun fondasi filsafat dalam Islam dari sumber-sumber yang jarang dan sulit, yang sebagian di antaranya kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh al-Fārābī. Al-Kindī sangat ingin memperkenalkan filsafat dan sains Yunani kepada sesama pemakai bahasa Arab, seperti yang sering dia tandaskan, dan menentang para teolog ortodoks yang menolak pengetahuan asing. Menurut Betrand Russell, Ibn Rushd lebih terkenal dalam filsafat Kristen daripada filsafat Islam. Dalam filsafat Islam dia sudah berakhir, dalam filsafat Kristen dia baru lahir. Pengaruhnya di Eropa sangat besar, bukan hanya terhadap para skolastik, tetapi juga pada sebagian besar pemikir-pemikir bebas non-profesional, yang menentang keabadian dan disebut Averroists. Di Kalangan filosof profesional, para pengagumnya pertama-tama adalah dari kalangan Franciscan dan di Universitas Paris. Rasionalisme Ibn Rushd inilah yang mengilhami orang Barat pada abad pertengahan dan mulai membangun kembali peradaban mereka yang sudah terpuruk berabad-abad lamanya yang terwujud dengan lahirnya zaman pencerahan atau renaisans.
D. Ilmu Pengetahuan Zaman Renaisans dan Modern
Michelet, sejarahwan terkenal, adalah orang pertama yang menggunakan istilah renaisans. Para sejarahwan biasanya menggunakan istilah ini untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Agak sulit menentukan garis batas yang jelas antara abad pertengahan, zaman renaisans, dan zaman modern. Bisa dikatakan abad pertengahan berakhir tatkala datangnya zaman renaisans. Sebagian orang menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan dari zaman renaisans. Renaisans adalah periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Ciri utama renaisans yaitu humanisme, individualisme, sekulerisme, empirisisme, dan rasionalisme. Sains berkembang karena semangat dan hasil empirisisme, sementara Kristen semakin ditinggalkan karena semangat humanisme.
Tokoh penemu di bidang sains pada masa renaisans (abad 15-16 M): Nicolaus Copernicus (1473-1543 M), Johanes Kepler (1571-1630 M), Galileo Galilei (1564-1643 M), dan Francis Bacon (1561-1626 M). Copernicus menemukan teori heliosentrisme, yaitu matahari adalah pusat jagad raya, bukan bumi sebagaimana teori geosentrisme yang dikemukakan oleh Ptolomeus (127-151). Menurutnya, bumi memiliki dua macam gerak, yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teori ini melahirkan revolusi pemikiran tentang alam semesta, terutama astronomi. Kepler adalah ahli astronomi Jerman yang terpengaruh ajaran Copernicus. Dialah yang menemukan bahwa orbit planet berbentuk elips; bahwa planet bergerak cepat bila berada di dekat matahari dan lambat bila jauh darinya. Galileo adalah ahli astronomi Italia yang melakukan pengamatan teleskopik dan mengukuhkan gagasan Copernicus bahwa tata surya berpusat pada matahari. Inkuisi takut akan penemuannya dan memaksanya meninggalkan studi astronominya. Dia juga berjasa dalam menetapkan hukum lintasan peluru, gerak, dan percepatan. Dialah penemu planet Jupiter yang dikelilingi oleh empat buah bulan.
Selanjutnya tokoh penemu di bidang sains pada zaman modern (abad 17-19 M): Sir Isaac Newton (1643-1727 M), Leibniz (1646-1716 M), Joseph Black (1728-1799 M), Joseph Prestley (1733-1804 M), Antonie Laurent Lavoiser (1743-1794 M), dan J.J. Thompson. Newton adalah penemu teori gravitasi, perhitungan calculus, dan optika yang mendasari ilmu alam. Pada masa Newton, ilmu yang berkembang adalah matematika, fisika, dan astronomi. Pada periode selanjutnya ilmu kimia menjadi kajian yang amat menarik. Black adalah pelopor dalam pemeriksaan kualitatif dan penemu gas CO2. Prestley menemukan sembilan macam hawa No dan oksigen yang antara lain dapat dihasilkan oleh tanaman. Lavoiser adalah peletak dasar ilmu kimia sebagaimana kita kenal sekarang. J.J. Thompson menemukan elektron. Dengan penemuannya ini, maka runtuhlah anggapan bahwa atom adalah bahan terkecil dan mulailah ilmu baru dalam kerangka kimia-fisika yaitu fisika nuklir. Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan statistika, sementara pada abad ke-19 lahirlah pharmakologi, geofisika, geomophologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Pada tahap selanjutnya, ilmu-ilmu zaman modern memengaruhi perkembangan ilmu zaman kontemporer.
E. Ilmu Pengetahuan Zaman Kontemporer
Perbedaan antara zaman modern dengan zaman kontemporer yaitu zaman modern adalah era perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15, sedangkan zaman kontemporer adalah era perkembangan terakhir yang terjadi hingga sekarang. Perkembangan ilmu di zaman ini meliputi hampir seluruh bidang ilmu dan teknologi, ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, hukum, dan politik serta ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi serta aplikasi-aplikasinya di bidang teknologi rekayasa genetika, informasi, dan komunikasi. Zaman kontemporer identik dengan rekonstruksi, dekonstruksi, dan inovasi-inovasi teknologi di berbagai bidang.
Sasaran rekonstruksi dan dekonstruksi biasanya teori-teori ilmu sosial, eksakta, dan filsafat yang ada sudah ada sebelumnya, sementara inovasi-inovasi teknologi semakin hari semakin cepat seperti yang kita saksikan dan nikmati sekarang ini. Teknologi merupakan buah dari perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan dari generasi ke generasi. Komputer merupakan hasil pengembangan dari perkembangan listrik (elektronika) yang pada awal penemuannya oleh Faraday belum diketahui kegunaannya. Penemuan bola lampu oleh Edison disusul oleh penemuan radio, televisi, dan komputer.[35] Dari komputer berkembang ke PC (private computer), lap top, dan terakhir simuter yaitu komputer jenis PDA (personal digital assistans).[36] Semua contoh ini merupakan bukti bahwa penemuan teknologi sebagai buah perkembangan ilmu masih berkaitan dengan penemuan-penemuan sebelumnya yang kemudian dikembangkan dengan ukuran fisik yang semakin kecil, tetapi memiliki beragam keunggulan yang lebih besar.
Salah satu hasil teknologi yang menakjubkan dan kontroversial adalah teknologi rekayasa genetika yang berupa teknologi kloning. Dr. Gurdon dari Universitas Cambridge adalah orang pertama yang melakukan teknologi ini pada tahun 1961. Gurdon berhasil memanipulasi telur-telur katak sehingga tumbuh menjadi kecebong kloning. Pada tahun 1993, Dr. Jerry Hall berhasil mengkloning embrio manusia dengan teknik pembelahan. Pada tahun 1997, Dr. Ian Wilmut berhasil melakukan kloning mamalia pertama dengan kelahiran domba yang diberi nama Dolly. Pada tahun yang sama lahir lembu kloning pertama yang diberi nama Gene. Pada tahun 1998, para peneliti di Universitas Hawai yang dipimpin oleh Dr. Teruhiko Wakayama berhasil melakukan kloning terhadap tikus hingga lebih dari lima generasi. Pada tahun 2000, Prof. Gerald Schatten berhasil membuat kera kloning yang diberi nama Tetra. Setelah berbagai keberhasilan teknik kloning yang pernah dilakukan, para ahli malah lebih berencana menerapkan teknik kloning pada manusia.

























KESIMPULAN/ PENUTUP

1.Perkembangan ilmu pengetahuan dapat dipereodisasikan sebagai berikut :
a. Zaman purba
b. Zaman Yunani Kuno
c. Zaman Islam kelasik
d. Zaman Renaisans dan Moderen
e. Zaman kontemporer
2. Perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari rasa keingintahuan
yang besar diiringi dengan usaha yang sungguh-sungguh .
3. Eksperimen dan observasi yang intensif merupakan landasan perkembangan
ilmu pengetahuan.
4. Perkembangan ilmu pengetahuan harus dibarengi dengan pengembangan
moral spiritual manusianya , karena perkembangan ilmu pengetahuan juga
berdampak positif dan negatif bagi manusia.

sekilas tentang TAFSIR MUQADDIMAH FI USUL AT-TAFSIR KARYA IBU TAIMIYAH


sekilas tentang
TAFSIR MUQADDIMAH FI USUL AT-TAFSIR
KARYA IBU TAIMIYAH
by sariono sby
posted, http://referensiagama.blogspot.com.


I. PENDAHULUAN
Penafsiran al-Quran memerlukan metodologi. Tanpa metodologi tafsir, upaya penafsiran al-Quran akan berjalan tanpa kaidah dan lebih bersifat arbitrer, alias suka-suka tanpa alasan rasional.

Di sinilah urgensi metodologi tafsir, atau istilah teknisnya ushul at-tafsir, yang didefinisikan sebagai sekumpulan kaidah (qawâ’id) atau dasar (asas) yang wajib digunakan oleh mufassir untuk menafsirkan al-Quran secara benar.

II. BIOGRAFI PENGARANG
NAMA DAN NASAB

Beliau adalah imam, Qudwah, 'Alim, Zahid dan Da'i ila Allah, baik dengan kata,
tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela
dinullah daan penghidup sunah Rasul shalallahu'alaihi wa sallam yang telah
dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir
bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy. Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah
(Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu'ul Awal tahun 661H.

Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir
saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka
ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta'ala. Akhirnya mereka
bersama kitab-kitabnya dapat selamat.


PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu
tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur'an dan mencari berbagai
cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu.
Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu
Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa
kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu'jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari
Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai
kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang
bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar,
menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya SAW.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh
berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha' dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

PUJIAN ULAMA

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu
Taimiyah .... dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap
kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu'alaihi wa sallam serta lebih ittiba'
dibandingkan beliau.

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku berkumpul
dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan
matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya,
terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: Aku tidak pernah menyangka
akan tercipta manusia seperti anda.

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam,
lalu siapa dia ini ?

Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia .... Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam
tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan
Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya.
Al-'Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata:
Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau
melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi
ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa
menandinginya. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti
mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu
pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan,
susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan
buku-buku.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia adalah
lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma'ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat
menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik
pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi
lain Adz-Dzahabi mengatakan: Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta'dil, Thabaqah- Thabaqah sanad,
pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits
yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa
menyamai atau mendekati tingkatannya .. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa:
Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

DA'I, MUJAHID, PEMBASMI BID'AH DAN PEMUSNAH MUSUH

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da'i yang tabah,
liat, wara', zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang
ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari
kedzaliman musuh dengan pedangnya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah
umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam
untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan
sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran.
Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar,
memberikan kesaksiannya: ...tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat
dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan
memberikan peringatan keras supaya tidak lari... Akhirnya dengan izin Allah
Ta'ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam,
Palestina, Mesir dan Hijaz.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak
kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para
penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum
munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga
beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan
disiksa.

WAFATNYA
Beliau wafatnya di dalam penjara Qal'ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang
muridnya yang menonjol, Al-'Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari,
mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu
beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur'an. Dikisahkan, dalam tiap
harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur'an
delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami'Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur.
Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya,
termasuk para Umara', Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq
menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua,
muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang
pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi
menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. Bahkan menurut ahli sejarah,
belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang
sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu
Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin.

III.METODOLOGI DAN SISTEMATIKA PENULISAN

Pokok-Pokok Metodologi TafsirMetodologi tafsir secara garis besar tidak keluar dari lingkup metodologi tafsir Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Metodologi tafsir beliau dapat diringkas dalam pokok-pokok berikut:
1. Menjadikan bahasa Arab penafsir al-Quran.
Prosedur pemaknaan al-Quran dengan bahasa Arab adalah sebagai berikut:
a) Suatu ayat hendaknya lebih dulu ditafsirkan menurut haqîqah syar’iyyah, yaitu makna hakiki menurut syariah. Misalkan kata shalat (QS al-Baqarah [2]: 34) harus ditafsirkan secara syar’i sebagai shalat yang dicontohkan Rasulullah saw. meski makna asal shalat secara bahasa adalah ad-du’â (doa).
b) Jika tidak ada makna syar’i-nya, hendaklah ayat ditafsirkan menurut haqîqah ‘urfiyah, yaitu makna hakiki menurut kebiasan orang Arab berbicara. Jika makna haqîqah ‘urfiyah juga tak ada, maka ayat ditafsirkan menurut haqiqah lughawiyah, yaitu makna hakiki sebagai makna asal bahasa.
c) Jika suatu ayat tidak dapat ditafsirkan dalam ketiga makna hakikinya mengikuti tertib di atas, ia diartikan menurut makna majazinya. Makna majazi adalah makna sekunder, setelah makna primernya (yaitu makna hakiki) tidak dapat digunakan dalam pengertian aslinya. Misal kata wajh[un] dalam ayat yang berbunyi wa yabqa wajhu rabbika (QS ar-Rahman [55]: 27). Kata wajh[un] tidaklah tepat jika diartikan dalam makna hakikinya (wajah): Tetap kekal wajah Tuhanmu.” Sebab, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah. (QS asy-Syura [42]: 11). Karena itu, kata wajah itu hendak-lah dialihkan menuju makna majazinya, yaitu zat, sehingga makna ayat menjadi: Tetap kekal Zat Tuhanmu (hlm. 27-28).
d) Suatu ayat dapat ditafsirkan dengan mengetahui isytiqâq, yaitu proses derivasi berbagai kata yang berasal dari sebuah akar kata. Misalkan kata rahmah, rahîm dan rahmân, yang berasal dari kata rahima. Proses isytiqâq menurut wazan (pola baku pembentukan kata) dalam bahasa Arab meski melahirkan banyak kata, namun memiliki makna umum yang sama. Misalnya kata rahmân (QS al-Isra’ [17]: 110), artinya adalah kasih sayang yang banyak (katsîr ar-rahmah), yang masih satu makna secara umum dengan akar katanya, yakni rahima (mengasihi/menyayangi) (hlm. 33).
e) Suatu ayat dapat ditafsirkan dengan mengetahui ta’rîb, yaitu proses arabisasi suatu kata yang berasal dari bahasa non-Arab sesuai dengan wazan bahasa Arab. Misalkan kata sundus dan istabraq (QS al-Insan [76]: 21) yang berasal dari bahasa Nabatean (an-nabathiyah). Kedua kata itu dapat diberi makna oleh orang Arab mengikuti makna aslinya dari bahasa yang non-Arab, yaitu sundus berarti sutra halus; sedangkan istabraq berarti sutra kasar

2. Menjadikan Akal Penafsir al-Quran dalam batas kemampuannya.
Akal hanya dapat berfungsi jika obyek yang dipikirkan adalah fakta yang dapat diindera. Jika yang dipikirkan bukan fakta yang dapat diindera.
Karena itu, perkara-perkara gaib tidak dapat dibahas menggunakan akal, melainkan harus menggunakan sarana lain, yaitu dalil naqli (berita yang dinukil dari al-Quran dan as-Sunnah). Contoh: kata kalâmullâh (QS at-Taubah [9]: 6). Allah sendiri telah menyebut bahwa al-Quran adalah kalamullah. Dalam hal ini, tidak perlu dibahas lagi mengenai kayfiyah (bagaimana) caranya Allah ber-kalam (berfirman) itu.

3. Menjadikan muhkam hakim untuk mutasyâbih.
Muhkam artinya ayat yang hanya memiliki satu makna. Mutasyâbih adalah ayat yang mengandung makna lebih dari satu. Muhkam adalah induk al-Quran atau makna asal yang wajib menjadi rujukan (QS Ali ‘Imran [3]: 7). Karena itu, muhkam menjadi hakim (penentu) makna mutasyâbih (hlm.28-29). Contoh mutasyâbih adalah kata wajh[un] (QS ar-Rahman [55]: 27). Kata ini tidak dapat diartikan “wajah tetapi tak seperti wajah kita”. Sebab, pemaknaan ini masih tetap mengikuti arti hakikinya, yakni wajah. Padahal akidah Islam tidak membolehkan adanya tasybîh (penyerupaan) Allah dengan makhluk-Nya. Jadi, kata wajh[un] yang mutasyâbih (QS ar-Rahman [55]: 27) ini wajib dipalingkan ke arah makna majazinya, karena ada ayat muhkam (QS asy-Syura [42]: 11) sebagai hakim yang tidak membenarkan makna hakikinya, yakni firman Allah yang muhkam:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya (QS asy-Syura [42]: 11).

4. Memperhatikan hubungan ayat sebelumnya dengan sesudahnya.

ABU HURAIRAH
by sariono sby

posted, http://referensiagama.blogspot.com

PENDAHULUAN

Anda sering mendengar sebuah nama mulai duduk di bangku madrasah ibtidaiyah sampai perguruan tinggi ? Namun sebenarnya siapakah Abu Hurairah itu ? seorang sahabatkah atau tabi’in?
Dalam persepektif ahli-ahli sejarah muslim, tidak ada sahabat yang meriwayatkan hadis Nabi lebih banyak dari Abu Hurairah. Hadis-hadisnya lebih banyak dari sahabat yang lebih lama hidup bersama Nabi dan bahkan lebih banyak dari Istri-istri Nabi Muhammad. Orang bertanya-tanya bagaimana mereka harus menerangkan fakta ini. Begitu banyaknya hadis yang diriwayatkannya telah mendorong ulama-ulama di zaman dahulu maupun sekarang untuk mendiskusikan keandalan Abu Hurairah.
Oleh karenanya, tidaklah mengherankan bila ulama-ulama ortodoks telah berupaya dengan seksama sepanjang zaman untuk membersihkan tokoh ini dari cela, terkadang dengan cara melakukan interpretasi-interpretasi yang tidak masuk akal terhadap sumber-sumber historis yang dapat memberikan peluang untuk mencela Abu Hurairah. Dapat dilihat pula bahwa ulama-ulama kontomporer Mesir bahkan telah melangkah lebih jauh dalam membela Abu Hurairah dibandingkan ulama pada masa awal.
Diskusi lain harus pula diakui bahwa serangan-serangan terhadap figur ini yang dilancarkan oleh penulis-penulis kontemporer, memang sangat sengit. Salah seorang penulis yang melancarkan serangan pribadi terhadap Abu Hurairah adalah Mahmud Abu Rayyah. Ia adalah seorang murid di madrasah al-Dakwah wal Irsyad, lembaga da’wah muslim yang didirikan oleh Rasyid Ridho. Orientasi utama Mahmud Abu Rayyah adalah untuk membersihkan sejarah Nabi Muhammad dari segala takhayyul dan cerita bohong yang muncul diseputar pribadi Nabi, terutama akibat periwayatan hadis yang berlebihan oleh Abu Hurairah
Kontroversi hadis-hadis Abu Hurairah banyak dilatar belakangi kepentingan politik salah suatu penguasa pada saat itu, sehingga banyak hadis pesanan yang harus dimunculkan di publik untuk mencapai tujuan kepentingannya. Hadis-hadis palsu banyak dimunculkan oleh Abu Hurairah sehingga sampai saat ini masih terjadi kontroversi hadis-hadis yang dikeluarkan Abu Hurairah. Dan yang paling tidak masuk akal dari hadis-hadisnya adalah sebagian didapat dari imajinasinya.
























PEMBAHASAN

1. Histori Singkat Abu Hurairah
Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Sakhir bin Tsalabah bin Salim bin Fahmi bin Ghanan bin Daws Al Yaman, dinisbatkan kepada Dausi bin Udtsan bin Abdillah bin Zahran bin Ka’bah bin Al Harits bin Kalb bin Abdillah bin Malik bin Nashar bin Syanuah bin Al Azd, Al Azd termasuk kabilah yang paling besar dan terkenal di Arab dan dinisbatkan pula pada Al Azad bin Ghauts bin Nuhat bin Malik bin Kahlan dari Arab Al Qathaniyah.
Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai nama beliau, demikian pula tentang nama ayahnya. Beliau sendiri menerangkan, bahwa di masa Jahiliyah beliau bernama Abu Syams. Setelah memeluk Islam, beliau diberi nama oleh Nabi dengan Abdur Rahman al-S}ahri atau Abdullah, ibunya bernama Maimunah, yang memeluk Islam berkat seruan Nabi. Beliau lahir tahun 21 sebelum Hijriyah = tahun 602 M.
Abu Hurairah datang ke Madinah pada malam futuh Khaibar pada bulan Muharram tahun 7 H. Lalu memeluk agama Islam. Setelah beliau memeluk Islam, beliau tetap beserta Nabi dan menjadi ketua Jama’ah Ahlus Suffah, karena inilah beliau mendengar Hadis Nabi. Abu Hurairah lahir di Yaman dan besar disana sampai ia berumur lebih dari 30 tahun. Ia demikian bodoh dan tidak memiliki wawasan ataupun pengetahuan. Ia adalah seorang papa yang pelupa oleh karena usianya, seorang yatim yang diterjang kemiskinan, menjadi buruh ini dan itu pada laki-laki ataupun wanita hanya untuk mengisi perutnya
Rasulullah menjulukinya “Abu Hurairah (bapak kucing kecil)” , ketika beliau melihatnya membawa seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah itu semata karena kecintaan beliau padanya. Sehingga jarang ada orang yang memanggilnya dengan nama sebenarnya (Abdurrahman bin Sakhr). Dan Nabi menjulukinya seperti itu karena setiap hari Abu Hurairah selalu membawa kucing kemana ia pergi dan pada malam hari ditempatkan disebuah pohon.sehingga beliau juga disebut bapaknya kucing, karena kecintaan Abu Hurairah.

2. Abu Hurairah, Pada Masa Rasulullah, para Sahabat
Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun ke 7 H, yakni bertepatan dengan terjadinya perang Khaibar. Ia adalah pemimpin para ahli Suffah, yang menggunakan seluruh waktunya beribadah di masjid Nabawi. Allah ternyata mengabulkan do’a Nabi Muhammad SAW, agar Abu Hurairah dianugerahi hafalan yang kuat. Ia memang paling banyak hafalannya diantara para sahabat. Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, al-Nasa>i>, Abi> Ya’la> dan Abi> Nu’aim mentakhrijkan sebuah hadis darinya, bahwa ia pernah berkata :
حدثنا الحسن ابن حماد حدثنا معاوية ابن هشام عن الوليد ابن عبد الله ابن جُمَيْع عن أبي الطفيل عن أبي هريرة قال: «شكوت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم سوء الحفظ قال:«افتح كساءك قال: ففتحته. قال : ضمه. قال: فما نسيت بعد شيئا» .

Artinya : Menceritakan kepada kami Hasan ibn Hamma>d, menceritakan kepada kami Mu’a>wiyah ibn Hisha>m dari Wali>d ibn ‘Abdulla>h ibn Jumai’ dari Abi> T{ufail dari Abi> Hurairah ia berkata : Aku pernah mengadu kepada Rasulullah SAW tentang jeleknya hafalan, Rasulullah bersabda : “Bentangkanlah selendangmu”, akupun membentangkannya. Lalu Rasulullah menceritakan banyak hadith kepadaku dan aku tidak melupakan sedikitpun apa yang beliau ceritakan kepadaku.
Abu Hurairah betapapun wira’i, takwa dan zuhudnya selalu gembira dan suka berkelakar. Apabila melewati anak-anak, ia kerapkali membuat mereka tertawa, kalau bertemu dengan orang-orang dipasar, ia menceritakan sesuatu yang membuat mereka gembira. Tetapi jika sedang sendirian ia bertahajjud, yang dilakukan dengan khusyu’ sepanjang malam. Bahkan menurut pengakuan Abu Hurairah sendiri, ia telah membagi waktu setiap harinya menjadi tiga bagian , sebagian untuk beribadah sebagian untuk menghafal hadis dan sebagian lagi untuk istirahat. Kelebihan lain yang dimiliknya adalah kuat dalam hafalan dan ia tergolong pada salah seorang fari tujuh sahabat yang paling banyak hafalannya di bidang hadis.
Adapun sahabat-sahabat tersebut adalah :
1) Abu Hurairah; Abdurrahman bin Sakhr Al-Dausi Yamany, lahir tahun 19 SH dan wafat pada tahun 59 H. Jumlah hadis yang diriwayatkannya adalah 5374 buah hadis.
2) Abdullah bin Umar bin Al-Khotib ra, yang lahir tahun 10 SH dan wafat pada tahun 73 H. Jumlah hadis yang diriwayatkannya adalah 2630 buah hadis.
3) Anas bin Malik ra, yang lahir pada tahun 10 SH dan wafat pada tahun 93 H. Jumlah hadis yang diriwayatkannya adalah 2286 buah hadis.
4) Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shidiq, Umul Mu’minin yang lahir 9 H dan wafat pada tahun 58 H. Jumlah hadis yang diriwayatkannya adalah 2210 buah hadis.
5) Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib yang lahir 3 SH dan wafat pada tahun 68 H. Jumlah hadis yang diriwayatkannya adalah 1660 buah hadis.
6) Jabir bin Abdillah al-Anshory yang lahir 6 SH dan wafat pada tahun 78 H. Jumlah hadis yang diriwayatkannya adalah 1540 buah hadis.
7) Abu Said Al Khudry, yang lahir 12 SH dan wafat pada tahun 59 H. Jumlah hadis yang diriwayatkanya adalah 1170 buah hadis.
Pada Masa Nabi. Kontroversi Abu Hurairah sudah bisa ditemukan dan dianalisa pada masa bersama Nabi. Bukhori menyebutkan , bahwa Abu Hurairah berkata : “orang-orang mengatakan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan begitu banyak hadis yang barangkali tidak dikatakan oleh Nabi. Aku mendekati Nabi hanya untuk memuaskan laparku.” Abu Hurairah meriwayatkan hadis-hadisnya hanya untuk membuat senang orang kebanyakan pada dirinya terutama setelah meninggalnya Sahabat-Sahabat besar.
Pada Masa Khalifah. Pada masa Utsman. Abu Hurairah menjadi sangat bergairah kepada keluarga Abdul Ass dan seluruh Bani Umayyah ketika Utsman menjadi Khalifah. Ia menggandeng Marwan bin Hakam serta menyanjung keluarga Abu Ma’ith, karena itu ia menjadi orang yang penting terutama setelah pengepungan rumah Utsman selama revolusi melawannya, sebab Abu Hurairah bersamanya didalam rumah itu. Karenanya, ia memperoleh kemekaran dan ketenaran.
Abu Hurairah mendapatkan momen yang pas untuk mencari kesempatan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dengan bergabung dengan gerombolan Utsman yang dikepung oleh pemberontak, karena Abu Hurairah tahu bahwasannya para pemberontak tersebut hanya mengincar nyawa Utsman.
Contoh hadis Abu Hurairah yang merupakan hanya untuk kepentingan pribadinya dan demi untuk menyenangkan orang yaitu :
حدّثنا محمد بن الحسن الأسدي قال ثنا إبرٰهيم بن طهمان عن موسى بن عقبة عن جدة أبي حسنة قال : دخلت الدار على عثمٰن وهو محصور، فسمعت أبا هريرة يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي فِتْنَةً وَاخْتِلاَفًا»، قال: فقال له قائل: فما تأمرنا ؟ فقال: «عَلَيْكُمْ بِالأَمِيرِ وَأَصْحَابِهِ ».

Artinya : Menceritakan kepada kami Muhammad ibn Hasan al-Asadi> berkata, keduanya memuji Ibrahim ibn T{ahman dari Musa ibn ‘Aqabah dari kakeknya Abi Hasanah berkata : saya masuk ke rumah Usman kemudian saya mendengar Abu Hurairah berkata : saya mendengar Rasulullah SAW. Bersabda : “Akan ada kerusuhan dan perselisihan setelahku.” Mereka berkata, “apa yang Engkau perintahkan kepada kami kalau begitu?” Beliau bersabda, menunjuk kepada Imam Ali,” pertahankan Amir serta sahabat-sahabtnya.”

Akan tetapi Abu Hurairah lebih membuat senang keluarga Abul Ash, Abu Ma’ith dan Abu Sofyan, karena itu ia mengubah hadis ini kepada Utsman. Dan sebagai imbalannya, mereka memberi hadiah untuk segala “kebaikannya.”
Dari sini sudah bisa disangsikan bahwasannya sebgian hadis dari Abu Hurairah tidak sesuai dengan ucapan Nabi. Pada masa Bani Umayyah juga demikian. Bani Umayyah memperbudak Abu Hurairah dengan berbagai kebaikan mereka, mereka mengambil pendengaran, penglihatan serta hatinya, dan menjadikannya seorang yang penurut, jadi ia adalah sarana dari kebijakan-kebijakan mereka.
Bani Umayyah menyuruh Abu Hurairah membuat hadis-hadis tersebut diatas hanya untuk kepentingan politis untuk mengalahkan Imam Ali. Karena dengan menyebar hadis-hadis palsu yang bisa menjatuhkan Imam Ali, akan mudah baginya utnuk mempengaruhi masyarakat agar membenci Ali dan target Muawiayah akan berhasil. Berikut contoh hadisnya yang mencemarkan Imam Ali. Nabi bersabda :
عَنْ مرةَ الهمداني قَالَ: «قَرَأَ عَلَيْنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ صَحِيفَةً قَدْرَ إِصْبَعٍ كَانَتْ فِي قِرَابِ سَيْفِ رَسُولِ اللَّهِ وَإِذْ فِيهَا: إِنَّ لِكُل نَبِيَ حَرَمَاً، وَأَنَا أُحَرمُ المَدِينَةَ، مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثَاً أَوْ آوىٰ مُحْدِثَاً، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين. قال : وأشهد بالله أن علياأحدث فيها فلما بلغ معاوية قوله أجازه وأكرمه وولاه إمارة المدينة.
Artinya : dari Marrah al-Hamdani berkata : ‘Ali ibn Abi T{alib membacakan kepada kami s{hifah sekedarnya di dekat pedang Rasulullah SAW : “ Setiap Nabi mempunyai tempat suci. Tempat suciku adalah Madinah. Barang siapa yang berbuat kerusakan di Madinah, akan dikutuk oleh Allah, para malaiakat dan seluruh umat manusia.” Aku bersumpah demi Allah bahwa Ali telah berbuat kerusakan di dalamnya. Ketika mendengar ucapan itu, Muawiyah menyetujuinya, memberi imbalan serta mengangkatnya menjadi Gubernur Madinah.

Disini jelas keluarnya hadis buatan Abu Hurairah adalah untuk kepentingan Muawiyah dan itu sangat bertentangan dengan pribadi Ali yang dimuliyakan oleh Nabi.

3. Jumlah Hadis-Hadis Abu Hurairah
Semua yang mengumpulkan hadis secara bulat setuju bahwa Abu Hurairah telah meriwayatkan hadis-hadis lebih banyak dari siapapun juga. Mereka telah menghitung hadis-hadisnya, yang berjumlah 5.374 buah. Bila dibandingkan dengan keempat khalifah, jumlah ini sangat banyak. Abu Bakar telah meriwayatkan sejumlah 142 Hadis, Umar meriwayatkan 537 Hadis, Utsman 146 dan Ali meriwayatkan 586. jadi total hadis semuanya adalah 1.411 buah hadis.
Jika dibandingkan dengan masa hidup bersama dengan Nabi, Abu Hurairah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan para Sahabat. Diperkuat lagi dengan Aisyah (istri Nabi), hadis-hadis yang diriwayatkan berjumlah 2.210 buah meskipun ditambahkan dengan yang diriwayatkan Ummu Salamah, bahkan seluruh istri Nabi itupun masih kalah banyak dibandingkan hadis Abu Hurairah.

4. Contoh Hadis-Hadisnya
Dua orang ulama besar menyebutkan bahwa Abu Hurairah telah berkata : “ Nabi Muhammad SAW bersabda “ Ya Allah, Muhammad tidak lain hanyalah manusia biasa. Ia marah sebagaimana manusia lainnya. Aku berjanji pada-Mu yang Engkau tidak akan membatalkannya. Setiap mukmin yang aku lukai, aku aniaya, kutuk serta aku dera, biarkan itu menjadi penebus dosanya serta menjadi jalan baginya agar menjadi lebih dekat dengan-Mu.
Hadis diatas sangat bertentangan dengan Nabi, Nabi-Nabi jauh dari setiap ucapan atau tindakan yang akan bertentangan dengan kemaksuman mereka atau dengan semua yang tidak akan cocok dengan kebijaksanaan serta kearifannya. Ini juga diperkuat oleh Aisyah (istri Nabi) tentang akhlak Nabi, suatu hari ada orang yang bertanya tentang akhlak Nabi Muhammad SAW. Aisyah mengatakan padanya, “Apakah engkau membaca Qur’an?” ia berkata, “ya” Aisyah berkata , “Qur’an adalah akhlaknya”
Abu Hurairah mengeluarkan hadis diatas hanya untuk melindungi dan membela kemunafikan bani Umayah yang telah melakukan penganiayaan dan pengrusakan.
Muslim menyebutkan bahwa Abdul Malik bin Abu Bakar berkata bahwa Abu Bakar telah berkata :
حدثنا عبد الله ، حدثني أبي، حدثنا يحيـى بن سعيد ، عن ابن جريج قال: حدثني عبد الملك بن أبي بكر بن عبد الرحمن بن الحارث بن هشام ، عن أبيه:«أنه سمع أبا هريرة يقول: من أصبح جنباً من غير احتلام فلا يصوم فانطلق أبو بكر وأبوه عبد الرحمن حتى دخلا على أم سلمة وعائشة، فكلتاهما قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلّم يصبح جنباً من غير احتلام ثم يصوم فانطلق أبو بكر وأبوه عبد الرحمن فأتيا مروان، فحدثاه، ثم قال: عزمت عليكما لما انطلقتما إلى أبي هريرة فحدثتماه، فانطلقا إلى أبي هريرة،فأخبراه قال: هما قالتاه لكما؟ فقالا: نعم، قال: هما أعلم، إنما أنبأنيه الفضل بن عباس».
Artinya : menceritakan kepada kami ‘Abdullah, menceritakan kepadaku Ubay, menceritakan kepada kami Yahya ibn Sa’id dari Ibn Juraij berkata : “Aku mendengar Abu Hurairah meriwayatkan dalam berbagai ceritanya “ Barangsiapa yang tidak suci setelah fajar, maka ia tidak berpuasa”. Aku sampaikan hadith ini kepada Aisyah dan Ummu Salamah (Istri Nabi), bertanya kepada mereka dan mengatakan padaku “ Nabi tidak suci di pagi hari tanpa mimpi basah dan beliau berpuasa”. Kemudian ditanyakan dan dibicarakan kepada Abu Hurairah yang disampaikan Aisyah dan Ummu Salamah. Abu Hurairah berkata “mereka lebih tahu daripada aku”. Aku mendengar hadis ini dari al-Fadhl dan tidak mendengarnya dari Nabi langsung.

5. Kaum Muslim terkemuka menolak Hadis-Hadisnya
Orang-orang menolak serta mencela berlebihannya Abu Hurairah dalam meriwayatkan hadis-hadis pada masanya. Ia melebihi seluruh batas dan memiliki sebuah gaya khusus yang membuat orang-orang meragukannya serta meragukan pula hadis-hadisnya. Mereka menolak kuantitas serta kualitasnya dari hadis-hadisnya dan secara terang-tarangan menyalahkannya.
Mustafa Sadiq ar-Rafi dalam hal ini berkata, “yang paling banyak meriwayatkan hadis diantara para Sahabat adalah Abu Hurairah. Persahabatannya dengan Nabi hanya tiga tahun, oleh karena itu Umar, Utsman, Ali serta Aisyah menolak hadis-hadisnya serta meragukannya. Ia adalah perawi pertama dalam sejarah Islam yang diragukan (dituduh membuat hadis). Aisyah paling keras menolak hadis-hadisnya. An Nazzam juga berkata “Umar, Utsman, Ali serta Aisyah memandang Abu Hurairah seorang pendusta.”

6. Kritik Mahmud Abu Rayyah terhadap Abu Hurairah
Keberadaan Abu Hurairah yang memiliki kemampuan meriwayatkan hadis sangat banyak dibanding dengan para sahabat yang lain, menyebabkan dirinya tidak lepas dari lontaran kritikan. Diantaranya adalah kritikan yang disampaikan oleh Mahmud Abu Rayyah terhadap Abu Hurairah. Kritikan ini ditujukan untuk menjatuhkan atau menurunkan reputasinya dibidang hadis. Kritikan tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

a. Dugaan bahwa Abu Hurairah itu Rakus
Abu Rayyah mencoba untuk menurunkan reputasi Abu Hurairah dengan menguraikan tentang reputasinya sebagai orang yang rakus, seperti yang disebutkan oleh Ats Tsa’alibi, dalam bukunya yang berjudul Thima>r Al-Qutub Fi al-Muda>f wal Manshu>b. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Abu Hurairah rakus dikala makan, terutama menyukai makanan yang berupa campuran susu dan daging. Hal ini membuat Abu Hurairah mendapat julukan Syeikh Al-Mudhirah yang terkenal memliki kesukaan makanan mudhirah bersama Muawiyah Ibn Abi Sofyan. Bahkan ada sebuah riwayat yang dikutip oleh Abu Rayyah, yang menyebutkan bahwa Abu Hurairah pernah berkata bahwa : “Mudhirah Mu’awiyah lebih berminyak dan lebih lezat, sedangkan sholat dibelakang Ali lebih baik”. Abu Rayyah juga mengutip dari Ats Tsa’labi beberapa gurauan yang diduga keras gurauannya milik Abu Hurairah. Menurut Abu Rayyah, prilaku Abu Hurairah itu tidak serius (tidak sungguh-sungguh), sedangkan riwayat yang pertama itu menunjukkan bahwa Abu Hurairah itu tidak objektif.
As Siba’i dan As Samahi ikut turun untuk membela Abu Hurairah. Ia menolak upaya-upaya menyalahkan dan mempertalikan hal-hal seperti tersebut diatas, bahwa Allah tidak pernah melarang manusia menikmati makanan Allah, juga tidak pernah mencela perbuatan polos yang menggelikan hati. Abu Hurairah jelas-jelas seorang yang suka humor dengan kegembiraan yang tidak mengganggu, kata As Siba’i dan As Samahi kelakar Abu Hurairah terhadap orang lain tidaklah mengurangi karakternya atau keandalannya dalam meriwayatkan hadis-hadis dari Nabi. As Siba’i memberikan interpretasi-interpretasi yang panjang bahwa semua gurauan yang dikutip oleh Abu Rayyah benar-benar tidak merugikan pihak lainnya. Selanjutnya Abu Rayyah disalahkan karena mengutip penulis-penulis seperti Ats Tsa’alabi dan Hamadzani yang karya-karyanya tidak dapat dianggap sebagai sumber-sumber yang andal untuk memperoleh data historis.

b. Berapa lama Abu Hurairah tinggal bersama Nabi?
Problem berapa lama sebetulnya Abu Hurairah tinggal bersama Nabi, mengusik pikiran banyak orang. Mulai dari masa Abu Hurairah bersama Nabi sampai wafatnya Nabi, berlalu waktu lima bulan. Namun terdapat catatan-catatan historis yang menyebutkan bahwa Abu Hurairah sendiri berkata “ aku bersama Nabi selama tiga tahun” dengan berasumsi bahwa Abu Hurairah menyebutkan tiga tahun hanyalah untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak tinggal bersama Nabi terus menerus selama 50 bulan, tetapi bahwa dirinya juga melewatkan beberapa waktu, paling sedikit lebih dari tiga tahun. Pada akhir 8 H Nabi Muhammad mengutus Abu Hurairah bersama sama dengan Al A’la bin Al Hadhrami ke Bahrain untuk menjalankan misi. Ini dikukuhkan dalam semua sumber. Dari sinilah mulai timbul berbagai kesulitan untuk menentukan berapa lama ia bersama Nabi.
Keadaan yang menyulitkan dalam menentukan berapa lama Abu Hurairah bersama Nabi, ini dimanfaatkan dengan baik oleh Abu Rayyah. Abu Rayyah berpendapat bahwa Abu Hurairah tidak kembali dari Bahrain sampai disuruh pulang oleh Umar bin Khatab ketika Umar menjabat sebagai Khalifah. Dengan ini ia mengatakan secara tidak langsung bahwa Abu Hurairah tinggal dekat dengan Nabi hanya selama satu tahun sembilan bulan, bukannya tiga tahun atau lebih. tetapi terdapat riwayat-riwayat yang menegaskan bahwa Abu Hurairah tidak lama berada di Bahrain, ia segera kembali ke Madinah.
Abu Rayyah disini meragukan semua Abu Hurairah karena mustahil bagi ia orang yang sebentar bersama Nabi bisa meriwayatkan Hadis yang begitu banyak. Dengan pendapatnya diatas bisa melemahkan Abu Hurairah.

c. Banyaknya jumlah Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah
Berapa banyak hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah dalam waktu yang relatif singkat, sehingga menyebabkan banyak pihak bertanya-tanya. Abu Rayyah mengutip riwayat-riwayat termasyhur yang disampaikan Abu Hurairah yang mengatakan :
حدّثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ . جَمِيعاً عَنْ سُفْيَانَ . قَالَ زُهَيْرٌ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ الأَعْرَجِ . قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ، يَقُولُ: إِنَّكُمْ تَزْعُمُونَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللّهِ . وَاللّهُ الْمَوْعِدُ. كُنْتُ رَجُلاً مِسْكِيناً. أَخْدُمُ رَسُولَ اللّهِ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي. وَكَانَ الْمُهَاجِرُونَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالأَسْوَاقِ. وَكَانَتِ الأَنْصَارُ يَشْغَلُهُمُ الْقِيَامُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ.

Artinya : menceritakan kepada kami Qutaibah ibn Sa’id dan Abu Bakr ibn Abi> Syaibah dan Zuhair ibn Harb. Semuanya dari sufyan. Zuhair berkata : menceritakan kepada kami Sufyan ibn ‘Uyaynah dari Zuhri dari A’raj. Berkata : saya mendengar Abu Hurairah berkata : “sesungguhnya kamu sekalian mengaku bahwa Abu Hurairah telah meriwayatkan sedemikian banyak hadis dari Nabi, Tuhan menjadi saksi bagiku aku ini orang miskin, yang mengabdi kepada Nabi hanya untuk mendapatkan makanan (‘ala> mil’i bat}ni), sedangkan orang-orang Muhajir sibuk di pasar dan orang-orang Anshar sibuk dengan kekayaan mereka”.

Versi lain mengatakan bahwa Abu Hurairah berkata :
حدّثنا أبو اليَمانِ قال: حدَّثَنا شُعيبٌ عن الزُّهريِّ قال: أخبرَني سعيدُ بن المسيَّبِ وأبو سلمةَ بنُ عبدِ الرحمنِ أنَّ أبا هريرةَ رضيَ الله عنه قال: «إنَّكم تَقولونَ: إِن أبا هريرةَ يُكثِرُ الحديثَ عن رسولِ الله صلى الله عليه وسلّم وتقولون: مابالُ المهاجرينَ والأنصارِ لايُحدِّثون عن رسولِ الله صلى الله عليه وسلّم بمثلِ حديثِ أبي هريرة؟ وإِن إخوتي من المهاجرينَ كان يَشْغَلُهُم الصَّفقُ بالأسواقِ وكنتُ ألزَمُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلّم على ملْءِ بَطني، فأشهَدُ إذا غابوا، وأحفَظُ إذا نَسُوا.

Artinya : menceritakan kepada kami Abu> al-Yamma>n berkata : menceritakan kepada kami Shu’aib dari Zuhri berkata : mengkhabarkan kepadaku Sa’i>d ibn Musayyab dan Abu> Salamah ibn ‘Abdurrahman bahwasanya Abu Hurairah berkata : “Engkau katakan bahwa Abu Hurairah telah meriwayatkan sedemikian banyak, Allah dapat membuktikan aku dan engkau kenapa orang-orang Muhajir dan Anshar tidak meriwayatkan sebanyak dirinya. Baik, aku katakan padamu saudaraku dari kaum Anshar sibuk menggarap tanah-tanah mereka, sedangkan aku tinggal bersma Nabi hanya untuk mendapatkan makanan. Aku hadir mereka tidak hadir, dan aku hafal sedangkan mereka lupa.

As Siba’i menafsirkan riwayat-riwayat tersebut sebagai keajaiaban yang dianugerahkan pada seseorang, tidak ditemukannya tanda-tanda kecurigaan, apalagi tuduhan adanya kebiasaan berdusta, dalam kata-kata ini As Samahi menyatakan bahwa tiga tahun terakhir sebelum Nabi wafat, terjadi begitu banyak peristiwa sehingga dapat menjadi penyebab sedemikian banyak hadis yang mengalir dari Abu Hurairah. Abu Hurairah juga meriwayatkan peristiwa-peristiwa sebelum kabar sahabat-sahabat yang lebih senior.
Dalam hubungan ini penting untuk dikutip riwayat yang lain. Abu Hurairah berkata :
أخبرنا عبدُ الله بن محمد الأزدي ، حدثنا إسحاقُ بن إبراهيمَ ، أخبرنا سفيانُ ، عن عمرو بنِ دينارٍ ، عن وهبِ بن مُنَبَّهٍ ، عن أخيه قال:سمعت أبا هريرة يقول : ما مِنْ أصحابِ رسولِ الله أكثرَ حديثاً مني إلا عبدُ اللَّهِ بنُ عمرو، فإنَّهُ كانَ يكتُبُ، وكُنْتُ لا أَكْتُبُ.
Artinya : Mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah ibn Muhammad al-Azadi, menceritakan kepada kami Ishaq ibn Ibrahim, mengkhabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Amr ibn Dinar dari Wahab ibn Munabbih dari saudaranya ia berkata : saya mendengar Abu Hurairah berkata : “Tidak ada sahabat Nabi meriwayatkan lebih banyak dari aku kecuali Abdul bin ‘Amr bin Ash. Dia menulis hadith-hadith sementara aku tidak.”

Disini Abu Rayyah menyakan bahwa “Abdullah telah meriwayatkan jauh lebih sedikit dibanding Abu Hurairah, misalnya musnad ibn Hambal termaktub 722 hadis yang diriwayatkan olehnya dan Bukhari mencatat tujuh sedangkan Muslim dua puluh. Abu Rayyah menduga keras bahwa Abu Hurairah mungkin tidak berani meriwayatkan hadis sebanyak seperti yang diinginkannya karena sahabat-sahabat besar masih hidup pada saat dia membuat pernyataan ini. Mereka mungkin tidak setuju dengan kegiatannya. Di lain pihak As Samahi mengutip ibn Hajar, yang menyatakan bahwa Abu Hurairah rupanya mempunyai kesan bahwa hadisnya kurang banyak dibandingkan dengan hadis-hadis Abdullah.

d. Riwayat tentang “Membentang Jubah”
Abu Hurairah tentu merasa bahwa dirinya harus membenarkan iktsarnya. Salah satu riwayat paling masyhur yang mencatat hadis tentang membentangkan jubah.
Tersebut dalam Ash Shahih, bahwa Abu Hurairah berkata :
حدثنا أحمد بن أبي بكر أبو مصعب قال حدثنا محمد بن إبراهيم بن دينار عن ابن أبي ذئب عن سعيد المقبري عن أبي هريرة قال : قلت يا رسول الله إني أسمع منك حديث كثيرا أنساه ؟ قال ( أبسط رداءك ) . فبسطته قال فغرف بيديه ثم قال ( ضمه ) فضممته فما نسيت شيئا بعده.

Artinya : menceritakan kepada kami Ahmad ibn Abi Bakr Abu Mus{‘ab berkata, menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ibrahim ibn Dinar dari Abi Dhi’ib dari Sa’id al-Muqbari dari Abu Hurairah berkata : ” Ya Rasulullah, saya mendengar dari tuan banyak hadis, tetapi saya banyak lupa, mendengar itu Nabi bersabda, “hamparkan selimutmu”. Maka Nabi mengambil kain itu dengan tangannya, kemudian Nabi berkata, “berselimutlah”! selanjutnya Abu Hurairah berkata “ maka saya pun berselimut. Setelah itu saya tidak pernah lupa sesuatu yang saya dengar dari Nabi.”

Abu Rayyah meragukan bahwa daya ingat Abu Hurairah tidak begitu bagus, kalau tidak tentu dia Abu Hurairah tidak akan mengeluhkan ini kepada Nabi.

e. Pandangan Orientalis
Pandangan Goldziher seorang orientalis Yahudi terhadap Abu Hurairah bahwa pengetahuannya yang luas tentang hadis-hadis telah menimbulkan keraguan pada jiwa orang-orang yang mengambil darinya secara langsung. Yakni Abu Hurairah menyampaikan dari Nabi apa yang tidak ia dengar dari beliau.
Sedangkan Sprenger yang dikutip HAR. Gibb dan Kramer mengatakan bahwa Abu Hurairah adalah the extreme of pious humbug (orang ekstrim yang berpura-pura suci).

f. Analisis
Mahmud Abu Rayyah telah berupaya keras mendiskripsikan Abu Hurairah dengan cara yang negatif, ia telah mengambil hampir setiap kesempatan untuk menunjukkan kepribadian Abu Hurairah, ia memberi stressing pada semua cacat kecil Abu Hurairah, seperti suka melucu, serakah, tidak serius, meminta-minta dan lain-lain, tentunya dalam rangka menolak Abu Hurairah.
Di sisi lain, kaum ortodoks, terutama yang diwakili oleh ulama-ulama Al Azhar, memupuk rasa takdzim yang amat dalam terhadap Abu Hurairah. Dengan semangat untuk membebaskan Abu Hurairah dari setiap tuduhan, mereka mengemukakan banyak hadis, yang menggambarkan Abu Hurairah sebagai suri tauladan ketaqwaan. Ulama’ lain yang begitu respek kepada Abu Hurairah adalah Kholid Muhammad Kholid yang dituangkan dalam sebuah kitabnya yang berjudul “Rija>l Haula Al-Rasu>l” halaman 430, beliau mengatakan ada tiga rahasia mengapa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadis :
1) Abu Hurairah mempunyai waktu yang luang dan banyak bergaul dengan Nabi dibanding sahabat yang lain.
2) Ia mempunyai daya intelegensi (hafalan yang kuat) dan selalu memohon do’a kepada Nabi Muhammad SAW.
3) Salah satu motivasi Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadis adalah syiar untuk Islam.
Dan beberapa faktor banyaknya periwayatan yang diperoleh Abu Hurairah antara lain sebagai berikut :
1) Rajin menghadiri majlis-majlis Nabi
2) Selalu menemani Rasulullah, karena ia sebagai penghuni Shuffah
3) Kuat ingatannya, karena ia salah seorang sahabat yang mendapat doa dari Nabi sehingga hafalannya kuat dan tidak pernah lupa apa yang ia dengar dari Rasulullah.

KESIMPULAN
1. Abu Hurairah hidup bersama Nabi karena dia miskin dan hidup di masjid bersama Nabi sehingga dia banyak mengetahui tentang Nabi Muhammad, sehingga ini dijadikan alasan oleh Abu Hurairah untuk meriwayatkan banyak hadis.
2. Abu Hurairah paling banyak meriwayatkan hadis meskipun dia hidup bersama Nabi selama tiga tahun. Dan banyak ulama Islam yang meragukan semua hadis-hadisnya seperti Mahmud Abu Rayyah karena sebagian hadisnya dikeluarkan untuk kepentingan penguasa pada waktu itu. Para sahabat besar dan Aisyah (istri Nabi) juga menentang dan menolak hadis-hadisnya (Abu Hurairah).
3. Ada juga sebagian yang membela Abu Hurairah dengan menepis semua tuduhan-tuduhan terhadapnya dengan mengeluarkan sanggahan yang sesuai dengan Abu Hurairah. Misalkan, dia (Abu Hurairah) kuat hafalannya karena mendapatkan doa khusus dari Nabi Muhammad.