Rabu, 02 Februari 2011

DINASTI FATIMIYAH (Berdiri, perkembangan dan kemajuannya)

DINASTI FATIMIYAH :
(Berdiri, perkembangan dan kemajuannya)
by sariono sby


PENDAHULUAN
Loyalitas yang tinggi terhadap ‘Ali> Ibn Abi> T{alib merupakan isu terpenting bagi mereka melebihi isu hukum. Kemudian kepentingan itu berkembang dan mengarah pada gerakan politis dalam bentuk perlawanan terhadap khilafah Umayyah dan Abbasiyah. Kaum Syi’ah berupaya keras untuk dapat merebut kekhalifahan. Namun perjuangan mereka dalam merebut kekuasaan begitu lama dan berat tersebut belum membuahkan hasil. Mereka justru mengalami penindasan secara politis dari kekhalifahan yang tengah memerintah.
Meskipun khilafah Abbasiyah mampu berkuasa dalam waktu yang begitu lama, akan tetapi periode keemasannya hanya berlangsung singkat. Puncak kemerosotan khalifah-khalifah Abbasiyah ditandai dengan berdirinya khilafah-khilafah kecil yang melepaskan diri dari kekuasaan politik khilafah Abbasiyah.
Dari beberapa khilafah yang memisahkan diri tersebut salah satu diantaranya adalah Fatimiyah. Khilafah ini berasal dari golongan Syi’ah sekte Isma>’iliyah, yakni sebuah aliran sekte di Syi’ah yang lahir akibat perselisihan tentang pengganti Imam Ja’fa>r al S{a>diq yang hidup antara tahun 700-756 M. Fatimiyah hadir sebagai tandingan bagi penguasa Abbasiyah yang berpusat di Baghdad yang tidak mengakui kekhalifahan Fatimiyah sebagai keturunan Rasulullah dari Fatimah. Karena mereka menganggap bahwa mereka-lah ahlu al bait yang sesungguhnya dari bani Abbas.

Dalam perkembangannya, khilafah Fatimiyah mampu membangun sistem politik yang begitu maju dan ilmu pengetahuan yang juga berkembang pesat. Namun sebagaimana dinasti kekhalifahan sebelumnya, khilafah Fatimiyah juga mengalami zaman kemunduran yang kemudian membawa pada zaman kehancurannya. Untuk itu, kajian lebih mendalam mengenai khilafah Fatimiyah layak dibahas untuk menggambarkan bagaimana sistem pemerintahan dan peradaban yang berlaku pada masa itu. Termasuk di dalamnya, kemajuan yang dapat dicapai khilafah Fatimiyah serta sebab-sebab kehancurannya.

PEMBAHASAN
A. Proses Pembentukan Khilafah Fatimiyah
Fatimiyah adalah dinasti syiah yang dipimpin oleh 14 khalifah atau imam di Afrika Utara (297-567 H / 909-1171 M). Dinasti ini dibangun berdasarkan konsep Syi’ah, keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah (anak Nabi Muhammad). Kata Fatimiyah dinisbahkan kepada Fatimah, karena pengikutnya mengambil silsilah keturunan dari Fatimah binti Rasulullah. Abbas Mahmud al-Aqqad menyatakan bahwa setiap keturunan Fatimah Az-Zahra’ disebut orang-orang Fatimi. Daulah Fatimiyah yang berarti suatu pemerintahan di bawah pimpinan atau kekuasaan orang-orang Fatimi (keturunan Fatimah). Daulah Fatimiyah disebut juga dengan Daulah Ubaydiyah yang dinisbahkan kepada pendiri daulah ini yaitu Abu Muhammad Ubaidillah Al-Mahdi (297-332 H / 909-934 M). Orang-orang Fatimiyah disebut juga kaum Alawi yang dihubungkan dengan keturunan Ali bin Abi Thalib. Ubaidillah al-Mahdi sebagai pendiri daulah Fatimi mempunyai silsilah keturunan yang berasal dari Ali bin Abi Thalib seperti halnya sisilah imam-imam Syiah.
Berdirinya Dinasti Fatimiyah bermula dari masa menjelang akhir abad ke-10, ketika kekuasaan Dinasti Abbasiyah di Baghdad mulai melemah dan daerah kekuasaannya yang luas tidak terkoordinasikan lagi. Kondisi seperti ini telah membuka peluang bagi kemunculan dinasti-dinasti kecil di daerah-daerah, terutama yang gubernur dan sultannya memiliki tentara sendiri. Kondisi Abbasiyah ini juga telah menyulut timbulnya pemberontakan dari kelompok-kelompok yang selama ini merasa tertindas serta membuka kesempatan bagi kelompok Syiah, Khawarij dan kaum Mawali untuk melakukan kegiatan politik.
Munculnya gerakan fatimiyah, yang di Afrika Utara mencapai kekuasaannya di bawah pimpinan Ubaidillah al-Mahdi, yang mendirikan kota Mahdiyah sebagai pusat gerakan. Gerakan ini berakar pada sekte syiah ismailiyah yang doktrin-doktrinnya berdimensi politik, agama, filsafat dan sosial dan para pengikutnya mengharapkan kemunculan al-Mahdi. Mereka mengaku sebagai keturunan Nabi SAW melalui Ali dan Fatimah melalui garis Isma’il, putra Ja’far as-Sadiq. Namun musuh-musuh mereka menolak bahwa asal-usul mereka tersebut adalah dari Ali, menuduh mereka penipu dan sesuai dengan kebiasaan Arab kuno untuk memberi asal-usul Yahudi pada orang-orang yang mereka benci; Ubaidillah dituduh sebagai keturunan Yahudi.
Di Afrika Utara, kelompok Syiah Ismailiah mengkonsolidasikan gerakannya, dan pada tahun 909 Ubaidillah al-Mahdi memproklamirkan berdirinya Khalifah Fatimiyah yang terlepas dari kekuasaan Abbasiyah. Ia mulai memperkuat dan mengkonsolidasikan khilafahnya di Tunisia dengan bantuan Abdullah al-Syi’i, seorang dai Ismailiyah yang sangat berperan dalam mendirikan Daulah Fatimiyah di Tunis. Waktu itu muncul juga perlawanan-perlawanan terhadap khilafah ini dari kelompok-kelompok pendukung Abbasiyah, kelompok yang mendukung dinasti Umayyah di Andalusia maupun kelompok Khawarij dan Barbar.
Setelah basis kekuasaan di Tunis kuat, Khilafah Fatimiyah di bawah al-Mu’izz (Khalifah keempat) dengan panglimanya Jauhar al-Katib al-Shaqilli dapat menguasai Mesir pada tahun 969. Ia mendirikan kota baru yang disebut al-Qahirah (Kairo) yang berarti kota kemenangan dan kemudian menjadi ibu kota Khilafah Fatimiah pada masa-masa selanjutnya. Inilah prestasi terbesar yang dicapai al Mu’izz. Mesir memasuki era baru di bawah pemerintahan Fatimiyah, Khalifah dengan gelar Mu’iz sistem pemerintahan dibenahi dengan membagi-bagi wilayah propinsi menjadi sebuah distrik dan mempercayakannya kepada pejabat-pejabat yang cakap, ia juga menertibkan bidang kemiliteran, industri dan perdagangan mengalami kemajuan pesat dan melakukan gerakan pembaharuan.
Dinasti Fatimiyah merupakan Khilafah beraliran syi’ah yang berkuasa di Mesir tahun 297/909 M sampai 567/1171 M selama kurang lebih 262 tahun. Para khalifah yang pernah berkuasa adalah:
1. Abu> Muhammad Abdulla>h (Ubaydillah) al-Mahdi> billa>h (909-934).
2. Abu> al Qasim Muhammad al Qa>'im ibn al-Mahdi> Ubaidilla>h (934-946).
3. Abu> Zahir Isma'i>l al-Mans}u>r billa>h (946-953).
4. Abu> Tamim Ma'add al Mu'izz li Di>nilla>h (953-975).
5. Abu> Mans}u>r Niza>r al 'Aziz billa>h (975-996).
6. Abu> 'Ali> al Mans}u>r al Haki>m bi Amrilla>h (996-1021).
7. Abu> al Hasan 'Ali> al Tahir li I'zaz Di>nilla>h (1021-1036).
8. Abu> Tami>m Ma'add al Mustanzi>r billa>h (1036-1094)
9. Al Musta'li> billa>h (1094-1101).
10. Al Ami>r bi Ahka>milla>h (1101-1130).
11. 'Abd al Maji>d al Hafiz (1130-1149).
12. Al Zafi>r (1149-1154).
13. Al Fa'iz (1154-1160).
14. Al 'Adi>d (1160-1171).

B. Kemajuan Yang Dicapai Khilafah Fatimiyah
Dinasti Fatimiyah mencapai puncaknya pada periode Mesir, terutama pada masa kepemimpinan al Mu’izz, al Aziz dan al Hakim. Sumbangan dinasti Fatimiyah terhadap peradaban Islam sangat besar, baik dalam ekspansi atau perluasan wilayah, sistem pemerintahan, kebudayaan, politik maupun dalam bidang ilmu pengetahuan, kemajuan yang terlihat antara lain:
1. Perluasan Wilayah
Al Mahdi memperluas wilayah kekuasaan ke seluruh Afrika yang terbentang dari perbatasan Mesir ke wilayah Fes di Maroko. Pada 910, ia menguasai Alexandria, Malta, Syria, Sardina, Corsica, dan lain-lain.
Al Qa’im, putera al Mahdi, mengadakan perluasan ke selatan Pantai Perancis pada 934 M. Di sana ia berhasil menduduki Genoa dan wilayah sepanjang pantai Calabria.
Al Mansur menggantikannya dan mendirikan kota al Mansuriyah yang megah di wilayah perbatasan Susa’. Ia mampu mempertahankan prestasi ayahnya dalam mengamankan seluruh wilayah Afrika, meskipun berbagai serangan dari khawarij terus dilancarkan.
Al Mu’iz adalah khalifah Fatimiyah yang paling besar. Ia berhasil membawa rakyat dalam suasana damai dan makmur. Setelah berhasil mengkonsolidasi ke dalam pemerintahan, barulah ia memperluas wilayah dan tidak lama untuk dapat menguasai Maroko dari bani Umayyah di bawah pimpinan panglima Jauhar Al Shaqili>. Ia juga berhasil merebut Sicilia dari kekuasaan Bizantine. Ia berhasil menaklukkan Mesir. Penaklukan kota Fust}at tanpa perlawanan yang kemudian dibangun menjadi Qahirah (Kairo). Jasa lain dari panglima Jauhar ini yakni tersebarluasnya ideologi Fatimiyah yaitu Syi’ah.
2. Di Bidang Pemerintahan, Fatimiyah berhasil mendirikan sebuah Negara yang sangat luas dan peradaban yang berlainan yang jarang disaksikan di Timur. Hal ini sangat menarik perhatian karena sistem administrasinya yang sangat baik sekali, aktifitas artistiknya, luasnya toleransi religiusnya, efesiensi angkatan perang dan angkatan lautnya, kejujuran pengadilan-pengadilannya, dan terutama perlindungan terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Pemerintahan Fatimiyah ini dapat dimasukkan ke dalam model pemerintahan yang bersifat keagamaan. Dalam arti bahwa hubungan-hubungan dengan agama sangatlah kuat, dimana agama dijadikan sebagai motivasi kebangkitannya melawan rezim yang mapan. Selanjutnya, simbol keagamaan, khususnya dalam hubungannya dengan keluarga ‘Ali, sangatlah ditonjolkan dalam pemerintahan.
3. Di Bidang Kebudayaan, dinasti ini juga mencapai kemajuan pesat, terutama setelah didirikannya Masjid al-Azhar sekitar tahun 972 M , dalam masa pemerintahan al Mu’iz. Kemudian menjadi madrasah tingkat tinggi pada tahun 976 M dan sekarang dikenal dengan Jami’at al-Azhar (universitas al-Azhar), yang berfungsi sebagai pusat pengkajian Islam dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Bahkan selanjutnya Masjid al-Azhar ini telah dimanfaatkan dengan baik oleh kelompok Syiah maupun Sunni.
Dalam pemerintahan Fatimiyah, terdapat empat perayaan maulud, yakni:
a. Maulid Nabi Muhammad SAW
b. Maulid Fatimah, putri Nabi
c. Maulid ‘Ali> ibn Abi> T{a>lib
d. Maulid khalifah yang memerintah pada masa tersebut.
Dalam masa pemerintahan al Aziz, khalifah paling bijaksana, ia berhasil membawa Fatimiyah pada puncak kemajuan mengungguli bani Abbas pada saat itu. Bangunan megah ia dirikan di Kairo seperti The Golden Palace, The Pearl Pavillion, dan masjid Karafa serta peresmian masjid al Azhar.
4. Di Bidang Politik, kemajuan yang dicapai oleh Khilafah Fatimiyah dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan yang bersifat politis yang dikeluarkan oleh khalifah, di antaranya:
a. Pemindahan pusat pemerintahan dari Qairawan (Tunisia) ke Kairo (Mesir) adalah merupakan langkah strategis. Mesir akan dijadikan sebagai pusat koordinasi dengan berbagai Negara yang tunduk padanya, karena lebih dekat dengan dunia Islam bagian Timur, sedangkan Qairawan jauh di sebelah utara Benua Afrika.
b. Pembentukan Wazir Tanfiz yang bertanggung jawab mengenai pembagian kekuasaan pusat dan daerah.
Namun Fatimiyah kurang berhasil di bidang politik dalam dan luar negeri, terutama ketika menghadapi kelompok nasrani dan sunni yang sudah lebih dahulu mapan daripada Mesir.
5. Di Bidang Keilmuan dan Kesusastraan. Ilmuwan yang paling terkenal pada masa Fatimiyah adalah Ya’ku>b Ibn Killis yang berhasil membangun akademi keilmuan dan melahirkan ahli fisika bernama al Tamimi> dan juga seorang ahli sejarah yaitu Muhammad ibn Yusuf al Kindi dan seorang ahli sastra yang muncul pada masa Fatimiyah adalah al Azis, sang khalifah.
Kemajuan yang paling fundamental di bidang keilmuan adalah didirikannya lembaga keilmuan yang bernama Da>r al Hikmah, sebagai pusat studi pada tingkat tinggi, didalamnya dilakukan diskusi, penelitian, penulisan, penerjemahan, serta pendidikan. Bangunan ini mulai didirikan pada masa al Aziz dan diselesaikan oleh al Hakim.
Selain itu, al Mu’iz juga berhasil mendirikan universitas kedokteran yang sama besarnya dengan universitas-universitas di Baghdad maupun Cordova.
6. Di Bidang Ekonomi dan Sosial, Mesir mengalami kemakmuran ekonomi yang mengungguli daerah-daerah lainnya dan hubungan dagang dengan dunia non muslim dibina dengan baik, serta di masa ini pula banyak dihasilkan produk islam yang terbaik. Dikisahkan pada suatu Festifal, khalifah sangat cerah dan berpakaian indah, istana khalifah dihuni 30.000 orang terdiri 1200 pelayan dan pengawal, juga masjid dan perguruan tinggi, rumah sakit dan pemondokan khalifah yang berukuran sangat besar menghiasi kota Kairo baru, pemandian umum yang dibangun dengan baik, pasar yang mempunyai 20.000 toko luar biasa besarnya dan dipenuhi berbagai produk dari seluruh dunia.
7. Sektor pertanian sangat digalakkan, karena tanah negeri Mesir sangat subur berkat aliran sungai Nil yang sangat melimpah. Karenanya, sistem pengairan melalui perbaikan irigasi dan kanal-kanal dapat meningkatkan produktivitas pertanian: gandum, kurma, kapas, bawang putih dan merah, serta kayu-kayu hutan untuk industri kapal dagang dan perang.
8. Aspek seni juga mendapatkan perhatian oleh para khalifah. Hal ini terekspesikan pada upacara-upacara, kesenian, dan arsitektur istana yang dirancang sangat megah. Beberapa kasau yang terbuat dari emas menyangga langit-langit, gambar-gambar, mahkota, pedang, tongkat, payung dan lain sebagainya.
Kemakmuran Mesir ini terjadi pada masa pemerintahan al-Azis yang memiliki sifat dermawan dan tidak membedakan antara syi’ah dan sunni, Kristen dan agama lainnya, sehingga banyak da’i sunni yang belajar ke al-Azhar. Walaupun dinasti ini bersungguh-sungguh dalam mensyi’ahkan orang Mesir tapi tidak ada pemaksaan, inilah salah satu bentuk kebijakan yang diambil oleh khalifah Fatimiyah yang imbasnya sangat besar terhadap kemakmuran dan kehidupan sosial masyarakat Mesir.
Dari pemaparan tersebut di atas dapatlah kiranya diketahui tentang kemajuan yang dicapai Dinasti Fatimiyah antara lain karena:
1. Faktor keagamaan yang kuat
2. Pemimpinnya Bijaksana
3. Militernya kuat.
4. Administrasi pemerintahannya baik.
5. Ilmu pengetahuan berkembang dan ekonomi stabil.
6. Kehidupan bermasyarakat tentram dan damai.

C. Proses Kemunduran dan Kehancuran Khilafah Fatimiyah
Kemunduran Khilafah Fatimiyah dengan cepat terjadi setelah berakhirnya masa pemerintahan al-Aziz. Keruntuhan itu diawali dengan munculnya kebijakan untuk mengimpor tentara-tentara dari Turki dan Negro sebagaimana yang dilakukan Dinasti Abbasiyah. Ketidakpatuhan dan perselisihan yang terjadi diantara mereka, serta pertikaian dengan pasukan dari suku barbar menjadi salah satu sebab utama keruntuhan Dinasti ini.
Ketika Khalifah al-Azis meninggal pada tahun 386 H / 996 M lalu digantikan oleh putranya Abu Ali Manshur al-Hakim yang baru berusia 11 tahun. Pemerintahannya ditandai dengan tindakan-tindakan kejam yang menakutkan. Ia membunuh beberapa orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja Kristen, termasuk di dalamnya kuburan suci umat Kristen (1009). Dia memaksa umat Kristen dan Yahudi untuk memakai jubah hitam, dan mereka hanya dibolehkan menunggangi keledai; setiap orang Kristen diharuskan menunjukkan salib yang dikalungkan di leher ketika mandi, sedangkan orang Yahudi diharuskan memasang semacam tenggala berlonceng.
Al-Hakim adalah khalifah ketiga dalam Islam, setelah al-Mutawakkil dan Umar II yang menetapkan aturan-aturan ketat kepada kalangan nonmuslim. Maklumat untuk menghancurkan kuburan suci ditandatangani oleh sekretarisnya yang beragama Kristen, Ibnu Abdun, dan tindakan itu merupakan sebab utama terjadinya perang salib I (1096 M).
Seiring dengan berjalannya waktu, dengan model pemerintahan tersebut, Dinasti Fatimiah semakin menurun karena banyaknya khalifah yang diangkat pada usia masih sangat belia, sehingga di samping mereka hanya menjadi boneka para wazir juga timbul konflik kepentingan di kalangan militer antara unsur Barbar, Turki, Bani Hamdan dan Sudan. Terlebih lagi, para penguasa itu selalu tenggelam dalam kehidupan yang mewah dan adanya pemaksaan ideologi Syiah pada rakyat yang mayoritas Sunni.
Dalam kondisi khilafah yang sedang lemah, konflik kepentingan yang berkepanjangan di antara pejabat dan militer dan ketidakpuasan rakyat atas kebijakan pemerintah, muncul bayang-bayang serbuan tentara Salib. Merasa tidak sanggup menghadapi tentara Salib. Khalifah az-Zafir melalui wazirnya Ibnu Salar minta bantuan kepada Nuruddin az-Zanki, penguasa Suriah di bawah kekuasaan Baghdad. Nuruddin az-Zanki mengirim pasukannya ke Mesir di bawah panglima Syirkuh dan Salahuddin Yusuf bin al-Ayyubi yang kemudian berhasil membendung invasi tentara Salib ke Mesir.
Dalam perkembangan selanjutnya, dalam tubuh Dinasti Fatimiah masih juga terjadi persaingan memperebutkan wazir. Dalam persaingan itu, bahkan ada yang mengundang kembali tentara Perancis (Salib) untuk dijadikan backing. Maka pada tahun 1167 pasukan Nuruddin az-Zanki kembali memasuki Mesir di bawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin. Kedatangan mereka kali ini tidak hanya untuk membantu melawan kaum Salib tetapi juga untuk menguasai Mesir. Daripada Mesir dikuasai oleh tentara Salib lebih baik mereka sendiri yang menguasaninya. Apalagi perdana menteri Mesir pada waktu itu, Syawar, telah melakukan penghianatan. Akhirnya mereka berhasil mengalahkan tentara Salib sekaligus juga menguasai Mesir.
Semenjak itu kedudukan Salahuddin di Mesir semakin mantap. Ia mendapat dukungan dari masyarakat setempat yang mayoritas Sunni. Kesempatan ini, juga bertepatan dengan sakitnya al-Adid, oleh Nuruddin dipergunakan untuk menghidupkan kembali Khalifah Abbasiyah di Mesir. Maka pada tahun 1171 berakhirlah riwayat Dinasti Fatimiah di Mesir yang telah bertahan selama 262 tahun.
Menurut Mohammad Nurhakim dalam bukunya Sejarah dan Peradaban Islam, faktor-faktor penyebab kemunduran dinasti Fatimiyah adalah akumulasi dari masalah-masalah yang bermunculan khususnya pada masa paruh kedua. Di antara faktor-faktor yang paling menonjol ialah sebagai berikut:
1. Melemahnya para khalifah, khususnya sejak al Mustansir. Kelemahan ini disebabkan karena ketika dinobatkan menjadi khalifah, usia mereka masih sangat muda. Lemahnya khalifah ini menyebabkan tampilnya orang-orang kuat dan berpengaruh sebagai pemegang kekuasaan yang sebenarnya, dan khalifah hanya sebagai boneka. Hal ini menimbulkan kecemburuan di pihak saudara-saudara khalifah, dan membuat keadaan pemerintahan diktator serta tidak stabil. Di samping itu, lemahnya para khalifah disebabkan oleh intrik di sekitar istana sendiri yang bersumber dari perasaan tidak adil atas pengangkatan khalifah berdasarkan kepentingan-kepentingan kelompok tertentu, misalnya Nizar, kakak al Musta’li merasa kecewa karena adiknya yang diangkat sebagai khalifah padahal dirinya lebih berhak atas jabatan tersebut. Sehingga kemudian ia menjadi gerakan oposisi yang dikenal dengan gerakan Assasin. Gerakan ini berhasil membunuh dua khalifah, yakni al Musta’li dan al Amir.
2. Perpecahan dalam tubuh militer yang terdiri atas tiga unsur kekuatan. Pertama, unsur bangsa Berber yang sejak awal ikut berjuang mendirikan dinasti Fatimiyah. Kedua, unsur bangsa Turki yang berhasil masuk karena didatangkan oleh khalifah al Aziz. Ketiga, unsur kekuatan bangsa Sudan yang didatangkan oleh khalifah al Mustanshir. Tiga unsur ini selalu bersaing dan sesekali terlibat dalam peperangan antarmereka. Peperangan terbuka yang paling besar adalah peperangan antara Berber dan Turki. Sementara khalifah yang lemah tidak mampu berbuat apa-apa. Akhirnya, wilayah-wilayah dinasti yang demikian luas secara berangsur-angsur berkurang karena memisahkan diri atau dikuasai oleh dinasti lain.
3. Bencana alam, yakni kekeringan yang melanda Mesir. Hal ini disamping menimbulkan penderitaan rakyat karena kelaparan, wabah penyakit, perampokan dan lainnya, juga bagi negara menyebabkan lumpuhnya perekonomian agraris yang hasilnya justru merupakan sumber devisa utama Mesir. Kondisi ini memaksa khalifah meminta bantuan kepada Konstantin Monomachus untuk mengirim bahan-bahan makanan ke Mesir.
Kelemahan-kelemahan seperti inilah yang mengakibatkan Fatimiyah menjadi rapuh sehingga mudah untuk ditaklukkan kekuatan lain yang lebih besar yang mengakibatkan runtuhnya dinasti ini..

KESIMPULAN
1. Daulah Fatimiyah yang berarti suatu pemerintahan di bawah pimpinan/kekuasaan orang-orang Fatimi (keturunan Fatimah). karena pengikutnya mengambil silsilah keturunan dari Fatimah binti Rasulullah.
2. Kemajuan yang terlihat pada masa Khilafah Fatimiyah antara lain dipertegas dengan beberapa faktor antara lain:
a. Pemimpinnya bijaksana
b. Militernya kuat
c. Administrasi pemerintahannya baik
d. Ilmu pengetahuan berkembang dan ekonomi stabil
e. Kehidupan bermasyarakat tentram dan damai
3. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran Khilafah fatimiyah, antara lain adalah:
a. Banyaknya khalifah yang diangkat pada usia masih sangat belia.
b. Konflik kepentingan yang berkepanjangan di antara pejabat dan militer dan ketidakpuasan rakyat atas kebijakan pemerintah.
c. Terjadinya persaingan dalam memperebutkan wazir.
d. Terjadinya bencana alam yakni kekeringan.

http://referensiagama.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar