Senin, 04 Juli 2011

ISI/CONTEN KURIKULUM


ISI/CONTEN KURIKULUM
Published://http.referensiagama.blogspot.com
by sariono sby

BAB I
PENDAHULUAN

Kurikulum memegang kunci dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi, dan proses pendidikan yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah maupun nasional.
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam system pendidikan. Karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Tujuan pendidikan di suatu bangsa atau Negara di tentukan oleh falsafah dan pandangan gidup suatu bangsa atau Negara menyebabkan berbeda pada tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan tersebut. Begitu pula pada perubahan politik pemerintah suatu Negara mempengaruhi pula bidang pendidikan, yang sering membawa akibat terjadinya perubahan perubahan kurikulum yang berlaku. Dengan demikian, kurikulum senantiasa bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terjadi.
Setiap pendidikan harus memahami perkembangan kurikulum, karena merupakan suatu formulasi pedagogis yang paling penting dalam bentuk pendidikan. Dalam kurikulum akan tergambar bagaimana usaha yang dilakukan membantu siswa dalam mengembangkan potensinya, berupa fisik, intelektual, emosional dan sosial, keamanan dan seterusnya.
Dengan memahami kurikulum, para pendidik dapat memilih dan menentukan tujuan pembelajaran, metode, tehnik, media pengajaran, dan alat evaluasi pengajaran yang sesuai dan tepat. Untuk itu, dalam melakukan kajian terhadap keberhasilan system pendidikan ditentukan oleh tujuan yang realistis, dapat diterima oleh semua pihak, sarana dan organisasi yang baik, intensitas pekerjaan yang realistis tinggi dan kurikulum yang tepat guna, oleh karena itu para pendidik dan tenaga kependidikan memahami kurikulum serta berusaha mengembangkannya.
Adapun proses pengembangan kurikulum merupakan suatu kegiatan menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan, pelaksanaan dan penyempurnaan kurikulum atas dasar penilaian yang dilakukan selama kegiatan pelaksanaan kurikulum, dan hal tersebut bisa dikatakan bahwa terjadinya perubahan-perubahan kurikulum mempunyai tujuan untuk perbaikan. Suatu kurikulum tidak dapat terbentuk atau tidak dapat dikembangkan tanpa adanya tujuan khusus sebagai hasil yang diharapkan. Dengan adanya tujuan, maka akan memudahkan para pengemang kurikulum dalam menentukan nilai-nilai apasaja yang harus ada dalam kurikulum tersebut. Karena itu, sebagai orang yang kelak akan berperan dalam implementasi kurikulum, sangat penting bagi para calon pendidik untuk memahami dan menguasai tata cara pengembangan tujuan dan isi kurikulum
Dalam makalah ini akan dibahas tentang isi (conten) kurikulum beserta aspek-aspek yang berkaitan dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap isi (conten) kurikulum














BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep dasar Kurikulum.
Finch & Crunkilton (1984), mengemukakan definisi kurikulum sebagai “.... as the sum of the learning activities and experiences that a student has under the auspices or direction of the school” Dari definisi tersebut dapat paling tidak ada dua point yang harus diperhatikan, yaitu bahwa fokus utama kurikulum adalah siswa dan yang kedua bahwa bagian dari kurikulum tidak hanya mata pelajaran akan tetapi semua aktivitas (olah raga, klub, kegiatan kokurikuler) memiliki pengaruh yang signifikan untuk pembentukan individu siswa yang total dan untuk mencapai efektivitas dari kurikulum.
Sedangkan menurut Olivia, secara konseptual kurikulum adalah perangkat pendidikan yang merupakan jawaban terhadap kebutuhan dan tentang masyarakat, rencana atau program yang menyangkut pengalaman yang dihayati anak didik di bawah pengarahan sekolah
Sementara menurut J. G. Tailor dan William Alexander, seperti yang dikutip Safrudin Nurdin menyebutkan defisi kurikulum yaitu:
” The curriculum is the sum total of school’s effort to playground or out of schooling”
Berangkat dari definisi-definisi yang diungkapkan para ahli, menunjukan bahwa kurikulum tidak diartikan secara secara sempit yaitu terbatas pada mata pelajaran, tetapi mencakup segala aktivitas yang dilakukan di sekolah dalam rangka mempengaruhi anak dalam belajar untuk untuk mencapai suatu tujuan, termasuk kegiatan belajar mengajar, strategi dalam proses pembelajaran, cara mengevaluasi program pengembangan pengajaran dan lain sebagainya.
B. Pengertian Isi (conten) Kurikulum
1. Brady (1992) seperti yang dikutip Wina sanjaya, menegaskan bahwa isi kurikulum dapat didefinisikan pada dua poin penting yaitu:
1. Isi kurikulum dapat dimaknai sebagai mata pelajaran dalam proses belajar mengajar yang termasuk didalamnya beberapa informasi faktual,pengetahuan, keahlian, konsep, sikap dan nilai.
2. kedua isi kurikulum adalah sesuatuyang penting dalam proses belajar mengajar dimana dua elemen pokok kurikulumyang termuat didalamnya adalah isi dan metode dalam interaksi yang tetap.
2. Menurut Oemar Hamalik, Konten atau isi kurikulum adalah susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang meliputi bahan kajian dan mata pelajaran pada proses belajar mengajar, seperti pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan mata pelajaran.
Dengan demikian, isi atau konten kurikulum berkaitan dengan pengetahuan ilmiah dan pengalaman belajar yang harus diberikan kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
C. Urgensi isi atau konten kurikulum
Menurut Nana Sujana, seperti yang dikutip Safrudin Nurdin ada 4 alasan mengapa perlunya dilakukan pilihan dalam menetapkan isi kurikulum, antara lain:
1. Tugas dan tanggung jawab sekolah dalam mencerdaskan anak didik sangat terbatas, baik dari segi waktu maupun sumber yang tersedia.
2. Tuntutan kebutuhan masyarakat senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Tuntutan masyarakat yang selalu berkembang hampir tidak bisa diikuti oleh pendidikan, sebab hal yang mustahil bila kebutuhan masyarakat yang tiba-tiba berubah, harus diikuti oleh perubahan kurikulum
3. Terdapat beberapa jenjang dan tingkat pendidikan sesuai dengan tujuan dan hakekat perkembangan anak, menyebabkan pentingnya memilih isi kurikulum yang sesuai dengan tujuan dari setiap jenjang dan tingkat pendidikan.
4. Pendidikan formal di sekolah merupakan sub system dari pendidikan sepanjang hayat. Artinya Pendidikan di sekolah dan pendidikan di masyarakat tidak terpisahkan satu sama lain. Hal ini menu ntut adanya isi kurikulum yang sesuai dengan hakekat pendidikan dalam keluarga dan masyarakat.
D. Kriteria Pemilihan isi kurikulum
Ada beberapa kriteria dalam memilih isi kurikulum, terutama bagi perancang kurikulum, antara lain:
1. Signifikansi, yaitu seberapa penting isi kurikulum pada suatu disiplin atau tema studi. Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
2. Validitas, yang berkaitan dengan keotentikan dan keakuratan isi kurikulum tersebut.
3. Relevansi social, yaitu keterkaitan isi kurikulum dengan nilai moral, cita-cita, permaslahan social, isu kontoversial, dan sebagainya untuk membantu siswa menjadi anggota efektif dalam masyarakat.
4. Utility, Kegunaan (daya guna), berkaitan dengan kegunaan isi kurikulum dalam mempersiapkan siswa menuju kehidupan dewasa.
5. Learnability atau kemmpuan untuk dipelajari, yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memahami isi kurikulum tersebut.
6. Minat, yang berkaitan dengan minat siswa terhadap isi kurikulum tersebut.
Sedangkan, kriteria dalam memilih isi kurikulum, menurut nana sujana seperti yang dikutip syafrudin Nurdin adalah sebagai berikut:
1. Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
2. Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial, artinya sesuai dengan tuntutan hidup nyata dalam masyarakat.
3. Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang komprehensif, artinya mengandung aspek intelektual, moral dan sosial secara seimbang.
4. Isi kurikulum harus mengandung aspek ilmiah yang tahan uji
5. Isi kurikulum harus mengandung bahan yang jelas. Teori, prinsip dan konsep yang terdapat di dalamnya bukan sekedar informasi factual belaka
6. Isi kurikulum harus dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
E. Faktor yang Mempengaruhi Isi Kurikulum.
Berbagai faktor yang menentukan terhadap isi kurikulum paling tidak ada dua hal yang harus diperhatikan :
1. Relevansi isi kurikulum dengan konteks pendidikan yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang menyangkut dukungan masyarakat kependidian, ketersediaan tenaga guru dan jajaran kependidikan yang lain untuk mendukung implementasi kurikulum, kualitas masukan calon siswa dan aspirasi pendidikannya, dan juga hal-hal yang menyangkut administrasi akademik pelaksanaan kurikulum tersebut.
2. Relevansi kurikulum dengan konteks lapangan kerja menyangkut persoalan-persoalan yang berkaitan dengan daya dukung masyarakat dunia kerja baik dalam hal ketersediaan bantuan fisik maupun non fisik, kemungkinan pengumpulan sumber informasi untuk masukan perencanaan dan penyempurnaan kurikulum, serta ketersediaan masyarakat dunia usaha dan dunia industri untuk membantu sebagai anggota dewan penasihat kurikulum (advisory commitee).
E. Strategi Penetapan Isi Kurikulum
Dalam Finch & Crunkilton, Beberapa strategi / pendekatan yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi isi kurikulum, adalah:
a. Pendekatan DACUM; Pendekatan ini pada awalnya dikembangkan oleh para ahli kurikulum di Canada . DACUM (Developing A Curriculum) pada awalnya merupakan proyek bersama antara Departemen Tenaga Kerja dan Imigrasi dengan General Learning Corporation di Canada, tetapi kemudian diseminasinya dilaksanakan di banyak lembaga pendidikan kejuruan.Pada sistem ini, isi kurikulum digagas oleh para pengusaha atau pekerja dari industri dan dunia usaha tanpa melibatkan personil sekolah sama sekali. Ini didasarkan pada asumsi bahwa dalam penentuan isi kurikulum pendidikan teknologi diharapkan memiliki relevansi yang tinggi dengan kebutuhan lapangan kerja. Biasanya guru dan instruktur yang sehari-hari terlibat dalam mengajar saja kurang dapat memberikan kontribusi yang positif. Keunikan dari proses identifikasi isi kurikulum dengan pendekatan DACUM ini adalah urutan dan intensitas partisipasi peserta yang harus ditargetkan sedemikian rupa, sehingga yang dihasilkan selama proses tersebut, bukan terbatas hanya pada inventarisasi skill saja atau pengetahuan spesifik yang akan menjadi kerangka isi kurikulum, tetapi juga sampai pada tingkat kemahiran atau kompetensi sesuai dengan apa yang diperlukan dalam situasi kerja yang nyata. Ini adalah kelebihan dari cara pendekatan yang seluruhnya melibatkan pihak pengusaha dari industri dan dunia kerja.
b. Pendekatan Fungsional; Pendekatan ini didasari oleh asumsi bahwa anak didik yang belajar melalui pendidikan teknologi dan kejuruan harus mempelajari fungsi-fungsi apa yang harus ada untuk menjamin kelangsungan kerja suatu industri atau dunia usaha tertentu, dan kemudian dijabarkan menjadi penampilan-penampilan (performance) yang terkait dengan fungsi atau tugas tertentu.untuk dijadikan masukan bagi perencana kurikulum. Prosedur dari penentuan isi kurikulum ini adalah dimulai dengan identifikasi jenis-jenis pekerjaan yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi daftar kegiatan-kegiatan dalam setiap fungsi, untuk kemudian dikaitkan dengan kompetensi atau keterampilan yang harus dimiliki oleh orang yang akan mengerjakan kegiatan-kegiatan tersebut. Kompetensi ini dirumuskan baik dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan dengan tingkat yang bervariasi.
c. Pendekatan Analisis Tugas; dalam pendekatan ini, isi kurikulum diambil dari aspek-aspek perilaku dan persyaratan kerja tertentu yang dijabarkan langsung dari deskripsi pekerjaan atau deskripsi tugas yang sudah ”mapan”. Sebagai contoh konsorsium pendidikan kejuruan di Amerika Serikat yang beranggotakan beberapa negara bagian sudah banyak mengembangkan kurikulum program studi kejuruan yang didasarkan atas analisis tugas. Dalam melakukan analisis tugas, perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Melakukan kajian literatur dan informasi yang relevan,
2) Mengembangkan inventori pekerjaan atau jabatan
3) Memilih sampel atau contoh pekerja sebagai sumber data
4) Melaksanakan survei atau penelitian di lapangan
5) Menganalisis hasil survey untuk dijabarkan menjadi kurikulum dan kegiatan belajar di sekolah.
d. Pendekatan Filosofis; dalam sejarah penentuan isi kurikulum, pemikiran para ahli filsafat menjadi faktor dominan dalam penentuan isi kurikulum. Secara praktis dapat dikatakan bahwa filosofi adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang kemudian mendasari segenap sikap dan perbuatannya. Dalam literatur banyak sekali dijumpai pernyataan-pernyataan filosofi yang berkenaan dengan pendidikan teknologi dan kejuruan dan dari pernyataan-pernyataan tersebut kemudian dapat dijadikan petunjuk menentukan isi kurikulum. Sebagai contoh sederhana, apabila diyakini bahwa pendidikan kejuruan harus menekankan penyesuaian anak didik dengan jenis pekerjaan yang ada di lapangan kerja, maka isi kurikulumnya bisa diramalkan akan sangat didominasi oleh penumbuhan kemampuan-kemampuan transisional seperti bagaimana beradaptasi dengan lingkungan, bagaimana mengatasi problem mobilitas pekerjaan, dan kemampuan berhubungan dengan sesama orang (human relations skill).
e. Pendekatan Introspektif; Pendekatan introspektif mendasarkan isi kurikulum pada hasil pemikiran perorangan atau kelompok, tetapi difokuskan pada pemikiran dan perasaan dari mereka yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan teknologi dan kejuruan, seperti misalnya para guru dan administrator yang sehari-harinya bekerja di lingkungan sekolah kejuruan. Biasanya pemikiran ini dimulai dengan mempelajari apa yang selama ini sudah berjalan, mungkin dilengkapi dengan data komparatif dengan program yang serupa di tempat lain dalam suatu negara maupun dibandingkan dengan orang lain meskipun lewat literatur.
BAB III
KESIMPULAN
Dari Uraian penjelasan mengenai isi (konten) kurikulum di atas dapat disimpulkan bahwa: Konten kurikulum seperti ini sebenarnya sangat potensial bagi siswa. Informasi menjadi konten bagi siswa jika dapat memberi pengertian terhadap aktivitas yang berguna. Karena itu, seleksi konten untuk kurikulum dan pembelajaran hanya merupakan salah satu bagian dari tugas-tugas pengembangan kurikulum yang berhubungan dengan konten tersebut. Penentuan konten kurikulum harus disertai dengan perencanaan aktivitas yang bermakna.
Penetapan isi kurikulum dengan mendasarkan pada urgensi atau alasan pemilihan, kriteria, factor yang mempengaruhi dan strategi penetapannya secara benar akan menghasilkan suatu kurikulum yang marketable pada dunia pendidikan.










DAFTAR PUSTAKA
Finch Curtis.R and Crunkilton . Curriculum Development In Vocational And Technical Education : Planning, Content, and Implementation. ( Sidney:. Allyn and Bacon Inc, .1984)

Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Cet.IV, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011)

Oliva, Peter E. Developing Principles and Foundation. (New York: Harper & Row Publisher , 1997)

Syafruddin Nurdin, Guru professional dan Implementasi kurikulum, (Quontum Teaching: Jakarta, 2005)

Wina Sanjaya.. Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta: Kencana, 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar