Senin, 17 Januari 2011

HADIS ( DEFINISI, MACAM, UNSUR, FUNGSI dan CAKUPAN )

HADIS
( DEFINISI, MACAM, UNSUR, FUNGSI dan CAKUPAN )
by Sariono Sby

PENDAHULUAN
Islam adalah agama yang sempurna dimuka bumi ini, semua sisi kehidupan manusia dan makhluk Allah telah digariskan oleh Islam melalui Kalam Allah swt ( Al Qur’a>n ) dan Al H{adi>th. Al Qur’a>n sudah jelas di tanggung keasliannya oleh Allah swt sampai akhir nanti, bagaimana dengan Al H{adi>th.
Hadis merupakan salah satu sumber Islam yang utama, tetapi tidak sedikit umat Islam yang belum memahami apa itu hadis. Sehingga dikhawatirkan suatu saat nanti akan terjadi kerancuan dalam hadis, karena tidak mengertinya dan mungkin karena kepentingan sebagian kelompok untuk membenarkan pendapat kelompok tersebut. Sehingga mereka menganggap yang memakai bahasa arab dan dikatakan al h{adi>th oleh orang yang tidak bertanggung jawab itu mereka anggap hadis.
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN HADIS
Kata hadis berasal dari bahasa arab, al H{adith, h{uda>tha b) khabar (berita,riwayat) jamaknya ah{a>di>th, h{idthan dan h{udthan. Sedangkan menurut terminologi, hadis diberi pengertian yang berbeda – beda oleh para ulama’. Perbedaan pandangan tersebut banyak dipengaruhi oleh terbatas dan luasnya obyek tinjauan masing – masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada aliran ilmu yang didalaminya.
Menurut istilah ahli ushul; pengertian hadis adalah :
كل ما صدرعن النبى ص م غيرالقران الكريم من قول اوفعل اوتقريرممايصلح ان يكون دليلا لحكم شرعى
‘ Hadis yaitu segala sesuatu yang dikeluarkan dari Nabi SAW selain Al Qur’a>n al Karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan hukum syara’
Sedangkan menurut istilah fuqaha. Hadis adalah :
كل ماثبت عن النبى ص م ولم يكن من باب الفرض ولاالواجب
“ yaitu segala sesuatu yang ditetapkan Nabi SAW yang tidak bersangkut paut dengan masalah – masalah fardhu atau wajib”
Para ahli ushul memberi pengertian yang demikian disebabkan mereka bergelut dalam ilmu ushul yang banyak mempelajari tentang hukum syari’at saja. Dalam pengertian tersebut hanya yang berhubungan dengan syara’ saja yang merupakan hadis, selain itu bukan hadis, misalnya urusan berpakaian. Sedangkan para fuqaha mengartikan yang demikian di karenakan segala sesuatu hukum yang berlabel wajib pasti datangnya dari Allah swt melalui kitab Al Qur’a>n. Oleh sebab itu yang terdapat dalam hadis adalah sesuatu yang bukan wajib karena tidak terdapat dalam Al Qur’a>n atau mungkin hanya penjelasannya saja.
Sedangkan menurut ulama’ Hadis mendefinisikannya sebagai berikut :
كل ما اثر عن النبى ص م من قول اوفعل اوتقريراوصفة خلقية او خلقية
“Segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat – sifat maupun hal ikhwal Nabi.
Menurut jumhur muh{adithi>n sebagaimana ditulis oleh Fatchur Rahman adalah sebagai berikut :
مااضيف للنبى ص م قولااوفعلااوتقريرااونحوها
“segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan dan yang sebagainya”
Perbedaan pengertian antara ulama’ ushul dan ulama’ hadis diatas disebabkan adanya perbedaan disiplin ilmu yang mempunyai pembahasan dan tujuan masing – masing. Ulama’ ushul membahas pribadi dan prilaku Nabi Saw sebagai peletak dasar hukum syara’ yang dijadikan landasan ijtihad oleh kaum mujtahid dizaman sesudah beliau. Sedangkan ulama Hadis membahas pribadi dan prilaku Nabi Saw sebagai tokoh panutan (pemimpin) yang telah diberi gelar oleh Allah swt sebagai Uswah wa Qudwah ( teladan dan tuntunan ). Oleh sebab itu ulama hadis mencatat semua yang terdapat dalam diri Nabi saw baik yang berhubungan dengan hukum syara’ maupun tidak. Oleh karena itu hadis yang dikemukakan oleh ahli ushul yang hanya mencakup aspek hukum syara’ saja, adalah hadis sebagai sumber tasyri’. Sedangkan definisi yang dikemukan oleh ulama’ hadis mencakup hal – hal yang lebih luas.
Disamping istilah hadis terdapat sinonim istilah yang sering digunakan oleh para ulama’ yaitu sunnah. Pengertian istilah tersebut hampir sama, walaupun terdapat beberapa perbedaan. Maka dari itu kami kemukaan pengertiannya agar lebih jelas.
Sunnah dalam kitab Ushul Al h{adi>th adalah sebagai berikut :
مااثرعن النبى ص م من قول اوفعل اوتقرير اوصفة خلقية اوسيرة سواء كان قبل البعثة اوبعدها
“Segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perkjalanan hidup, baik sebelum Nabi diangkat jadi Rasul atau sesudahnya.
Dalam pengertian tersebut tentu ada kesamaan antara hadis dan sunnah, yang sama – sama bersandar pada Nabi saw, tetapi terdapat kekhususan bahwa sunnah sudah jelas segala yang bersandar pada pribadi Muhammad baik sebelum atau sesudah diangkat menjadi Nabi, misalnya mengembala kambing, menikah minimal umur 25 tahun dan sebagainya.
Walaupun demikian terdapat perbedaan yang sebaiknya kita tidak berlebihan dalam menyikapinya. Sebab keduanya sama – sama bersumber pada Nabi Muhammad saw.
B. MACAM – MACAM HADIS
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan pengertian hadis. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa hadis itu ada yang berasal dari:
1. Perkataan Nabi saw, misalnya :
عن ابى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لايفرك مؤمن مؤمنة انكره منها خلقا رضى منها اخر اوقال غيره
“Dari Abu Hurairah ra. Katanya Rasulullah saw bersabda : “Jangan memarahi wanita mu’minah, jika kamu benci akan perangainya, niscaya ada pula yang menyenangkan daripadanya.
2. Perbuatan Nabi saw, misalnya :
عن الفضل ان رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يزل يلبى حتى بلغ الجمرة
“Dari Fadhal ra katanya. “Rasulullah saw senantiasa membaca talbiyah sehingga tiba waktu melontar jumrah “ ( HR. Muslim )
3. Ketetapan Nabi Saw misalnya
كنا نصلى ركعتين بعد غروب الشمس وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرانا ولم يأمرنا ولم ينهنا (رواه مسلم)
“ Adalah kami (para sahabat) melakukan sholat dua rakaat sesudah terbenamnya matahari ( sebelum sholat maghrib), Rasulullah saw, melihat apa yang kami lakukan dan beliau diam tidak menyuruh dan tidak pula melarang kami (HR. Muslim)
C. UNSUR – UNSUR HADIS
Dalam suatu hadis harus memenuhi 3 unsur. Dimana unsur tersebut dapat mempengaruhi tingkatan hadis, apakah hadis tersebut asli atau tidak. Unsur – unsur tersebut yaitu :
1. Matan, yakni sabda Nabi atau isi dari hadith tersebut. Matan ini adalah inti dari apa yang dimaksud oleh hadis, misalnya
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا (رواه الشيخان عن ابى موسى)
2. Sanad, yaitu sandaran atau jalan yang menyampaikan kepada matan hadith. Sanad inilah orang yang mengkabarkan hadis dari Rasulullah saw kepada orang yang berikutnya sampai kepada orang yang menulis atau mengeluarkan hadis, misalnya pada kitab Shohih Bukhari sebagai berikut :
حدثناابن سلام قال اخبرنامحمدبن فضيل قال حدثنا يحي بن سعيد عن ابى سلمة عن ابى هريرة قال : قال رسول الله ص م : من صام رمضان ايمانا واحتساباغفر له ما تقدم من ذنبه
Dari hadis diatas sanadnya adalah orang – orang yang menyampaikan matan hadis sampai pada Imam Bukhori, sehingga orang yang menyampaikan kepada imam bukhari adalah sanad pertama dan sanad terakhir adalah Abu Hurairah. Sedangkan Imam Bukhari adalah orang yang mengeluarkan hadis atau yang menulis hadis dalam kitabnya.
Para ahli hadis memberi penilaian terhadap shohih atau tidaknya dapat berdasarkan pada sanad tersebut. Jika terdapat salah satu sanad yang kurang memenuhi syarat maka dapat mengurangi atau bahkan dapat meragukan kesohihan hadis.
3. Rawi, yaitu orang yang meriwayatkan hadis.
Antara rawi dan sanad orang – orangnya sama, ya itu – itu saja. Misalnya pada contoh sanad, yaitu sanad terakhir Abu Hurairah adalah perawi hadis yang pertama, begitu seterusnya hingga kepada Imam Bukhari. Sedangkan Imam Bukhari sendiri adalah perawi hadis yang terakhir.
Untuk menyeleksi hadis yang sekian banyaknya dan pada waktu Nabi Muhammad saw masih hidup tidak banyak sahabat yang menulis hadis, dan penyampaian hadis Nabi SAW masih terbatas dari mulut ke mulut berdasarkan hafalan dan ingatan saja sampai pada masa khalifah Umar bin Abdul Azis tahun 99 – 101 H. Maka untuk menjaga keaslihan hadis diperlukan Perawi – Perawi hadis yang memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Perawi itu harus orang yang adil, arti adil dalam periwayatan hadis yaitu : muslim, baligh, berakal, tidak pernah melakukan dosa besar dan tidak sering melakukan dosa kecil.
2. Perawi itu harus seorang yang dabit}
Dhabith ini mempunyai dua pengertian yaitu :
a. Dabit} dalam arti bahwa perawi hadis harus kuat hafalan serta daya ingatnya dan bukan orang yang pelupa
b. Dabit} dalam arti bahwa perawi hadis itu dapat menjaga atau memelihara kitab hadis yang diterima dari gurunya sebaik – baiknya, sehingga tidak mungkin ada orang mengadakan perubahan didalamnya.
Adapun para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis yaitu :
v Abu Hurairah, beliau meriwayatkan hadis sebanyak 5374 buah hadis
v Abdullah bin Umar, beliau meriwayatkan hadis sebanyak 2630 buah hadis
v Anas bin Malik, beliau meriwayatkan hadis sebanyak 2286 buah hadis
v Aisyah Ummul Mukminin, beliau meriwayatkan hadis sebanyak 2210 buah hadis
v Abdullah bin Abbas, beliau meriwayatkan hadis sebanyak 1660 buah hadis
v Jabir bin Abdullah, beliau meriwayatkan hadis sebanyak 1540 buah hadis
v Abu Sa’id Al Khudri, beliau meriwayatkan hadis sebanyak 1170 buah hadis
Selain tujuh sahabat tersebut masih banyak yang meriwayatkan hadis tetapi tidak ada yang meriwayatkan hadis lebih dari seribu hadis. Para sahabat Nabi saw ini menjadi perawi hadis pertama dan sanad terakhir dan mereka inilah yang pada umumnya disebut sanad dalam hadis. Kemudian yang disebut perawi hadis terakhir adalah mereka yang membukukan hadis dalam kitab-kitabnya seperti, Muwatha’nya Imam Malik, Al Kutub Al Sittah, setelah itu sangat sulit untuk menemukan orang yang dapat dikatagorikan sebagai perawi hadis, atau mungkin tidak ada perawi yang muktabar.
D. FUNGSI HADIS
Setelah Al qur’a>n maka sumber hukum Islam adalah Al H{adi>th. Karena itu Al H{adi>th mempunyai fungsi, antara lain :
1. Menguatkan hukum – hukum yang terdapat dalam Al Qur’a>n Surat Al Baqarah:185. Ayat tersebut dikuatkan dengan hadis Nabi
حديث عبدالله بن عمر رضى الله عنهما ان رسول الله ص م قال: لاتصوموا حتى تروا الهلال ولاتفطروا حتى تروه فان غم عليكم فاقدروله (اخرجه البخارى)
“dari Abdullah Inb Umar Ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda Janganlah berpuasa sehingga kalian melihat hilal ( bulan sabit ) dan jangan berhari raya sehingga melihat hilal, jika tertutup awan mak perkirakanlah: (HR Al Bukhari )
(hadis lain diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya, hadis no 6331 dari Ibnu Umar; Sunan Al Nasai, hadis no 1180, dari Abu Hurairah; Sunan Ibn Majjah, hadis no 1600-1604 dari Abu Hurairah, bab Maja’a fi Shumu Liru’yatih; hadis yang selaras terdapat pada Bulughul Maram pada Kitabus Shiyam hadith no 671 yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Al Muslim ).
Hadis tersebut menguatkan Al Qur’a>n tentang penentuan awal Ramadan dan Awal shawwal, dengan demikian maka hukum penentuan awal Ramadan lewat melihat bulan menjadi kuat, tetapi juga memberi jalan keluar jika tidak dapat melihat bulan karena sesuatu hal, misalnya terhalang mendung atau yang lain, dapat juga menggunakan perhitungan seperti pada akhir hadis tersebut.
2. Menjelaskan hukum – hukum yang ada dalam Al qur’a>n.
Ayat Al qur’a>n ada yang hanya menerangkan sesuatu secara global atau garis besarnya, oleh sebab itu perlu di perjelas melalui hadis seperti Q/S/ Al Baqarah: 2 tentang shalat. Ayat tentang sholat itu garis besar, tentang tata cara pelaksanaannya di terangkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui hadis :
حديث ابي هريرة قال كان رسول الله ص م اذا قام الى الصلاة يكبر حين يقوم ثم يكبر حين يركع ثم يقال سمع الله لمن حمده حين يرفع صلبه من الركوع ثم يقول وهو قائم ربنا ولك الحمد ثم يكبر حين يهوى ثم يكبر حين يرفع راسه ثم يكبر حين يسجد ثم يكبر حين يرفع راسه ثم يفعل ذالك فى الصلاة كلها حتى يقضيها ويكبر حين يقوم من الثنتين بعد الجلوس (اخرجه البخرى)
“Hadis Abu Huraiorah RA berkata, Nabi SAW jika berdiri untuk sholat, maka takbir ketika berdiri, dan takbir ketika ruku’, dan membaca sami’ Allahu liman hamidah ketika mengangkat punggungnya dari ruku’, kemudian ketika berdiri membaca Rabbana wa laka hamdu. Kemudian takbir ketika akan sujud, kemudian takbir ketika bangun dari sujud, kemudian takbir ketika sujud kedua kali, kemudian takbir ketika bangun dari sujud, dan begitu beliau berbuat pada tiap rakaat sampai selesai, dan juga takbir ketika bangun dari rakaat kedua sesudah tasyahud”. ( Riwayat al Bukhori)
3. Menambah hukum yang belum ada dalam Al qur’a>n seperti, hukum memakai cincin emas dan pakaian sutra bagi lelaki ;
قال النبى ص م: هدان حرام على رجال آمتى وحلال لنسائهم (الحديث)
Artinya : Nabi SAW Bersabda ; Dua Perkara ini ( memakai cincin emas an pakaian sutra ) haram bagi umatku yang laki – laki dan halal bagi wanita (Al hadith)
E. CAKUPAN HADIS
Terdapat ribuan hadis yang tertulis dalam kitab – kitab hadis. Kesemua hadis tersebut menjadikan hampir semua perilaku manusia baik yang berhubungan dengan sang Pencipta, sesama manusia ataupun kepada alam sekitarnya sebagai pembahasan atau cakupan hadis. Misalnya
1. Aqidah atau Keimanan
Banyak hadis Nabi Saw yang menerangkan tentang Aqidah atau Keimanan, karena Aqidah ini merupakan dakwah Nabi yang pertama dan utama, diantaranya adalah :
عن ابي هريرة رضى الله عنه قال:كان النبي ص م بارزا يوما للناس فاتاه جبريل فقال: ما الايمان؟ قال الايمان ان تؤمن بالله وملائكته وبلفائه ورسوله وتؤمن بالبعث ..... اخرجه البخرى
Dalam riwayat muslim dari Umar Bin Khattab RA
...فاخبرنى عن الاءيمان قال ان تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الاخر وتؤمن بالقدرخيره وشره قال صد قت (رواه مسلم)
( Abu Dawud meriwayatkan hadis yang sama dalam Kitab Al Sunnah, hadis no 4695-4697, Al Turmudzi, kitab Iman hadis no 2610, Ibn Majjah, kitab al muqadimah Hadis no 763.)
Hadis tersebut menggambarkan dialog antara Nabi Muhammad dengan seseorang yang ternyata adalah malaikat Jibril, yang kemudian isi dialog tersebut memuat tentang rukun Iman. Yaitu iman kepada Allah swt, Malaikat-Nya, Kitab – kitab-Nya, Rasul-RasulNya, Hari Kiamat dan Qadla dan Qodar-Nya.
عن سالم بن عبد الله عن ابيه ان رسول الله ص م مر على رجل من الا نصاروهو يعظ اخاه فى الحياء فقال رسول الله ص م دعه فان الحياء من الايمان (رواه البخارى)
(Hadis yang lainnya yang menjelaskan al haya> ini antara lain Hadis yang diriwayatkan oleh al Tirmidzi, yang bersumber dari periwayatan Ibn Mas’ud. Sedangkan dalam riwayat Ibn Majah dari Abi Bakrah, dalam sunannya hadis no 4184)
Hadis tersebut menerangkan tentang rasa malu yang merupakan sifat yang utama. Ia merupakan bagian dari kesempurnaan iman, karena orang yang mempunyai sifat malu ini akan menjauhkan diri dari berprilaku kurang baik.
2. Hukum
Semasa Nabi Muhammad Saw masih mendampingi sahabat (hidup), maka semua persoalan yang terjadi dapat langsung ditanyakan kepada Nabi Saw. Terlebih lagi masalah hukum, antara lain :
عن عائشة رضى الله عنها عن النبىص م تقطع يد السارق فى ربع دينار(اخرجه البخارى)
( Hadis yang senada dengan hadis tersebut adalah riwayat Ibn Majjah dalam kitab sunannya, hadis no 2585, bab Had Al Sa>riq. Abu Dawud dalam sunannya hadis no. 4383, bab Ma Yaqtha’u fihi Yad al Sa>riq, Al Tirmidzi dalam kitab sunannya hadis no 1445. Ahmad dalam Musnadnya hadith no 24779, juz IV. )
Hukum potong tangan ini merupakan sebagaian dari perundang-undangan Islam untuk menegakkan masyarakatnya, terutama dalam memuliakan harta mereka. Bagi mereka yang membenci Islam hukum ini dianggap melanggar hak asasi manusia, tetapi jika aturan hukum ini ditegakkan justru memberi dampak yang besar terhadap pendidikan kejiwaan masyarakat untuk tidak menganggu harta orang lain secara bathil, sebab itu juga melanggar hak asasi manusia.
عن عائشة رضىالله عنها عن النبىص م قال: كل شراب اسكر فهو حرام (اخرجه البخارى)
“ Dari Aisyah RA, Nabi SAW Bersabda : Tiap minuman yang memabukkan maka itu haram.” HR Buhkari.
Hadis tersebut menjelaskan tentang hukum haram untuk segala minuman atau makanan yang dapat menghilangkan akal sehat manusia. Karena disinilah letak perbedaan atara manusia yang beriman dengan yang tidak beriman.
Dan masih banyak lagi hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang hukum, yang mana jika semua Negara menerapkan hukum tersebut maka akan tercipta perdamaian yang sesungguhnya.
3. Ibadah dan Muamalah
Nabi Muahammad Saw adalah tauladan dan panutan manusia di dunia ini. Untuk itu dalam beribadah atau berhubungan sesama manusia atau yang laiannya, maka Nabi Saw memberikan contoh untuk di ikuti antara lain :
حديث ابي هريرة قال كان رسول الله ص م اذا قام الى الصلاة يكبر حين يقوم ثم يكبر حين يركع ثم يقال سمع الله لمن حمده حين يرفع صلبه من الركوع ثم يقول وهو قائم ربنا ولك الحمد ثم يكبر حين يهوى ثم يكبر حين يرفع راسه ثم يكبر حين يسجد ثم يكبر حين يرفع راسه ثم يفعل ذالك فى الصلاة كلها حتى يقضيها ويكبر حين يقوم من الثنتين بعد الجلوس (اخرجه البخرى)
Hadis tersebut memberikan penjelasan kepada umat Nabi SAW tentang tata cara sholat. Dimana sholat merupakan salah satu cara beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
عن عبدالله بن عمر رضى الله عنه ان رسوالله ص م نهى بيع الثمار حتى يبدو صلاحها،نهى البائع والمبتاع اخرجه البخارى
Hadis tersebut menjelaskan sebagaian cara berjual beli. Dan masih banyak lagi hadith Nabi SAW yang menjelaskan tentang muamalah, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap makhluk Allah SWT.
4. Politik dan Kemasyarakatan
عن عبدالرحمن بن سمرة قال:قال النبى ص م : يا عبدالرحمن ابن سمرة لاتسال الامرة فانك ان اوتيتها عن مسئلة وكلت اليها وان اوتيتها غير مسئلة اعنت عليها اخرجه البخارى
“dari Abdurrahman Ibn Samurah RA berkata: Nabi SAW bersabda: Ya Abdurrahman bin samurah, janganlah anda melamar (meminta) jabatan pimpinan, sebab jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu maka akan diserahkan sepenuhnya, sebaliknya jika jabatan itu diserahkan kepadamu tanpa permintaanmu, maka akan dibantu untuk mengatasinya. HR Al Bukhari
Demikian hadis yang menjelaskan tentang bagaimana politik yang baik dalam pemerintahan, sehingga dalam menjalankan amanah akan benar – benar menjalankan sepenuh hati. Serta dalam hadis yang lain masih banyak lagi seperti yang diriwayatkan Abu Dawud dalam kitab Sunannya hadis no 2929, 3277, 3278. At Tirmidzi dalam sunannya Hadis no 1529 Bab Kitab Al Iman wa Al nudzur, Ibn Majjah dalam kitab Sunannya hadis no 2309, Bab Dhikr al Qadla.


KESIMPILAN
Dari uraian singkat pada dapatlah kiranya kami simpulkan sebagai berikut
1. Al H{adi>th adalah Segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat – sifat maupun hal ikhwal Nabi, sedangkan Al Sunah adalah Segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, baik sebelum Nabi diangkat jadi Rasul atau sesudahnya.
2. Hadis dapat terjadi karena perkataan, perbuatan ataupun ketetapan Nabi Muhammad saw.
3. Unsur – unsur hadis adalah Matan, Sanad dan Rawi
a. Matan adalah Isi dari Hadis
b. Sanad adalah sandaran atau jalan yang menyampaikan kepada matan hadis
c. Rawi adalah orang yang meriwayatkan hadis.
4. Diantara fungsi hadis antara lain, Menguatkan hukum – hukum yang terdapat dalam Al Qur’a>n, Menjelaskan hukum – hukum yang ada dalam Al qur’a>n, Menambah hukum yang belum ada dalam Al qur’a>n
5. Cakupan hadis adalah semua aspek kehidupan manusia antara lain, aqidah dan keimanan, hukum, ibadah dan muamalah serta politik dan kemasyarakatan

http://referensiagama.blogspot.com/januari/2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar