Senin, 17 Januari 2011

DINASTI ILKHANIYAH



DINASTI ILKHANIYAH
by Sariono Sby

PENDAHULUAN

Banyak faktor yang mempengaruhi kemunduran peradaban Islam di penghujung kekuasaan dinasti bani Abbasiyah baik yang bersifat internal seperti lemahnya khalifah, konflik dalam keluaga istana, tampilnya dominasi militer, permasalahan keuangan atau luasnya wilayah, maupun eksternal yaitu perang salib dan serangan tentara Mongol.
Badri Yatim mengemukakan bahwa jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya akan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan tesebut.
Pada tahun dimana Hulagu berhasil menaklukan Baghdad inilah kemudian berdiri satu Dinasti yang dibangun oleh orang-orang non-muslim yang kemudian dalam perjalanannya menjadi sebuah Dinasti Islam. Adalah Dinasti Ilkhan yang didirikan oleh salah seorang keturunan Mongol yang bernama Hulagu Khan, dimana kekuasaannya yang meliputi Anatolia, Syiria, Iraq, Persia, Afganistan dan India Utara dengan pusat kekuasaannya di Tabriz bertahan selama kurang lebih 85 tahun, mulai tahun 1258 M – 1343 M.
Kedatangan bangsa Mongol pada suatu negri adalah suatu momok bagi negeri itu, karena hampir semua wilayah yang dilaluinya dihancurkan, tidak peduli dihadapannnya ada anak kecil, masjid, istana, orang tua, gedung, mushala, ataupun benda-benda berharga dan budaya semuanya dihancurkan, dibakar, disembelih tanpa ada rasa kemanusiaan.
Secara umum potret peradaban Islam itu sendiri pada masa penguasaan orang Mongol acapkali digambarkan sedang berada dalam kondisi suram untuk tidak dikatakan telah mencapai titik nadir. Betapa tidak, di samping secara politis masyarakat Muslim telah kehilangan suprastruktur politik yang bisa menjamin masa depan kehidupannnya, ternyata selama penguasaan bangsa Mongol, keberadaanya telah membawa dampak negatif terhadap kehidupan sosio-religius masyarakat Muslim. Fakta menunjukkan bahwa setelah penyerbuan dan selama penguasaan Bangsa Mongol, perkembangan Islam cenderung stagnan dan terpuruk baik secara politis, agama, ekonomi, sosial maupun budaya.
Dari keterangan diatas tergambar betapa keadaan pada saat pasca di runtuhkannya Bahdad oleh Hulagu Khan, Islam mengalami keterpurukan yang luar biasa. Namun kemudian apakah saat itu benar-benar tidak ada kebudayaan sama sekali ? terutama saat umat Islam di pimpin oleh bangsa Mongol yang notabene bukan beragama Islam. Oleh karena pertanyaan ini, maka penulis akan sedikit mengupas bagaimana keadaan kebudayaan Islam pasca runtuhnya Baghdad yang merupakan simbol kemajuan peradaban Islam. Karena keterbatasan kesempatan maka yang menjadi fokus pembahasan adalah saat berkuasanya salah satu dinasti yang didirikan oleh keturunan Mongol yaitu Dinasti Ilkhan. Hal ini penulis sampaikan karena keturunan bangsa Mongol yang berhasil mendirikan suatu dinasti tidak hanya Hulagu, melainkan masih ada yang lain, diantaranya Timur, yang berhasil mendirikan dinasti Timuriyah.



PEMBAHASAN

1. Bangsa Mongol
Bangsa mongol berasal dari pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Siberia utara, Tibet Selatan, Manchunia Barat serta Turkistan timur. Menurut Schimdt kata Mongol berasal dari kata Mong yang berarti berani. Nenek moyang mereka berasal dari Alanja Khan yang mempunyai dua putera yaitu Tartar dan Mongol. Kedua putra itu melahirkan dua suku bangsa besar, Mongol dan Tartar. Mongol mempunyai anak yang bernama Ikhan, yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa Mongol dikemudian hari.
Dalam tulisan Ali Mufrodi dijelaskan bahwa asal mula bangsa Nongol adalah dari masarakat hutan yang mendiami Siberia dan Mongol Luar disekitar danau Baikal. Sebanarnya mereka bukanlah suku nomad yang berpindah-pindah dari satu stepa ke stepa yang lain, walaupun mereka menaklukan banyak stepa dengan ketangkasannya menunggangkuda.
Dalam rentang waktu yang lama kehidupan suku bangsa Mongol tetap sederhana. Mereka menggembalakan kambing dan mendirikan kemah dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka juga hidup dari perdagangan tradisional seperti menukarkan hasil buruan antara mereka sendiri atau dengan bangsa China dan Turki. Sebagimana umumnya bangsa nomaden watak bangsa Mongol terkenal keras kasar suka berperang dan berani menghadapi maut demi mendapatkan tujuan mereka. Akan tetapi mereka sangat patuh pada pimpinannya.
Mereka dalah penganut ajaran Samanis, Shintoisme dan berbagai kepercayaan bangsa Indian di Amerika Utara. Ia memandang Tuhan sebagai jiwa yang hadir dalam sifat-sifat yang aktif. Manifestasi terbesar dari jiwa agung ini adalah “langit Biru nan Abadi” bahkan seperti yang berkembang di masyarakat Jepang, kami. Ia juga muncul pada sejumlah manifestasi berbeda yang dinamaka Tengri. Namun karena kebijaksanaan kebebasan dan keterbukaan antar agama, maka peribadatan magis mereka telah terpengaruhi oleh unsur-unsur agama lainnya. Bahkan sebelum mereka menaklukan Cina, peribadatan mereka telah terpengaruhi oleh unsur-unsur Budhisme, bahkan oleh kristrn Nestorian, dan sejumlah ajaran yang berkembang di kalangan Turki Uigur. Setelah penaklukan terhadap Cina Mongol di bagian Timur secara resmi memeluk Budhisme.
Bangsa mongol mencapai kemajuannya pada masa kepemimpinan Yosugi Bahadur Khan yang berhasil mempersatukan tiga belas suku bangsa Mongol. Sepeninggalnya ia digantikan oleh puteranya Temujin yang masih berusia tiga belas tahun. Temujin dalahirkan di Deliun Boldog pada tahun 562 H/ 1167 M. dalam kurun waktu tiga puluh tahun dia berusaha memperkuat angkatan perangnya. Pada tahun 1206 M ia mendapatkan gelar Jenghis Khan yang berarti raja yang perkasa. Ia membuat undang-undang yang bernama Alyasha. Yang diantara isinya adalah :
1. Barangsiapa melakukan hubungan di luar nikah, maka harus dibunuh baik ia sudah pernah menikah atau belum.
2. Barangsiapa melakukan hubungan homoseksual maka dibunuh.
3. Barangsiapa berdusta dengan sengaja, maka dibunuh.
4. Barangsiapa menyihir maka dibunuh.
5. Barangsiapa memata-matai maka dibunuh.
6. Barangsiapa ikut campur dalam dua orang yang sedang konflik kemudian berpihak kepada salah satunya maka dibunuh.
7. Barangsiapa buang air kecil di air yang tidak bergerak maka dibunuh.
8. Barangsiapa mandi di dalamnya maka dibunuh juga.
9. Barangsiapa memberi makanan atau minuman kepada tawanan perang tanpa seizin yang punya maka dibunuh.
10. Barangsiapa memberi makanan kepada seseorang maka hendaklah orang tersebut memakannya terlebih dahulu.
11. Barangsiapa melemparkan jenis makanan kepada seseorang maka dibunuh. Seharusnya ia menyerahkannya dengan tangan ke tangan orang tersebut.
12. Barangsiapa menyembelih hewan maka ia dibunuh seperti hewan tersebut. Ia harus membelah hatinya dan mengambil hatinya dengan tangannya terlebih dahulu.
Disamping itu Jengis Khan juga mengatur kehidupan beragama dengan tidak boleh merugikan antara satu pemeluk agama dengan yang lainnya, serta menerapkan suatu larangan; penyerbuan terhadap agama, sekte agama dan mencegah terjadinya perbedaan dalam agama. Mereka mempercayai superkekuatan, yakni satu tuhan meskipun mereka tidak menyembahnya. Bahkan, mereka membebaskan pajak bagi keluarga Nabi Muhammad saw, para penghapal Al Qur’an, ulama, tabib, pujangga, orang saleh, dan zuhud, serta muazzin yang menyerukan azan. Dalam alyasa juga terdapat larangan meletakkan tangan didalam air minum, dan sebagai gantinya air minum itu harus diambil dengan babarang atau alat lain. Seorang raja harus dipanggil dengan panggilan yang lengkap, tentara yang akan berperang harus diinspeksi terlebih dahulu dan perempuan harus siap membayar pajak bila kaum lelakinya pergi berperang. Namun rupaya Jengis Khan dengan peraturan-peraturan tersebut ingin mengambil hati kaum muslimin dan menjadikannya landasan yang kokoh bagi bangsanya untuk menghadapi tantangan dan meluaskan wilayah ke luar negeri, baik ke Cina maupun ke negeri-negeri Islam.
Setelah pasukan perangnya terorganisasi dengan baik, maka Jengis Khan berusaha memperluas wilayah kekuasaannya, Tebet (Cina Barat Laut) berhasil ditaklukan pada tahun 1213 M. selanjutnya Beijing pada tahun 1215 M. ia menundukkan Turkistan tahun 1218 yang berbatasan dengan wilayah islam, yakni Khawarazam syah. Invasi Mongol ke wiayah Islam terjadi karena terjadi peristiwa Utrar pada tahun 1218 M yaitu ketika gubernur Khawarazam membunuh utusan Jengis yang disertai oleh saudagar islam. Perristiwa tersebut menyebabkan Mongol menyerbu wilayah Islam, dan dapat menaklukkan Transoxania yang merupakan wilayah Khawarazam 1219-1220, padahal sebelumnya mereka hidup berdampingan secara damai satu sama lain. Kota Bukhara di Samarkand yang didalamnya terdapat makam imam Bukhari, salah seorang perawi hadis yang termasyur, dihancurkan, Balk, dan kota-kota lain yang memiliki peradaban islam yang tinggi, di Asia Tengah juga tidak luput dari penghancuran. Jalaluddin, penguasa Khawarazam yang berusaha meminta bantuan pada khalifah Abbasiyah di Baghdad, menghindarkan diri dari serbuan Mongol, ia diburu oleh musuhnya hingga ke India 1221 M, yang akhirnya ia lari ke barat. Toluy, salah seorang anak Jengis, di utus ke Khurasan sementara anaknya yang lain, yaitu Jochi dan Chaghatay bergerak untuk merebut wilayah sungai Sir Darya Bawah dan Khawarazam.
Wilayah kekuasaan jengis khan yang luas dibagi untuk empat orang putranya sebelum ia meninggal dunia tahun 624 H./1227 M.
Pertama ialah Jochi, anak yang sulung mendapat wilayah Siberia bagian barat dan Stepa Qipchaq yang membentang hingga Rusia Selatan, didalamnya terdapat Khawarazam. Namun ia meninggal dunia sebelum ayahnya wafat, dan wilayah warisannya itu diberikan kepada anak Jochi yang bernama Batu atau Orda. Batu mendirikan orde (kelompok) Biru di Rusia Selatan sebagai dasar berkembangnya Horde Keemasan (Golden Horde) sedangkan Orda mendirikan Horde Putih di Siberia Barat. Kedua kelompok itu bergabung dalam abad ke 14 yang kemudian muncul sebagai ke-khan-an yang bermacam ragamnya di Rusia, Serbia, dan Turkistan, termasuk Crimea, Astrakhan, Qazan, Qasimov, Tiumen, Bukhara , dan Khiva. Syaibaniyah atau Ozbeg, salah satu cabang keturunan Jochi berkuasa di Khawarazam dan Transoxania dalam abad ke 15 dan 16.
Kedua adalah Chaghatay, mendapat wilayah berbentang ke timur, sejak dari Transoxania hingga TurkistanTimur atau Turkistan Cina. Cabang barat dari keturunan Chagutai yang bermukim di Transoxania segera masuk ke dalam lingkungan pengaruh Islam, namun akhirnya dikalahkan oleh kekuasaan Timur Lenk. Sedangkan cabang timur dari keturunan Chagutai berkembang di Semerechye, Hi, T'ien Syan di Tarim. Mereka lebih tahan dari pengaruh Islam, tetapi akhirnya mereka ikut membantu menyebarkan Islam di wilayah Turkistan Cina dan bertahan disana hingga abad ke XVII.
Ketiga bernama Ogedey, adalah putra Jengis Khan yang terpilih oleh dewan pimpinan Mongol untuk menggantikan ayahnya sebagai Khan Agung yang mempunyai wilayah di Pamirs dan T’ien Syan.
Keempat ialah Toluy, si bungsu mendapat bagian wilayah Mongolia sendiri. Anak-anaknya, yakni Mongke dan Qubulay menggantikan Ogedey sebagai Khan yang Agung. Qobulay menaklukkan Cina dan berkuasa disana yang dikenal sebagi dinasti Yuan yang memerintah hingga abad ke-XIV, yang kemudian digantikan dengan dinasti Ming. Hulagu Khan, saudara Mongke khan dan Qobulay khan, menyerang wilayah-wilayah Islam sampai ke Bagdad dan berhasil menaklukan semua wiayah yang dilaluinya termasuk juga Baghdad, dan kemudian mendirikan dinasti Ilkhan.
2. Dinasti Ilkahan dan sejarah keberadaannya
Dinasti Ilkhan adalah sebuah dinasti yang dibangun oleh orang-orang Mongol, ketika mereka berhasil menginvasi dan menguasai Baghdad sebagai pusat kekuasaan dari Khilafah Abbasiyah. Dinasti Ilkhan berdiri pada tahun 1258, pada saat Hulagu Khan berhasil memantapkan kekuasaannya di Baghdad. Ilkhan sendiri artinya warga khan yang agung. Ilkhan juga adalah gelar yang diberikan kepada Hulaghu Khan sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi-prestasinya yang diperolehnya ketika sukses melakukan ekspansi wilayah dan mengalahkan setiap musuh-musuhnya.
Dinasti Ilkhan memerintah di wilayah yang memanjang dari Asia Kecil di Barat dan India di Timur dengan ibukotanya Tabriz. Di wilayah itu sekarang membentang negara Turki, Syiria, Irak, Iran, Uzbekistan dan Afghanistan. Selama dinasti ini berkuasa, terdapat 16 raja yang pernah berkuasa. Di antara raja-raja tersebut yang pertama adalah Hulaghu Khan, seorang raja Mongol dari Dinasti Ilkhan yang merupakan anak dari Tuli Khan. Ia merupakan cucu dari Jangis Khan dan beragama Syamanism. Masa kekuasaan dari Hulagu Khan hanya berlangsung selama tujuh tahun karena pada tahun 1265 ia meninggal dunia.
Hulagu Khan digantikan anaknya yang bernama Abaga Khan. Ia merupakan salah satu di antara penguasa Dinasti Ilkhan yang memerintah paling lama, yaitu selama 17 tahun. Ia memerintah dari tahun 1265 - 1282 M. Berbeda dengan bapaknya yang beragama Syamanism, maka Abaga Khan adalah seorang pemeluk agama Kristen Nestorian. Selanjutnya, penguasa ketiga dari dinasti ini adalah Ahmad Teguder. Ia memerintah dari tahun 1282 - 1284 M. Pada tahun 1284 hanya karena telah beralih agama dengan menjadi seorang Muslim, ia dibunuh oleh Argun, yang kemudian menggantikannnya menjadi raja Dinasti Ilkhan (1284-1291). Raja yang keempat ini adalah penganut agama Kristen Nestorian militan, yang karena kefanatikannnya banyak melakukan tindakan refresif dengan mengusir dan membunuh orang-orang Islam.
Selanjutnya raja Mongol yang kelima adalah Gaygathu. Ia memerintah selama empat tahun, dari tahun 1291 sampai dengan 1295. Ia kemudian digantikan oleh Baydu yang memerintah tidak lama, kurang lebih dari setahun, yakni masih dalam tahun 1295. Dari masa Hulagu Khan sampai Baydu, kecuali Ahmad Teguder, seluruh penguasa Dinasti Ilkhan adalah non-Muslim. Dengan demikian umat Islam yang ada di kawasan tersebut diperintah dan dikuasai oleh penguasa-penguasa Dinasti Ilkhan yang non-Muslim. Diprediksikan pada periode ini tidak ada sebuah perkembangan yang berarti bagi masyarakat Muslim terutama yang menyangkut perkembangan Islam dan peradabannnya, karena memang penguasa-penguasa dari dinasti Ilkhan pada periode ini adalah orang-orang yang tidak memiliki perhatian terhadap Islam. Yang menarik bisa jadi adalah sebuah ironisme, yaitu masyarakat Muslim yang jumlahnya sebagai mayoritas diperintah minoritas non-Muslim yang berasal dari luar.
Sebuah tanda-tanda angin baik dari Dinasti Ilkhan terhadap umat Islam muncul pada masa penguasa Dinasti Ilkhan yang ketujuh dan yang sesudahnya. Pada 1295 M Mahmud Ghazan diangkat sebagai raja yang ketujuh. Mahmud Ghazan (1295-1304), adalah pemeluk agama Islam. Dengan masuk Islamnya Mahmud Ghazan, Islam sedikit demi sedikit mulai meraih kemenangan yang sangat besar terhadap agama Syamanism. Bahkan pada periode ini seperti yang dikemukakan C.E. Bosworth, ketika tekanan kultural dan keagamaan dari lingkungan Persia semakin besar, maka para penguasa dari Dinasti Ilkhan mulai merenggangkan hubungannnya dengan raja-raja agung di Cina.
Ada sinyalemen, para penguasa dari dinasti Ilkhan sejak masa kekuasaan raja ini mulai memperhatikan Islam dan kepentingan masyarakat Muslim, dan sekaligus mereka mulai memposisikan dirinya melalui pembauran dengan lingkungan masyarakat di sekelilingnya. Sejak masa ini masyarakat Muslim, terlebih orang Muslim di Iran telah mendapatkan kemerdekaannnya kembali.
Mahmud Ghazan digantikan Muhammad Khudabanda Uljaetu (1304-1317 M). Figur Muhammad Khudabanda Uljaetu di samping sebagai seorang yang taat memegang agama Islam, ia adalah seorang penganut dan pembela madzhab Syiah. Ia mengendalikan pemerintahan Dinasti Ilkhan selama kurang lebih 14 tahun, sampai kemudian digantikan oleh Abu Said (1317-1335 M.) .
Dinasti Ilkhan mengalami kemunduran pasca pemerintahan Abu Said. Perlu diketahui bersama pada masa ini Dinasti Ilkhan diperintah Raja Arpha, Musa, Muhammad, Jahan Timur, Sati Bek dan Sulaeman. Mereka semua adalah figur raja-raja yang lemah, karena di masa ketujuh raja ini di wilayah kerajaan Dinasti Ilkhan banyak terjadi perpecahan dan pertikaian, sampai kemudian wilayah kekuasaannnya digantikan oleh dinasti-dinasti lokal seperti Dinasti Jalayiriyah, Muzhaffariyyah dan Sarbadariyyah di Khurasan . Selanjutnya, sampai dengan dekade keempat dari abad XIV, tepatnya di tahun 1343 H kekuasaan dari Dinasti Ilkhan sudah tidak ada dan sisa-sisa dari wilayah kekuasaannnya di masa kemudian diambil alih dan dipersatukan oleh Timur Lenk sebagai satu kesatuan integritas di bawah panji-panji kekuasaannya.
3. Pola Pemerintahan Dinasti Ilkhan dan Gambaran Kehidupan Masyarakatnya
Dinasti Ilkhan telah eksis lebih dari delapan dasawarsa. Ketika membicarakan dinasti Ilkhan, di kalangan para peneliti atau pemerhati sejarah umumnya mereka bersepakat bahwa Dinasti Ilkhan yang memerintah di wilayah Iran, Irak, Anatolia dan daerah-daerah lainnnya didirikan di atas banjir darah manusia dan puing-puing kehancuran dari institusi kekuasaan yang dihancurkannnya. Pandangan ini tidaklah keliru dan bisa dipahami, karena Hulagu Khan sebagai pendiri dari dinasti Ilkhan beserta tentaranya, kehadirannnya ke berbagai wilayah hanya mendatangkan malapetaka dan menimbulkan bencana bagi manusia.
Fakta sejarah telah banyak menunjukkan bahwa pada saat Hulagu Khan melakukan penyerbuan banyak penduduk dari beberapa kota dan kampung dimusnahkan secara sistemik. Di setiap daerah yang dijumpai acapkali ditemukan telah kosong dan menjadi tidak berpenduduk disebabkan oleh kehadiran pasukan penyerbu dan oleh gelombang tentara Mongol yang mengusir kaum petani. Kaum penyerbu tersebut membantai penduduk setempat, menjadikan mereka sebagai budak dan membebani mereka dengan pajak, sehingga menyita seluruh kekayaan mereka.
Dalam konteks ini Ira M. Lapidus sampai menyatakan penyerbuan Hulagu Khan sebagai sebuah bencana besar yang melanda penduduk akibat pembantaian dan pembunuhan. Tidak hanya itu, kehidupan perekonomian pun hancur karena selama satu abad atau lebih salah satu sumber penghidupan masyarakat Iran yaitu kerajinan tembikar dan pengolahan logam tidak bisa berproduksi.
Serangan bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan telah menghancur leburkan peradaban Islam yang berpusat di Baghdad. Dengan bala tentaranya yang besar Hulagu membunuh para pembesar istana memusnahkan bangunan-bangunan serta harta benda serta membumi hanguskan ilmu pengetahuan umat Islam. Selama empat puluh hari Baghdad menjadi saksi kebiadaban terhebat yang pernah terjadi dalam sejarah. Pertama kali yang dilakukan tentara Mongol adalah menghancurkan perpustakaan. Mereka mengumpulkan sekitar satu juta buku di tengah lapangan dan kemudian membakarnya. Disamping itu mereka juga membuang buku-buku tersebut ke sungai Dajlah /Tigris. Sehingga seseorang apabila ingin menyeberangi sungai tersebut sampai bisa menggunakan kuda untuk melewatinya. Dan air sungai Dajlah pun menjadi berwarna hitam pekat selama berbulan-bulan karena pengaruh tinta yang bercampur dengan air sungai.
Rezim dari Dinasti Ilkhan yang berkuasa di Iran, Irak, Anatolia, pada kenyataannnya lebih merupakan sebuah rezim penakluk. Dinasti ini dibentuk dari sebuah pasukan besar yang dihimpun dari para aristokrasi militer kesukuan yang bersekutu dengan dinasti yang sedang berkuasa. Kelompok aristokrat ini dalam perjalanannya telah memandang diri mereka sendiri sebagai manusia istimewa yang berhak mendominasi dan memungut pajak kepada rakyatnya. Rasa superioritas ini terefleksi dari sebuah undang-undang yang dimilikinya, Alyasak, yang menetapkan hak-hak dan kewajiban kalangan elite dan pengesahan pemerintahannnnya.
Meskipun abad pertama pemerintahan Mongol sarat dengan pengrusakan, namun rezim Ilkhan pada priode berikutnya melanjutkan lagi kecenderungan sejarah menuju sentralisasi kekuasaan Negara dan mewujudkan kejayaan kultur monarki Saljuk priode Iran – Turki. Bermula pada masa Pemerintahan Ghazan ( 1295-1304 M.), rezim Ilkhan membangun beberapa kota dengan mengembangkan beberapa proyek irigasi, dan mensponsori kemajuan pertanian dan perdagangan dengan cara-cara yang pernah dikembangkan oleh beberapa imperium Timur Tengah. Secara khusus mereka membuka rute perdagangan Asia Tengah menuju Cina. Rezim Mongol di Iran merupakan sebuah Negara taklukan. Ia dibentuk dari sebuah pasukan tunggal yang besar yang terdiri dari aristokrasi militer kesukuan yang bersekutu dengan dinasti yang sedang berkuasa. Kelompok aristocrat ini memandang dirinya sebagai manusia istimewa yang berhak mendominasidan memungut pajak kepada rakyatnya. Rasa superioritas ini terungkap dari sebuah hokum tertinggi yang dimilikinya, alyasa, yang menetapkan hak-hak dan kewajiban kalangan elit dan pengesahan pemerintahannya. Raja-raja Dinasti Ilkhan memerintah di Iran, Irak, Anatolia dan daerah-daerah disekelilingnya dilakukan dengan me-manaje distribusi tanah kepala-kepala militer untuk mengolahnya atau memungut pajak atasnya. Selanjutnya kepala-kepala militer tersebut membagi-bagikan tanah tersebut di antara anak buah mereka. Padang rumput dan tanah garapan dipadukan menjadi sebuah pertanahan yang disebut Tuyul, sebuah konsep yang memadukan cita-cita Mongolian tentang distribusi padang rumput dan konsep administratif Iran tentang distribusi hak mengumpulkan pajak.
Kemudian , roda pemerintahan Mongol dijalankan dengan menggantungkan diri melalui dukungan keluarga-keluarga bangsawan setempat, sebagaimana yang pernah terjadi pada beberapa dinasti Seljuk sebelumnya. Kebijakan para penguasa Dinasti Ilkhan dalam melaksanakan roda pemerintahannnya berusaha menyatukan diri dengan beberapa birokrat, para pedagang, dan ulama perkotaan Iran. Ulama melanjutkan atau memperkokoh kedudukan mereka dengan memposisikan diri sebagai elit lokal. Para ulama pada masa Dinasti Ilkhan umumnya banyak mengisi jabatan qadhi, dai, kepala pasar, dan sejumlah jabatan lainnya.
Selanjutnya Ira M. lapidus memberikan gambaran tentang kehidupan kelompok elit yang hidup di perkotaan. Kelompok elit yang hidup diperkotaan di mana prestise mereka didasarkan pada pendidikan Islam, umumnya kekuasaan mereka didasarkan kepada unsur kepemilikan tanah, perkebunan dan kekuasaannya menangani tanah wakaf. Para penguasa Dinasti Ilkhan telah menempatkan kedudukan kelompok ini dalam tugas-tugas administrasi finansial dan yudisial untuk menyokong kelangsungan pemerintahan lokal dan menahan dampak negatif akibat perubahan rezim militer. Kelompok ini juga ditugaskan untuk membantu tugas administratif dalam pembentukan pemerintahan Dinasti Ilkhan .
4. Perhatian Para Penguasa Dinasti Ilkhan Terhadap Pengembangan Peradaban Islam.
Menarik untuk dicermati, sekalipun perkembangan peradaban Islam pada periode pertengahan seringkali dikatakan berada dalam kondisi kemunduran, namun bukan berarti pada periode ini di kalangan masyarakat Muslim tidak ada perhatian sama sekali terhadap upaya-upaya memajukan dan mengembangkan peradaban Islam. Hal ini pun tampaknya terjadi pada Dinasti Ilkhan. Walaupun Dinasti Ilkhan pada awal kehadirannnya kerap dikatakan sebagai sebagai dinasti pembawa bencana, namun dalam perjalanan sejarahnya dinasti ini memiliki andil juga di dalam upaya membangun dan mengembangkan peradaban Islam, terutama sekali setelah dinasti ini diperintah oleh raja-rajanya yang memeluk agama Islam.
Memang perhatian para penguasa Dinasti Ilkhan mungkin sangat kecil dan tak sebanding dengan penghancuran dan pembunuhan yang telah dilakukan, tetapi walaupun begitu sebagai bangsa Mongol yang telah memeluk Islam dan besar dalam kultur keagamaan Persia mereka masih memiliki perhatian perhatian terhadap upaya membangun dan memajukan peradabannnya.
Bila diamati, memang Dinasti Ilkhan pada saat masih dipegang oleh raja-raja yang belum memeluk agama Islam seperti Hulagu Khan, Abagha Khan, Argun, Gaygatu dan Baydu perhatian mereka terhadap upaya memajukan dan mengembangkan peradaban Islam tidak ada. Hal ini bisa terjadi karena karena didorong oleh semangat kebencian terhadap Islam.
Walaupun begitu, Hulagu Khan cucu Jengis Khan yang dikenal bengis dan kejam, tidak memberikan andil dalam kemajuan kebudayaan sama sekali, Jengis Khan ternyata adalah seorang sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan. Terbukti ia senang dan mendukung rencana penasehat di bidang ilmu pengetahuannya, Nasiruddin Al-Tusi, untuk membangun observasium di Malaga, mulai beroperasi pada tahun 1262 dan juga perpustakaan dalam observasium itu. Paling tidak dengan langkah dukungannya terhadap Nasirudin al Tusi itu merupakan bukti kepeduliannya terhadap kebudayaan, yang karenanya sains pada saat itu yang di ketuai oleh al Tusi mengalami kemajuan yang pesat khususnya yang berkaitan dengan astronomi,biologi, fisika dan matematika.
Akan tetapi secara umum sebuah perubahan yang sangat mendasar mulai nampak pada masa Mahmud Ghazan. Pada masa Mahmud Ghazan, Dinasti Ilkhan mulai bergerak menuju ke arah sentralisasi kekuasaan negara dan mewujudkan kembali kejayaan kultur monarki Seljuk periode Iran Turki. Pada masa pemerintahan Mahmud Ghazan (1295-1304 M), Dinasti Ilkhan mulai membangun beberapa kota dengan mengembangkan beberapa proyek irigasi, mensponsori kemajuan pertanian dan perdagangan dengan cara-cara yang pernah dikembangkan oleh beberapa imperium Timur Tengah. Kemudian secara khusus, dinasti ini mulai membuka rute perdagangan yang menghubungkan Asia Tengah dengan Cina.
Berbeda dengan raja-raja sebelumnya, pemerintahan Mahmud Ghazan mulai memperhatikan perkembangan peradaban. Ia seorang pelindung ilmu pengetahuan dan sastera. Ia sangat mencintai kesenian terutama seni arsitektur dan ilmu pengetahuan seperti astronomi, kimia, mineralogi, metalurgi dan botani. Ia juga banyak membangun infrastruktur keagamaan dan pendidikan seperti menyediakan biara untuk para darwis, perguruan tinggi untuk madzhab Syafi’i dan Hanafi, sebuah perpustakaan, observatorium dan gedung-gedung umum lainnnya.
Meskipun banyak peperangan dan memperoleh tekanan dari dalam, tampilnya Mahmud Ghazan sebagai raja yang ketujuh, pada periode dapat dikatakan sebagai periode kemakmuran bagi Dinasti Ilkhan. Dengan masuknya Ghazan ke dalam Islam, proses rekonsiliasi antara kelas penguasa Turki-Mongol dan rakyatnya mulai terjadi. Ibukota Ilkhaniyah, Tabriz dan Maragha menjadi pusat ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sejarah dan ilmu-ilmu kealaman.
Pada masa Mahmud Ghazan, elite-elite militer Dinasti Ilkhan telah berpindah ke agama Islam dan mengambil legitimasi kulturalnya dari tradisi Mongolian dan juga dari sumber-sumber kesusastraan Iran. Berkat dukungan penguasa Mongol-Muslim, penulisan sejarah yang mencerminkan kepedulian raja Mahmud Ghazan terhadap nasib dunia ini berkembang dengan subur. Sebagai contoh karya Al-Juwaini (1226-1283), History of the World Conquerors yang banyak menguraikan tentang perjalanan Jenghis Khan dan penaklukan Iran. Begitu pula karya seseorang yang sezamannnya dengannnya, Rasyid al-Din (1247-1318), seorang ilmuwan Fisika dan seorang menteri, menulis karya Compendium of Histories yang mengintegrasikan sejarah bangsa Cina, India, Eropa, Muslim dan sejarah Mongol ke dalam sebuah perspektif kosmopolitan mengenai nasib umat manusia.
Konstribusi Raja Mahmud Ghazan dalam menegakkan kembali kejayaan kerajaan Iran yang paling cemerlang adalah usahanya mengembangkan seni lukis dan seni ilustrasi manuskrip. Beberapa tulisan sejarah karya Rasyid al-Din terus menerus disalin dan diilustarikan. Demikian juga syair-syair efik dari karya Syah Name dan Life of Alexander , dan beberapa fable dari karya Kalila wa Dimah. Kota Tabriz sendiri telah menjadi pusat bagi sebuah sekolah seni lukis dan seni ilustrasi yang sangat pesat pada saat itu.
Dinasti Ilkhan, setelah dipegang raja-raja Muslim telah bekerja keras membangun sejumlah bangunan makam yang monumental, dan melestarikan bentuk-bentuk arsitektural bangsa Iran terdahulu pada beberapa monumen di Tabriz, Sultaniyah, dan Varamin. Yang paling terkenal di antara konstruksi peninggalan Dinasti Ilkhan adalah bangunan makam Muhammad Khudabanda Uljaytu (1304-1317) di Sultaniyah, yang dilengkapi dengan kubah besar di tengahnya yang melambangkan kemajuan teknik arsitektural yang tinggi di mana permukaan eksteriornya dihiasi dengan berbagai plester ubin, keramik dan batua-batuan yang berwarna-warni.
Dinasti Ilkhan tidak mengembangkan sebuah identitas kebahasaan atau identitas keagamaan yang baru di Timur Tengah. Berbeda dengan bangsa Arab yang berhasil mengubah identitas kebahasaan dan keagamaan wilayah Timur Tengah, bangsa Mongol justru terserap ke dalam kultur Persia. Sikap terbuka dari para penguasa Mongol Muslim pada masa Dinasti Ilkhan dan hubungan-hubungan mereka dengan kultur-kultur yang berbeda seperti kultur Eropa Kristen dan Cina telah membawa pengaruh yang segar terhadap pengembangan kegiatan intelektual, komersial dan seni ke dunia Persia. Hal ini terlihat ketika koloni-koloni para pedagang Italia banyak terdapat di kota Tabriz yang keberadaannnya telah memainkan peranan penting sebagai penghubung dalam kegiatan perdagangan dengan Timur jauh dan India.
Begitu juga sikap terbuka ditunjukkan para penguasa Mongol Muslim dari Dinasti Ilkhan terhadap masuknya pengaruh Cina yang diperkenalkan oleh kaum pelancong, tentara dan pedagang Mongol yang melintasi Asia Tengah dalam kegiatan perdagangan sutra dan rempah-rempah Cina. Beberapa pengaruh Cina sangat menonjol pada pengambaran artistik panorama alam, burung, bunga-bunga, dan awan; pada komposisi bidang lukis yang terikat pada bidang yang menyusut, dan pada cara-cara baru dalam mengelompokkan gambar-gambar manusia. Salah satu tipe dari gambaran manusia adalah pertama, bersifat aristokratik, yang digambarkan dengan wajah memanjang, tanpa bergerak, agaknya secara sepintas ia diibaratkan dengan sebuah gerakan kepala atau jari. Kedua adalah gambaran yang bersifat karikatur degan ungkapan yang sangat berlebihan perihal komedi dan kesengsaraan.
Itulah tentang Dinasti Ilkhan yang telah menunjukkan kekosmopolitannnya pada masa para penguasa Mongol-Islam. Dengan demikian, keberadaan dan kontribusi Dinasti Ilkhan periode Hulghu sampai Baydu sangat berbeda dengan periode dari Mahmud Ghazan sampai dengan paling tidak, masa kekuasaan Abu Said. Keberadaan Dinasti Ilkhan pada masa Raja Hulagu Khan sampai dengan Baydu banyak menimbulkan bencana bagi masyarakat Muslim, tetapi perlu dipertegas bahwa dari masa Raja Mahmud Ghazan sampai dengan Abu Said, mereka banyak berjasa besar di dalam mendorong dan memajukan peradaban Islam.

http://referensiagama,blogspot.com/januari/2011












KESIMPULAN
Potret peradaban Islam pada masa Dinasti Ilkhan tidak benar selamanya suram. Kendatipun pada awalnya kehadirannnya kerap dikatakan sebagai sebagai dinasti pembawa bencana, namun dalam perjalanan sejarahnya dinasti ini telah memiliki andil di dalam upaya membangun dan mengembangkan peradaban Islam, terutama sekali setelah dinasti ini diperintah oleh raja-rajanya yang memeluk agama Islam.
Pada masa Dinasti Ilkhan dipegang oleh raja-raja yang telah memeluk Islam peradaban Islam berkembang dengan pesat, sekalipun tidak dapat dipersamakan dengan periode sebelumnya. Hal ini terlihat dari masih banyak berbagai bentuk khazanah peninggalan peradaban yang ditinggalkan pada periode ini. Ini telah mengindikasikan bahwa para penguasa Muslim Mongol dari dinasti ini banyak memberikan perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan infrastruktur masyarakat, bahkan peradaban Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar