Sabtu, 15 Januari 2011

PEMIKIRAN AL GHOZALI DAN PENGARUHNYA DALAM DUNIA ISLAM


PEMIKIRAN AL GHOZALI DAN PENGARUHNYA DALAM DUNIA ISLAM
by Sariono Sby

PENDAHULUAN
Sosok Al-Ghazali adalah sosok sejuta wajah. Ia berhasil menguasai berbagai disiplin ilmu secara mendalam pada saat yang bersamaan. Suatu prestasi tersendiri.
Kemunculan Imam Al-Ghazali dalam pertarungan pemikiran di dunia Islam boleh dikatakan kontroversial, di mana sekian banyak pemikir memuja beliau, namun tak kurang pula yang mengkritik dan mengecamnya. Al-Ghazali adalah lautan yang terbentang luas, Al-Ghazali bagaikan Al-Syafi'i kedua, Hujjatul Islam, dan maha guru dari para guru.
Demikianlah pujian-pujian yang dilontarkan oleh para pengagumnya dari kalangan ulama terdahulu seperti Ibn Hajar, Ibn Katsir, Imam Muhammad ibn Yahya dan lain-lain. Dari kalangan ulama kontemporer, Abul Hasan Ali Al-Nadawi, seorang ulama besar asal India mengatakan, "Al-Ghazali adalah seorang pemikir yang cemerlang, cendekiawan yang agung serta tokoh reformasi yang telah berusaha membangun kembali konstruksi baru bidang pemikiran dalam dunia Islam".
Selain Al-Nadawi, banyak lagi ulama dan intelektual kontemporer sebagai pengagum Al-Ghazali, antara lain adalah Mushtafa Al-Maraghi (mantan Syaikh Al-Azhar), Abul A'la Al-Maududi dan Ahmad Fuad Ahwani.
Dari sekian banyak pengagum dan pembela Al-Ghazali, tidak sedikit pula pengkritik dan pengecamnya dari dulu hingga sekarang. Yang sangat keras mengecam Al-Ghazali dari kalangan ulama dahulu antara lain Abu Bakar Al-Maliki, Ibn Shalah, Ibn Jauzi dan banyak lagi yang lainnya.
Adapun dari kalangan intelektual kontemporer yang sangat keras mengecam beliau adalah dari kelompok rasionalis Islam, kaum Mu'tazilah dan terutama dari para ahli filsafat Islam.
PEMBAHASAN
1. Latar Belakang Kehidupan
Nama lengkap al-Ghazali adalah Abu Hamid Zayn al-Din Muhammad Ibn Muhammad ibn Ahmad al-Ghazali al-Thusi. Ia dilahirkan pada tahun 450H/1058M, di Thus, yaitu kota kedua dipropinsi khurasan (Iran) setelah Naysapur. Julukan al-Ghazali di ambil kata “Ghazzal” yang berarti pemintal benang. Nama tersebut dinisbahkan kepada pekerjaan orang tuanya, karena ayah al-Ghazali adalah seorang pemintal benang wol yang hasilnya di jual sendiri di pasar kota Thus. Ada pula yang mengatakan bahwa nama ghazali diambil dari nama kampung kelahirannya.
Ayah al-Ghazali terkenal sebagai seorang muslim yang sholeh, yang tidak mau makan makanan kecuali dari hasil usahanya sendiri yang halal, sebagai pemintal benang dari bahan (wol/shuf) disamping itu ia juga banyak belajar mendengarkan pengajian pengajian tentang fiqih, dan banyak berbicara masalah fiqih dengan para ahli fiqih. Karena cintanya pada ilmu pengetahuan itulah, maka pada suatu waktu menangis sehabis mendengarkan pengajian keislaman, kemudian ia memohon kepada Allah agar anaknya kelak menjadi seorang ahli fiqih, ternyata doa ayah tersebut didengar dan dikabullkan Allah, yakni pada akhirnya al-Ghazali menjadi seorang ulama’ besar dalam bidang ilmu keislaman seperti, fiqih, ushul fiqih, filsafat, ilmu kalam, ilmu akhlak dan tasawuf.
Sejarah belum banyak memmberikan informasi tentang pribadi dan sifat-sifat ayah al-Ghazaliy kecuali sikap yang tulus untuk mengabdikan dirinya kepada agama dan ilmu pengetahuan. Nampaknya perasaan dan kecintaan yang menggelora ingin mencapai tingkat keluhuran ilmu dan budi pekerti inilah yang telah di warisi al-Ghazali dari ayahnya.
Ayah al-Ghazali wafat ketika al-Ghazali dan saudara kandungnya, Ahmad sedang dalam usia pertumbuhan dan perkembangan sebagai anak. Kemudian, al-Ghazali dan Ahmad dipelihara oleh seorang sufi salah seorang sahabat karib ayahnya, karena sebelum wafat ayah al-Ghazali berwasiat kepada sufi tersebut untuk memelihara kedua anaknya. Dengan berbekal sidikit warisan yang telah ditinggalkannya untuk memelihara dan mendidik al-Ghazali dan saudaranya.

2. Riwayat Pendidikan dan Karir Intelektual al-Ghazali
Pada waktu di asuh oleh guru sufi yang menjadi sahabat karib ayahnya tersebut, al-Ghazali, sudah diajari membaca dan menulis. Pada waktu dimasukkan ke sebuah madrasah di Thus, al-Ghazali mulai belajar fiqih al-Syafi’iy dan Theologi al-Asy’ari dari seorang guru yang bernama Ahmad Ibnu Muhammad al-Razakani al-Thusiy. Inilah awal mula Imam al-Ghazali bergumul dalam dunia ilmu pengetahuan yang digeluti hingga akhir hayatnya.
Dalam usianya yang belum mencapai dua puluh tahun, al-Ghazali melanjutkan studinya ke Jurjan, yang mempunyai madrasah yang lebih besar di bawah pimpinan serang ulama bernama Abu Nashr al-Isma’iliy. Selain belajar ilmu agama, ia juga giat belajar bahasa arab dan persi di madrasah tersebut. Tidak diketahui berapa lama dia berada di Jurjan itu, lalu al-Ghazaliy kembali ke Thus selama tiga tahun dan menghabiskan waktunya untuk mengulang kembali pelajaran yang telah didapatkannya. Selama itu pula ia sempat mempelajari tasawuf dari seorang sufi yang bernama Yusuf al-Nassaj. Sesudah itu, al-Ghazali berangkat ke Naisapur bersama beberapa rekannya untuk berguru kepada Abu al-Ma’ali al-Juwaini (W.478H).
Seorang tokoh dari madzhab al-Syafi’iy dan al-Asy’ariy yang memimpin perguruan ringgi al-Nizhamiyah pada waktu itu.
Di perguruan ini, potensi intelektual al-Ghazali tumbuh dengan suburnya, dan di situ ia berkesempatan untuk mengembangkan potensi tersebut dnegan mempelajari berbagai macam bidang ilmu pengetahuan seperti: fiqih, ushul fiqih, teologi, logika, filsafat, metode berdiskusi dan berbagai macam ilmu pengetahuan lain yang menjadikannya sebagai seorang tokoh yang mengerti berbagai macam ilmu pengetahuan. Kecerdasan al-Ghazali ini diakui oleh gurunya, sehingga ia dijuluki “Bahr al-Mughriq” (samudra yang menenggelamkan). Al-Ghazali memulai karirnya dalam bidang tulis menulis dengan menulis sebuah karya tulis dalam bidang bidang ushul fiqih yaitu al-Makhluk milhu-al-ushul. Hal ini sangat menggembirakan gurunya imam al-Haramyu al- Juwainiy, karena pada dsarnya al mankhul merupakan sistematika dari kitab ushul fiqih al-Burhan yang telah ia tulis. Disini pula al-ghazali belajar tasawuf secara teori dan praktek kepada seorang sufi terkemuka yang bernama Abu ‘Aliy Fadhil Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad ibn ‘Aliy al-Farmadi. Dengan demikian, selama di Naisapur, al-Ghazali benar-benar menjadi seorang intelek paripurna dengan menguasai berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, ditambah dengan kemampuannya berdiskusi sehingga tak heran para cendekiawan waktu itu menjulukinya dengan sebutan” Hujjatul Islam” (Argomentator Islam).
Pada tahun 478H/1085M, al-Ghazali meninggalkan kota Naisapur dan pergi menuju Mu’askar sepeninggal guru yang sangat ia cintai dan hormati, ia ikut bergabung dalam majlis seminar yang didirikan oleh Nizham al-Mulk, perdana mentri saljuk pecinta ilmu dan ulama. Kehadiran al-Ghazali di majlis ilmiah itu disambut gembira oleh Nizham al-Mulk yang selalu hadir dalam setiap analisis dan kehebatan argumentasinya, sehingga para ulama disana mengakui kehebatan. Sehingga ia menjadi imam atau panutan para intelek dan ilmuwan di wilayah Khurasan waktu itu. Setelah melihat reputasi yang gemilang tersebut akhirnya al-Ghazali diangkat menjadi guru besar sekaligus direktur pada perguruan al-Nizhamiyah di Baghdad pada tahun 484H/1091M. Dan perguruan ini sudah berdiri sejak tahun 458H/1065M.
Pada waktu al-Ghazali menghadiri penobatan khalifah al-Muntashir billah pada th 487H. Ia diminta untuk menulis karya untuk menghantam aliran Bathiniyah yang sedang mengadakan serangkaian pemberontakan yang sangat menghawatirkan pemerintah waktu itu. Al-Ghazali pun memenuhi permintaan tersebut dengan menulis karya yang berjudul Fadha’ih al-Bathinniyyat wal-Fadha’il al-Mustazhhiriyat (kejelakan paham bathiniyah dan keutamaan paham lahiriyah).
Tak lama setelah itu, tepatnya pada tahun 488H/1095M al-Ghazali mendadak meninggalkan baghdad menuju Damaskus dan meninggalkan gaya hidup yang penuh gemerlap dan kemewahan ketika berada di Baghdad, dan disana ia berusaha untuk hidup zuhud dengan meninggal segala bentuk duniawiyah, banyak pendapat beredar seputar tindakan al-Ghazali meninggalkan kota Baghdad secara mendadak tersebut. antara lain bahwa al-Ghazali ketakutan terhadap gerakan yang dilancarkan oleh kalangan Bathiniyah yang sedang mengadakan pembantaian terhadap para ulama dan penguasa, karena ia telah menulis karya yang memojokkan aliran tersebut. Akan tetapi menurut pengakuan al-Ghazali sendiri sebagaimana termuat dalam karyanya al-Munkidz min-al-Dhalal, bahwa kepergiannya tersebut adalah untuk mengobati kegundahan hatinya dan mencari sebuah keyakinan yang hakiki yang tidak didapatkan melalui indra maupun akal.
Kehidupan sufi tersebut dijalani al-Ghazali selama 10 tahun sejak meninggalkan Baghdad hingga tahun 499H/11105M. Kemudian ia kembali lagi ke Naisapur pada tahun 499H/1106M. Dan menjadi guru besar lagi disana atas permintaan fakhr al-Mulk. Ia mulai mengajar tasawuf kepada murid-muridnya dan untuk itu ia mendirikan khanaqah-khanaqah disekitar tempat tinggalnya.
Untuk dijadikan tempat berlatih menyucikan diri dan beribadah kepada Allah SWT. Menurut al-Ghazali puncak keimanan adalah kasyf (membuka tabir) dan musyahadah (menyaksikan) dengan nur (cahaya) kalbu, sehingga datanglah keyakinan dan hilanglah keraguan. Sedang akal adalah potensi manusia yang membedakan dari binatang dan menjadi alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan memahami wahyu. Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa keimanan kepada Allah tidak cukup hanya dengan tashdiq (membenarkan) atau i’tiqad (menyakini) semata, tetapi harus ditingkatkannya menjadi musyahadah dengan kalbu atau hati.
Al-Ghazali wafat pada tanggal 14 Jumadil Aakhir 505 H/19 Desember 1111 M dan dimakamkan di Thus propinsi Khurasan (Iran).

3. Keadaan Sosial dan Politik Pada Masa al-Ghazali
Setengah abad dari usia al-Ghazali dilaluinya dalam abad ke 5 H. dan hanya kurang lebih 5 tahun dia sempat menikmati udara abad berikutnya, itulah masa hidup al-Ghazali yang dihabiskan beberapa lama di Khurasan, Iran (tempat kelahiranya dan pendidikannya). Baghdad , Irak ( tempat puncak kelahiran intelektualnya). Damaskus, al-Quds, Mekkah, Madinah serta kota-kota lain tempat persinggahan dalam pengembaraannya yang penjang untuk memenuhi tuntutan spritualnya.
Pada masa al-Ghazali hidup, ditinjau dari kondisi politik, di dunia Islam bagian timur, secara de jure eksistensi dinasti Abbasiyah di Baghdad masih diakui, tetapi secara de facto kekuasaan efektifnya berada ditangan para sultan yang membawahi wilayah tersebut, dengan beberapa daerah kesultanan yang independen. Dinasti saljuk yang didirikan oleh sultan Thugril Beek (1037-1063M). Sempat berkuasa didaerah-daerah Khurasan, Ray, Irak, Persia dan daerah-daerah lain disekitarnya selama 90 tahun lebih antara tahun 429-522H/1037-1127M. Kota baghdad dikuasainya pada tahun 1055M. Tiga tahun sebelum al-Ghazali lahir. Dinasti Saljuk mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan sultan Alp Arsalan (1063-1072M) dan sultan Malik Syah (1072-1092 M) dengan wazirnya yang terkenal yang bernama Nizham al-Mulk (1063-1092M). Sesudah itu dinasti saljuk mengalami kemunduran akibat dari gerakan politik bawah tanah yang berbajukan agama, yakni gerakan Bathiniyah.
Pada masa al-Ghazali hidup, bukan hanya disintegrasi dalam bidang poltik umat Islam yang terjadi, tetapi juga dalam bidang sosial keagamaan. Umat Islam terpilah-pilah menjadi beberapa golongan madzhab faqih dan aliran teolgi dan masing-masing dengan tokohnya yang dengan sadar menanamkan fanatisme golongan kepada umat. Hal ini juga dilakukan oleh penguasa yang dengan semena-mena memaksakan faham tertentu kepada rakyatnya.
Konflik sosial yang terjadi dikalangan umat Islam pada masa al-Ghazali sebenarnya merupakan warisan masa lalu yang terus berlanjut hingga abad-abad selanjutnya, karena memang diantara para intelek tidak ada kesamaan pandangan, mestinya paling tidak, mereka tidak saling memaksakan kehendak atau faham tertentu kepada masyarakat lainnya. Sebab dengan adanya pemaksaan seperti itu, perbedaan pendapat dikalangan masyarakat grass-root semakin runcing dan benih-benih perpecahan semakin subur.
Memang diakui, bahwa para penguasa pada waktu itu sangat menjungjung tinggi ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, para ulama’ kemudian saling berkompetisi dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Sayangnya, tujuan mereka bukan hanya untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, akan tetapi juga untuk mendapatkan simpati dari penguasa yang selalu memantau kemajuan mereka guna direkrut untuk jabatan-jabatan intelektual yang menggiurkan. Dalam hal ini besar sekali peranan wazir dinasti Saljuk yaitu Nizham al-Mulk, yang sampai berani mengeluarkan 600.000 dinar emas dari pembendaharaan negara selama setahun guna kepentingan pengembanagn ilmu pengetahuan yang berpusat di madrasah-madrasah yang telah didirikannya.
Anggaran dana sebesar itu dipergunakan untuk memberi beasiswa kepada para pelajar dan gaji guru-gurunya. Disamping itu Nidzam al-Mulk juga mendirikan lembaga-lembaga seminar tempat para intelektual bertukar pendapat. Tetapi usaha pengembangan ilmu ini lebih di arahkan oleh penguasa guna mengantisipasi pengaruh pemikiran filsafat dan kalam mu’tazilah yang mereka anggap menyesatkan karena telah menerima kebenaran pemikiran filsafat secara mutlak hingga mengabaikan ajaran – ajaran agama.
Dalam situasi dan kondisi seperti inilah al-Ghazali lahir dan berkembang menjadi seorang pemikir agung dan terkemuka dalam sejarah dunia intelektual Islam.

4. Sumbangsih al-Ghazali dalam Dunia Ilmu Pengetahuan
Sebagaimana telah dipaparkan diatas bahwa al-Ghazali merupakan intelektual yang luar biasa. Ia menguasai berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan secara mendalam. Modal yang dimilikinya tersebut disalurkan dalam bentuk produktivitas yang sangat tinggi dalam bidang tulis menulis. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya tulis yang bertebaran mengenai berbgai macam ilmu keislaman meliputi; filsafat, ilmu kalam, fiqih, ushul fiqih, tafsir, tasawuf, dan ilmu lainnya.
Dalam berbagai macam leteratur disebutkn bahwa karya al-Ghazali mencapai ratusan buah akan tetapi penulis hanya dapat menelusuri beberapa buah karyanya yang dapat digolongkan sebagai berikut:
Pertama Ihya’ Ulum al-Din. Kitab ini menurut Abu Bakar ibnu Arabi, salah seorang muridnya disusun diawal masa ia melakukan uzlah (pengasingan diri). Disebutkan bahwa Abu Bakar bertemu dengan al-Ghazali di madrasah al-Salam pada bulan Jumadil Akhir tahun 490H. Al-Ghazali saat itu telah melakukan riyadhah (olah batin) ala tarekat sufinya sejak tahun 485H. Dan ia belajar kepadanya tentang kitab yang dinamakan Ihya’ Ulum al-Din.
Adapun faktor yang melatar belakangi disusunnya kitab tersebut menurut Abd. Al-Halim Mahmud berikut tujuan yang akan dicapainya serta subtansi isinya adalah keikhlasan. Konon disebutkan bahwa seorang sahabatnya meminta wasiat kepadanya menjelang wafatnya ia menjawab dengan kalimat “anda harus ikhlas”. Kalimat itu ia ulang-ulang sampai ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Bahkan menurut pengakuannya sendiri ia pernah melihat dirinya tidak ikhlas , cita-citanya.semuanya dimaksudkan untuk mencari popularitas jabatan. status sosial dan mencari muka dihadapan pejabat lalu ia berontak dan menceburkan diri kedalam lautan ikhlas.
Lebih dari itu al-Ghazali melihat bahwa setan telah menguasahi kebanyakan masyarakat. Agama dalam pandangan ulama’nya apalagi yang lain hanya merupakan fatwa pemerintah atau perdebatan untuk menyerang dan mencari menang atau merupakan ungkapan –ungkapan yang indah yang dijadikan sarana para dai dan muballigh untuk menarik perhatian masyarakat. Pada sisi lain al-Ghazali ingin mengembangkan keikhlasan kedalam kalbu-kalbu masyarakat dan menjadikannya sebagai asas dan syiar sebagaimana yang telah dilakukan generasi awal Islam. Tidak syak lagi bahwa keikhlasan beragama kepada Allah SWT, semata adalah tauhid dan tauhid adalah inti agama Islam. Karakteristik, tujuannya dan sasarannya. Semua ini faktor-faktor yang melatar belakangi disusunnya Ihya’ Ulum al-Din.
Kitab Ihya’ Ulum al-Din ini terdiri empat bagian. Bagian pertama masalah ibadah, bagian kedua muamalah, dan ketiga perusak manusia serta bagian keempat bagian penyelamat. Bagian pertama yakni bagian ibadah menjelaskan mengenai tatakrama beribadah. Sunah-sunahnya dan rahasia-rahasia yang dibutuhkan untuk diketahui mulai dari aspek aspek keikhlasan didalamnya dan penempatan pada asas-asas yang dicintai Allah SWT dan Rasullnya.
Pada bagian kedua yakni mu’amalah, dijelaskan rahasia-rahasia perdata yang berlangsung ditengah-tengah masyarakat dan detail-detail semalunya serta pentingnya kewaraan didalamnya yang diperlukan orang yang taat menjalankan ajaran-ajaran agama. Sementara bagian ketiga, yaitu perusak membicarakan tentang akhlak tercela, penyebab-penyebabnya dan bahaya yang ditimbulkan serta menjelaskan cara-cara pengobatannya sehingga kalbu manusia bersih darinya. Pada bagian terakhir yaitu bagian penyelamat dijelaskan mengenai prilaku yang terpuji dan sarana – sarana yang dapat mengantarkan kepadanya berikut mamfaat yang dapat diperoleh dari prilaku yang terpuji tersebut.
Samua bagian itu dimulai dengan menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an, hadith-hadith Nabi Muhammad SAW. Dan atsar sahabat Nabi dan tabi’in serta hikayat-hikayat orang-orang sholeh sebagai pendukungnya ayat dan hadith yang dikemukakannya.
Kitab kedua adalah Tahafut al-Falasifah. Kitab ini dimaksudkan untuk memberi gambaran bahwa akal manusia semata dalam mencari hakikat dan usaha mencapainya adalah seperti serangga mencari sinar siang ia tertipu jika melihat cahaya ia melemparkan diri kedalamnya. Lalu kebingungan didalamnya. Manusia keliru dan tertipu dengan ukuran logika yang tidak tepat., akibatnya binasa sebagaimana biasanya serangga tersebut. Jelasnya al-Ghazali ingin mengatakan bahwa para filusuf itu tertipu, dalam beberapa hal, mereka terlalu cepat menggapainya tampa berpikir panjang, lalu mereka kebingungan dan binasa selamanya.
Tujuan utama kitab ini tidak untuk merontokkan pandangan-pandangan para filusuf itu sendiri, sebab menurutnya sebagian dari pandangan itu adalah benar dan sesuai dengan ajaran agama seperti ilmu hitung/ matematika. ilmu ukur dan ilmu alam. Akan tetapi yang diinginkan adalah merontokkan rasionalismenya yang dikaitkan dengan ilmu agama yang melibatkan misalnya tidak percaya kepada kebangkitan jasmani di akhirat, mengingkari jasmani disorga dan menolak penderitaan jasmani di neraka.
Al-Ghazali ingin menetapkan bahwa akal manusia itu jika tidak mnjadikan wahyu sebagai pembimbing dan penuntun dalam kaitannya dengan metafisika tidak akan mampu utnuk mencapai pengetahuan yang benar, karena metafisika tidak dapat di observasi dan dilakukan eksprimen yang berdiri bukan wilayah akal, akan tetapi merupakan wilayah wahyu.
Kitab ketiga yang penting adalah al- Ijtishad fi al-I’tiqad. Kitab ini merupakan suatu karya kalam yang ditulis untuk mempertahankan akidah ahlusunnah secara rasional. Kitab ini membicarakan tentang keesaan Allah. Sifat-sifat dan perbuatan-perbuatannya, sekaligus mengakal beberapa pandangan mu’ tazilah. Kitab keempat adalah al-Risalah al-Qudsiyyah kitab ini menyajikan ilmu kalam berikut dalil dalilnya baik dari nash maupun dari akal secara ringkas dan tidak mendalam.
5. Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan
Al-Ghazali adalah orang yang banyak mencurahkan perhatiannya terhadap bidang pengajaran dan pendidikan. Oleh karena itu ia melihat bahwa ilmu itu sendiri adalah keutamaan dan melebihi segala-galanya. Oleh sebab itu menguasai ilmu baginya termasuk tujuan pendidikan dengan melihat nilai-nilai yang dikandungnya dan karena ilmu itu merupakan jalan yang akan mengantarkan anda kepada kebahagiaan di akhirat serta sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Oleh karena itu ia menyimpulkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampi akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap di mana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat. Maka sistem pendidikan itu haruslah mempunyai filsafat yang mengarahkan kepada tujuan yang jelas.
Mengingat pendidikan itu penting bagi kita, maka al-Ghazali menjelaskan juga tentang tujuan pendidikan, yaitu :
a. Mendekatkan diri kepada Allah, yang wujudnya adalah kemampuan dan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib dan sunah.
b. Menggali dan mengembangkan potensi atau fitrah manusia.
c. Mewujudkan profesionalitas manusia untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya.
d. Membentuk manusia yang berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela.
e. Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama, sehingga menjadi manusia yang manusiawi.
Bertolak dari pengertian pendidikan menurut al-Ghazali, dapat di mengerti bahwa pendidikan merupakan alat bagi tercapainya suatu tujuan. Pendidikan dalam prosesnya memerlukan alat, yaitu pengajaran atau ta’lim. Sejak awal kelahiran manusia sampai akhir hayatnya kita selalu bergantung pada orang lain. Dalam hal pendidikan ini, orang (manusia) yang bergantung disebut murid sedangkan yang menjadi tempat bergantung disebut guru. Murid dan guru inilah yang disebut sebagai subyek pendidikan.
Oleh karena itu arahan pendidikan al-Ghazali menuju manusia sempurna yang dapat mendcapai tujuan hidupnya yakni kebahagiaan dunia dan akhirat yanghal ini berlangsung hingga akhir hayatnya. Hal ini berarti bahwa manusia hidup selalu berkedudukan sebagai murid.
Manusia adalah subyek pendidikan, sedangkan pendidikan itu sangat penting bagi manusia, maka dalam pendidikan itu harus diperhatikan tentang kurikulumnya. Kurikulumnya pendidikan menurut al-Ghazali adalah materi keilmuan yang disampaikan kepada murid hendaknya secara berurutan, mulai dari hafalan dengan baik, mengerti, memahami, meyakini, dan membenarkan terhadap apa yang diterimanya sebagai pengetahuan tanpa memerlukan bukti atau dalil. Sehingga dengan pentahapan ini melahirkan metode khusus pendidikan, menurut al-Ghazali yaitu :
a. Metode khusus pendidikan agama
Menurut al-Ghazali metode ini pada prinsipnya di mulai dengan hafalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterangan yang bisa menunjang penguatan akidah.
b. Metode khusus pendidikan ahklak
Akhlak menurut al-Ghazali adalah : suatu sikap yang mengakar dalam jiwanya yang melahirkan berbagai perbuatan tanpa adanya pertimbangan dan pemikiran terlebih dahulu.
Dengan adanya metode tersebut, maka al-Ghazali menyimpulkan bahwa pendidikan itu harus mengarah kepada pembentukan akhlak mulia, sehingga Ia menjadikan al-Qur’an sebagai kurikulum dasar dalam pendidikan. Ia juga menyimpulkan bahwa tujuan akhir pendidikan dan pembinaan itu ada dua yaitu :
a. Kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah.
b. Kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
6. Pengaruh Al-Ghazali Terhadap Dunia Islam
Al-Ghazali adalah seorang pemikir yang cemerlang, cendekiawan yang agung serta tokoh reformasi yang telah berusaha membangun kembali konstruksi baru bidang pemikiran dalam dunia Islam. Utamanya pengaruh dan ajaran tasawuf al-Ghazali telah mendapatkan tempat yang lebih istimiwa dikalangan umat Islam selepas kematiannya. Kitab-kitab beliau telah dijadikan contoh dan petunjuk bagi golongan sunni, terutama dalam bidang Tasawuf dan Akhlaq. Hal ini adalah merupakan pengaruh positif al-Ghazali terhadap dunia Islam.
Disamping itu, Al-Ghazali telah melakukan kesalahan besar terhadap perjalanan sejarah Islam karena dalam memberikan solusi terhadap problematika umat, lebih cenderung mengajak mereka untuk memasuki jalan tasawuf yang mengabaikan kehidupan dunia dan menghambat kemajuan masyarakat karena tenggelam dalam mencari kebahagiaan yang bersifat pribadi dan individualistis.
Lebih dari itu, ahli filsafat Islam berpendapat bahwa pemikiran Al-Ghazali menjadi starting point dari kemunduran peradaban Islam. Yaitu berawal dari diluncurkannya suatu karyanya yang spektakuler yang berjudul Tahafut al-Falasifah. Karya ini dianggap tidak hanya menghancurkan filsafat metafisika, akan tetapi juga turut andil melemahkan umat Islam dalam mengadakan riset dan penemuan baru di bidang natural science atau ilmu pengetahuan alam.
Dari pandangan tersebut sebetulnya, Al-Ghazali tidak serta merta menolak filsafat tetapi hanya menolak sebagian kecil saja, misalnya keabdian alam.
KESIMPULAN
Menurut al-Ghazali puncak keimanan adalah kasyf (membuka tabir) dan musyahadah (menyaksikan) dengan nur (cahaya) kalbu, sehingga datanglah keyakinan dan hilanglah keraguan. Sedang akal adalah potensi manusia yang membedakan dari binatang dan menjadi alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan memahami wahyu.
Pada masa al-Ghazali hidup, bukan hanya disintegrasi dalam bidang poltik umat Islam yang terjadi, tetapi juga dalam bidang sosial keagamaan. Umat Islam terpilah-pilah menjadi beberapa golongan madzhab faqih dan aliran theolgi dan masing-masing dengan tokohnya yang dengan sadar menanamkan fanatisme golongan kepada umat. Hal ini juga dilakukan oleh penguasa yang dengan semena-mena memaksakan faham tertentu kepada rakyatnya.
Al-Ghazali merupakan intelektual yang luar biasa. Ia menguasai berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan secara mendalam. Modal yang dimilikinya tersebut disalurkan dalam bentuk produktivitas yang sangat tinggi dalam bidang tulis menulis. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya tulis yang bertebaran mengenai berbgai macam ilmu keislaman meliputi; filsafat, ilmu kalam, fiqih, ushul fiqih, tafsir, tasawuf, dan ilmu lainnya.
Bahwa pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia yang bertujuan membentuk insan kamil untuk menjadi khalifah di bumi. Dan dengan adanya pendidikan ini diharapkan manusia mampu mencapai tujuan hidupnya di dunia dan akherat, dan hidup yang berpedoman al-Qur’an dan Hadith.

1 komentar: