Selasa, 05 Juli 2011

AYAT-AYAT TENTANG IMU PENGETAHUAN


AYAT-AYAT TENTANG IMU PENGETAHUAN
Created and published : //http.referensiagama.blogspot.com
by sariono sby

BAB I
PENDAHULUAN
Al-Qur’a>n sebagai sumber pemikiran Islam tiada ternilai harganya dalam memberikan inspirasi edukatif yang perlu dikembangkan secara filosofi maupun ilmiah. Pengembangan demikian diperlukan sebagai kerangka dasar membangun sitem pendidikan Islam. Salah satu diantaranya ialah dengan cara mengintrodusir konsep-konsep al-Qur’a>n tentang kependidikan.
Dalam kajian al-Qur’a>n, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Ini dapat kita perhatikan dalam kisah kejadian manusia pertama, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’a>n syrat al-Baqarah ayat 31;
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎz�tä ’n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ’ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJó™r'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%ω»|¹ ÇÌÊÈ
dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
Secara garis besar objek ilmu dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu alam materi dan alam non materi. Dalam kaitan dengan dua cabang ilmu ini sains mutakhir hanya mengarahkan pandangan kepada alam materi. Oleh karena itu mereka tidak mengakui adanya realitas yang tidak dapat dibuktikan dengan alam materi. Dengan demikian objek ilmu hanya mencakup sains kealaman dan terapannya.
Berbeda dengan sains mutakhir, sebagian ilmuwan Muslim khususnya kaum sufi melalui ayat-ayat al-Qur’a>n memperkenalkan ilmu yang mereka sebut al-H{ad}ara>t al-Ila>hiyah al-Khams (lima kehadiran ilahiyah) untuk menggambarkan hierarki keseluruhan realitas wujud. Kelima hal ini adalah :
1. Alam Na>sut (alam materi)
2. Alam Malakut (alam kejiwaan)
3. Alam Jabaru>t (alam ruh)
4. Alam La>hu>t (sifat-sifat ilahiyah)
5. Alam Ha>hu>t (wujud Z{at Ilahi).
Guna meraih kelima cabang tersebut al-Qur’a>n telah memberikan tuntunan sebagai berikut;
ª!$#ur Nä3y_t�÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«ø‹x© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t�»|Áö/F{$#ur noy‰Ï«øùF{$#ur öNä3ª=yès9 šcrã�ä3ô±s? ÇÐÑÈ
dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memperoleh pengetahuan)
Di dalam al-Qur’a>n ayat-ayat yang membicarakan Ilmu Pengetahuan sangat banyak, sebagaimana penulis temukan dalam ensiklopedi yaitu:
1. Mukjizat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’a>n, terdiri:
a. Ginokologi (ilmu janin), terdapat dalam 16 ayat
b. Tumbuh-tumbuhan, terdapat dalam 17 ayat
c. Hewan, burung, hewan melata, binatang air, serangga, terdapat dalam, terdapat dalam 43 ayat
e. Pohon hijau : (2 ayat)
f. Pembentukan air susu : ( 2 ayat)
g. Makhluk diciptakan berpasang-pasangan : (14 ayata)
i. Keistimewaan sidik jari manusia : (1 ayat)
j. Manfaat kurma bagi wanita bersalin : (2 ayat)
k. Pentingny akeseimbangan gizi : (2 ayat)
l. Energi angin : (8 ayat)
m. Air sebagai sumber kehidupan : (12 ayat)
n. Bahaya Alkohol bagi manusia : (3 ayat)
2. Fenomena Geografis dalam al-Qur’a>n terdapat dalam 29 ayat
3. Fenomena Alam dalam al-Qur’a>n, terdapat dalam 120 ayat
4. Ilmu Bumi dalam al-Qur’a>n, terdapat dalam 72 ayat
5. Keutamaan negeri-negeri, terdapat dalam 13 ayat
Melihat kenyataan bahwa ayat-ayat tentang ilmu pengetahuan sangat banyak, maka dalam makalah ini penulis memfokuskan kajian pada al-Qur’a>n surat al-‘Alaq ayat 1 s/d 5, dengan pertimbangan:
1. Surat al-‘Alaq merupakan surat yang pertama yang diturunkan oleh Alla>h
2. Dalam surat al-Alaq terdapat dasar-dasar ilmu pengetahuan
3. Lima ayat dalam surat al-‘Alaq mempnyai relevansi dengan perspektif “Kependidikan”.
4. Al-Qur’a>n surat al-‘Alaq ayat 1 s/d 5 adalah :
ù&t�ø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ
ù&t�ø%$# y7š/u‘ur ãPt�ø.F{$# ÇÌÈ “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Sebelum ayat tersebut turun ada sesuatu yang sangat menarik sehingga perlu penulis paparkan pada Bab Pendahuluan ini, dimana sebagaimana tercatat dalam buku sirah ibn Hisham, yang dikutip oleh Nurwadjah Ah}mad, bahwa Nabi Muh}ammad saw mulai melakukan kontemplasi (khalwat) ketika beliau menginjak usia 36 tahun. Sementara beliau menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun. Itu artinya dari permulaan melakukan kontemplasi (khalwat) hingga mendapat wahyu terdapat rentang waktu kurang lebih tiga setengah tahun, ini waktu yang relatif panjang. Nabi melakukan kontemplasi (khalwat) pada saat melihat tatanan masharakat sekitarnya yang sudah mulai rusak, dan terasing dari kemanusiaannya. Beliau melakukan kontemplasi (khalwat) bukan sekedar mengasingkan diri, tetapi mempunyai tujuan untuk mencari solusi bagaimana mengubah tatanan masharakat kearah yang lebih baik.
Dengan demikian pada saat Muh}ammad mencari kebenaran beliau memulainya dengan cara penyucian jiwa. Secara tersirat beliau menyadari bahwa dengan upaya melakukan menyucian jiwa akan memudahkan dalam menemukan solusi yang diharapkan. Lebih lanjut kenyataan ini telah menjadikan Muh}ammad siap melakukan komonikasi rahasia dengan Jibril. Lebih lanjut Nurwadjah Ah}mad menceritakan maksud suatu hadith bahwa sebelum Nabi mendapat wahyu pertama, pada awalnya ia sering mimpi yang benar (na>m al-S}a>lih}ah}). Maksudnya, keterhubungan Nabi dengan wilayah Ila>hi tidak bisa sekaligus, belaiu harus melalui tahap-tahap hingga akhirnya mampu menangkap penangkapan Jibril maupun sinyal-sinyal Ilahi secara sempurna.





BAB II
PEMBAHASAN
A. Subjek dan Objek Pembelajaran
Guna menjelaskan siapa sebenarnya subjek (pendidik) dan objek (pserta didik) yang dapat disarikan dari surat al-‘Alaq ayat 1 s/d 5 tersebut kita dapat menyimak sebuah hadith s}ah}i>h sebagaimana dikutip oleh al-Maraghi, maksudnya Nabi saw. mendatangi gua Hira’ (Hira’ adalah nama sebuah gunung di Makkah) untuk beribadah selama beberapa hari. Hingga pada suatu hari beliau dikejutkan oleh kedatangan Malaikat membawa wahyu Ila>hi. Malaikat berkata kepadanya ”Bacalah” Beliau menjawab, ”saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk kedua kalinya Malaikat memegang Nabi dan mengguncangnya hingga Nabi kepayahan, dan setelah itu dilepaskan. Malaikat berkata lagi kepadanya, ”Bacalah” Nabi menjawab, ”saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk ketiga kalinya Malaikat memegang Nabi dan mengguncang-guncangkannya hingga beliau kepayahan. Setelah itu barulah Nabi mengucapkan apa yang diucapkan oleh Malaikat, yaitu surat al-’Alaq ayat 1 s/d 5.
Dengan memperhatikan maksud hadith di atas maka menurut hemat penulis yang bertugas sebagai pendidik adalah Malaikat (Jibril). Sedangkan menurut Nurwadjah Ah}mad yang menjadi peserta didik adalah Muh}ammad, sebab beliau merupakan orang yang sedang mencari sesuatu petunjuk (pelajaran) dengan jalan kontemplasi (khalwat). Dengan semangat yang tinggi dan tidak mengenal kata putus asa, pada gilirannya apa yang beliau (Muh}ammad) cita-citakan mencapai keberhasilan. Menyimak perjalanan seorang murid dengan usaha yang gigih tersebut, dapat ditarik suatu keteladanan bahwa seharusnya seorang murid (termasuk kita semua) disamping dalam t}alab al-‘ilmi dengan gigih, tekun, dan ulet juga dengan penyucian jiwa yaitu memperbanyak taqarrub ila Alla>h.
B. Materi Pendidikan dan Pengajaran
1. Aqidah (Keimanan)
Kata Rabb pada surat al-‘Alaq ayat pertama dan ketiga apabila berdiri sendiri maka yang dimaksud adalah “Tuhan” yang tentunya antara lain karena Dialah yang melakukan tarbiyah (pendidikan) yang pada hakekatnya adalah pengembangan, peningkatan, serta perbaikan makhluk ciptaan-Nya.
2. Al-Qur’a>n dan Alam Semesta
Menurut Quraish Shihab, ”apabila suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut” Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa sesuai dengan arti iqra’ (membaca, menelaah, meneliti, menyampaikan dan lain sebagainya), maka objeknya bersifat umum, yaitu mencakup bacaan suci, baik itu ayat-ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Alhasil perintah iqra’ mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri.
Dengan bahasa yang lebih tegas Nurwadjah Ah}mad berpendapat bahwa, Tuhan menyuruh Muh}ammad agar membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis (qur’a>niyyah) ataupun ayat-ayat yang tercipta (kauniyyah), dan didalam membaca ayat-ayat Tuhan tersebut harus dilandasi atas nama Tuhan (bismi rabbik). Dengn demikian menurut hemat penulis bahwa ayat-ayat tertulis (qur’a>niyyah) adalah kitab al-Qur’a>n sedang ayat-ayat tercipta (kauniyyah) adalah alam semesta.
3. Biologi
Pada ayat kedua menyatakan khalaq al-insa>n min ‘alaq, Manusia adalah makhluk Alla>h yang pertama-tama disebut di dalam wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muh}ammad saw. Kita memahami hal itu karena manusialah yang dituju oleh al-Qur’a>n. Manusialah yang diberi keterangan, petunjuk,dan ketetapan-ketetapan hukum melalui kitab ini.
Pada ayat ini manusia disebut sebagai insa>n, maksudnya bahwa manusia sebagai makhluk ruh}ani yang mempunyai fitrah, keinginan, nafsu, akal, dan kemampuan-kemampuan yang lahir dari instrumen hidupnya itu. Dalam kaitan ini ada dua hal, yaitu:
a. Manusi diciptakan oleh Rabb, maka kalau seseorang mempunyai wajah cantik atau sebaliknya, itu semua datang dari Rabb. Oleh karena itu seseorang dilarang melecehkan sesama, tetapi jangan pula merasa rendah diri kepada sesama manusia.
b. Manusia diciptakan dari ’alaq (segumpal darah). Maksudnya adalah zigot, zat yang terjadi setelah sperma berpadu dengan ovum. Rabb-lah yang membentuk zat itu menjadi manusi, melalui proses yang sangat pelik. Maka manusia harus mengagumi keagungan Dia dan bershukur kepada-Nya.
C. Metode dan Tahap-Tahap Pembelajaran
1. Metode Pembelajaran
a. Pemberian Tugas (resitasi)
Metode pemberian tugas (resitasi) adalah cara pembelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggungjawabkannya. Pemberian tugas (resitasi) ini dapat merangsang anak untuk aktif belajar.
Metode pemberian tugas (resitasi) mempunyai beberapa kebaikan, diantaranya:
1) Pengetahuan yang diperoleh murid dari hasil belajar, hasil percobaan, hasil penyelidikan akan lebih meresap, tahan lama dan lebih otentik
2)Murid mempunyai keberanian mengambil inisiatif, bertanggungjawab dan berdiri sendiri
3) Dapat memperdalam, memperkaya dan memperluas wawasan tentang apa yang dipelajari
4) Dapat melatih dan membina kebiasaan peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri materi pembelajaran
5) Menimbulkan kegairahan bagi peserta didik dalam belajar sebab adanya variasi dalam pembelajaran
Dalam kontek pembelajaran pada surat al-’Alaq di atas, menurut hemat penulis bahwa guru (Jibril) dengan jelas telah memberika tugas (resitasi) kepada peserta didik (Muh}ammad) yang ujudnya adalah Muh}ammad selaku peserta didik diperintahkan untuk membaca (iqra>’). Pemberian tugas untuk membaca ini telah diulangi oleh pendidik (Jibril) sampai tiga kali. Tugas dengan pengulangan ini memberi makna bahwa tugas yang diberikan tersebut dipandang sangat penting dan bermakna bagi peserta pendidik, sebagaimana dijelaskan oleh Sakib Mah}mu>d bahwa perintah iqra’ dapat dimaknai: renungkan dengan cermat. Apa yang harus direnungkan? Segala sesuatu yang dapat diketahui dengan pancaindra seperti matahari, bulan, planet-planet, bintang-bintang, awan, gunung, sungai, air, tanaman, hewan, manusia, diri sendiri. dan lebih jauh Quraish Shihab berpendapat bahwa perintah iqra’ mencakup telaah terhadap alam raya, masharakat dan diri sendiri serta bacaan tertulis baik suci maupun tidak.
b. Pemodelan (Modeling)
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Model itu, memberi peluang yang besar bagi guru untuk memberi contoh cara mengerjakan sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Ketika guru mendemonstrasikan keterampilan atau pengetahuan tertentu paserta didik memperhatikan, mengamati kemudian mempraktikkan atau menirukan apa yang telah diperankan pendidik sebagai modeling.
Dalam pembelajran yang dialamai Muh}ammad saw, menurut pandangan penulis bahwa setelah pendidik (Jibril) menggunakan metode pemberian tugas (resitasi) kemudian dilanjutkan dengan pemodelan (modeling), yaitu pendidik memberikan contoh atau model bagaimana tatacara membaca, mengucapkan atau melafaz}kan materi pembelajaran dengan benar dan tepat baik itu menyangkut makhraj maupun tajwidnya.
Sementara pendidik (Jibril) memerankan sebagai model dan bertugas memberikan contoh kepada peserta didik, sementara peserta didik (Muh}ammad saw) memperhatikan, menyimak dan mengamati dengan penuh keseriusan kemudian mempraktikkan sesuai dengan apa yang telah didemonstrasikan oleh pendidik (Jibril)
b. Metode latihan atau drill
Metode ini merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan ketangkasan, keterampilan atau kebiasaan tertentu dari apa yang peserta didik pelajari.
Metode latihan atau drill ini secara jelas dapat kita petik pada saat peserta didik (Muh}ammad saw) berlatih membaca dan menirukan apa yang telah diajarkan dan diucapkan oleh pendidik (Jibril).
Menyimak beberapa metode pembelajaran yang telah digunakan oleh Pendidik (Jibril), maka dapat penulis tarik pengertian bahwa dalam proses belajar mengajar anatara pendidik (Jibril) dengan peserta didik (Muh}ammad saw) menggunakan tiga metode (pemberian tugas (resitasi), pemodelan (modeling), dan latihan (drill) secara simultan dan sesuai dengan kebutuhan menurut pendidik (Jibril)
1. Tahap-Tahap Pemebelajaran
a. Pada tahap awal, pembelajaran lebih memfokuskan pada hal-hal yang bersifat inderawi (khalaqa al-insa>na min ’alaq)
Al-Maraghi menafsirkan ayat tersebut bahwa, Alla>h menciptakan manusia dari segumpal darah (’Alaq), kemudian membekalinya dengan kemampuan menguasai alam bumi, dan dengan ilmu pengetahuannya bisa mengolah bumi serta menjinakkannya apa yang ada padanya untuk kepentingan umat manusia.
Lbih jauh Sakib Mah}mu>d menjelaskan maksud Manusia diciptakan dari ’alaq (segumpal darah), adalah zigot, zat yang terjadi setelah sperma berpadu dengan ovum. Rabb-lah yang membentuk zat itu menjadi manusia, melalui proses yang sangat pelik. Maka manusia harus mengagumi keagungan Dia dan bershukur kepada-Nya.
b. Setelah peserta didik mengetahui hal-hal yang bersifat inderawi, pembelajarannya dapat ditingkatkan kepada masalah-masalah yang bersifat abstrak dan spiritual (bismi rabbik alladhi> khalaq)
c. Setelah peserta didik menguasai dua hal tersebut, maka langkah berikutnya dalam proses pembelajaran adalah ditingkatkan pada kemampuan menuangkan / menuliskan idea / gagasan, sebab dengan demikian apa yang telah dipahami akan menjadi khazanah keilmuan khususnya generasi yang akan datang (’allama bi al-qalam)
d. Tahapan berikutnya adalah pembelajaran yang berkaitan dengan upaya-upaya yang akan meningkatkan seseorang (peserta didik) untuk mendapatkan pengetahuan dan hidayah dari Alla>h SWT (’allam al-insa>na ma>lam ya’lam).
D. Interaksi Pendidik dan Peserta Didik
Menyimak peristiwa turunnya surat al-’Alaq ayat 1 s/d 5 sebagaimana digambarkan dalam maksud hadith diatas, maka nampak dengan jelas bahwa dalam proses pembalajaran telah terjalin interaksi antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi ini berlangsung secara aktif dan dari dua arah, maksudnya pendidik (Jibril) memberikan tugas dan sekaligus memberikan pemodelan atau contoh pada saat murid belum dapat melaksanakan tugas tersebut sedangkan peserta didik (Muh}ammad) aktif memberikan jawaban walupun jawabannya berupa aku belum bisa membaca (ma> ana> biqa>riin) dan sakaligus sang murid aktif mempraktikkan atau menirukan apa yang diajarkan oleh pendidik.
Berkaitan dengan interaksi dalam pembelajaran ini ada beberapa prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli psikologi pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Syaiful Sagala sebagai berikut:
1. Law of Effect, yaitu bila hubungan antara stimulus dengan respon terjadi dan diikuti dengan keadaan memuaskan, maka hubungan itu diperkuat
2. Spread of Effect, yaitu reaksi emosional yang mengiringi kepuasan itu tidak terbatas kepada sumber utama pemberi kepuasan, tetapi kepuasan mendapat pengetahuan baru
3. Law of Exercice, yaitu hubungan antara perangsang dan reaksi diperkuat dengan latihan dan penguasaan
4. Law of Readiness, yaitu bila satuan-satuan dalam sistem syaraf telah siap berkonduksi, maka hubungan akan memuaskan
5. Law of Primacy, hasil belajar yang diperoleh melalui kesan pertama akan sulit digoyahkan
6. Law of Intensity, ialah belajar memberi makna yang dalam apabila diupayakan melalui kegiatan yang dinamis
7. Law of Recency, yaitu bahan yang baru dipelajari akan lebih mudah diingat
Berpijak pada uraian di atas, menurut hemat penulis prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh ahli psikologi pendidikan diatas, sebenarnya telah dilakukan oleh Rasu>lulla>h saw dalam proses pembelajaran, misalnya:
1.1. Law of Effect
Ini dapat kita perhatikan ketika Jibril berinteraksi dengan Muh}ammad dalam proses poembelajaran yang menimbulkan kepuasan
1.2. Spread of Effect
Dalam pembelajaran tersebut Muh}ammad sangat puas dimana beliau mendapatkan sesuatu yang selama ini sangat belaiu harapkan yaitu pengetahuan baru
1.3. Law of Exercice.
Pada awal pembelajaran Muh}ammad belum mempunyai kemampuan sesuai yang diperintahkan oleh pendidi (Jibril), tetapi melalui latian dengan bimbingan pendidik, akhirnya peserta didik dapat menguasai apa yang diajarkan oleh pendidik (Jibril)
1.4. Law of Readiness
Dengan latian dan penyucian jiwa yang dilakukan oleh Muhammad baik selama berada di tengah-tengah masharakat Quraish maupun selama khalwat di gua h}ira’ telah menjadikan dan membentuk jiwa Muh}ammad untuk siap menerima pembelajaran dan pengetahuan yang baru
1.5. Law of Primacy
Pembelajaran yang telah diterima itu merupakan kesan pertama yang tiada ternilai harganya dan tidak mungkin terlupakan untuk selamanya. Sebab Muh}}ammad disamping sangat terkesan kepada Pendidik (Jibril) juga materi pembelajaran itu sendiri yang merupakan kunci atau dasar-dasar untuk mengetahui rahasia dunia dan akhirat
1.6. Law of Intensity
Pembelajaran berlangsung secara dinamis dan melalui tahapan-tahapan, diantaranya mula-mula guru (jibril) member tugas kepada Muh}ammad untuk membaca, kemudian dilanjutkan dengan memberikan contoh bagaimana tatacara membaca yang benar, dan berikutnya Muh}ammad (murid) dengan penuh keseriusan dan tanggung jawab menirukan dan berlatih apa yang diajarkan oleh pendidik. Berpijak pada pembelajaran model diatas akhirnya pembelajaran memperoleh hasil yang sangat memuaskan
1.7. Law of Recency
Materi pembelajaran yang baru Muh}ammad terima adalah materi yang relevan dengan kebutuhan masharakat, maka bagi peserta didik (Muh}ammad) yang sejak lama telah mempersiapkan jiwanya untuk menerima pembelajaran dan materi (wahyu) akhirnya apa yang baru beliau pelajari dan beliau terima mudah diingat.
Berdasarkan pada uraian yang telah kami paparkan, dimana proses pembelajaran berlangsung secara dua arah, yaitu antara pendidik dan peserta didik keduanya melaksanakan pembelajaran dengan aktif sebagaimana telah kami paparkan diatas, dengan demikian penulis berkesimpulan bahwa pembelajaran dikatakan berhasil.
E. Jalur Komonikasi (hubungan) dalam Kehidupan Manusia.
1. Hubungan Manusia dengan Tuhan (h}abl min Alla>h)
Di dalam kita mengkaji hubungan manusia dengan Alla>h janganlah dibayangkan sebagai hubungan antara dua subyek, sebab di dalam hal hubungan dengan Tuhan ini terdapat wilayah suci dan luhur, lepas sama sekali dari sifat yang lain yaitu manusia. Hubungan manusia dengan Alla>h tidak didasarkan kepada hak dan kewajiban timbal balik. Tidak merupakan perjanjian (kontrak) antara manusia dengan Alla>h. Oleh karenanya tidak benar apabila seseorang diwajibkan melakukan sesuatu oleh Allah berarti ia harus mendapatkan sesuatu pula dari Alla>h.
Di dalam hubungan manusia dengan Tuhan ini, manusia berkedudukan sebagai hamba. Oleh karenanya merupakan suatu keharusan untuk mengabdikan dirinya kepada Alla>h. Pengabdian ini berupa kewajiban-kewajiban manusia mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini banyak dijelaskan dalam ayat al-Qur’an diantaranya:
a. Al-Qur’a>n surat al-Rum (30), ayat 30
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |Nt�ôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# t�sÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw @ƒÏ‰ö7s?
È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 š�Ï9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$# ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ .
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia enurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
b. Al-Qur’a>n surat al-Baqarah ayat 21
$pkš‰r'¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#r߉ç6ôã$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? .
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
Hubungan antara manusia dengan Tuhan yang bersifat penghambaan diri (penyerahan diri) manusia kepada-Nya tidaklah membawa faedah apapun kepada sang H}>a>liq (Alla>h), melainkan kepada yang menyembah (manusia). Diantaranya ialah manusia mempunyai tujuan hidup. Tujuan ini merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia, sebab tanpa tujuan yang jelas manusia tidak mempunyai ketenangan, kesetabilan , dan kepercayaan diri.
Tujuan hidup menimbulkan rasa shukur dalam hati manusia, menghilangkan sifat ujub, takabur, dan meniadakan sifat keserakahan. Seseorang yang telah memperoleh nikmat setelah berusaha baik sedikit ataupun akan senantiasa menshukurinya sebab ia sadar betul bahwa apa yang telah mereka peroleh dari usahanya itu semata-mata atas pemberian dan karunia Tuhan (Alla>h).
2. Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia (h}abl min al-Na>s)
Hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lain merupakan hubungan timbal balik, maksudnya masing-masing mempunyai hak dan kewajiban dalam hidup bersama itu. Hak dan kewajiban manusia umumnya adalah sama pada satu pihak dan pada pihak yang lain adalah berbeda-beda. Dengan demikian di dalam soal-soal hak dan kewajiban itu, terdapat faktor-faktor yang sama disamping faktor-faktor yang berbeda.
Sebagai gambaran bahwa seorang pendidik mendapat “haknya” untuk disebut pendidik, karena mereka mempunyai kelebihan “keadaan dan prestasi” dari pada si terdidik. Sekaligus pula hak pendidik ini membawa perbedaan kewajiban antara mereka dengan pihak si terdidik.
Dengan ilustrasi di atas jelaslah kiranya apa yang dimaksud dengan kesamaan dan perbedaan dalam hak dan kewajiban. Dengan dasar kesamaan hak dan kewajiban serta perbedaan-perbedaan kewajiban karena keadaan dan prestasi, oleh karenanya manusia diwajibkan tolong-menolong. Sebagaimana di gambarkan Alla>h dalam firman-Nya:
tbqãZÏB÷sßJø9$#ur àM»oYÏB÷sßJø9$#ur öNßgàÒ÷èt/ âä!$uŠÏ9÷rr& <Ù÷èt/ 4 šcrâ�ßDù'tƒ Å$rã�÷èyJø9$$Î/
tböqyg÷Ztƒur Ç`tã Ì�s3ZßJø9$# šcqßJŠÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# šcqè?÷sãƒur no4qx.¨“9$# šcqãèŠÏÜãƒur
©!$# ÿ¼ã&s!qß™u‘ur 4 y7Í´¯»s9'ré& ãNßgçHxq÷Žz�y™ ª!$# 3 ¨bÎ) ©!$# ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÐÊÈ
dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
2. Hubungan Manusia dengan Alam (h}abl min al-Ah sebagai bekal manusia dalam mengarungi hidup di dunia.
a. Hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan (Flora)
Tumbuh-tumbuhan termasuk makhluk Alla>h yang secara langsung dan tidak langsung dapat dirasakan manfaatnya dan sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Manusia dalam hidupnya banyak tergantung pada tumbuh-tumbuhan, karena , makanan pokok manusia sebagian besar berasal dari tumbuh-tumbuhan. Seperti beras, jagung, buah-buahan, sayur-sayuran, bahan bangunan dan lain sebaginya. Dengan demikian pada prinsipnya Alla>h telah memberikan karunia yang tidak terhingga kepada manusia.
Dalam kaitannya dengan tumbuh-tumbuhan tersebut, manusia sebagai penguasa (h}alifah ) mempunyai kewajiban untuk mengelola alam dengan baik, yaitu melalui:
1) Menjaga, memelihara dan melestarikan alam.
Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# ’Îû ÇÚö‘F{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw �=Ïtä† tûïωšøÿßJø9$# ÇÐÐÈ
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
2) Tidak menebang pohon sembaranga
(#qà)ÏÿRr&ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# Ÿwur (#qà)ù=è? ö/ä3ƒÏ‰÷ƒr'Î/ ’n<Î) Ïps3è=ök­J9$# ¡ (#þqãZÅ¡ômr&ur ¡
¨bÎ) ©!$# �=Ïtä† tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÒÎÈ
dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
3) Menanam pohon yang bermanfaat
4) Membayar zakat tanaman
b. Hubungan manusi Hewan
Hewan melata yang ada di bumi dan burung-burung yang berterbangan di udara, merupakan makhluk ciptaan Alla>h yang memiliki ruh (nyawa).
$tBur `ÏB 7p­/!#yŠ ’Îû ÇÚö‘F{$# Ÿwur 9ŽÈµ¯»sÛ çŽ�ÏÜtƒ Ïmø‹ym$oYpg¿2 HwÎ) íNtBé& Nä3ä9$sVøBr& 4
$¨B $uZôÛ§�sù ’Îû É=»tGÅ3ø9$# `ÏB &äóÓx« 4 ¢OèO 4’n<Î) öNÍkÍh5u‘ šcrçŽ|³øtä† ÇÌÑÈ
dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab. kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Dalam kaitannya dengan hubungan manusia dengan hewan ini, manusia dapat memanfaatkannya sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Alla>h, sebagai berikut:
1) Hewan yang boleh dibunuh sebab berbahaya, seperti anjing galak, tikus, burung gagak, dan burung elang
2) Hewan yang tidak boleh dibunuh, karena tidak membahayakan, misalnya semut dan tawon
3) Memberi makanan dan minuman
4) Tidak mempermainkan hewan
5) Jika akan mengambil manfaatnya, maka hendaknya disembelih dengan cara yang baik
6) Tidak membebani terlalu berat, bagi hewan yang dimanfaatkan untuk angkutan atau kendaraan
7) Tidak menyiksa atau menyakiti
8) Membayar zakat


BAB III
KESIMPULAN
1. Surat al-‘Alaq ayat 1 s/d 5 adalah salah satu firmanAlla>h yang menjelaskan ilmu pengetahuan dan mempunyai relevansi dengan perspektif Kependidikan
2. Malaikat Jibril bertugas subjek (pendidik) sedangkan Muh}ammad sebagai objek (peserta didik)
3. Dalam surat tersebut terdapat tiga materi pokok, yaitu:
a. Aqidah (keimanan)
b. al-Qur’a>n dan alam semesta
c. Biologi
4. Penulis menemukan tiga metode pembelajaran, yaitu:
a. Pemberian tugas (resitasi)
b. Pemodelan (Modelling)
c. Latihan (drill)
5. Materi pembelajaran sudah menggunakan tahapan secara hirarkis dan sistematis, yaitu :
a. Materi pembelajaran bersifat inderawi (khalaqa al-insa>na min ’alaq)
b. Materi pembelajaran bersifat abstrak dan spiritual (bismi rabbik alladhi> khalaq)
c. Pembelajaran diarahkan pada kemampuan menuangkan / menuliskan idea / gagasan, sebab dengan demikian apa yang telah dipahami akan menjadi khazanah keilmuan khususnya generasi yang akan datang (’allama bi al-qalam)
d. Pembelajaran berkaitan dengan upaya-upaya peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan dan hidayah dari Alla>h SWT (’allam al-insa>na ma>lam ya’lam).

5. Interaksi pembelajaran terjadi secara dua arah yaitu antara pendidik (Jubril) dan peserta didik (Muh}ammad) dan keduanya bersifat aktif.
6. Jalur atau hubungan dalam kehidupan manusia ada tiga, yaitu:
a. Hubungan manusia dengan Alla>h (h}abl min Alla>h)
b. Hubungan manusia dengan manusia yang lain (h}abl min al-Na>s)
c. Hubungan manusia dengan alam sekitar (h}abl min al-A

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar