Jumat, 28 Januari 2011

RASIONALISME DAN EMPIRISME ILMIAH


RASIONALISME DAN EMPIRISME ILMIAH
by sariono sby



PENDAHULUAN

Rasionalisme merupakan sebuah faham yang menekankan pada potensi akal. Adapun definisi Rasionalisme apabila ditinjau dari Terminologi filsafat ialah: Faham filsafat yang menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Menurut aliran Rasionalis, suatu pengetahuan akan diperoleh dengan cara berfikir. Dengan demikian, Rasionalisme merupakan aliran filsafat yang memposisikan akal sebagai sumber pengetahuan dan salah satu metode untuk mendapatkan pengetahuan.
Seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menuntut umat manusia untuk mengerahkan segala kemampuan dan potensi akalnya yang diwujudkan dalam bentuk berfikir. Dituntutnya umat manusia untuk mengfungsikan akalnya dengan cara berfikir merupakan akibat dari adanya anugerah Tuhan berupa otak yang diberikan kepada umat manusia. Dengan berfikir itulah umat manusia menjadi makhluk Tuhan yang sangat mulia dan sangat berbeda dengan makhluk Tuhan yang lain.
Berfikir merupakan kinerja otak manusia kaitannya dengan upaya mencari kebenaran dan mendapatkan ilmu pengetahuan serta hal-hal lain yang dapat memberikan dampak positif kepada dirinya. Dengan berfikir itulah kebenaran dan ilmu pengetahuan bisa didapatkan serta dapat dijadikan suatu pengalaman yang ilmiah. Sebagai pembuktian bahwa berfikir (Rasionalisme) dan pengalaman (Empirisme) merupakan dua metode untuk mendapatkan kebenaran dan ilmu pengetahuan, kita dapat mengambil i’tibar (pelajaran) dari kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim as.
Dalam proses pencarian Tuhannya pada mulanya Nabi Ibrahim as. berasumsi bahwa matahari adalah Tuhannya. Akibat dari adanya peristiwa terbit dan terbenam yang dialami oleh matahari, Nabi Ibrahim as. tidak mempercayai bahwa matahari adalah Tuhan. Selanjutnya Nabi Ibrahim as. beranggapan bulan itu adalah Tuhannya. Akibat peristiwa terbit dan tebenam sebagaimana yang dialami oleh matahari Nabi Ibrahim pun berpaling darinya dan begitu pula seterusnya Nabi Ibrahim selalu berfikir tentang Tuhan yang telah menciptakan hingga pada akhirnya sampailah pada tujuan semula yaitu ma’rifah (mengenal tuhan). Pentingnya untuk selalu berfikir dapat tercermin dalam semboyan seorang pakar filsafat yang berbunyi: ”saya berfikir, maka saya ada.

PEMBAHASAN

A. RASIONALISME
1. PENGERTIAN
Secara Etimologi, Rasionalisme merupakan golongan dari dua kata yaitu: rasio yang artinya akal, dan isme yang berarti faham atau aliran. Dengan demikian, Rasionalisme merupakan sebuah faham yang menekankan pada potensi akal. Adapun definisi Rasionalisme apabila ditinjau dari Terminologi filsafat ialah: Faham filsafat yang menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Menurut aliran Rasionalis, suatu pengetahuan akan diperoleh dengan cara berfikir. Dengan demikian, Rasionalisme merupakan aliran filsafat yang memposisikan akal sebagai sumber pengetahuan dan salah satu metode untuk mendapatkan pengetahuan. Disamping itu, akal atau rasio merupakan anugerah Tuhan yang diberikan kepada setiap umat manusia. Akibatnya, rasio mampu mencari kebenaran dengan cara berfikir dan tidak mungkin salah.
Berkenaan dengan keabsahan aliran Rasionalisme sebagai satu metode untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tidak hanya diakui oleh ilmuwan non muslim melainkan juga mendapat legitimasi dari ilmuwan muslim. Sebagai salah satu contoh ialah pernyataan al Ghazālī tentang klasifikasi ilmu. Secara global, al Ghazālī mengkalisifikasikan ilmu pengetahun menjadi dua yaitu: ta’alum insānī dan ta’alum rabbānī Metode ta’alum insānī (pengajaran manusia) merupakan metode yang digunakan sebagaimana metode yang diterapkan di sekolah formal atau non formal yang mengandalkan komunikasi interpersonal dan interaksi sosial. Artinya, metode ini menetapkan adanya upaya manusia (iktisab) untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dengan cara mengerahkan segala potensi akalnya yang dikenal dengan istilah tafakkur (berfikir). Disamping itu, al Ghazālī beranggapan bahwa akal memiliki kekuatan fitri yang dapat membedakan baik - buruk, manfaat – bahaya, dan sebagai ilmu tasawwur dan tasdiq. Dalam pandangan Rene Descartes yang dikenal dengan bapak Rasionalisme, metode tafakkur bukanlah semata-mata berdasarkan kepada akal saja, melainkan juga berdasarkan kepada panca indera dan hati.
Berkenaan dengan pola pikir yang digunakan oleh aliran Rasionalisme ialah: pola pikir deduktif yang biasanya menggunakan pola pikir yang dinamakan silogismus (disusun dari dua pernyataan dan sebuah kesimpulan). Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat dibedakan premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.

2. TOKOH-TOKOH RASIONALISME
a. Rene Descartes
Rene Descartes dikenal dengan bapak Rasionalisme. Hal ini dikarenakan Rene Descartes orang pertama yang mempelopori tentang aliran Rasionalisme disamping juga karena pernyataan-pernyataan Rene Descartes yang selalu mengedepankan potensi akal untuk mendapat ilmu pengetahuan dan kebenaran. Ungkapan-ungkapan yang sering disampaikan Rene Descartes tersebut ialah: “cogito ergo sum” yang berarti saya berfikir, maka saya ada. Dalam pandangan Rene Descartes, bahwa yang dimaksud berfikir disini ialah menyadari. Jika hal ini dikontekstualisasikan dengan diri kita masing-masing, tentulah sangat tepat. Pada hari ini, kita bisa mengikuti Kuliah di Program Pascasarjana di IAIN Sunan Ampel Surabaya dan akhirnya kita mendapatkan pengetahuan sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan di masa yang akan datang. Hal ini dilatar belakangi oleh pemikiran kita bahwa dengan pengetahuan itulah, maka kita bisa hidup sampai saat ini.

b. De Spinoza
De Spinoza dilahirkan pada tahun 1632 M dan meninggal dunia pada tahun 1677 M. Nama aslinya Baruch Spinoza. Setelah mengucilkan diri dari agama yahudi, ia mengubah nama menjadi Benedictus De Spinoza. Ia hidup di pinggiran kota Amsterdam. De Spinoza maupun Liebniz mengikuti pemikiran Rene Descartes. Dua tokoh terakhir ini juga menjadikan subtansi sebagai tema pokok dalam metafisika mereka, dan mereka berdua mengikuti aliran Rene Descartes. Tiga filosof ini, Rene Descartes, De Spinoza, Liebnis biasanya dikelompokkan pada satu aliran yaitu Rasionalisme.
De Spinoza menjawab pertanyaan dengan pendekatan yang juga dilakukan sebelumnya oleh Rene Descartes, yaitu dengan pendekatan deduksi matematis,yang dimulai dengan meletakkan definisi, aksioma, proposisi, kemudian baru pembuktian (penyimpulan). De Spinoza memiliki pemikiran yang sama dengan Rene Descartes, ia mengatakan bahwa kebenaran itu tepusat pada pemikiran dan keluasan. Pemikiran adalah jiwa sedang keluasan adalah tubuh yang eksistensinya berbarengan.

c. Liebniz
Seorang filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan. Lama menjadi pegawai pemerintah, menjadi atase, membantu pejabat tinggi Negara pusat. Dialah Gottfried Eilhelm Von Liebniz yang dilahirkan pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716 M. Metafisikanya adalah ide tentang subtansi yang dikembangkan dalam konsep monad. Metafisika Liebniz sama-sama memusatkan perhatian pada subtansi. Bagi De Spinoza alam semesta ini, mekanisme dan keseluruhannya, bergantung kepada sebab, sementara subtansi menurut Liebniz ialah prinsip akal yang mencukupi yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan Tuhan harus mempunyai alasan untuk setiap yang diciptakannya. Kita lihat bahwa hanya ada satu subtansi, sedangkan Liebniz berpendapat bahwa subtansi itu banyak. Ia menyebut subtansi-subtansi itu monad. Setiap monad berbeda antara yang satu denga yang lain, dan Tuhan (sesuatu yang supermonad dan satu-satunya monad yang tida tercipta) adalah pencipta monad-monad itu. Karya Liebniz tentang ini diberi judul monodology (studi tentang monad) yang diulis pada tahun 1417 H. ini adalah singkatan metafisika Liebniz.

B. EMPIRISME
1. PENGERTIAN
Kata Empirisme berasal dari kata Yunani Empirikos, artinya pengalaman. Manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya dan sesuai kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud adalah pengalamn inderawi. Dengan inderanya manusia dapat melihat sesuatu yang semata-mata fisik walaupun masih sangat sederhana. Indera menghubungkan manusia dengan hal-hal kongkrit material. Pengetahuan inderawi bersifat parsial, hal ini disebabkan karena perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya berhubungan dengan sifat khas fisiologis indera dengan obyek yang dapat ditangkap sesuai dengannya. Jadi pengetahuan inderawi berbeda menurut sensibilitas organ-organ tertentu.
Hal ini dapat dilihat bila kita memperhatikan pertanyaan seperti : “Bagaimana orang mengetahui es itu dingin ?” Seorang Empiris akan mengatakan, “karena saya merasakannya dan seorang ilmuwan juga merasakan seperti itu”. Dalam pernyataan tersebut ada tiga unsur yang perlu, yaitu yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek), dan cara dia mengetahui bahwa es itu dingin. Bagaimana es itu dingin ?.. Dengan menyentuh langsung lewat alat peraba. Dengan kata lain, seorang Empiris akan mengatakan bahwa pengetahuan itu diperoleh lewat pengalaman-pengalaman inderawi yang sesuai.
Menurut Ahmad Syadali Empirisme diambil dari bahasa Yunani Empiria, yang berarti Coba-coba atau pengalaman, aliran ini menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Penganut empirisme berpandangan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan bagi manusia, yang jelas-jelas mendahului rasio, tanpa pengalaman rasio tidakmemiliki kemmpuan untuk memberi gambaran tertentu.kalaupun menggambarkan sedemikian rupa, tanpa pengalaman hanyalah khayalan belaka.
John Locke mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan, keadaan akalnya masih bersih, sebagaimana kertas yang kosong yang belum tertulis apapun. Pengetahuan baru muncul ketika indera manusia menimbah pengalaman dengan cara melihat dan mengamati berbagai kejadian dalam kehidupan. Kertas tersebut mulai tertuliskan berbagai pengalaman inderawi. Seluruh sisa pengetahuan diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana.
George Barkeley berpandangan bahwa seluruh gagasan dalam pikiran/ide datang dari pengalaman. Oleh karena itu, tidak ada jatah ruang bagi gagasan yang lepas begitu saja dari pengalaman dan ide tidak bersifat independent. Pengalaman kongkrit adalah “mutlak’ sebagai sumber pengetahuan utama bagi manusia, karena penalaran bersifat abstrak dan membutuhkan rangsangan dari pengalaman. Berbagai gejala fisikal akan ditangkap oleh indera dan dikumpulkan dalam daya ingat manusia, sehingga pengalaman inderawi menjadi akumulasi pengetahuan yang berupa fakta-fakta. Kemudian, upaya faktualisasinya dibutuhkan akal. Dengan demikian, fungsi akal tidak sekedar menjelaskan dalam bentuk-bentuk khayali semata-mata, melainkan dalam konteks yang realistik.
Namun ada beberapa kelemahan Empirisme yaitu :
1. Indera terbatas, benda yang jauh kelihatan kecil, apakah ia benar-banar kecil ?.. Ternyata tidak. Keterbatasan inderalah yang menggambarkan seperti itu. Dari sini akan terbentuk pengetahuan yang salah.
2. Indera menipu, pada orang yang sakit malaria gula rasanya pahit, udara akan terasa dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan Empiris yang salah.
3. Objek yang menipu, contohnya fatamorgana .Jadi objek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia tangkap oleh indera, ia membohongi indera.
4. Berasal dari indera dan objek sekaligus. Dalam hal ini, indera (mata) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan. Kesimpulan ialah Empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia.

2. TOKOH-TOKOH EMPIRISME
a. Francis Bacon (1210 – 1292 M)
Menurut Francis Bacon, Pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan inderawi dan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang sejati. Pengetahuan haruslah dicapai dengan induksi. Selanjutnya bahwa kita sudah terlalu lama dipengaruhi oleh metode deduktif dari dogma-dogma. Ilmu yang benar adalah yang telah terakumulasi antara pikiran dan kenyataan, kemudian diperkuat oleh sentuhan inderawi.

b. Thomas Hobbes (1588 – 1679 M)
Sebagai penganut Empirisme, pengenalan atau pengetahuan menurut Hobbes diperoleh karena pengalaman. Pengalaman adalah awal dari segala pengetahuan. Juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman. Segala ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman. Dengan demikian hanya pengalamanlah yang memberi jaminan kepastian.
Yang dimaksud dengan pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan yang disimpan dalam ingatan atau digabungkan dengan pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa lain. Pengamatan inderawi terjadi karena gerak benda-benda diluar kita menyebabkan adanya suatu gerak didalam indera kita. Gerak ini diteruskan ke otak dan dari otak diteruskan ke jantung. Didalam jantung timbullah suatu reaksi, suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya. Pengamatan yang sebenarnya terjadi pada awal gerak reaksi tadi.
Sasaran yang diamati adalah sifat-sifat inderawi. Penginderaan disebabkan oleh karena tekanan objek atau sasaran. Kualitas didalam objek-objek yang sesuai dengan penginderaan kita. Warna yang kita lihat, suara yang kita dengar, bukan berada dalam gambaran tentang sebab yang menimbulkan penginderaan. Ingatan, rasa senang dan tidak senang serta segala gejala jiwa, bersandar semata-mata pada asosiasi gambaran yang murni yang bersifat mekanis.
Selanjutnya ia berpendapat bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan inderalah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan penggabungan data-data inderawi belaka.

c. John Locke (1632 – 1704 M)
Ia adalah filosof Inggris yang banyak mempelajari agama Kristen. Ia menerima keraguan sementara yang diajarkan Descartes, tetapi ia menolak intuisi yang digunakan oleh Descartes. Ia juga menolak metode deduktif Descartes dan menggantinya dengan generalisasi berdasarkan pengalaman atau disebut dengan induksi. Bahkan John Locke menolak juga akal (reason). Ia hanya menerima pemikiran matematis yang pasti dan cara penarikan dengan metode induksi.
Pandangan John Locke mengenai lembaran putih manusia mirip sekali dengan fitrah dalam filsafat islam yang didasarkan atas pernyataan Al Qur’an surat ke-30 Al Rum ayat ke-30. Fitrah adalah bawaan manusia sejak lahir yang didalamnya terkandung tiga potensi dengan fungsinya masing-masing. Pertama, potensi ‘aql yang berfungsi untuk mengenal Tuhan, Meng- Esakan Tuhan, dan mencintainya. Kedua, potensi shahwat yang berfungsi untuk menginduksi obyek-obyek yang menyenangkan. Ketiga, potensi qadhab yang berfungsi untuk menghindari segala yang membahayakan. Ketika manusia dilahirkan, ketiga potensi ini telah dimilikinya, agar potensi-potensi tersebut beraktualisasi perlu ada bantuan dari luar dirinya. Dalam filsafat islam, kedua orang tua anak yang terlahir itulah yang pertama-tama berkewajiban memberikan pengetahuan untuk mengoptimalisasikan potensi-potensi tersebut. Dengan kata lain orang tualah yang menggoreskan tulisan diatas lembaran putih si anak yang terlahir itu.

d. George Barkeley (1665 – 1753 M)
Sebagai penganut Empirisme, George Barkeley mencanagkan teori yang dinamakan immaterialisme atas dasar prinsip-prinsip empirisme. Jika Locke masih menerima substansi-substansi diluar kita. Barkeley berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi materiil, yang ada. Yang artinya bahwa dunia materiil sama saja dengan ide-ide yang saya alami. Sebagaimana dalam bioskop, gambar-gambar film pada layer putih dilihat para penonton sebagai benda-benda yang riel dan hidup.
Demikian pula menurut pemikirannya ide-ide membuatnya melihat suatu dunia materiil. Dan bagaimana ia sendiri ? … ia mengakui bahwa ia merupakan suatu substansi rohani. Ia juga mengakui adanya Allah, sebab Allah-lah yang merupakan asal-usul ide-ide yang saya lihat. Jika kita mengatakan bahwa Allah menciptakan dunia, yang kita maksud bukan berarti ada satu dunia diluar kita, melainkan bahwa Allah memberi petunjuk atau mempertunjukkan ide-ide kepada kita. Jika kita memahami perbandingan wujud ini dengan film seperti diatas tadi, maka boleh kita teruskan bahwasannya Allah-lah yang memutar film itu dalam batin kita.

e. David Hume (1711 – 1776 M)
Menurut para penulis sejarah filsafat, Empirisme berpuncak pada David Hume, sebab ia menggunakan prinsip-prinsip empiristis dengan cara yang paling radikal, terutama pengertian substansi dan kausalitas (hubungan sebab akibat) yang menjadi obyek kritiknya. Ia tidak menerima substansi, sebab yang dialami ialah kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu terdapat bersama-sama (misalnya: putih, licin, berat, dan sebagainya). Akan tetapi, atas dasar pengalaman tidak dapat disimpulkan bahwa dibelakang ciri-ciri itu masih ada suatu substansi tetap (misalnya: sehelai kertas yang mempunyai cirri-ciri tadi).

C. HUBUNGAN ANTARA RASIONALISME DENGAN EMPIRISME
Hubungan keduanya (Rasionalisme dengan Empirisme) sangat bertalian dan saling melengkapi sehingga mencapai kesempurnan dalam mencapai suatu hasil ilmiah.


KESIMPULAN

1. Secara Etimologi, Rasionalisme merupakan golongan dari dua kata yaitu: rasio yang artinya akal, dan isme yang berarti faham atau aliran. Dengan demikian, Rasionalisme merupakan sebuah faham yang menekankan pada potensi akal. Adapun definisi Rasionalisme apabila ditinjau dari Terminologi filsafat ialah: Faham filsafat yang menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
2. Tokoh-tokoh Rasionalisme antara lain : Rene Descartes, De Spinoza, Liebniz
3. Kata Empirisme berasal dari kata Yunani Empirikos, artinya pengalaman. Manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya dan sesuai kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud adalah pengalamn indrawi.Dengan indranya manusia dapat melihat sesuatu yang semata-mata fisik walaupun masih sangat sederhana. Indra menghubungkan manusia dengan hal-hal kongkrit material.
4. Tokoh-tokoh Empirisme antara lain : Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke, George Barkeley , David Hume.
5. Hubungan keduanya (Rasionalisme dengan Empirisme) sangat bertalian dan saling melengkapi sehingga mencapai kesempurnan dalam mencapai suatu hasil ilmiah.


http://referensiagama.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar