Tampilkan postingan dengan label Materi klas VIII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi klas VIII. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Oktober 2011

PENGERTIAN SUJUD SYUKUR, SUJUD SAHWI, DAN SUJUD TILAWAH


PENGERTIAN SUJUD SYUKUR, SUJUD SAHWI, DAN SUJUD TILAWAH
Created and Published, http://referensiagama.blogspot.com
by sariono sby

1. Sujud Syukur
Sujud syukur artinya sujud terima kasih, yakni sujud yang dilakukan sebagai tanda terima kasih kepada Allah SWT. atas karunia-Nya berupa keberuntungan atau keberhasilan atau karena terhindar dari bahaya atau kesulitan. Sujud syukur hukumnya sunah, sebagaimana hadits berikut ini.

عَنْ اَبِى بَكُرَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اِذَا اَتَاهُ اَمْرٌ يَسُرُّهُ اَوْبُشْرَى بِهِ خَرَّسَاجِدًا شُكْرًا ِللهِ (رواه ابوداود والترمذى)

Dari Abu Bakrah : “Bahwa sesungguhnya Nabi Saw. apabila datang kepadanya sesuatu yang menggembirakan atau kabar suka, beliau langsung sujud untuk berterima kasih kepada Allah SWT.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dalam riwayat lain dijelaskan :
عَنْ اَبِى بَكُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اِذَا جَاءَهُ خَبَرٌ يَسُرُّهُ خَرَّسَاجِدًا ِللهِ (رواه الخمسه الا النسائ)
Dari Abu Bakrah : “Bahwa sesungguhnya apabila datang Nabi Saw. sesuatu yang baik yang menggembirakan, beliau langsung sujud karena berterima kasih kepada Allah SWT.” (HR. Lima kecuali An Nasai).

Firman Allah SWT.
         •   
“dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim ayat 7).

2. Sujud Sahwi
Sujud sahwi artinya sujud karena lupa, yakni sujud yang dilakukan karena lupa atau ragu-ragu dalam pelaksanaan shalat. Sujud syukur hukumnya sunah, sebagaimana hadits berikut ini.

عَنْ أَبِى سَعِيْدِ الْخُدْرِى قَالَ, قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا شَكَّ أََحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا, فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَااسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ (رواه أحمد ومسلم)

Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, Nabi Saw. bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu ragu dalam shalat, ia sudah mengerjakan tiga atau empat, maka hendaklah dihilangkan keraguan itu dan diteruskan shalatnya menurut yang diyakini, kemudian hendaklah sujud dua kali sebelum salam” (HR. Ahmad dan Muslim).

Adapun sebab-sebab melakukan sujud sahwi adalah :
a. Ketinggalan tasyahud awal atau ketinggalan qunut..
b. Kelebihan rakaat, rukuk atau sujudnya karena lupa.
c. Ragu tentang bilangan rakaat yang telah dilakukannya.

3. Sujud Tilawah
Sujud tilawah artinya sujud bacaan, yakni sujud yang dikerjakan pada saat membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah. Apabila seorang imam membaca ayat-ayat sajdah kemudian ia melakukan sujud tilawah, maka makmumnya harus mengikuti sujud, tetapi jika imam tidak melakukan sujud maka makmum tidak boleh sujud. Hukum melaksanakan sujud tilawah adalah sunnah baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Rasulullah Saw. bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ, قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ إِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُوْلُ : يَاوَيْلَتَا أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُوْدِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ (رواه أحمد ومسلم)
Dari Abu Hurairah Ra. berkata, Nabi Saw. bersabda, “Apabila anak Adam membaca ayat sajdah kemudian sujud menghindarlah syetan dan ia menangis seraya berkata, celakalah aku, anak Adam diperintah untuk sujud lantas ia sujud maka baginya surga dan saya diperintah untuk sujud juga tetapi saya tidak mau maka bagi saya neraka” (HR. Ahmad dan Muslim).

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَلَ, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ عَلَيْنَاالْقُرْآنَ فَإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ وَسَجَدَ وَسَجَدْنَا مَعَهُ (رواه الترمذى)
Dari Ibnu Umar berkata,Sesungguhnya Nabi Saw. pernah membaca Al Qur’an di depan kami ketika bacaannya sampai pada ayat sajdah beliau bertakbir lalu sujud, maka kami pun sujud bersama-sama dengannya” (HR. At Tirmidzi).

عَنْ عَمْرِ ابْنِ عَاصٍ قَالَ, أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَأَهُ خَمْسَةَ عَشَرَ سَجْدَةً فِى الْقُرْآنِ, مِنْهَا ثَلاَثٌ فِى الْمُفَصَّلِ وَفِى الْحَجِّ سَجْدَتَانِ (رواه ابوداود وابن ماجه)
Dari Amr bin Ash, sesungguhnya Rasulullah Saw.membaca lima belas ayat tilawah di dalam Al Qur’an, di antaranya ada tiga belas ayat dalam surat mufashal dan dua ayat dalam surat Al Hajj” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Adapun ayat-ayat sajdah yang terdapat dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut :
a. Surat Al A’raf ayat 206, i. Surat An Naml ayat 26,
b. Surat Ar Ra’du ayat 15, j. Surat As Sajdah ayat 15,
c. Surat Al Isra’ ayat 107, k. Surat Shaad ayat 24,
d. Surat An Nahl ayat 49, l. Surat Fushilaat ayat 38,
e. Surat Maryam ayat 58, m. Surat An Najm ayat 62,
f. Surat Al Hajj ayat 18, n. Surat Al Insyiqaq ayat 21 dan
g. Surat Al Hajj ayat 77, o. Surat Al ’Alaq ayat 19.
h. Surat Al Furqan ayat 60,

KETENTUAN SHALAT SUNNAH RAWATIB


SHALAT SUNNAH RAWATIB
Created and Published, http://referensiagama.blogspot.com
by sariono sby

KETENTUAN SHALAT SUNNAH RAWATIB

1. Pengertian Shalat Sunnah Rawatib
Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu, baik dikerjakan sebelum maupun sesudah shalat fardhu. Jika dikerjakan sebelum shalat fardhu disebut shalat sunnah rawatib qabliyah dan jika dikerjakan sesudah shalat fardhu disebut shalat sunnah rawatib ba’diyah. Shalat sunnah rawatib qabliyah dimaksudkan sebagai persiapan agar lebih khusyu’ dalam mengerjakan shalat wajib, karena jiwa yang sibuk memikirkan urusan duniawi jauh dari shalat yang khusyu’. Sedangkan shalat sunnah rawatib ba’diyah diianjurkan karena shalat sunnah merupakan pelengkap atau penyempurna dari kesalahan dan kekurangan yang dilakukan dalam shalat fardhu.
Rasulullah Saw. bersabda :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ, رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَالْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ, وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ كَانَتْ سَاعَةً لاَ يَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهَا (رواه البخارى)
Dari Ibnu Umar Ra. berkata : “Saya memperoleh pelajaran shalat dari Nabi Saw. sebanyak 10 rakaat, yaitu dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Magrib di rumahnya, dua rakaat sesudah Isya di rumahnya dan dua rakaat sebelum Shubuh”. (HR. Bukhari).

Shalat sunnah rawatib disyariatkan untuk meningkatkan derajat dan melebur dosa, menjauhkan godaan syetan yang menggoda musholli (orang yang salat) agar tidak sempurna shalatnya, dan untuk menutup kesalahan dan adab yang kurang dalam shalat fardhu.
Di antara keutamaan melaksanakan shalat sunnah rawatib antara lain :
a. Mendapatkan kemuliaan dunia dan segala isinya.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَاوَمَافِيْهَا (رواه المسلم)
Dari Aiyah Ra. dari Nabi Saw. bersabda : “Dua rakaat sebelum fajar itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya”. (HR. Muslim)
b. Mendapatkan bangunan rumah di surga.
عَنْ اُمِّ حَبِيْبَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ اِثْنَى عَشَرَةَ رَكْعَةً بَنَى بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ : اَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ (رواه الترمذى)
Dari Umi Habibah Ra, berkata, Rasulullah Saw. bersabda : “Barang siapa yang salat semalam 12 (dua belas) rakaat maka dibangunlah baginya sebuah rumah di surga, yaitu empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat sesudah Dzuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum shalat Fajar”. (HR At Tirmidzi)

2. Macam-macam Shalat Sunnah Rawatib
Shalat sunnah rawatib terdiri atas, shalat sunnah rawatib muakkad dan shalat sunnah rawatib ghairu muakkad. Shalat sunnah rawatib muakkad, adalah shalat sunah rawatib yang sangat dianjurkan, sedangkan shalat sunnah ghairu muakkad adalah shalat sunnah rawatib yang tidak dianjurkan.
Shalat sunnah rawatib muakkad terdiri, atas :
a. Dua rakaat sebelum Shubuh
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْئ ٍ مِنَ النَّوَافِلِ اَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ (رواه البخارى ومسلم)
Dari Aiyah Ra. berkata : “Tidak ada shalat sunnah yang diutamakan oleh Nabi Saw. selain dari dua rakaat shalat fajar”. (HR.Bukhari dan Muslim)



b. Dua rakaat sebelum Dzuhur/Jum’at.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : اَنَّ النَّبِىَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَدَعُ اَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ (رواه البخارى)
Dari Aiyah Ra. berkata : “Sesungguhnya Nabi Saw, tidak ada pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Dzuhur (dua rakaat sunnah muakkad dan dua rakaat sunnah ghairu muakkad) dan dua rakaat sebelum shalat fajar”. (HR.Bukhari)
Shalat rawatib ini juga berlaku untuk shalat Jum’at, karena shalat Jum’at merupakan ganti dari shalat Dzuhur.
اَنَّ ابْنَ مَسْعُوْدٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ يُصَلِّى قَبْلَ الْجُمْعَةِ اَرْبَعًا وَبَعْدَهَا اَرْبَعًا (رواه الترمذى)
”Sesungguhnya Ibnu Mas’ud melakukan shalat empat rakaat sebelum dan setelah shalat Jum’at”. (HR At Tirmidzi)
c. Dua rakaat sesudah Dzuhur/Jum’at.
عَنْ اُمِّ حَبِيْبَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَاَرْبَعًا بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ (رواه الترمذى)
Dari Umi Habibah Ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda : “Barang siapa shalat empat rakaat sebelum Dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkannya masuk neraka”. (HR At Tirmidzi).
Shalat rawatib ini juga berlaku untuk shalat Jum’at, karena shalat Jum’at merupakan ganti dari shalat Dzuhur.
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَ صَلَّى اَحَدُكُمُ الْجُمْعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا اَرْبَعًا (رواه المسلم)
Dari Abu Hurairah Ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda : “Jika salah satu dari kalian melakukan shalat Jumat, maka hendaklah shalat empat rakaat setelahnya”. (HR Muslim).
Catatan :
Yang dimaksud dengan empat rakaat dalam hadits di atas adalah dua rakaat sunnah muakkad dan dua rakaat sunnah ghairu muakkad.
d. Dua rakaat sesudah Maghrib.
e. Dua rakaat sesudah Isya’.
عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَفِظْتً عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ ورَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاءِ (رواه البخارى ومسلم)
Dari Abdullab bin Umar Ra. berkata : “Saya hafal dari Rasulullah Saw. dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudah Dzuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum Shubuh”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan shalat sunnah ghairu muakkad, terdiri atas :
a. Dua rakaat sebelum Dzuhur/Jum’at.
b. Dua rakaat sesudah Dzuhur/Jum’at.
c. Empat rakaat sebelum Ashar.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : رَحِمَ اللهُ اِمْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ اَرْبَعًا (رواه الترمذى)
Dari Ibnu Umar Ra. berkata, sesungguhnya Nabi Saw. bersabda : “Semoga Allah memberi belas kasihan keada seseorang yang melakukan shalat empat rakaat sebelum Ashar”. (HR At Tirmidzi)
d. Dua rakaat sebelum Maghrib.
e. Dua rakaat sebelum Isya’.
Dengan demikian shalat sunnah rawatib secara keseluruhan, terdiri atas :
a. Dua rakaat sebelum Shubuh e. Dua rakaat sebelum Maghrib
b. Empat rakaat sebelum Dzuhur/Jum’at. f. Dua rakaat sesudah Maghrib
c. Empat rakaat sesudah Dzuhur/Jum’at. g. Dua rakaat sebelum Isya’
d. Empat rakaat sebelum Ashar. h. Dua rakaat sesudah Isya’

PRAKTEK SHALAT SUNNAH RAWATIB

1. Ketentuan Shalat Sunnah Rawatib
Ketentuan shalat sunnah rawatib adalah sebagai berikut :
a. Tidak didahului adzan dan iqamat,
b. Dikerjakan secara munfarid (sendiri-sendiri), tidak berjama’ah,
c. Mengambil tempat shalat yang berbeda dengan tempat melakukan shalat wajib,
d. Shalat sunnah rawatib dilakukan dua rokaat dengan satu salam,
e. Bacaannya sirri (tidak dinyaringkan),
f. Shalat sunnah rawatib qabliyah dilakukan setelah adzan sebelum iqamah, sedangkan shalat sunnah rawatib ba’diyah dilakukan setelah shalat fardlu,
g. Setelah membaca surat Al Fatihah, diutamakan membaca surat Al Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al Ikhlas pada rakaat kedua.

2. Mempraktikkan Shalat Sunnah Rawatib
Tata cara melakukan shalat sunnah rawatib sama dengan shalat sunnah lainnya, yang membedakan hanyalah pada niatnya saja. Adapun niat shalat sunnah rawatib adalah sebagai berikut :
Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Shubuh :
اُصَلِّى سُنَّةَ الصُّبْحِِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Shubuh dua rakaat karena Allah Ta’ala”.
Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Dzuhur :
اُصَلِّى سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala”.
Niat shalat sunnah rawatib ba’diyah Dzuhur :
اُصَلِّى سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah setelah Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala”.
Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Ashar :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Ashar dua rakaat karena Allah Ta’ala”.
Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Maghrib :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala”.
Niat shalat sunnah rawatib ba’diyah Maghrib :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah setelah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala”.
Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Isya :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Isya dua rakaat karena Allah Ta’ala”.
Niat shalat sunnah rawatib ba’diyah Isya :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah setelah Isya dua rakaat karena Allah Ta’ala”.
Niat shalat sunnah rawatib qabliyah Jum’at :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah sebelum Jum’at dua rakaat karena Allah Ta’ala”.
Niat shalat sunnah rawatib ba’diyah Jum’at :
اُصَلِّى سُنَّةَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً للهِ تَعَالَى
“Saya niat shalat sunnah setelah Jum’at dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Senin, 10 Oktober 2011

KETENTUAN PUASA SUNNAH

KETENTUAN PUASA SUNNAH

Created and posted, http://referensiagama.blogspot.com
by sariono sby

Puasa sunnah atau puasa tathawwu‘ adalah puasa selain puasa wajib, yakni puasa yang apabila dilaksanakan mendapatkan pahala dan jika tidak dilaksanakan tidak berdosa. Sabda Rasulullah Saw. :

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَارَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنِيْ عَمَّافَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصِّيَامِ, قَالَ, شَهْرُ رَمَضَانَ, قَالَ, هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ, قَالَ, لاَ, إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ (رواه البخا رى و مسلم)
“Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Saw., dia bertanya, Ya Rasulullah jelaskanlah kepadaku tentang puasa yang difardlukan kepadaku ?, Rasulullah menjawab, bulan Ramadlan, dia bertanya lagi, adakah puasa yang lain ?, Rasulullah menjawab, tidak ada, kecuali engkau mengerjakan puasa tathawwu‘ (puasa sunnah) “. (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun tatacara melaksanakannya, syarat dan rukunnya serta hal-hal yang membatalkannya sama dengan puasa wajib, yang membedakan hanyalah niatnya. Puasa sunnah terdiri atas :
1. Puasa Senin-Kamis
Puasa Senin-Kamis adalah puasa yang dilakukan pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. :
عَنْ عَائِشَةَ كَانَ النَّبِىِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ اْلاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ (رواه الترمذى)
“Dari Aisyah Ra., bahwasanya Nabi Saw. memilih puasa pada hari Senin dan Kamis”. (HR. At Tirmidzi).

Adapun alasan beliau puasa pada hari Senin dan Kamis dijelaskan dalam hadits berikut :
تُعْرَضُ اْلاَعْمَالُ كُلُّ اثْنَيْنِ وَخَمِيْسٍ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرِضُ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ (رواه احمد)
“Amal-amal kita ditunjukkan keada Allah pada setiap hari Senin dan Kamis, karena itu aku suka ketika amal-amalku ditunjukkan kepada Allah aku sedang berpuasa ”. (HR. Ahmad).
ذَالِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَبُعِثْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ (رواه مسلم)
“Hari itu aku dilahirkan dan hari itu p ula aku diangkat menjadi rasul serta hari itu pula Al Qur‘an diturunkan kepadaku”. (HR. Muslim).
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَكْثَرَ مَايَصُوْمُ اْلاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ, فَقِيْلَ لَهُ, فَقَالَ : إِنَّ اْلاَعْمَالَ تُعْرَضُ كُلُّ اِثْنَيْنِ وَخَمِيْسٍ فَيَغْفِرُ اللهُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ اَوْ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ إِلاَّ الْمُتَهَاجِرِيْنَ فَيَقُوْلُ أَخِرُهُمَا (رواه احمد)
“Sesungguhnya Nabi Saw. sering ber puasa pada hari Senin dan Kamis, lalu ditanyakan orang kepada beliau dan beliau menjawab, sesungguhnya amalan-amalan dipersembahkan p ada hari Senin dan Kamis, maka Allah berkenan mengampuni setiap muslim dan setiap mukmin kecuali dua orang yang bermusuhan, maka firman-Nya, tangguhkanlah kedua mereka itu ”. (HR. Ahmad).

2. Puasa ‘Asyura
Puasa ‘Asyura adalah puasa yang dilakukan pada hari ‘Asyura, yakni tanggal 10 bulan Muharram. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :
عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ, أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيَامُ يَوْمُ عَاشُوْرَاءِ, فَقَالَ : يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ (رواه مسلم)
Dari Abu Qatadah Ra. bahwasanya Rasulullah Saw. ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)




3. Puasa Sya‘ban
Puasa Sya‘ban adalah puasa yang dilakukan pada bulan Sya‘ban khususnya pada tanggal 15 atau pertengahan bulan. Puasa Sya‘ban dilakukan sebagai persiapan menghadapi puasa Ramadlan. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saw. :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنهَا قَالَتْ, مَارَأَيْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرِ قَطٌّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَارَأَيْتُ فِىْ شَهْرِ أََكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانَ (رواه البخارى ومسلم)
Dari Aisyah Ra. berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah Saw. ber puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadlan dan saya tidak melihat bulan yang paling banyak untuk beliau ber puasa kecuali bulan Sya‘ban”. (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Puasa Syawal
Puasa Syawal adalah puasa yang dikerjakan selama enam hari di bulan Syawal setelah melaksanakan puasa Ramadan. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. :
عَنْ أَبِى أَيُّوْبَ اْلاَنْصَارِى رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ, أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّامِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ (رواه مسلم)
Dari Abu Ayub Al Anshary Ra. sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa puasa pada bulan Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, sama seperti berpuasa sepanjang tahun”. (HR. Muslim).
Puasa Syawal boleh dilakukan kapan saja selama masih berada di bulan Syawal, tetapi yang utama dilakukan selama enam hari berturut-turut mulai tanggal 2 sampai 7 bulan Syawal.
5. Puasa Arafah
Puasa Arafah adalah puasa yang dilakukan pada tanggal sembilan bulan Dzulhijjah. Puasa Arafah dianjurkan bagi mereka yang tidak menunaikan ibadah haji. Sebelum melaksanakan puasa Arafah kaum muslimin juga melaksanakan puasa Tarwiyah, yakni tanggal delapan bulan Dzulhijjah. Puasa Tarwiyah dan puasa Arafah pahalanya sangat besar, yakni dapat menghapus dosa-dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :
عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ, قَالَ : أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ, قَالَ : صَوْمُ عَرَفَةَ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ (رواه مسلم)
Dari Abu Qatadah Ra. berkata, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Puasa Arofah itu dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.” (HR. Muslim).

6. Puasa Abyadl
Puasa Abyadl adalah puasa yang dilakukan pada pertengahan bulan Qamariyah, yakni tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :
عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ, قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرٍّ صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةٌ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ (رواه احمد والنسائ)
Dari Abu Dzar berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Abu Dzar, jika engkau berpuasa dalam satu bulan tiga hari, puasalah pada hari yang bertepatan dengan tanggal 13, 14 dan 15.” (HR. Ahmad dan Nasa‘i).

7. Puasa Dawud
Puasa Dawud adalah puasanya Nabi Dawud As. yakni puasa yang dilakukan secara selang-seling setiap harinya (sehari puasa sehari tidak). Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْْطِرُ يَوْمًا (رواه النسائ)
Rasulullah Saw. bersabda, “Puasa yang paling dicintai Allah ‘Ajja wa Jalla adalah puasa Nabi Dawud As. beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari” (HR. Nasa‘i).


PRAKTEK PUASA SUNNAH

Beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang melakukan puasa sunnah :
1. Niat di malam hari atau ketika ingat,
2. Makan sahur pada dini hari,
3. Menghindari makan dan minum serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa,
4. Menahan diri dari perbuatan tercela dan menjaga lisan dari perkataan yang kotor,
5. Memperbanyak amal ibadah dan berdoa serta shadaqah,
6. Menyegerakan berbuka jika telah mendengar adzan Maghrib, dan berdoa ketika berbuka,

Adapun niat puasa sunnah antara lain sebagai berikut :
a. Puasa Senin-Kamis
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ لِيَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Saya niat puasa esok hari Senin sunnah karena Allah Ta‘ ala“
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ لِيَوْمِ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Saya niat puasa esok hari Kamis sunnah karena Allah Ta‘ ala“

b. Puasa ‘Asyura
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ لِيَوْمِ عَاشُوْرَاءِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Saya niat puasa esok hari ‘Asyura sunnah karena Allah Ta‘ ala“

c. Puasa Sya‘ban
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ لِشَهْرِ شَعْبَانَ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Saya niat puasa esok hari pada bulan Sya‘ban sunnah karena Allah Ta‘ ala“

d. Puasa Syawal
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ لِشَهْرِ شَوَّالٍ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Saya niat puasa esok hari pada bulan Syawal sunnah karena Allah Ta‘ ala“

e. Puasa Arafah
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ لِيَوْمِ تَرْوِيَّةَ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Saya niat puasa esok hari Tarwiyah sunnah karena Allah Ta‘ ala“
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ لِيَوْمِ عَرَفَةَ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Saya niat puasa esok hari ‘Arafah sunnah karena Allah Ta‘ ala“

f. Puasa Abyadl
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Saya niat puasa esok hari sunnah karena Allah Ta‘ ala“

g. Puasa Dawud
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Saya niat puasa esok hari sunnah karena Allah Ta‘ ala“

KETENTUAN PUASA WAJIB
By sariono sby



KETENTUAN PUASA WAJIB
Created and Posted, http://referensiagama.blogspot.com
By sariono sby

1.    Pengertian Puasa Wajib
Istilah puasa berasal dari bahasa Arab, shama-yashumu-shiyaman (shaumun)  yang berarti menahan diri dari segala sesuatu. Menurut istilah ulama Fiqih, puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan syarat-syarat tertentu.
Puasa Wajib artinya puasa yang harus dilakukan oleh setiap muslim yang mukallaf (sudah balligh dan berakal sehat) dan mampu melaksanakannya yang jika dilakukan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat dosa. Puasa Wajib terdiri atas :
a.    Puasa Ramadlan
      Puasa Ramadlan adalah puasa yang dilakukan selama satu bulan penuh di bulan Ramadlan.   Puasa Ramadlan mulai diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah, yakni dengan turunnya firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183 :
                  •  …   
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu, ...”.
     Melaksanakan puasa Ramadlan merupakan pengamalan dari rukun Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَإِقَامِ الصَّلاًةِ, وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ, وَصَوْمِ رَمَضَانَ, وَحَجَّ الْبَيْتِ (رواه البخاري)
Dari Ibnu Umar Ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Islam didirikan di atas lima dasar, bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. itu utusan Allah, mendirikan shalat yang lima waktu, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan menunaikan haji ke Baitullah“. (HR. Bukhari).
b.    Puasa Nadzar
Nadzar artinya janji seseorang tentang kebaikan, misalnya seorang siswa bernadzar jika memperoleh rangking satu maka saya akan berpuasa tiga hari. Ternyata nadzar-nya  terkabul,  maka ia wajib berpuasa sesuai dengan nadzar-nya itu.
Puasa Nadzar adalah puasa yang dilakukan oleh orang yang ber-nadzar, jika nadzarnya terkabul maka ia wajib menunaikannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Hajj ayat 29 :
…  …    
“...,  dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka, ...”.
      Sabda Rasulullah Saw. :
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيْعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ, وَ مَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يُعْصِهِ (رواه البخاري ومسلم)
“Barangsiapa yang bernadzar untuk mentaati Allah maka hendaklah ia kerjakan dan barangsiapa yang bernadzar untuk maksiat kepada Allah maka hendaklah ia tinggalkan“. (HR. Bukhari dan Muslim).
c.    Puasa Kifarat
Kifarat artinya tebusan yang harus dilakukan karena melanggar aturan agama, misalnya melakukan hubungan suami isteri pada siang hari di bulan Ramadlan, membunuh dengan tidak sengaja, melakukan sesuatu yang diharamkan dalam ibadah haji, melanggar sumpah dan melakukan dzihar (menyerupakan isteri dengan ibu saat melakukan hubungan suami isteri).
Puasa Kifarat artinya puasa yang wajib dilakukan oleh seseorang yang melanggar aturan agama. Firman Allah SWT dalam surat An Nisa ayat 92 :
     •      •                                                       
“dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah,  jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana“.
Sabda Rasulullah Saw. :
جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ  :هَلَكْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ, قَالَ : وَمَااَهْلَكَكَ,قَالَ  : وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى فِى رَمَضَانَ, قَالَ  :  هَلْ تَجِدُ مَاتُعْتِقُ رَقَبَةً, قَالَ  :  لاَ, قَالَ  :  هَلْ تَسْتَطِيْعُ أَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ, قَالَ  :  لاَ, قَالَ :  هَلْ تَجِدُ مَاتُطْعِمُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا, قَالَ : لاَ, ثُمَّ جَلَسَ فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمَرٌ, قَالَ  :  تَصَدَّقَ بِهَذَا, قَالَ  :  فَهَلْ اَعَلَى اَفْقَرَ مِنَّا, فَوَاللهِ مَابَيْنَ لاَ بَتَيْهَا اَهْلُ بَيْتٍ اَحْوَجُ اِلَيْهِ مِنَّا, فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  حَتَّى بَدَتْ اَنْيَابُهُ وَقَالَ  :إِذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ  (رواه البخارى ومسلم)
“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw., ia berkata, celaka saya ya Rasulallah, Nabi Saw. bertanya, apakah yang mencelakakan engkau ? laki-laki itu menjawab, saya telah bersetubuh dengan isteri saya pada siang hari di bulan Ramadlan, Nabi Saw. bertanya, sanggupkah engkau memerdekakan budak ? laki-laki itu menjawab, tidak, Nabi Saw. bertanya, kuatkah engkau berpuasa dua bulan berturut-turut ? laki-laki itu menjawab, tidak, Nabi Saw. bertanya Apakah engkau mempunyai makanan untuk diberikan kepada 60 orang fakir miskin ? laki-laki itu menjawab, tidak, kemudian laki-laki itu duduk, maka Nabi Saw. memberikan bakul besar berisi kurma, Nabi bersabda, sedekahkan kurma ini !, laki-laki itu berkata, kepada siapakah,  kepada orang yang lebih miskin dari saya ? demi Allah tidak ada penduduk kampung yang memerlukan makanan selain dari kami seisi rumah, Nabi Saw. tertawa sehingga terlihat gigi serinya dan beliau bersabda, pulanglah, berikan kurma itu kepada keluargamu“. (HR. Bukhari dan Muslim).
d.    Puasa Qadla
      Qadla artinya pengganti, puasa Qadla artinya puasa yang wajib dilakukan oleh seseorang karena berbuka pada bulan Ramadlan dengan alasan adanya udzur syar’i seperti bepergian jauh, sakit, haid atau nifas. sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 184 :
…             ...  
“..., maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.... “.
    Rasulullah Saw. bersabda :
عَنْ عَائِسَةَ كُنَّا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ (رواه البخارى)
Dari Aisyah Ra. berkata, “Kami disuruh oleh Rasulullah Saw. mengqadla puasa dan tidak disuruhnya untuk mengqadla shalat“. (HR. Bukhari).




2.    Syarat Wajib dan Syarat Sah Puasa
       Seseorang diwajibkan berpuasa apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :          
a.    Baligh (dewasa)          
b.    Berakal sehat
رُفَعَ الْـقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الْمََجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَبْلُغَ (رواه أبو داود والنسائ)
“Tiga orang terlepas dari hukum, orang yang sedang tidur hingga ia bangun, orang gila hingga ia sembuh dan anak-anak hingga ia baligh“. (HR. Abu Dawud dan Nasai).

c.    Mampu berpuasa
...                     ...  
“… dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, ....“. (QS Al Baqarah ayat 185).

Adapun syarat sah berpuasa adalah sebagai berikut :
a.    Beragama Islam
b.    Mumayyiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)  
c.    Suci dari haidl dan nifas
d.    Masuk waktu berpuasa
عَنْ اَنَسٍ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صَوْمٍ خَمْسَةِ اَيَّامٍ فِى السَّنَةِ, يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ وَثَلاَثَةِ اَيَّامِ التَّشْرِيْقِ (رواه الدرقطنى)
“Dari Anas Ra. Bahwasanya Nabi Saw. telah melarang berpuasa lima hari dalam satu tahun, hari raya Idul Fitri, hari raya haji dan tiga hari tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah)“. (HR. Ad Daruqutni).

3.    Rukun Puasa
a.    Niat berpuasa pada  malam hari sebelum fajar,
      Sabda Rasulullah Saw. :
مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ (رواه الخمسه)
”Barangsiapa yang  tidak niat puasa sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.” (HR. Lima  perawi utama).
b.    Menahan diri dari semua yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Firman Allah SWT. dalam surat Al-Baqarah ayat 187 :
...    •               ...  
“...,  dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam , ...”.

4.    Hal-hal Yang Membatalkan Puasa
Orang sedang yang berpuasa harus menghindari dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa seperti   :
a.    Makan dan minum dengan sengaja
b.    Muntah dengan sengaja.
c.    Melakukan hubungan suami isteri
d.    Haidh dan nifas, meskipun hanya sesaat sebelum terbenam matahari.
e.    Keluarnya mani dengan sengaja, (onani, masturbasi).    
f.    Gila dan pingsan (tidak sadarkan diri).
g.    Memasukkan suatu benda ke dalam tubuh secara sengaja,
h.    Murtad (keluar dari agama Islam),
i.    Melihat bulan tanggal 1 Syawwal,       
j.    Berniat berbuka puasa dan membatalkan puasa.      
5.    Hal-hal Yang Membatalkan Pahala Puasa
Selain hal-hal yang dapat membatalkan puasa, orang yang berpuasa juga harus menghindari dari hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa seperti   :
a.    Memfitnah atau mencela
b.    Berdusta, menipu dan mencuri
c.    Menggunjing dan marah
d.    Mendengarkan cerita bohong dan keji
e.    Memandang wanita dengan syahwat
f.    Melihat perbuatan-perbuatan syahwat
6.    Hal- hal yang disunnahkan dalam puasa
a.    Menyegerakan berbuka puasa ketika matahari jelas-jelas terbenam,
عَنْ سَهْلِ ابْنِ سَعْدٍ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَزَّلُوا الْفِطْرَ  (رواه البخارى ومسلم)
Dari Sahl bin Saad Ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa (HR. Bukhari d
“Dari Anas Ra. berkata, Rasulullah  Saw.bersabda, makan sahurlah kamu, sesungguhnya makan sahur itu mengandung berkah“. (HR. Bukhari dan Muslim).
b.    Mengakhirkan makan sahur,
عَنْ اَبِى ذَارٍ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, لاَيَزَالُ اُمَّتِىْ بِخَيْرٍ مَا اَخَّرُوا السَّحُوْرَ وَعَزَّلُوا الْفِطْرَ (رواه احمد)
“Dari Abu Dzar Ra. berkata, Rasulullah  Saw.bersabda, umatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka“. (HR. Ahmad).
c.    Memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang puasa,
مَنْ اَفْطَرَ صَائِمًا فَلَهُ أَجْرُ صَائِمٍ وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ صَائِمٍ  شَيْئٌ (رواه الترمذى)
“Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka bagi orang yang puasa, maka ia mendapat pahala sebanyak pahala orang yang berpuasa itu, tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang tersebut“. (HR. At Tirmidzi).
d.    Memperbanyak shadaqah,
عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ, يَارَسُوْلَ اللهِ صَلَّى, أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ, قَالَ, صَدَقَةٌ فِىْ رَمَضَانَ (رواه الترمذى)
“Dari Anas Ra. berkata, seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw., kapankah waktu shadaqah yang lebih baik ?,  beliau menjawab, shadaqah di bulan Ramadlan“. (HR. At Tirmidzi).



e.    Memperbanyak membaca Al Qur’an dan mempelajarinya,
أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِيْ تِلاَوَةُ ابْقُرْآنِ (رواه البيهقى )
“Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Al Qur’an“. (HR. Al Baihaqi).
f.    Meninggalkan pembicaraan yang buruk dan tercela.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالَْجَهْلَ فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فِىْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخارى وابوداود)
“Rasulullah  Saw.bersabda, orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta serta bodoh, Allah tidak membutuhkan lapar dan dahaga mereka“. (HR. Bukhari dan Abu Dawud).

7.    Orang-orang Yang Boleh Meninggalkan Puasa
a.    Orang yang sakit
b.    Musafir atau orang dalam perjalanan jauh
...                     ...  
“… dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, ....“. (QS Al Baqarah ayat 185).
    Orang yang sakit dan orang yang dalam perjalanan jauh boleh tidak berpuasa dengan kewajiban mengqadha puasanya sebanyak hari yang ditinggalkannya. Waktu mengqadla puasa adalah setelah bulan Ramadlan dan tidak boleh melewati Ramadlan berikutnya.
c.    Orang tua yang sangat lemah dan tidak kuat berpuasa
…       …  
“… dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.…“ (QS Al Baqarah ayat 184).
    Orang tua yang sangat lemah dan tidak kuat berpuasa atau karena sakit menahun (sakit permanen), boleh tidak berpuasa dengan kewajiban membayar fidyah (shadaqah) sebanyak 3/4 liter beras atau yang disamakan dengan itu kepada fakir-miskin..
d.    Wanita hamil dan menyusui
عَنْ اَنَسٍ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصًّلاَةِ وَعَنِ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ (رواه الخمسة)
“Dari Anas Ra. berkata, Rasulullah  Saw. bersabda, sesungguhnya Allah  telah memaafkan setengah shalat dari orang musafir dan memaafkan pula puasanya, dan Dia memberi kemurahan kepada wanita yang sedang hamil dan yang sedang menyusui“. (HR. Lima orang Ahli Hadits).
    Wanita hamil atau menyusui boleh tidak berpuasa dengan kewajiban :
1)    Wajib qadla, jika wanita hamil atau menyusui tersebut takut menimbulkan sakit bagi dirinya dan anaknya.
2)    Wajib qadla dan fidyah, jika wanita hamil atau menyusui tersebut takut menimbulkan sakit bagi anaknya.
MACAM-MACAM SUJUD
 Created and Posted, http://referensiagama.blogspot.com
by sariono sby

A.    PENGERTIAN SUJUD SYUKUR, SUJUD SAHWI, DAN SUJUD TILAWAH

1. Sujud Syukur
Sujud syukur artinya sujud terima kasih, yakni sujud yang dilakukan sebagai tanda terima kasih kepada Allah SWT. atas karunia-Nya berupa keberuntungan atau keberhasilan  atau karena terhindar dari bahaya atau kesulitan. Sujud syukur hukumnya sunah, sebagaimana hadits berikut ini.

عَنْ اَبِى بَكُرَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اِذَا اَتَاهُ اَمْرٌ يَسُرُّهُ اَوْبُشْرَى بِهِ خَرَّسَاجِدًا شُكْرًا ِللهِ  (رواه ابوداود والترمذى)

Dari Abu Bakrah : “Bahwa sesungguhnya Nabi Saw. apabila datang kepadanya  sesuatu yang menggembirakan atau kabar suka, beliau langsung  sujud untuk  berterima kasih kepada Allah SWT.” (HR.  Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dalam riwayat lain dijelaskan :
عَنْ اَبِى بَكُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اِذَا جَاءَهُ خَبَرٌ يَسُرُّهُ خَرَّسَاجِدًا ِللهِ  (رواه الخمسه الا النسائ)
Dari Abu Bakrah : “Bahwa sesungguhnya apabila datang Nabi Saw. sesuatu yang baik  yang menggembirakan, beliau langsung  sujud karena  berterima kasih kepada Allah SWT.” (HR. Lima kecuali  An Nasai).

Firman Allah SWT.
         •     
“dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim ayat 7).

2.   Sujud Sahwi
Sujud sahwi artinya sujud karena lupa, yakni sujud yang dilakukan karena lupa atau ragu-ragu  dalam pelaksanaan shalat. Sujud syukur hukumnya sunah, sebagaimana hadits berikut ini.

عَنْ أَبِى سَعِيْدِ الْخُدْرِى قَالَ, قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا شَكَّ أََحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا, فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَااسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ (رواه أحمد ومسلم)

Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, Nabi Saw. bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu ragu dalam shalat, ia sudah mengerjakan tiga atau empat, maka hendaklah dihilangkan keraguan  itu  dan diteruskan shalatnya menurut yang diyakini, kemudian hendaklah sujud dua kali sebelum salam” (HR. Ahmad dan Muslim).

Adapun sebab-sebab melakukan sujud sahwi adalah :
a.    Ketinggalan tasyahud awal atau ketinggalan qunut..
b.    Kelebihan rakaat, rukuk atau sujudnya karena lupa.
c.    Ragu tentang bilangan rakaat yang telah dilakukannya.

3.  Sujud Tilawah
Sujud tilawah artinya sujud bacaan, yakni sujud yang dikerjakan pada saat membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah. Apabila seorang imam membaca ayat-ayat sajdah kemudian ia melakukan sujud tilawah, maka makmumnya harus mengikuti sujud, tetapi jika imam tidak melakukan sujud maka makmum tidak boleh sujud. Hukum melaksanakan sujud tilawah adalah sunnah baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Rasulullah Saw. bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ, قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ إِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُوْلُ : يَاوَيْلَتَا أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُوْدِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ  (رواه أحمد ومسلم)
Dari Abu Hurairah Ra. berkata, Nabi Saw. bersabda, “Apabila  anak Adam membaca ayat sajdah kemudian sujud menghindarlah syetan dan ia menangis seraya berkata, celakalah  aku, anak Adam diperintah untuk sujud lantas ia sujud maka baginya surga  dan saya diperintah untuk sujud juga tetapi saya tidak mau maka bagi saya neraka” (HR. Ahmad dan Muslim).

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَلَ, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ عَلَيْنَاالْقُرْآنَ فَإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ وَسَجَدَ وَسَجَدْنَا مَعَهُ (رواه الترمذى)
Dari Ibnu Umar berkata,Sesungguhnya  Nabi Saw. pernah membaca Al Qur’an  di depan kami ketika bacaannya sampai pada  ayat sajdah beliau bertakbir lalu sujud, maka kami pun sujud bersama-sama dengannya” (HR. At Tirmidzi).

عَنْ عَمْرِ ابْنِ عَاصٍ قَالَ, أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَأَهُ خَمْسَةَ عَشَرَ سَجْدَةً فِى الْقُرْآنِ, مِنْهَا ثَلاَثٌ فِى الْمُفَصَّلِ وَفِى الْحَجِّ سَجْدَتَانِ (رواه ابوداود وابن ماجه)
Dari Amr bin Ash, sesungguhnya Rasulullah Saw.membaca lima belas ayat tilawah di dalam Al Qur’an, di antaranya ada tiga belas ayat dalam surat mufashal dan dua ayat dalam surat Al Hajj” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Adapun ayat-ayat sajdah yang terdapat dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut :
a.    Surat Al A’raf ayat 206,            i.   Surat An Naml ayat 26,
b.    Surat Ar Ra’du ayat 15,            j.   Surat As Sajdah ayat 15,
c.    Surat Al Isra’ ayat 107,            k.  Surat Shaad ayat 24,
d.    Surat An Nahl ayat 49,            l.   Surat Fushilaat ayat 38,
e.    Surat Maryam ayat 58,            m. Surat An Najm ayat 62,
f.    Surat Al Hajj ayat 18,            n.  Surat Al Insyiqaq ayat 21 dan
g.    Surat Al Hajj ayat 77,            o.  Surat Al ’Alaq  ayat 19.
h.    Surat Al Furqan ayat 60,



B. TATACARA SUJUD SYUKUR, SUJUD SAHWI, DAN SUJUD TILAWAH

1.  Sujud Syukur
Sujud syukur boleh dilakukan tanpa berwudhu, sebab sujud ini dilakukan di luar  shalat. Bahkan pada waktu shalat tidak diperbolehkan melakukan sujud syukur. Namun lebih baik sujud syukur dilakukan dalam keadaan suci (berwudhu) sekalipun ini tidak termasuk sebagai syarat karena sujud syukur sifatnya spontan dan atas kesadaran seorang muslim dalam mensyukuri nikmat Allah SWT.
Langkah-langkah untuk melakukan sujud syukur, antara lain :
1.    Niat untuk melakukan sujud syukur.
2.    Takbir (takbiratul ihram)
3.    Membaca doa sujud syukur :
سَجَدَوَجْهِيَ ِللَّذِيْ خَلَقَهُ وَسَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ
“Aku sujud kepada Allah yang telah menciptakan dan membentuk diriku serta telah membukakan pendengaran dan penglihatanku dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya”.
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُِ للهِ وَلاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ, رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَاحَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, اَللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ
      “Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat  dan  periharalah kami dari siksa neraka, Ya Allah semoga shalawat senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw. keluarga dan para sahabatnya ”.
4.    Memberi salam sesudah duduk.

2.  Sujud Sahwi
Sujud sahwi dapat dilaksanakan sesudah tahiyat akhir sebelum salam atau dilaksanakan sesudah salam. Sujud sahwi dilakukan dua kali sama seperti sujud dalam shalat. Adapun bacaan sujud sahwi adalah :
سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَشْهُوْ
“Maha Suci Allah yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa”.

3.   Sujud Tilawah
Sujud tilawah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
       a.  Sujud tilawah pada waktu shalat
Jika mendengar atau membaca ayat sajdah dalam shalat hendaklah sujud sekali kemudian berdiri kembali meneruskan bacaan ayat tersebut dan meneruskan salatnya.
Apabila dalam keadaan berjamaah, imam membaca ayat sajdah lalu sujud tilawah dan makmum harus ikut sujud namun apabila imam tidak sujud makmum tidak boleh sujud sendirian.
b.  Sujud tilawah di luar shalat
1)    Menghadap kiblat
2)    Niat dan takbir (takbiratul ihram)
3)    Sujud
4)    Duduk dan Salam
            Adapun bacaan dalam sujud tilawah adalah :
سَجَدَوَجْهِيَ ِللَّذِيْ خَلَقَهُ وَسَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَك َاللهُ اَحْسَنَ الْخَالِقِيْنَ
“Aku sujud kepada Allah yang telah menciptakan dan membentuk diriku serta telah membukakan pendengaran dan penglihatanku dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya Mahabenar Allah, Dialah sebaik-baiknya Pencipta”.

Jumat, 07 Oktober 2011

ZUHUD DAN TAWAKAL


ZUHUD DAN TAWAKAL

created and Posted, http://referensiagama.blogspot.com

by sariono sby

PENGERTIAN ZUHUD DAN TAWAKKAL

1. Zuhud

Menurut bahasa zuhud berasal dari kata dasar zahada yazhadu zuhdan, yang berarti meninggalkan atau menghindar. Yakni meninggalkan atau menghindar dari kesenangan duniawi yang berlebih-lebihan misalnya dalam hal makanan, pakaian, rumah atau kendaraan karena pengabdian kepada Allah SWT melebihi dari segalanya.

Menurut istilah zuhud memiliki beberapa pengertian :

a. Ibnu Taimiyah, ”Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat”.

b. Imam Al Qusyairy, ”Zuhud adalah tidak merasa bangga terhadap kemewahan dunia yang dimiliki dan tidak merasa sedih ketika kehilangan harta”.

c. Imam Al Ghazali, ”Zuhud adalah mengurangi keinginan untuk menguasai kemewahan dunia sesuai dengan kadar kemampuannya”.

d. Hasan Al-Bashri, ”Zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran”.

Dari empat pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa zuhud adalah suatu sikap hidup di mana seseorang tidak terlalu mementingkan harta kekayaan dunia atau dunia. Harta kekayaan atau dunia hanyalah sarana untuk mencapai tujuan hakiki yakni kehidupan akhirat.

Beberapa firman Allah SWT terkait dengan sifat Zuhud :

a. QS An Nisa ayat 77 :

3 ö@è% ßì»tFtB $u÷R9$# ×@Î=s% äotÅzFy$#ur ׎öyz Ç`yJÏj9 4s+¨?$# Ÿwur tbqßJn=ôàè? ¸xÏGsù ÇÐÐÈ

"... Katakanlah: ’kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”.

b. QS Luqman ayat 33 :

( Ÿxsù ãNà6¯R§äós? äo4quysø9$# $u÷R9$# Ÿwur Nà6¯R§äótƒ «!$$Î/ ârãtóø9$# ÇÌÌÈ

”... maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.

c. QS Al Kahfi ayat 7 :

$¯RÎ) $oYù=yèy_ $tB n?tã ÇÚöF{$# ZpoYƒÎ $ol°; óOèduqè=ö7oYÏ9 öNåkšr& ß`|¡ômr& WxyJtã ÇÐÈ

”Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”.

d. QS Asy Syura ayat 20 :

`tB šc%x. ߃̍ムy^öym ÍotÅzFy$# ÷ŠÌtR ¼çms9 Îû ¾ÏmÏOöym ( `tBur šc%x. ߃̍ムy^öym $u÷R9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB $tBur ¼çms9 Îû ÍotÅzFy$# `ÏB A=ŠÅÁ¯R ÇËÉÈ

”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”.

e. QS Al Hadid ayat 23 :

ŸxøŠs3Ïj9 (#öqyù's? 4n?tã $tB öNä3s?$sù Ÿwur (#qãmtøÿs? !$yJÎ/ öNà69s?#uä 3 ª!$#ur Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC Aqãsù ÇËÌÈ

“ (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Para ulama Tasawuf membagi zuhud ke dalam beberapa tingkatan, antara lain :

a. Imam Ahmad bin Hanbal :

1) Zuhud Awam, dengan meninggalkan barang yang haram,

2) Zuhud Khawas, dengan meninggalkan barang yang halal,

3) Zuhud ’Arif, dengan meninggalkan apa saja yang menghalanginya dari Allah SWT.

b. Imam Abu Nashr As Sarraj At Tusi :

1) Zuhud Mubtadi’ (tingkat pemula), yakni orang yang tidak memiliki sesuatu dan hatinya-pun tidak ingin memilikinya.

2) Zuhud Mutahaqqiq (tingkat orang yang telah mengenal hakekat zuhud), yakni orang yang bersikap tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari harta benda duniawi karena tahu dunia tidak mendatangkan keuntungan baginya.

3) Zuhud ‘Alim Muyaqqin (tingkat orang yang memandang bahwa dunia tidak memiliki nilai), yakni orang yang memandang bahwa dunia ini hanyalah sesuatu yang dapat melalaikan dari mengingat Allah SWT.

c. Iman Al Ghazali :

1) Meninggalkan sesuatu karena menginginkan sesuatu yang lebih baik,

2) Meninggalkan keduniaan karena menginginkan sesuatu yang bersifat keakhiratan,

3) Meninggalkan segala sesuatu selain Allah SWT, karena rasa cintanya hanya tertuju kepada Allah SWT.

Kebalikan dari sifat zuhud adalah hubbuddunya (berlebih-lebihan mencintai dunia/harta benda). Orang yang hubbuddunya digambarkan oleh Allah SWT sebagai orang yang suka mencela dan mengumpulkan harta benda. Perhatikan QS Al Humazah berikut ini !

×@÷ƒur Èe@à6Ïj9 ;otyJèd >otyJ9 ÇÊÈ Ï%©!$# yìuHsd Zw$tB ¼çnyŠ£tãur ÇËÈ Ü=|¡øts ¨br& ÿ¼ã&s!$tB ¼çnt$s#÷{r& ÇÌÈ žxx. ( ¨bxt6.^ãŠs9 Îû ÏpyJsÜçtø:$# ÇÍÈ !$tBur y71u÷Šr& $tB èpyJsÜçtø:$# ÇÎÈ â$tR «!$# äoys%qßJø9$# ÇÏÈ ÓÉL©9$# ßìÎ=©Üs? n?tã ÍoyÏ«øùF{$# ÇÐÈ $pk¨XÎ) NÍköŽn=tã ×oy|¹÷sB ÇÑÈ Îû 7uHxå ¥oyŠ£yJB ÇÒÈ

1. kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,

2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,

3. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,

4. sekali-kali tidak! sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.

5. dan tahukah kamu apa Huthamah itu?

6. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,

7. yang (membakar) sampai ke hati.

8. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,

9. (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

2. Tawakal

Menurut bahasa tawakal berasal dari kata dasar wakkala yang artinya mewakilkan atau menyerahkan. Yakni mewakilkan atau menyerahkan suatu urusan kepada orang lain yang karena sesuatu hal dirinya tidak bisa melakukannya. Sedangkan menurut istilah tawakal adalah berserah diri kepada Allah dalam menghadapi suatu pekerjaan atau keadaan. Dalam penerapannya tawakal merupakan tumpuan terakhir dalam suatu usaha dan perjuangan, artinya berserah diri kepada Allah (tawakal) itu sesudah melakukan ikhtiar nyata semaksimal mungkin sesuai kemampuan.

Beberapa firman Allah SWT terkait dengan sifat Tawakal :

a. QS Ali Imran ayat 159 :

( #sŒÎ*sù |MøBztã ö@©.uqtGsù n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ

“… kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

b. QS Ali Imran ayat 160 :

bÎ) ãNä.÷ŽÝÇZtƒ ª!$# Ÿxsù |=Ï9$xî öNä3s9 ( bÎ)ur öNä3ø9äøƒs `yJsù #sŒ Ï%©!$# Nä.çŽÝÇZtƒ .`ÏiB ¾ÍnÏ÷èt/ 3 n?tãur «!$# È@©.uqtGuŠù=sù tbqãYÏB÷sßJø9$# ÇÊÏÉÈ

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”

c. QS Al Maidah ayat 23 :

tA$s% ÈbŸxã_u z`ÏB tûïÏ%©!$# šcqèù$sƒs zNyè÷Rr& ª!$# $yJÍköŽn=tã (#qè=äz÷Š$# ãNÍköŽn=tã šU$t6ø9$# #sŒÎ*sù çnqßJçGù=yzyŠ öNä3¯RÎ*sù tbqç7Î=»xî 4 n?tãur «!$# (#þqè=©.uqtGsù bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB ÇËÌÈ

“berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".

d. QS At Thalaq ayat 3 :

4 `tBur ö@©.uqtGtƒ n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼çmç7ó¡ym 4 ¨bÎ) ©!$# à÷Î=»t/ ¾Ín̍øBr& 4 ôs% Ÿ@yèy_ ª!$# Èe@ä3Ï9 &äóÓx« #Yôs% ÇÌÈ

“… dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

d. QS At Taubah ayat 51 :

@è% `©9 !$uZu;ÅÁムžwÎ) $tB |=tFŸ2 ª!$# $uZs9 uqèd $uZ9s9öqtB 4 n?tãur «!$# È@ž2uqtGuŠù=sù šcqãZÏB÷sßJø9$# ÇÎÊÈ

”Katakanlah: "sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."

Imam Al Ghazali membagi tawakal ke dalam beberapa tingkatan :

a. Bidayah (tingkat pemula), yakni tawakal pada tingkat hati yang selalu merasa tentram terhadap apa yang sudah dijanjikan Allah SWT.

b. Mutawasithah (tingkat pertengahan), yakni tawakal pada tingkat hati yang selalu merasa cukup menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. karena merasa yakin bahwa Allah SWT telah mengetahui keadaan dirinya.

c. Nihayah (tingkat tinggi), yakni tawakal pada tingkat terjadi penyerahan diri seseorang pada ridla atau merasa lapang menerima segala ketentuan Allah SWT.

Tawakal pada tingkat pertama disebut Tawakkalul Wakil (tawakalnya orang mukmin biasa), yakni seseorang mempercayakan urusannya kepada sang wakil, yaitu Allah SWT, karena merasa yakin bahwa Allah SWT merasa belas kasihan terhadap hamba-Nya. Sedangkan Tawakal pada tingkat kedua dan ketiga disebut Tawakkalut Taslim (tawakalnya para nabi dan wali, yakni seseorang sudah tidak lagi membutuhkan sesuatu selain hanya kepada Allah SWT, karena merasa yakin bahwa Allah SWT telah mengetahui keadaan dirinya.

Sedangkan dari segi obyeknya tawakal terbagi menjadi dua macam :

a. Tawakkal kepada Allah SWT.

Menyerahkan diri dan segala urusan hanya kepada Allah SWT. Tawakal seperti ini hukumnya wajib, karena dengan tawakal hanya kepada Allah SWT iman menjadi sempurna, sedangkan menyempurnakan iman merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

b. Tawakkal kepada selain Allah SWT.

1) Tawakkal kepada selain Allah SWT dalam hal-hal yang menjadi urusan Allah, misalnya menyerahkan urusan rizki dan syafa’at (pertolongan) kepada arwah para kyai dan guru yang sudah wafat atau kepada patung/berhala. Tawakal seperti ini hukumnya haram, karena termasuk kategori syirik akbar (syirik besar).

2) Tawakkal kepada selain Allah SWT dalam hal-hal yang termasuk urusan manusia, misalnya menyerahkan urusan perekonomian, keamanan atau kesehatan kepada orang lain yang dianggap kompeten (memiliki keahlian dalam bidang itu). Tawakal seperti ini hukumnya mubah (boleh), dengan catatan tetap bertawakal kepada Allah SWT, karena hanya Allah yang dapat memberi petunjuk dan kemudahan kepada mereka dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan. Dengan demikian berhasil tidaknya urusan itu tidak terlepas dari kehendak Allah SWT.

CONTOH PERILAKU ZUHUD DAN TAWAKAL

1. Zuhud

Untuk menampilkan contoh perilaku zuhud, perhatikan narasi berikut ini !

Abu Bakar Shiddiq, Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah sahabat Nabi Muhammad Saw. yang kaya raya. Harta benda yang dimiliki para sahabat mereka peroleh dari bekerja dengan cara yang benar, halal dan tidak ada unsur penipuan. Harta benda tersebut dinafkahkan di jalan Allah, yakni untuk ibadah, menyantuni kaum duafa dan mendukung perjuangan dan dakwah Islam. Pengabdian mereka kepada Allah SWT, sama sekali tidak terpengaruh oleh harta benda yang mereka miliki. Ketiga sahabat tersebut adalah orang yang kaya raya, tetapi mereka tetap hidup dalam keadaan zuhud.

Kondisi demikian bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada sahabat Tsa’labah. Ketika miskin dia selalu shalat berjamaah bersama Rasulullah dan menempati shaf pertama. Tetapi ketika dia sudah menjadi orang yang kaya dia lupa berjamaah, bahkan ketika ayat tentang zakat disampaikan kepadanya, dia enggan membayar zakat. Pengabdiannya terhadap Allah SWT, terpengaruh oleh hartanya, bahkan tidak mau membayar zakat yang diwajibkan kepadanya. Tsa’labah sungguh telah menjadi orang yang hubbuddunya.

Berdasarkan narasi di atas, maka contoh perilaku zuhud adalah sebagai berikut :

a. Senantiasa mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah SWT, meskipun sedikit.

b. Senantiasa merasa cukup, meskipun harta yang dimiliki hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer.

c. Senantiasa menggunakan harta yang dimiliki sebagai penunjang kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT.

d. Senantiasa berpenampilan sederhana, baik dari segi sandang, papan maupun pangan.

e. Senantiasa mengutamakan cintanya kepada Allah SWT, daripada kecintaannya terhadap dunia.

2. Tawakal

Untuk menampilkan contoh perilaku tawakal, perhatikan narasi berikut ini !

Suatu ketika seorang sahabat datang ke masjid dengan menunggang unta. Sesampainya di depan masjid ia bergegas masuk masjid dengan meninggalkan untanya tanpa diikat dengan alasan tawakkal kepada Allah swt. Ketika hal itu diketahui oleh Rasulullah Saw., beliau bersabda, ”ikatlah untamu dahulu, baru kamu tawakkal”.

Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, Rasulullah Saw. dan sahabat Abu Bakar Shiddiq singgah di gua Tsur untuk menghindari kejaran kaum kafir Quraisy. Ternyata kaum kafir Quraisy sampai juga dimulut dua. Abu Bakar merasa ketakutan, tetapi dengan tenang Rasulullah Saw. bersabda, ”jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita”.

Suatu saat Rasulullah Saw. ditodong dengan pedang dan hendak dibunuh oleh seorang preman Quraisy yang bernama Da’tsur. Dengan sombongnya, Da’tsur berkata, ”hai Muhammad, dalam kondisi seperti ini siapa yang akan menolongmu ? Dengan tegas Rasulullah Saw. menjawab, ”Allah”. Jawaban Rasulullah Saw. tersebut membuat Da’tsur tersungkur tidak berdaya di hadapan Rasulullah Saw. bahkan akhirnya Da’tsur masuk Islam

Berdasarkan narasi di atas, maka contoh perilaku tawakal adalah sebagai berikut :

a. Senantiasa beryukur atas karunia Allah SWT, dan bersabar jika tidak mendapatkannya.

b. Senantiasa merasa tenang dan tentram serta tidak berkeluh kesah dan gelisah.

c. Senantiasa berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkan karunia Allah SWT.

d. Senantiasa menerima segala ketentuan Allah SWT, dan ridla terhadap keadaan.

e. Senantiasa berusaha memberikan manfaat kepada orang lain.

PEMBIASAAN PERILAKU ZUHUD DAN TAWAKAL

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1. Zuhud

Zuhud merupakan inti dari ajaran Tasawuf. Pemahaman zuhud bukanlah membenci kehidupan dunia dan mengisolir diri dari keramaian dunia dengan mengabaikan kewajiban menafkahi keluarga. Zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta. Zuhud adalah benteng dari sikap sombong, kikir, serakah dan bermewah-mewahan. Kehancuran seseorang dan bahkan sebuah bangsa bercirikan pada keempat sikap tersebut.

Agar bisa bersikap zuhud, Imam Al-Ghazali memberikan tuntunan sebagai berikut :

a. Memaksa diri untuk mengendalikan hawa nafsunya.

b. Sukarela meninggalkan pesona dunia karena dipandang kurang penting.

c. Tidak merasakan zuhud sebagai beban, karena dunia dipandang bukan apa-apa baginya.

Untuk membiasakan perilaku zuhud dalam kehidupan sehari-hari, perhatikanlah ciri-ciri berikut ini :

a. Tidak berkebihan ketika mendapat pujian dari orang lain

b. Dunia bukan tujuan tapi sarana untuk menuju akhirat

c. Giat berusaha, beramal, bekerja dan beibadah

d. Ikhlas beramal dan tidak rakus terhadap dunia

e. Hidup sederhana walaupun kaya raya.

2. Tawakal

Tawakal merupakan bekal hidup orang beriman yang bisa menjadikan dirinya tabah dalam menghadapi apapun bentuk cobaan hidup atau musibah yang menimpa. Dengan sikap tawakal seorang mukmin akan merasa tenang dan tentram dalam hidupnya. Jika mendapat anugerah atau kebaikan, ia sadar bahwa Allah yang memberi semua itu, sehingga ia selalu bersyukur. Sebaliknya jika mendapat musibah atau kesulitan, ia sadar bahwa semua itu datang dari Allah sebagai ujian dan yakin bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan dan hikmah yang di dalamnya.

Agar dapat bersikap tawakal, Imam Al Ghazali memberikan tuntunan sebagai berikut :

a. Berusaha memperoleh sesuatu yang bermanfaat

b. Berusaha menjadikan sesuatu yang dimiliki selalu bermanfaat

c. Berusaha menolak dan menjauhkan diri dari sesuatu yang menimbulkan mudlarat (bahaya/bencana)

d. Berusaha menghilangkan mudlarat yang menimpa dirinya

Untuk membiasakan perilaku tawakal dalam kehidupan sehari-hari, perhatikanlah ciri-ciri berikut ini :

a. Selalu menerima ketentuan Allah SWT dan tidak pernah gelisah dan berkeluh kesah

b. Selalu bersyukur atas karunia Allah SWT dan bersabar jika mendapat musibah

c. Selalu berserah diri kepada Allah SWT dan giat berusaha atau ikhtiar.

d. Selalu berusaha memberikan manfaat bagi orang lain.