Minggu, 30 Januari 2011

BANI SALJUK DAN KEHANCURAN BAGDAD


BANI SALJUK DAN KEHANCURAN BAGDAD
By sariono sby

A. Pendahuluan
Sejarah telah mencatat bahwa kemunculan dan kemunduran serta kehancuran sebuah Dinasti kerajaan tidak terlepas dari pergolakan politik atau kepentingan-kepentingan politik, baik kepentingan politik perorangan maupun kepentingan politik kelompok.
Demikian pula halnya dengan kemunculan Bani Saljuk, yang berawal dari perebutan kekuasaan dalam tubuh dinasti Buwaihi, yang tidak dapat mengatasi persaingan di tubuh militer, yang berasal dari dua suku: Dailam dan Turki Saljuk.
Kemunculan dan kemunduran sebuah Dinasti atau sebuah kerajaan tidak terlepas dari pergolakan politik atau kepentingan-kepentingan politik, baik kepentingan perorangan maupun kepentingan kelompok atau masyarakat. Demikian pula halnya dengan kemunculan Bani Saljuk. Kemunculan Dinasti Saljuk dinisbahkan kepada Saljuk Ibn Tuqaq. Tuqaq ( ayah Saljuk ) adalah pemimpin suku Oghsus ( Ghuzz atau Oxus ) yang menguasai wilayah Turkestan, tempat mereka tinggal. Saljuk Ibnu Tuqaq pernah menjadi panglima imperium Ulghur yang ditempatka di selatan lembah Tahrim dengan Kashgar sebuah ibukotanya. Karena merasa tersaingi kewibawaan , permaisuri raja Ulghue merencanakan pembunuhan terhadap Saljuk.
Salah satu peristiwa pentingnya adalah jabatan Malik Abd al-Rahim sebagai amir al-umara’ berusaha direbut oleh panglimanya sendiri, Arselan Basasiri yang kemudian memperlakukan Malik abd al-Rahim dan khalifah al-Qa’im dengan semena-mena.
Di sisi lain, Bizantium mulai melakukan serangan-serangan kembali ke dunia Islam; dan dinasti-dinasti kecil di luar Bagdad memanfaatkan situasi ini dengan melepaskan diri dari kekuasaan Bagdad dan menaklukan wilayah lain; seperti Fatimiah di Kairawan menaklukan Mesir dan Sudan, memproklamirkan diri sebagai khalifah. Karena bertikai dengan Malik Abd al-Rahim, Arselan Basasiri mengundang dinasti Fatimiah untuk menguasai Bagdad. Hal itu membuat khalifah khawatir dan akhirnya meminta bantuan Tugril Bek (Turki Salju) yang berkuasa di jibal. Pada tanggal 18 Desember 1055 (447 H), Tugril Bek memasuki Bagdad; Malik Abd al-Rahim ( amir al-uwara terakhir dari Buwaihi) dipenjara. Kekuasaan dinasti Buwaihi berakhir dan bermulalah kekuasaan Dinasti Saljuk.

B. Bani saljuk, Kemunculan, Kemajuan dan Kehancurannya.
1. Asal-usul Saljuk
Dinasti saljuk dinisbahkan kepada Saljuk Ibn Tuqaq. Tuqaq (ayah Saljuk) adalah pemimpin suku Oghus (Ghuzz atau Oxus) yang menguasai wilayah Turkestan, tempat mereka tinggal. Saljuk Ibn Tuqaq pernah menjdai panglima imperium Ulghur yang ditempatkan di selatan lembah Tahrim dengan Kashgar sebagai ibukotanya. Karena merasa tersaingi kewibawaan, permaisuri raja Ulghue merencanakan pembunuhan terhadap Saljuk. Akan tetapi, sebelum dapat direalisasikan, rencana itu sudah diketahui oleh Saljuk. Dalam rangka menghindari pembunuhan, Saljuk dan orang-orang yang setia kepadanya menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke arah Barat, yaitu daerah Jundi (jand), suatu daerah yang merupakan bagian dari Asia Kecil yang dikuasai oleh dinasti Samaniyah yang dipimpin oleh Amir Abd al-Malik Ibn Nuh (954-961 M).Amir Abd al-Malik Ibn Nuh mengizinkan Saljuk tinggal di Jundi, dekat Bukhara. Terkesan oleh kebaikan Amir Abd al-Malik Ibn Nuh, Saljuk dan pengikutnya memeluk Islam aliran Sunni sesuai dengan aliran yang dianut oleh masyarakat setempat.
Saljuk Ibn Tuqaq membalas jasa kebaikan Amir Abd al-Malik Ibn Nuh dengan membantunya mempertahankan dinasti Samani dari serangan musuh. Saljuk membantu dinasti Samani dalam menghadapi serangan-serangan dinasti Ulghur. Dalam satu perang tersebut, Saljuk mati terbunuh dan ia meninggalkan tiga orang anak yaitu: Arselan, Mikail, dan Musa.
2. Tugril Bek: Pendirian Dinasti Saljuk
Sepeninggal Saljuk, pimpinan suku dipegang oleh Mikail. Akan tetapi, ia pun gugur ketika perang melawan dinasti Ghaznawi yang hendak merebut Khurasan dari Samaniyah. Setelah wafat, Mikail digantikan oleh anaknya, Tugril Bek. Tugril Bek, karena dinasti Samani sudah mulai melemah, berhasil menguasai Merv (ibukota Khurasan), Jurzan, Tibristan, Dailam dan Karman (1037 M). Sejak itu, Tugril Bek memproklamirkan berdirinya dinasti Saljuk dan diakui oleh dinasti Bani Abbas sekitar tiga tahun kemudian (1040 M) . Setelah itu, Tugril Bek menguasai Iran atau Persia, Anatolia, dan Armenia.

3. Saljuk Menguasai Baghdad
Di Baghdad terjadi penindasan yang diakukan oleh dinasti Buwaihi terhadap khalifah Bani Abbas. Karena bertikai dengan Maliik Abd al-Rahim, Arselan Basasiri (panglima militer) mengundang dinasti Fatimiah untuk menguasai Baghdad. Hal ini membuat khalifah khawatir dan akhirnya meminta bantuan Tugril Bek yang berkuasa di Jibal. Pada tanggal 18 Desember 1055 (447 H), Tugril Bek memasuku Baghdad. Pertempuran terjadi antara pasukan Tugril Bek dengan pasukan Arselan al-Basasiri. Dalam pertempuran itu, al-Basasiri mati terbunuh, khalifah al-Qa‟im dibebaskan dari penjara. Sedangkan Malik Abd al-Rahim dipenjara. Kekuasaan dinasti Buwaihi berakhir dan selanjutnya khalifah dinasti Bani Abbas bekerjasama dengan Saljuk mulai tahun 1055 M. Sebagai kehormatan, khalifah al-Qa‟im memberikan gelar “Raja Timur dan Barat” kepada Tugril Bek dan ia menikah dengan puteri al-Qa‟im. Pada tahun 455H/1063 M, Tugril Bek wafat dan digantikan oleh kemenakannya, Alp Arselan karena Tugril Bek tidak mempunyai seorang anak. Pada masa Alp Arselan, perluasan daerah yang sudah dimulai oleh Thugrul Bek dilanjutkan ke arah Barat sampai pusat kebudayaan Romawi di Asia kecil, yaitu Bizantium. Peristiwa penting dalam gerakan ekspansi ini adalah apa yang dikenal dengan peristiwa Manzikar. Tentara Alp Arselan berhasil mengalahkan tentara Romawi yang besar yang terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-Hajr, prancis dan Armenia. Dengan dikuasainya Manzikar tahun 1071 M itu, terbukalah peluang baginyauntuk melakukan gerakan penturkian (turkification ) di Asia Kecil. Gerakan ini dimulai dengan mengangkat Sulaiman ibn Qutlumish, keponakan Alp Arselan, sebagai gubernur di daerah ini. Pada tahun1077 M/ 470 H), didirikanlah kesultanan Seljuk Rum dengan ibukotanya Iconim. Sementara itu, putra Arselan, Tutush berhasil mendirikan dinasti Saljuk di Syria pada tahun 1094 M/487 H.
Pada masa Maliksyah wilayah kekuasaan Dinasti Seljuk ini sangat luas, membentang dari Kashgor, sebuah daerah di ujung daerah Turki, sampai ke Yerussalem. Wilayah yang luas itu di bagi menjadi lima bagian:
1. Seljuk Besar yang menguasai Khurasan, Ray, Jabal, Irak, Persia, dan Ahwaz. Ia mewrupakan induk dari yang lain. Jumlah Syaikh yang memerintah seluruhnya delapan orang.
2. Seljuk Kirman berada di bawah kekuasaan keluarga Qawurt Bek ibn Dawud ibn Mikail ibn Seljuk. Jumlah syaikh yang memerintah dua belas orang.
3. Seljuk Iran dan Kurdistan, pemimpin pertamanya adalah mighirs Al-Din Mahmud. Seljuk ini secara berturut-turut diperintah oleh Sembilan syaikh.
4. Seljuk Syria, diperintah oleh keluarga Tutush ibn Alp Arselan ibn Daud ibn Mikail ibn Seljuk, jumlah syaikh yang memerintah lima orang.
5. Seljuk Rum, diperintah oleh keluarga Qutlumish ibn Israil ibn Seljuk dengan jumlah syaikh yang memerintah seluruhnya 17 orang.

4. Kemajuan Saljuk
Dinasti Saljuk tercatat sebagai dinasti yang sukses dalam membangun masyarakat ketika itu. Diantara kegiatan yang dilakukannya adalah: (1) memperluas Masjid al-Haram dan Masjid al-Nabawi, (2) Pembangunan rumah sakit di Naisafur, (3) Pembangunan gedung peneropong bintang dan, (4) Pembangunan sarana pendidikan. Pada zaman Alp Arselan dan Malik Syah terdapat seorang wazir yang sangat tekenal, yaitu Nizham al-Muluk. Beliau adalah pemrakarsa berdirinya perguruan Nizhamiyah yang berpusat di Baghdad dan cabang-cabangnya di Balkh, Naisafur, Hirah, Isfahan, Basrah, Merv dan Mosul. Di perguruan ini muncul sejumlah ulama besar, di antaranya: Imam al-Haramayn al-Juwaini, Imam al-Ghazali, Imam Fakhr al-Razi (ahli ilmu tafsir), Zamakhsyari (ahli ilmu tafsir), Imam al-Qusayiri (ahli ilmu tasawuf).
Salah satu pengikut Al-Asy’ari adalah Muhammad Ibn al-Thayyib Ibn Muhammad Abubakar al-Bagilani . Ia belajar kepada dua murid imam al-Asy’ari : Ibn Mujahid dan Abu al-Hasan al-Bahili.


5. Pemicu Perang Salib
Setelah berhasil menguasai Baghdad, dinasti Saljuk melakukan ekspansi hingga menguasai Asia Kecil (Turki) dan menguasai wilayah-wilayah sebelumnya yang dikuasai Bizantium. Perang terjadi antara pasukan Saljuk dengan pasukan Byzantium. Apabila ada orang Byzantium dan Eropa yang hendak beribadah ke Bait al-Maqdis di Yerussalem, hartanya dirampas oleh Saljuk. Oleh karena itu, orang Byzantium dan Eropa merasa tidak aman untuk melaksanakan ibadah ke Bait al-Mqadis di Yerussalem. Peristiwa ini mendorong raja Byzantium untuk bekerjasama dengan Eropa untuk menghancurkan Islam. Oleh karena itu, Paulus II mendeklerasikan perang suci yang kemudian dikenal dengan perang salib.

6. Kemunduran dan Akhir Dinasti Saljuk
Dinasti Saljuk dilanda konflik internal dan akhirnya wilayah kekuasaannya dibagi-bagi menjadi kesultanan-kesultanan yang dikendalikan oleh para atabek (para budak yang menjadi pembesar negara). Malik Syah meninggalkan sejumlah anak, yaitu Barkiyaruk, Muhammad, Sanjar, dan Mahmud. Ketika Barkiyaruk menjadi sultan, Sanjar seringkali berusaha merebut kekuasaan. Setelah Sanjar meninggal, Saljuk mmenjadi dinasti-dinasti kecil.

C. Faktor-faktor yang menyebabkan kehancuran atau kemunduran Bagdad
1. Faktor Internal
Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Namun demikian, faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat, benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan.
Disamping kelemahan khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan.
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Ibnu Khaldun, ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Dengan demikian, khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional.
Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam) di dunia Islam.
Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara.
Adalah Khalifah Al-Mu’tashim (218-227 H) yang memberi peluang besar kepada bangsa Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Mereka di diangkat menjadi orang-orang penting di pemerintahan, diberi istana dan rumah dalam kota. Merekapun menjadi dominan dan menguasai tempat yang mereka diami, sehingga khalifah berikutnya menjadi boneka mereka.
Setelah al-Mutawakkil (232-247 H), seorang Khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki semakin kuat, mereka dapat menentukan siapa yang diangkat jadi Khalifah. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga (334-447), dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk, bangsa Turki pada periode keempat (447-590H).
b. Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil Yang Memerdekakan Diri
wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama hingga masa keruntuhan sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Walaupun dalam kentaannya banyak daerah yang tidak dikuasai oleh Khalifah, secara riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaaan gubernur-gubernur bersangkutan. Hubungan dengan Khalifah hanya ditandai dengan pembayaran upeti.
Ada kemungkinan penguasa Bani Abbas sudah cukup puas dengan pengakuan nominal, dengan pembayaran upeti. Alasannya, karena Khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk, tingkat saling percaya di kalangan penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah dan juga para penguasa Abbasiyah lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Selain itu, penyebab utama mengapa banyak daerah yang memerdekakan diri adalah terjadinya kekacauan atau perebutan kekuasaan di pemerintahan pusat yang dilakukan oleh bangsa Persia dan Turki.
Akibatnya propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Ini bisa terjadi dengan dua cara, pertama, seorang peminpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulat Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Marokko. Kedua, seorang yang ditunjk menjadi gubernur oleh Khalifah yang kedudukannya semakin kuat, seerti daulah Aghlabiyah di Tunisiyah dan Thahiriyyah di Khurasan.
Dinasti yang lahir dan memisahkan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah, di antaranya adalah:
a) Yang berkembasaan Persia: Thahiriyyah di Khurasan (205-259 H), Shafariyah di Fars (254-290 H), Samaniyah di Transoxania (261-389 H), Sajiyyah di Azerbaijan (266-318 H), Buwaihiyyah, bahkan menguasai Baghdad (320-447).
b) Yang berbangsa Turki: Thuluniyah di Mesir (254-292 H), Ikhsyidiyah di Turkistan (320-560 H), Ghaznawiyah di Afganistan (352-585 H), Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya
c) Yang berbangsa Kurdi: al-Barzukani (348-406 H), Abu Ali (380-489 H), Ayubiyah (564-648 H).
d) Yang berbangsa Arab: Idrisiyyah di Marokko (172-375 h), Aghlabiyyah di Tunisia (18-289 H), Dulafiyah di Kurdistan (210-285 H), Alawiyah di Tabaristan (250-316 H), Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil (317-394 H), Mazyadiyyah di Hillah (403-545 H), Ukailiyyah di Maushil (386-489 H), Mirdasiyyah di Aleppo 414-472 H).
e) Yang Mengaku sebagai Khalifah : Umawiyah di Spanyol dan Fatimiyah di Mesir.

c. Kemerosotan Perekonomian
Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Perekonomian masyarakat sangat maju terutama dalam bidang pertanian, perdagangan dan industri. Tetapi setelah memasuki masa kemunduran politik, perekonomian pun ikut mengalami kemunduran yang drastis.
Setelah khilafah memasuki periode kemunduran ini, pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi.
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.

d. Munculnya Aliran-Aliran Sesat dan Fanatisme Keagamaan
Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai untuk menjadi penguasa, maka kekecewaan itu mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah.
Adalah khalifah Al-Manshur yang berusaha keras memberantasnya, beliau juga memerangi Khawarij yang mendirikan Negara Shafariyah di Sajalmasah pada tahun 140 H[10]. setelah al Manshur wafat digantikan oleh putranya Al-Mahdi yang lebih keras dalam memerangi orang-orang Zindiq bahkan beliau mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan mereka serta melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. Akan tetapi, semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu.
Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi'ah, sehingga banyak aliran Syi'ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutawakkil, misalnya, memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. Namun anaknya, al-Muntashir (861-862 M.), kembali memperkenankan orang syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut.[11] Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni.
Selain itu terjadi juga konflik dengan aliran Islam lainnya seperti perselisihan antara Ahlusunnah dengan Mu'tazilah, yang dipertajam oleh al-Ma'mun, khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M), dengan menjadikan mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Pada masa al-Mutawakkil (847-861 M), aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan ahlusunnah kembali naik daun. Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih. Namun pada masa dinasti Seljuk yang menganut paham Asy'ariyyah penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis. Dengan didukung penguasa, aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya.

2. Faktor Eksternal
Selain yang disebutkan diatas, yang merupakan faktor-faktor internal kemunduran dan kehancuran Khilafah bani Abbas. Ada pula faktor-faktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur.
a. Perang Salib
Kekalahan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang dari pasukan Alp Arselan yanag hanya berkekuatan 15.000 prajurit telah menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang kristen terhadap ummat Islam. Kebencian itu bertabah setelah Dinasti Saljuk yang menguasai Baitul Maqdis menerapkan beberapa peraturan yang dirasakan sangat menyulitkan orang-orang Kristen yang ingin berziarah kesana. Oleh karena itu pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II menyerukan kepada ummat kristen Eropa untuk melakukan perang suci, yang kemudian dikenal dengan nama Perang Salib.
Perang salib yang berlangsung dalam beberapa gelombang atau peride telah banyak menelan korban dan menguasai beberapa wilaya Islam. Setelah melakukan peperangan antara tahun 1097-1124 M mereka berhasil menguasai Nicea, Edessa, Baitul Maqdis, Akka, Tripoli dan kota Tyre.
Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu Khan, panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. Tentara Mongol, setelah menghancur leburkan pusat-pusat Islam, ikut memperbaiki Yerussalem.

b. Serangan Mongolia Ke Negeri Muslim dan Berakhirnya Dinasti Abbasiyah
Orang-orang Mongolia adalah bangsa yang berasal dari Asia Tengah. Sebuah kawasan terjauh di China. Terdiri dari kabilah-kabilah yang kemudian disatukan oleh Jenghis Khan (603-624 H). mereka adalah orang-orang Badui-sahara yang dikenal keras kepala dan suka aberlaku jahat.
Sebagai awal penghancuran Bagdad dan Khilafah Islam, orang-orang Mongolia menguasai negeri-negeri Asia Tengah Khurasan dan Persia dan juga menguasai Asia Kecil. Pada bulan September 1257, Hulagu mengirimkan ultimatum keada Khalifah agar menyerah dan mendesak agar tembok kota sebelah luar diruntuhkan. Tetapi Khalifah tetap enggan memberikan jawaban. Maka pada Januari 1258, asuakn Hulagu bergerang untuk mengahncurkan tembok ibukota. Sementara itu Khalifah al-Mu’tashim langsung menyerah dan berangkat ke base pasukan mongolia. Setelah itu para pemimpin dan fuqaha juga keluar, sepuluh hari kemudian mereka semua dibunuh. Hulagu mengzinkan pasukannya untuk melakukan aa saja di Baghdad. Mereka menghancurkan kota Baghdad dan membakarnya. Pembunuhan berlangsung selama 40 hari dengan jumlah korban sekitar dua juta orang.
Perlu juga disebutkan disini peran busuk yang dimainkan oleh seorang Syi’ah Rafidhah yaitu Ibn ’Alqami, menteri al-Mu’tashim, yang bekerjasama dengan orang-orang Mongolia dan membantu pekerjaan-pekerjaan mereka.



C. KESIMPULAN

1. Dinasti Saljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku ghuz di wilayah Turkistan.
2. Dinasti Saljuk menguasai Bagdad setelah memenangkan pertempuran antara Tugril Beck dengan pasukan Arselan al-Basasiri.
3. Dinasti Saljuk tercatat sebagai Dinasti yang sukses dalam membangun masyarakat al: memperluas Masjidil Haram dan Masjid al-Nabawi.
4. Kemunduran Dinasti Saljuk dilanda konflik internal.
5. Faktor-faktor yang menyebabkan kehancuran atau kemunduran Bagdad:
a. Faktor Internal
1) Perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan.
2) Munculnya Dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri
3) Kemerosotan perekonomian
4) Munculnya Aliran-aliran sesat dan fanatisme keagamaan
b. Faktor Eksternal
1) Perang Salib
2) Serangan Mongolia Ke Negeri Muslim dan Berakhirnya Dinasti Abbasiyah.


http://referensiagama.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar