Jumat, 21 Januari 2011

IMAN KEPADA MALAIKAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN UMAT





Belief in Angel and its Effect
On the Life of Ummah
Penulis: Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan


Judul Terjemahan :
Iman kepada Malaikat danPengaruhnya terhadap KehidupanUmmat
Alih Bahasa: Ummu Abdillah al-Buthoniyah
Desain sampul: MRM Graph

Disebarluaskan melalui:

Website:
http://www.raudhatulmuhibbin.org
e-Mail: redaksi@raudhatulmuhibbin.org
Januari, 2010

Buku ini adalah online e-Book dari Maktabah Raudhah al Muhibbin yang diterjemahkan dari on-line e-Book versi Bahasa Inggris dari situs http://www.al-ibaanah.com. Diperbolehkan untuk menyebarluaskannya dalam bentuk apapun, selama tidak untuk tujuan komersil

“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak
mendengar rahasia dan bisikan-bisikan
mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan
utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu
mencatat di sisi mereka.”
(QS Az-Zukhruf [43] : 80)

IMAN KEPADA MALAIKAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN UMAT

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad , keluarganya dan para sahabatnya.Amma ba’d,

Sesungguhnya iman adalah perkara yang agung, karena ia adalah asas yang di atasnya terletak kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia adalah salah satu tingkat yang paling penting dalam agama, karena ketika malaikat Jibril datang kepada Nabi di hadapan para sahabatnya, dia bertanya kepada beliau mengenai
Islam, Iman dan Ihsan, dengan mengatakan: “Wahai
Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam.”
Nabi menjawab:“Islam itu engkau bersaksi bahwa

sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya."

Beliau () menjelaskan Islam sebagai pengejawantahan kelima rukun: (1) Dua kalimat syahadat, (2) Mendirikan shalat, (3) Membayar zakat, (4) Berpuasa di bulan Ramadhan, dan (5) Beribadah haji ke Baitullah. Kemudian malaikat Jibril berkata kepadanya, “Engkau
benar. Kabarkanlah kepadaku tentang iman.”Nabi
berkata: "Engkau beriman kepada Allah, kepada para
Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-Rasul- Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk." Beliau () menjelaskan bahwa

iman adalah meyakini keenam hal tersebut: Iman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Kiamat, dan Takdir baik dan buruk.
Jiblril melanjutkan, “Kabarkanlah kepadaku mengenai
ihsan.” Nabi menjawa: "Engkau beribadah kepada
Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau
tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu."

Beliau menjelaskan ihsan terdiri dari satu rukun, yakni beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.
Inilah tiga tingkatan dalam agama: Islam, Iman dan
Ihsan. Setiap tingkatan ini memiliki rukunnya sendiri.

Rukun adalah sesuatu bagian yang di atasnya didirikan sesuatu, misalnya rukun atau pilar rumah, adalah bagian yang dengannya rumah didirikan. Dengan demikian iman berdiri di atas keenam rukun tersebut. Jika salah satu rukun tersebut hilang, orang tersebut bukan lagi seorang mukmin (orang yang beriman), karena dia tidak memiliki salah satu rukun iman tersebut.
Oleh karena itu iman tidak dapat ditegakkan kecuali
dengan rukun-rukun tersebut, seperti bangunan yang
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan

barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi. (QS Al-Baqarah [2] : 177)
Allah menyebutkan lima rukun iman di dalam ayat ini.
Dan Allah berfirman:
Keenam rukun ini disebutkan di dalam Al-Qur’an. Kadang-kadang disebutkan semuanya, dan terkadang disebutkan secara terpisah, sebagaimana Allah berfirman:
“Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan
kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul- Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-
“Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang

Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin , siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS Al-Baqarah[2]: 62)
Allah menyebutkan dua rukun dalam ayat ini, imankepada Allah dan hari kemudian.
Adapun iman kepada qadar (takdir), hal itu disebutkan
dalam firman Allah-yang artinya:


bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta'at." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (QS Al-Baqarah [2] : 285)

Allah menyebutkan empat dari rukun-rukun tersebut dalam ayat ini. Dan terkadang, Allah hanya menyebutkan dua pilar: Iman kepada Allah dan Hari Kiamat, sebagaimana firman-yang artinya:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran..” (QS Al-Qamar [54] : 49)


Dan dalam firman-Nya:
“Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-
rapinya “ (QS Al-Furqan [25] : 2)
Pengertian Iman Kepada Malaikat

Topik yang menjadi perhatian kita sekarang adalah iman kepada malaikat, yang merupakan salah satu dari rukun iman. Yang dimaksud dengan iman kepada malaikat adalah membenarkan keberadaan mereka, dan mem- benarkan tugas-tugas yang mereka laksanakan di alam ini.

Malaikat adalah salah satu mahluk Allah, yang Dia ciptakan untuk beribadah kepada-Nya, dan mengemban tugas-tugas yang diperintahkan-Nya di alam ini. Allah mengutus para malaikatnya untuk melaksanakan perintah-Nya. Mereka adalah makhluk ghaib. Kita tidak melihat mereka, namun kita beriman dengan keimanan yang teguh yang tidak dapat dipengaruhi oleh keraguan. Yang demikian karena Allah telah mengabarkan kepada kita mengenai mereka, dan demikian juga Rasul- Nya telah mengabarkan kepada kita mengenai mereka, dengan keyakinan yang menyebabkan kita beriman kepada mereka.


Dari Apa Malaikat Diciptakan?

Malaikat diciptakan dari cahaya, sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Allah menciptakan malaikat dari cahaya dan Dia menciptakan jin dari api dan Dia menciptakan manusia dari tanah. Jadi para malaikat diciptakan dari cahaya.
Sifat-Sifat Malaikat:

Malaikat adalah salah satu dari ciptaan Allah dari alam ghaib. Tidak seorang pun yang tahu berapa banyak jumlah mereka, rupa dan keadaan mereka, kecuali Allah.
Diantara Sifat-Sifat Malaikat:
Pertama: Mereka adala tentara-tentara Allah yang
paling agung. Allah berfirman:
“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan
adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,.”
(QS Al-Fath [48] : 4)

Dan ketika berbicara mengenai penjaga Neraka, Allah
berfirman yang artinya:

“Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).”
(QS Al-Mudatsir [74] : 30)
Dan Allah berfirman yang artinya:

ٓ
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan
dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan
mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-
orang kafir...” (QS Al-Mudatsir [74] : 31)

Ini berarti bahwa ada 19 malaikat penjaga Neraka– mereka memeliharanya, menjaganya, menyalakannya dan ditugasi mengurusi perkaranya.

Ketika salah satu dari orang kafir mendengarkan jumlah malaikat yang menjaga Neraka, dia berkata, seolah untuk mengolok-olok jumlah mereka, “Aku akan mencukupi kalian dari mereka,” – maksudnya jika dia masuk ke dalam Neraka, dia akan melawan mereka, menguasai mereka dan keluar dari Neraka. Dia mengatakan ini untuk mengolok-olok dan menghina, maka Allah membantah mereka dengan firman yang artinya:
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat.” (QS al-Mudatsri [74] : 31)
Ini berarti bahwa mereka (para penjaga neraka) tidak berasal dari manusia.

Sehingga apabila orang tersebut mengatakan bahwa dia kuat dan dapat melawan sejumlah manusia, dia tidak akan dapat melawan para malaikat meskipun satu malaikat saja. Allah berfriman: “Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat.”Art inya,
kami tidak menjadikannya dari manusia atau jin.
Allah berfirman yang artinya:
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang- orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mu'min itu tidak ragu- ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” (QS Al-Mudatsir [74] : 31)

Mereka berdusta dan berusaha meremehkan jumlah ini. Bagaimana mungkin Neraka yang demikian besar ini, yang mencakup semua mahluk ini, hanya dijaga oleh sembilan belas malaikat? Allah berfirman:
“Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu
melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orangkaf ir...”
(QS Al-Mudatsir [74] : 31)

Tidak seorang pun mengetahui keagungan malaikat dan tidak ada yang mengetahui apa yang Allah miliki dari para tentara di langit dan di bumi kecuali hanya Allah saja. Baik orang-orang kafir atau pun lainnya tidak ada yang mengetahuinya.
Kedua: para malaikat ini memiliki kedaan fisik yang
sangat besar. Allah telah menyebutkan yang demikian
dalam firman-Nya yang artinya:

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (QS Fathir [35] : 1)

Ini berarti bahwa ada sebagian malaikat yang memiliki dua sayap, sebagian memiliki tiga sayap dan sebagian lagi empat sayap. Dan juga ada sebagian malaikat yang memiliki sayap lebih dari itu, karena Nabi melihat Malaikat Jibril dan dia memiliki 600 sayap– setiap sayap memenuhi ufuk. Ini hanya salah satu dari malaikat yang ada. Allah mensifati malaikat Jibril dengan kekuatan yang sangat besar, sebagaimana Allah berfirman:


“…yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat..” (QS An-Najm [53] : 5) Yang dimaksud adalah malaikat Jibril.

“…yang mempunyai akal yang cerdas; dan (jibril itu)
menampakkan diri dengan rupa yang asli.” (QS An-Najm
[53] : 6)
Ini berarti bahwa Jibril memiliki kekuatan dan rupa yang baik.


Ketiga: Para malaikat memiliki kekuatan yang sangat besar, dengan izin Allah. Yang menunjukkan besarnya kekuatan mereka adalah jika Allah memerintahkan hanya satu dari mereka, maka sungguh malaikat tersebut dapat mengeluarkan teriakan keras di dunia, sehingga menghancurkan mahluk, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud, yang dikepung oleh jeritan keras. Jibril melepaskan satu teriakan keras atas mereka:
“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu
suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka
seperti rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang
punya kandang binatang.” (QS Al-Qamar [54] : 31)

Jantung mereka berhenti berfungsi dalam tubuh mereka dan sebagai akibatnya mati dan menjadi seperti ranting- ranting kering.

Termasuk kebiasaan bangsa Arab adalah apabila mereka ingin berdiam di suatu tempat, mereka akan mengumpulkan ranting-ranting kayu dan membuat kadang yang mengelilingi domba dan ternak mereka. Kandang ini pada akhirnya mengering dan menjadi rumput-rumput kering. Meskipun Tsamud memiliki kekuatan dan kehebatan, mereka menjadi seperti rumput-rumput kering sebagai akibat teriakan keras dari salah satu malaikat.

Allah juga memerintahkan Jibril untuk mengangkat negeri kaum Luth– dan terdapat tujuh kota yang berisi manusia, bangunan, barang-barang dan binatang. Dia membawanya di satu sisi sayap-sayapnya dan mengangkat kota-kota ini sehingga para malaikat mendengar gongongan anjing dan kokokan ayam jantan. Kemudia dia membalikkan kota-kota itu dan Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi.
Ini adalah salah satu contoh besarnya kekuatan malaikat.

Ada juga Malaikat Israfil, malaikat yang diberi tugas meniup Sangkakala. Yang dimaksud dengan Sangkakala adalah terompet yang akan mengumpulkan ruh Bani Adam (yakni manusia) dari yang pertama sampai yang terakhir. Kemudian Israfil akan meniup Sangkakala satu kali, dan ruh-ruh akan melayang karena tiupan Sangkakala, kembali ke tubuhnya. Ini disebut Tiupan
Kebangkitan (Nakhatul Ba’ats). Sebelum itu dia akan meniup Tiupan Kiamat (Nakhatus Sa’ah), sehingga tiap- tiap yang ada di langit dan di bumi akan mati, kecuali siapa yang Allah kehendaki. Allah berfirman yang artinya:


“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki
Allah.” (QS Az-Zumar [39] : 68)
artinya kematian. Kemudian dia akan meniup kembali Sangkakala, yang dikenal dengan nama Tiuapan Kebangkitan:“Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS Az-Zumar [39] : 68)

Ini hanya salah satu dari para malaikat Allah, dan ini hanya salah satu dari tugas yang Allah perintahkan kepadanya. Dengan demikian, malaikat adalah salah satu ciptaan Allah yang agung. Dia mencipatakan para malaikat agar mereka beribadah kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya. Allah berfirman yang artinya:


“Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului- Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS Al-Anbiyaa [21] : 26-28)
Inilah gambaran mengenai malaikat.
Para malaikat memiliki tugas. Masing-masing dari

mereka memiliki sebuah tugas yang dipercayakan kepadanya, dan dia tidak menunda dalam mengerjakannya. Bahkan dia melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah Allah dan dia tidak durhaka kepada Allah:
“penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim
[66] : 6)

“(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat...” (QS Al-
Mu’min *40+ : 7)


Di antara tugas-tugas mereka:
Pertama: Malaikat yang menjaga Neraka. Mereka dikenal sebagai Penjaga Neraka, yaitu malaikat yang ditugasi menjaga neraka dan menyiksa penduduk neraka.
Kedua: Di antara mereka ada malaikat yang ditugaskan memikul Arsy Allah, sebagaimana firman-Nya yang artinya:

“Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS Al-Haaqah [69] : 17)


Jumlah Malaikat yang memikul Arsy:

Para malaikat yang memikul Arsy ada empat, dan pada hari kiamat jumlahnya bertambah menjadi delapan. Arsy Allah adalah ciptaan Allah yang terbesar, yang akat dipikul oleh delapan malaikat pada hari kiamat. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sungguh sangat kuat, karena mereka memikul Arsy yang megah ini, yang merupakan ciptaan Allah yang paling besar dan paling megah. Ini mengisyaratkan kekuatan mereka dan kehebatan mereka.
Ketiga: Di antara mereka ada yang bertugas membawa
wahyu.
Allah berfirman yang artinya:
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa)wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku".” (QS An-Nahl [16] : 2)

Kata‘ruh’ di sini bermakna wahyu. Disebut ruh karena ia adalah wahyu yang membawa kehidupan pada hati, seperti hujan membawa kehidupan pada bumi. Dengan

pengertian yang sama, ia adalah ruh yang diciptakan yang membawa kehidupan pada tubuh hewan.
Ruh juga dapat bermakna Al-Qur’an, sebagaimana Allah berfirman:
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami.” (QS Asy-Syuura [42] :52)
(Ruh) di sini bermakna Al-Qur’an, karena ia sesuatu yang membawa kehidupan ke dalam hati orang- orang yang beriman, sebagaimana bumi dihidupkan oleh hujan. Demikianlah hati orang-orang beriman dihidupkan dengan adanya Al-Qur’an.

KataRuh juga digunakan untuk Jibril, malaikat yang paling agung, paling utama dan paling mulia di antara semua malaikat. Dialah yang menurunkan Al-Qur’an dari sisi Allah kepada Muhammad (), sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

ً
“Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al
Qur'an itu dari Tuhanmu.” (QS An-Nahl [16] : 102)
Yang dimaksud adalah Jibril– sang ruhul qudus.
Sifat-sifat Jibril:
Allah menggambarkan Jibril dengan sifat-sifat yang
agung, sebagaimana Allah berfirman yang artinya:


“dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam
hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang
di antara orang-orang yang memberi peringatan,
dengan bahasa Arab yang jelas.” (QSAsy-Syu’araa *6+ :
193-195)

Jibril membawa Al-Qur’an ke dalam hati Nabi, dan kemudian beliau menyampaikan kepada ummatnya. Dalam ayat lain Allah berfirman yang artinya:

“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang,yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telahhampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing, sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy, yang dita'ati di sana (di alam
malaikat) lagi dipercaya..” (QS At-Takwir [81] : 15-21)

Sifat yang pertama:
Kekuatan: Allah berfirman:
“mempunyai kekuatan, yang
mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang
mempunyai 'Arsy” (At-Takqwir : 20).
adalah
pemilik Arsy, yakni Allah.
di sini adalah sifat
Jibril.
Sifat kedua:
Kedudukan: Allah berfirman:
“mempunyai kekuatan, yang

mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy” (At-Takqwir : 21). Ini berarti bahwa dia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah yang tidak dapat dicapai malaikat lainnya.
Sifat ketiga:
Ketaatan: Semua malaikat taat
kepada Jibril dengan perintah Allah.
“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di
ufuk yang terang.” (QS At-Takwir [81] : 23)
Muhammad melihat Jibril di ufuk dua kali.

Yang pertama: Ini terjadi di lembah Makkah. Nabi Muhammad mengangkat kepalanya dan melihatnya di langit dan dia memiliki 600 sayap. Setiap sayapnya menutup ufuk.

Sifat keempat:
Terpercaya: Ini berkenaan dengan wahyu, di mana dia tidak membuat tambahan atau pengurangan atasnya, sebaliknya dia menyampaikannya tepat seperti yang Allah wahyukan kepadanya.
Muhammad melihat Jibril:
Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu
(dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu)
di Sidratil Muntaha.” (QS An-Najm [53] : `13-14)
Ini terjadi di malam hari ketika Nabi naik ke langit
dan melihat Jibril dalam wujud aslinya.
Inilah sifat-sifat Jibril. Allah berfirman yang artinya:

“sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman (Allah
yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),” (QS At-
Takwir [81] : `19)

Ini berarti bahwa meskipun Al-Qur’an adalahKalam Allah, akan tetapi di sini dinisbatkan kepada Jibril, karena dia lah yang menyampaikannya kepada Muhammad, dan ia adalah perkataan dari Allah, Jibril mendiktekannya kepada Rasul kita Muhammad perkataan dari Allah, dan ia (Al-Qur’an) adalahkalam Allah.Kalam hanya dinisbatkan kepada yang pertama kali mengatakannya, bukan kepada yang menyampaikan kepada orang lain. Namunkalam Allah dinisbatkan kepada Jibril di sini dari sudut pandang bahwa dia lah yang menyampaikannya.
Keempat: Ada para malaikat yang ditugaskan dengan
tugas-tugas lain:

1. Mikail: Dia bertugas menurunkan hujan yang jatuh dari langit. Dia menggerakannya dan menyebabkan hujan turun dimanapun Allah perintahkan.

2. Israfil: Dia bertugas meniup Sangkakala. Ini akan terjadi ketika Allah berkehendak membangkitkan mahluk dari kubur-kubur mereka. Jasad-jasad akan dibangkitkan dari kuburan dari disusun kembali. Kemudian yang tersisa adalah ruh. Pada saat itu Israfil akan meniup Sangkakala dengan perintah Allah, dan ruh-ruh akan melayang kembali ke jasad-
“yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan
cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera
kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia),” (QS Al-
Ma’arij *70+ : 43)
Dan Allah berfirman:
jasad mereka yang telah bangkit dari kubur. Mereka akan berjalan ke arah mana yang Allah perintahkan.
Allah berfirman yang artinya:

“sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan, mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata: "Ini adalah hari yang berat." (QS Al-Qamar [54] : 7-8)

Inilah tiga malaikat yang bertanggung jawab atas kehidupan. Jibril bertugas menyampaikan wahyu, yang membawa kehidupan bagi hati. Mikail bertugas menurukan hujan yang membawa kehidupan ke muka bumi setelah matinya. Israfil bertugas meniup Sangkakala yang menghidupkan kembali jasad-jasad (pada hari kembangkitan). Itulah sebabnya mengapa


Nabi ketika bangun untuk shalat di malam hari, setelah mengucapkan Takbiratul Ihram, beliau membaca doa iftitah: “Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail dan
Israfil, Pencipta langit dan bumi.” Mereka itulah
malaikat yang paling agung karena tugas-tugas mereka.
Kelima: Juga ada malaikat yang bertugas di rahim ibu.
Ini diriwayatkan dalam hadits Ibnu Mas’udz, di mana
dia berkata, “Rasulullah mengatakan kepada kami –
dan beliau adalah orang yang dipercaya dan terpercaya:
“Sesungguhnya
setiap
orang
diantara

kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah(air mani), kemudian menjadi alaqoh(segumpal darah) selama waktu itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi mudhghoh(segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau
keberuntungannya.”1

Allah mengirim para malaikatnya untuk menjalankan
tugas besar yang penting ini.
Keenam: Ada malaikat yang bertugas mencabut nyawa
ketika ajalnya tiba. Ia adalah Malaikat Maut yang Allah
berfirman tentangnya:
“Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk

(mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS As-Sadjah [32] : 11)
Malaikat maut memiliki para pembantu yang akan
membantunya, sebagaimana Allah berfirman:
“sehingga apabila datang kematian kepada salah

seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat- malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka
yang sebenarnya.” (QS Al-An’am *6+ : 61-62)
Mencabut ruh dinisbatkan kepada para malaikat,
Malaikat Maut, dan juga kepada Allah.
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan
(memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu
tidurnya...” (QS Az-Zumar [39] : 42)

Kematian dinisbatkan kepada Allah di sini karena Dia lah yang memerintahkan itu terjadi. Kematian juga dinisbatkan kepada para malaikat karena mereka lah yang hakikatnya mengambilnya dengan mengumpulkan ruh dan menggiringnya di dalam tubuh manusia hingga mencapai tenggorokan. Dan kematian juga dinisbatkan kepada Malaikat Maut– “Katakanlah: "Malaikat maut
yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan
mematikanmu,”–karena dia lah yang bertugas
mencabut nyawa setelah digiring pada saat terakhir
(kematian).
Ketujuh: Terdapat juga malaikat yang bertugas
mencatat amalan Bani Adam, sebagaimana yang
terdapat di dalam hadits:

“Engkau senantiasa diawasi oleh para malaikat sepanjang malam dan siang hari.”

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Infithaar [82] : 10-12)
Setiap Manusia Memiliki Dua Malaikat Bersamanya

Setiap manusia di antara kita memiliki dua malaikat yang bertanggung jawab atasnya– malaikat di sisi kanannya mencatat amal-amal baiknya, dan satu malaikat di sisi kirinya mencatat amal-amal buruknya. Allah berfirman:

“yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaaf *50+ : 17-18)

Malaikat penjaga ini menyertai manusia baik dalam perjalanan atau duduk di rumah– mereka berada di sisinya sepanjang waktu dalam kondisi apapun– dalam shalatnya, ketika dia sujud, dan seterusnya– mereka menyertainya dan tidak meninggalkannya sendirian kecuali dalam keadaan khusus, seperti ketika seseorang membuang hajat. Kedua malaikat ini mencatat perkataan dan perbuatannya.
Para malaikat mencatat niat manusia

Telah diriwayatkan bahwa para malaikat juga mencatat niat dan tujuan, yang terdapat di dalam hati. Apapun yang ingin dilakukannya, malaikat mencatatnya. Itulah sebabnya mengapa seseorang diberi pahala karena memiliki niat yang baik, karena ia adalah amalan hati, manakala ia dihukum karena niat buruk, karena niat adalah amalan hati.

Para malaikat ini diberi tugas mencatat amalan seseorang sejak dia mencapai usia baligh sampai saat ketika Allah mencabut nyawanya dengan kematian. Dan mereka mencatat segala sesuatu yang dilakukan semasa hidupnya– baik itu berupa niat, perbuatan, perkataan, atau yang selain dari itu.
“Engkau terus-menerus diawasi oleh malaikat di malam
hari dan malaikat di siang hari dan mereka berkumpul
pada shalat ashar dan shalat fajar.”3
Karena alasan ini lah kedua shalat ini lebih utama
dibandingkan shalat-shalat lainnya. Allah berfirman yang artinya:

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir
sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh .
Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh
malaikat).” (QS Al-israa [17] : 78)

Shalat yang dimaksud adalah shalat Fajar, yang dihadiri oleh malaikat malam dan malaikat siang. Mereka berkumpul untuk menyaksikan shalat Fajar bersama dengan kaum Muslimin dan mendengarkan Al-Qur’an yang dibaca dalam shalat. Mereka juga berkumpul pada waktu shalat Ashar, dan Allah bertanya kepada mereka, dan Allah lebih mengetahui: “Bagaimana kalian
meninggalkan hamba-hambaku?” Para malaikat menjawab, “Kami datang kepada mereka ketika mereka sedang shalat dan kami meninggalkan mereka ketika mereka sedang shalat.” Ini berarti bahwa para malaikat

turun ketika kita sedang shalat Ashar dan mereka menghadiri shalat bersama kita. Dan mereka kembali ketika kita shalat Fajar.
Oleh karena itu, telah ditetapkan bahwa Shalat Ashar
adalah
shalat
Wustha
(shalat
pertengahan)
sebagaimana yang difirmankan Allah:
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat
wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu)
dengan khusyu'.” (QS Al-Baqarah [2] : 238), yakni Shalat
Ashar karena shalat itulah yang dihadiri oleh malaikat
malam dan malaikat siang.
Ajakan kepada orang-orang yang lalai

Di mana mereka yang meninggalkan shalat Fajar, tidur di atas tempat tidurnya dan tidak menyaksikan kejadian agung ini setiap malam dengan para malaikat Ar-Rahman? Para malaikat Ar-Rahman mengabarkan di Malaul A’la: “Kami datang kepada mereka ketika mereka sedang shalat dan meninggalkan mereka ketika mereka sedang shalat.”

Manfaat apa yang diperoleh orang ini yang melalaikan shalat Fajar dan memilih tidur? Dan manfaat apa yang diperoleh orang ini yang ketinggalan shalat Ashar karena malas, lebih memilih tidur atau melakukan hal lainnya?
Dikatakan dalam sebuah hadits:
“Barangsiapa yang kehilangan shalat Ashar, seolah-olah dia kehilangan keluarganya dan hartanya.”
Dan dalam hadits lain dikatakan:
"...sungguh telah batal amalnya”, yaitu dia melaksanakan shalat di luar waktunya. Maka jika dia mengerjakannya di luar waktunya maka dia telah melewatkan shalat tersebut.
Kedelapan: Ada juga malaikat yang melindungi manusia

dari mara bahaya. Manusia cenderung untuk berjalan ke dalam bahaya setiap hari. Namun demikian Allah menugaskan para malaikatnya untuk menjaganya dari bahaya dalam kehidupan ini yang telah Allah tetapkan baginya. Dan bumi ini, yang dilalui manusia setiap hari, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah” (QS Ar-Ra’d [13] : 11)

Oleh karena itu, selama Allah telah menetapkan keselamatan dari bahaya, para malaikat ini akan melindungi dan menjaganya, dan tidak ada manusia yang dapat membahayakan dirinya. Namun jika Allah berkehendak mengakhiri ajalnya, Dia menarik malaikat para malaikat itu darinya– satu dari depannya dan satu dari belakangnya.

mengandung banyak bahaya. Ada binatang buas, ular, kalajengking, belum lagi orang-orang jahat dari kalangan manusia– musuh dan orang-orang dzalim. Akan tetapi Allah telah menempatkan para malaikat ini di sekitar manusia. Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d *13+ : 11)

Jika ketetapan telah datang dan Allah berkehendak mengakhiri kehidupan seseorang, para malaikat yang senantiasa bersamanya menarik diri darinya karena mereka tidak menahan diri dari melaksanakan perintah Allah. Inilah para malaikat yang senantiasa mengelilingi seseorang.
Kesembilan: Ada juga malaikat yang bertugas di alam ini

yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Mereka adalah para malaikat yang ditugaskan di laut, pada siang hari. Ada malaikat yang bertugas mengirimkan angin, dan para malaikat yang mengerjakan berbagai tugas lainnya.

Semua yang terjadi di alam ini dan terus-menerus berlangsung di dalamnya setiap hari berdasarkan ketetapan Allah. Adapun malaikat, mereka mengerjakan tugas apapun yang diperintahkan Allah.
Kewajiban Iman kepada Malaikat dan Tugas-tugas
Mereka

Di antara malaikat ada yang namanya disebutkan Allah bagi kita, seperti Jibril, Mikail, Israfil dan Malik malaikat penjaga Neraka. Allah berfirman:
“Mereka berseru: "Hai Malik biarlah Tuhanmu
membunuh kami saja". Dia menjawab: "Kamu akan
tetap tinggal (di neraka ini)".” (QS Az-Zukhruf [43] : 77)

Dan ada pula malaikat yang tidak Allah sebutkan namanya kepada kita. Namun demikian, kita beriman kepada malaikat– baik yang namanya kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Dan kita beriman kepada tugas-tugas yang mereka laksanakan atas perintah Allah.
Perbedaan antara Perbuatan Malaikat dan Perbuatan
Syaithan

Pertama: Para malaikat mensucikan pujian kepada Rabb mereka dan memohon ampunan bagi manusia yang berada di bumi. Mereka adalah mahluk yang paling ikhlas terhadap Bani Adam, sedangkan syaithan adalah mahluk yang paling berbahaya bagi Bani Adam. Hal ini karena syaithan telah bersumpah untuk menyesatkan, menyimpangkan dan menghancurkan Bani Adam sekuat kemampuannya. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan
itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak
beriman..” (QS Al-A’raaf *7+ : 27)
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan
Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), kami adakan baginya
syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang
menjadi teman yang selalu menyertainya..” (QSAz-
Zukhruf [43] : 36)

Orang yang berpaling dari Al-Qur’an, Allah menghukumnya dengan menjadikan syiathan baginya untuk menolongnya sebagai pendampingnya (Qarin). Allah berfirman:
ا

Kedua: Malaikat memerintahkan para hamba kepada kebaikan, sedangkan syaithan mengajak
dan memerintahkan mereka kepada keburukan.

Allah berfirman yang artinya :
“Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada kami (di hari kiamat) dia berkata: "Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)".” (QS Az-
Zukhruf [43] : 36) Sehingga tidak ada yang melindungi manusia dari syaithan kecuali dengan dzikir kepada Allah.

Ketiga: Dzikir kepada Allah menjauhkan syaithan dari manusia dan menjadikan malaikat dekat kepadanya.

Inilah sebabnya syaithan disebut al-Waswasul Khonnas. Ketika seseorang meninggalkan dzikir kepada Allah syaithan datang kepadanya, namun ketika dia berdikir kepada
Allah,
para malaikat
mengelilinginya,
sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:
“Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah

Allah dengan membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebutkan mereka kepada (para malaikat) yang berada di sisi-Nya.”4

Tempat-tempat yang Sering Didatangi Malaikat
Ada malaikat yang berkeliling di penjuru bumi mencari
majelis-majelis dzikir, dan jika mereka menemukan
majelis dzikir mereka berkata: “Bersegeralah kepada
hajatmu.” Ada beberapa cara berdzikir kepada Allah
di antaranya adalah:
1. Bacaan Al-Qur’an. Orang yang membaca Al-Qur’an
berdzikir kepada Allah.
2. Orang yang shalat berdzikir kepada Allah.

3. Orang yang bertasbih, beristighfar, bertakbir dan bertahlil berdzikir kepada Allah. Para malaikat berkumpul di dekatnya dan syaithan menjauh daripadanya.

4. Orang-orang yang mempelajari buku-buku ilmu dan duduk di dalam halaqah untuk mempelajari agamanya– mereka berdzikir kepada Allah, dan para malaikat berkumpul di dekat mereka.
Tempat-tempat yang Sering Didatangi Syaithan

1. Orang-orang yang menyibukkann diri mereka dengan segala bentuk kesenangan yang sia-sia seperti nyanyian dan alat musik– orang-orang ini dikelilingi oleh syaithan yang berkumpul di dekat mereka sedangkan para malaikat menjauh dari mereka.

2. Orang yang menempatkan gambar-gambar di rumahnya– para malaikat tidak masuk ke dalam rumahnya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, di mana Nabi bersabda:

“Sesungguhnya malaikat tidak memasuki rumah yang
terdapat anjing dan gambar di dalamnya.”5

Malaikat rahmat tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar, apakah itu digantung di dinding ataukan disimpan dalam bingkai atau kotak-kotak sebagai kenang-kenangan atau memperindah rumah.

Gambar yang dimaksud di sini adalah gambar- gambar dari mahluk yang bernyawa. Ini menjauhkan malaikat. Oleh karenanya para malaikat tidak memasuki rumah-rumah di mana terdapat yang semisal gambar-gambar ini. Namun demikian, gambar-gambar yang diperbolehkan karenanya adanya keperluan seperti untuk kartu identitas, paspor dan kartu identitas pribadi, hal ini diperbolehkan karena kebutuhannya. Gambar- gambar ini tidak diambil untuk dikagumi. Maka jenis gambar-gambar ini adalah pengecualian dari larangan tersebut. Demikian juga gambar-gambar yang diinjak-injak atau diduduki. Yang kita bicarakan di sini hanyalah gambar yang tergantung sebagai kenangan atau disimpan untuk diperlihatkan. Ini adalah jenis gambar-gambar yang dilarang, karena tidak ada kebutuhan pengambilannya. Jenis gambar- gambar seperti ini menyebabkan syaithan masuk ke dalam rumah manakala malaikat tertahan dari memasuki rumah.

Pengaruh Iman kepada Malaikat terhadap Kehidupan Manusia

Iman kepada malaikat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia, karena manakala seseorang menyadarinya, tentunya dia akan berhati- hati dan waspada. Apabila seseorang menyadari bahwa ada malaikat yang ditugaskan kepadanya, yang terus- menerus mendampinginya siang dan malam, dia pasti akan berhati-hati terhadap apa yang dia katakan atau yang dia lakukan, agar tidak ada yang tercatat mengenainya dari sesuatu yang tidak bermanfaat. Jika dia mengetahui ada pengawas yang mengikutinya, bukankah dia akan berhati-hati karena takut mereka akan mengambil perkataan atau perbuatannya yang akan menyebabkan akhir yang buruk baginya?

Bagaimana dia tidak berhati-hati dan waspada terhadap malaikat ketika dia tidak melihatnya? Akan tetapi sebagai manausia, engkau melihat mereka. Sehingga orang yang melihat anda dan anda dapat melihatnya anda waspada terhadapnya. Namun para malaikat melihatmu dan engkau tidak dapat melihat mereka. Mungkin saja engkau dapat melindungi dirimu dari manusia– engkau dapat masuk ke dalam rumahmu atau mengucilkan dirimu di tempat yang tersembunyi dan mereka tidak bisa mendapatkan informasi apapun tentangmu. Namun bagi para malaikat, mereka masuk bersamamu dimanapun. Allah memberikan mereka kemampuan untuk menjangkau dan memasuki tempat apapun yang Dia perintahkan. Inilah sebabnya Allah memperingatkan kita dengan berfirman:
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-

malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Infithaar [82] : 10-12)

Allah mengatakannya untuk memperingatkan kita. Dan inilah buah dari iman kepada malaikat, bahwa manusia melindungi dirinya dari perkataan dan perbuatan keji yang akan ditulis atasnya dan yang akan dipertanggungjawabkannya di hari kiamat.

“Tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada
penjaganya..” (QS Ath-Thariq [86] : 4)
Dan Allah berfirman:

Tidak Ada yang Tersebunyi dari Allah
Allah berfirman:
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya,” (QS Qaaf *50+ : 16)
Tahukah anda yang dimaksud dengan
(urat leher)

di sini? Ia adalah urat nadi manusia yang terdapat di sisi leher tempat mengalirnya darah– satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri, di kedua sisi lehernya. Di kedua urat nadi ini mengalir darah yang mensuplai seluruh tubuh.
Allah berfirman yang artinya:

“dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya,” (QS Qaaf *50+ : 16)
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang
Bathin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS
Al-Hadiid [57] : 3)


Demikian juga, Allah berfirman yang artinya:

“Engkau yang permulaan dan tidak ada sesuatu yang sebelum-Mu. Engkau lah yang paling akhir dan tidak ada sesuatu setelah-Mu Engkau lah Yang Maha Tinggi dan tidak ada yang melampaui-Mu. Dan Engkau Maha Dekat dan tidak ada sesuatu di bawah-Mu.”6

Karenanya tidak ada yang tersembunyi dari Allah, baik di darat maupun di laut, di bagian terdalam dari rumah seseorang, di tengah gurun atau di pasar, di masjid, di teater, dan di tempat-tempat hiburan, di semua tempat di mana Allah ditaati dan di tempat-tempat di mana Allah diingkari, tidak satu pun tersembunyi dari Allah dan tidak ada sesuatu pun yang terhalang dari-Nya. Itulah sebabnya ketika Jibril bertanya kepada Nabi tentangihsan, beliau
menjawab: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-
akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak
melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”
Jadi seseorang harus menyadari dan mengetahui bahwa
ada malaiakt bersamanya dan bahwa Allah berfirman:
“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,

(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaaf *5+ : 16-18)
Dan Allah berfirman yang artinya:

“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar
rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami
mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat)
Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS Az-Zukhruf
[43] : 80)
Yang dimaksud dengan
adalah para malaikat. Allah

mendengarkan rahasia dan bisikan-bisikan, dan para malaikat mencatatnya. Ini termasuk di antara pengaruh iman kepada malaikat.
Menyebutkan Malaikat dengan tujuan untuk
Mencintai Mereka

Menyebutkan para malaikat bukan hanya untuk mengetahui sesuatu sebagaimana seseorang membaca sejarah dan lain-lainnya. Akan tetapi kita hanya menyebutkan para malaikat agar kita bersiap-siap dan mewaspadai mereka menulis sesuatu dari kita, yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Kita menyebutkan mereka agar kita mencintai mereka,
karena Allah Ta’ala mencintai mereka. Kita mencintai
mereka karena mereka adalah mahluk yang paling taat
kepada Allah. Allah berfirman:
.
“...yang mulia lagi berbakti..” (QS Abasa *80+ : 16)

Yang terpenting adalah kita mengakui ketinggian dan kedudukan para malaikat dan bahwa kita mencintai mereka karena Allah mencintai mereka. Adapun orang- orang yang menyimpan permusuhan terhadap para malaikat dan membenci mereka, maka sungguh Allah adalah musuh baginya. Dan barangsiapa yang Allah jadikan sebagai musuh, dia tidak akan dapat bertahan dan dia tidak akan berada dalam keadaan yang bai
Allah berfirman:
“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-

malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir..” (QS Al-Baqarah [2] : 98)
Barangsiapa yang mengambil malaikat sebagai
musuhnya, maka Allah menjadi musuh baginya.

Saya memohon kepada Allah agar memberikan saya dan anda keimanan yang benar, ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.
DISADUR DARI :
Website: http://www.raudhatulmu... e-Mail: redaksi@raudhatulmuhibbin .org Januari, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar