Kamis, 27 Januari 2011

ONTOLOGI ILMU PENGETAHUAN


ONTOLOGI ILMU PENGETAHUAN
by sariono sby

PENDAHULUAN

Manusia akan selalu mencari kebenaran karena mempunyai tujuan yang lebih tinggi dari sekedar hidupnya. Hal inilah yang menyebabkan manusia itu selalu mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga mendorong manusia menjadi makhluk yang mampu berfikir dan menalar.
Dengan perkembangan alam pikiran dan kesadarannya, manusia selau berusaha mencari kebenaran tentang dirinya sendiri dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Salah satu mencari kebenaran adalah dengan berfilsafat. Filsafat pada umumnya mencari pengertian menurut akar dan dasar terdalam. Filsafat tidak sanggup mengandaikan apa – apa dan belum menerima apa – apa seakan – akan sudah terbukti. Namun penyelidikan ini tidak pertama – tama berciri genetis, tidak mulai dengan menyelidiki dari mana segala – galanya, atau dengan bertanya kenapa ada sesuatu.
Juga Aristoteles berttik tolak dari kenyataan yang tersedia, yang telah ditemukan sebagai data. Menurut on ini atau itu memang tidak selalu ada, dan yang satu disebabkan oleh yang lainnya, tetapi secara global ta onta ( yaitu bentuk jamak kata to on ) senantiasa ada. Aristoteles tidak pernah mengajukan pertanyaan “ Mengapa adalah pengada?”. Dia justru melawan kosmogoni – kosmogoni mistis, dan juga menolak keteranngan – keterangan fisik para filsuf yang masih terlalu terikat pada pemikiran kosmogoni itu. Filsafat berpangkal dari faktisitas. Jadi filsafat merupakan ilmu mengenai kenyataan yang telah ditemukan. Dengan jalan refleksi ia mencoba menangkap strukur dan orientasi paling umum dan mutlak didalam
nya. Jika refleksi atas struktur aktual itu selesai, mungkin dapat diajukan pertanyaan mengenai genesis ( permulaan ) adanya.
Mengadanya itu apa? Mulai disadari, bahwa mengadanya itu merupakan latar belakang terakhir, dan sekaligus telah memuat segala – galanya dengan seluruhnya. Jadi refleksi pada bidang – bidang terbatas semua dilangsungkan an diradikalkan, sehingga inti ontologism mereka dipersatukan dalam satu visi menyeluruh. Ontologi itu memikirkan kembali pemahaman paling mendalam, yang telah termuat dalam keseluruhan kenyataan dan pengalaman konkret. Ontologi merupakan ilmu pengetahuan yang paling universal dan paling menyeluruh. Penyelidikannya meliputi gejala pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih bersifat bagian. Ontologi berusaha memahami keseluruhan kenyataan, segala sesuatu yang mengada segenapnya.
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.
Landasan ontologis adalah tentang obyek yang ditelaah ilmu. Hal ini berarti tiap ilmu harus mempunyai obyek penelaahan yang jelas. Karena diservikasi ilmu terjadi atas dasar spesifikasi obyek telaahannya maka tiap disiplin ilmu mempunyai landasan ontology yang berbeda.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa tujuan berfilsafat ialah mencari kebenaran yang sebenarnya, jika kebenaran yang sebenarnya itu disusun secara sistematis, jadilah ia sistematika filsafat.Isi filsafat ditentukan oleh obyek apa yang dipikirkan, obyek yang difikirkan oleh filosof adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi filsafat sebagai suatu proses berfikir bebas, sistematis, radikal dan mencapai dataran makna yang mempunyai cabang ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi dinamakan sebagai teori hakikat ini sangat luas, segala yang ada dan mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai








PEMBAHASAN
A. Pengertian Ontologi
Dalam pengertian filsafat “ontologi” adalah cabang filsafat yang mencoba menyelidiki status realitas sesuatu hal dan juga realitas yang dimiliki oleh sesuatu hal, misalnya tentang “ada” , “eksistensi” , “esensi” sebuah realitas. Ontologi dalam pengertian lain juga berarti asumsi mengenai objek atau realitas sosial yang diteliti. Ontologi sendiri sebagai bagian dimensi filsafat sangat berkaitan dengan epistemologis karena keyakinan akan sebuah kenyataan realitas (being) akan menentukan cara kerja dari sebuah ilmu pengetahuan dan berlaku sebaliknya. Kenyataan tentang “ada” dan keberadaan yang “mengada” menjadi pijakan dasar dari studi ontologis. Kedudukan ilmu sendiri pada awalnya memang menjadi bagian penuh dari filsafat. Tapi bisa berkembang dalam pengertian terpisah dengan filsafat. Dari dimensi “ontologis” pula, ilmu mempunyai pengandaian, pengertian dan katagori-katagori tertentu. Dari katagori-katagori dan pengandaian ini bisa menunjukkan tahap dimensi bagaimana ilmu ini kemudian berkembang.
1. Konsep Dasar Ontologis
Ontologi dalam bahasa inggris “ontology”; dari bahasa Yunani on, ontos (ada, keberadaan) dan logos (studi, ilmu tentang). Ada beberapa pengertian dasar mengenai apa itu “ontologi” Pertama, ontologi merupakan studi tentang ciri-ciri “esensial” dari Yang Ada dalam dirinya sendiri yang berbeda dari studi tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dalam

4
mempelajari ‘yang ada’ dalam bentuknya yang sangat abstrak studi tersebut melontarkan pertanyaan seperti “Apa itu Ada dalam dirinya sendiri?” Kedua, ontologi juga bisa mengandung pengertian sebuah cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, yang menggunakan katagori-katagori seperti : ada/menjadi, aktualitas/potensialitas, esensi, keniscayaan dasar, yang ada sebagai yang ada. Ketiga, ontologi bisa juga merupakan cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat Ada yang terakhir, ini menunjukan bahwa segala hal tergantung padanya bagii eksistensinya. Keempat, Ontologi juga mengandung pengertian sebagai cabang filsafat yang melontarkan pertanyaan, apa arti Ada dan Berada dan juga menganalisis bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal dapat dikatakan Ada. Kelima, Ontologi bisa juga mengandung pengertian sebuah cabang filsafat a) menyelidiki status realitas suatu hal misalnya “apakah objek pencerapan atau persepsi kita nyata atau bersifat ilusif (menipu)? “apakah bilangan itu nyata?” “apakah pikiran itu nyata?” b) menyelidiki apakah jenis realitas yang dimiliki hal-hal (misalnya, “Apa jenis realitas yang dimiliki bilangan? Persepsi? Pikiran “ dan c) yang menyelidiki realitas yang menentukan apa yang kita sebut realitas. Dari beberapa pengertian dasar tersebut bisa disimpulkan bahwa ontology mengandung pengertian“pengetahuan tentang yang ada”.
Istilah ontologi muncul sekitar pertengahan abad ke-17. Pada waktu itu ungkapan filsafat mengenai yang ada (philosophia entis) digunakan untuk hall yang sama. Menurut akar kata Yunani, ontologi berarti ‘teori mengenai ada yang berada’.2 Oleh sebab itu, orang bisa
5 menggunakan ontologi dengan filsafat pertama Aristoteles, yang kemudian disebut sebagai metafisika. Namun pada kenyataannya, ontologi hanya merupakan bagian pertama metafisika, yakni teori mengenai yang ada, yang berada secara terbatas sebagaimana adanya dan apa yang secara hakiki dan secara langsung termasuk ada tersebut.
Beberapa ahli filsafat memang banyak hal mempunyai pengertian yang berbeda satu sama lain. Namun jika ditarik dalam garis benang yang saling berkaitan maka ada beberapa hubungan yang hampir sama bahwa ontologi adalah ilmu tentang yang ada sebagai bagian cabang filsafat yang sama. Baumgarten mendefinisikan ontologi sebagai studi tentang predikat-predikat yang paling umum atau abstrak dari semua hal pada umumnya. Ia sering menggunakan istilah “metafisika universal” dan ”filsafat pertama” sebagai sinonim ontologi. Heidegger memahami ontologi sebagai analisis konstitusi “ yang ada dari eksistensi”, ontologi menemukan keterbatasan eksistensi, dan bertujuan menemukan apa yang memungkinkan eksistensi.
Ontologi merupakan ‘ilmu pengetahuan’ yang paling universal dan paling menyeluruh. Penyelidikannya meliputi segala pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih bersifat ‘bagian’. Ia merupakan konteks untuk semua konteks lainnya, cakrawala yang merangkum semua cakrawala lainnya, pendirian yang meliputi segala pendirian lainnya. Sebagai tugasnya memang ‘ontologi’ selalu mengajukan pertanyaan tentang bagaimana proses ‘mengada’ ini muncul. Pertanyaannya selalu berangkat dari situasi kongkrit.
Dengan demikian ontologi menanyakan sesuatu yang tidakserba tidak terkenal. Andaikata memang sesuatu tidak terkenal maka mustahil pernah akan dapat ditanyakan.
6
Dalam ruang kerjanya ‘ontologi’ bergerak di antara dua kutub, yaitu antara pengalaman akan kenyataan kongkrit dan prapengertian ‘mengada’ yang paling umum. Dalam refleksi ontologis kedua kutub ini saling menjelaskan. Pengalaman tentang kenyataan akan semakin disadari dieksplisitkan arti dan hakikat ‘mengada’. Sebaliknya juga , prapemahaman tentang cakrawala ‘mengada’ akan semakin menyoroti pengalaman kongkrit dan membuatnya terpahami sungguh-sungguh.
2. Dasar Ontologi Ilmu
Dasar ontologi ilmu sebenarnya ingin berbicara pada sebuah pertanyaan dasar yaitu : apakah yang ingin diketahui ilmu ? Atau bisa dirumuskan secara eksplisit menjadi : apakah yang menjadi bidang telaah ilmu ? Berbeda dengan agama atau bentuk pengetahuan yang lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris. Secara sederhana objek kajian ilmu ada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek kajian ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pacaindera manusia. Dalam batas-batas tersebut maka ilmu mempelajari objek-objek empiris seperti batu-batuan, binatang, tumbuh-tumbuhan , hewan atau manusia itu sendiri. Berdasarkan hal itu maka ilmu ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana objek-objek yang berbeda di luar jangkaun manusia tidak termasuk di dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut.
Untuk mendapatkan pengetahuan ini, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai objek-objek empiris. Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa menerima
7
asumsi yang dikemukakannya. Secara lebih terperinsi ilmu mempunyai tiga asumsi yang dasar. Asumsi pertama, menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya. Asumsi kedua, ilmu menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu . Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu. Asumsi ketiga, ilmu menganggap bahwa tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai suatu hubungan pola-pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan kejadian yang sama. Dalam penegartian ini ilmu mempunyai sifat deterministik. Namunpun demikian dalam determinisme dalam pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang (probabilistik).
3. Metoda dalam Ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkat abstraksi dalam ontology, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas suatu obyek, sedangkan abstraksi bentuk mendiskripsikan sifat umum yang menjadi ciri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetengahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontology adalah abstraksi metaphisik.
Sedangkan metoda pembuktian dalam ontology oleh laurens Bagus dibedakan menjadi dua, yaitu: pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.
8
Pembuktian a priori disusun dengan meletakkkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.
Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah reallitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan.
Secara umum a priori dikenal sebagai cara berfikir dan cara pembuktian deduktif, sedang empiri sebagai konsekuensi. Sedangkan a posteriori dikenal sebagai cara berfikir dan cara membuat kesimpulan yang mendasar pada empiri.
B. Pengertian Ilmu Pengetahuan
Agar kita mendapatkan pengertian tentang ilmu pengetahuan yang luas, maka didalam mengakaji masalah tersebut menjadi;
1. Pengertian Ilmu
Istilah ilmu atau scince merupakan suatu perkataan yang cukup bermakna ganda yaitu mengandung lebih dari pada satu arti. Oleh karena itu, dalam memakai istilah tersebut seseorang harus menegaskan atau sekurang – kurangnya menyadari arti mana yang dimaksud. Menurut cakupannya pertama – tama ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan. Jadi, dalam arti yang pertama ini ilmu mengacuh pada ilmu seumumnya ( science in general ). Arti yang kedua dari ilmu menunjuk pada masing – masing bidang pengetahuan ilmiah yang
9
mempelajari sesuatu pokok soal tertentu. Misalnya antropologi, biologi, geografi atau sosiologi.
Ilmu merupakan terjemahan dari kata science yaitu pengetahuan yang rational dan didukung dengan bukti empiris, dalam bentuk yang baku. Dari segi maknanya, pengertian ilmu sepanjang yang terbaca dalam pustaka menunjuk sekurang – kurangnya tiga hal, yakni pengetahuan, aktivitas dan metode. Diantara para filsuf dari berbagi aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan ( any systematic body of knowledge).
Porf. Dr. Ashley Montagu, guru besar Antropologi pada Rutgers University menyimpulkan: “ Science is a systemized knowledge derived from observation, study and experimentation curried on order to determine the nature of principles of what being studied.
Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Dari beberapa pengertian ilmu yang di kemukakan, maka dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas, apa yang disebut dengan ilmu. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengamatan dalam
10
kehidupan sehari – hari, namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode
2. Pengertian pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Drs. Sidi Gazalba, mengemukakan bahwa penngetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari pada: kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Pengertian itu semua milik atau isi pikiran.
Pengetahuan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila sesorang mengenal tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya adalah selalu terdiri dari unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya itu. Oleh karena itu pengetahuan selalu menuntut tentang sesuatu dan obyek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin diketahuinya. Jadi bisa dikatakan pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu obyek tertentu.



KESIMPULAN
1. Ontologi dalam bahasa inggris “ontology”; dari bahasa Yunani on, ontos (ada, keberadaan) dan logos (studi, ilmu tentang).
2. Dalam pengertian filsafat “ontologi” adalah cabang filsafat yang mencoba menyelidiki status realitas sesuatu hal dan juga realitas yang dimiliki oleh sesuatu hal, misalnya tentang “ada” , “eksistensi” , “esensi” sebuah realitas.
3. Ilmu merupakan terjemahan dari kata science yaitu pengetahuan yang rational dan didukung dengan bukti empiris, dalam bentuk yang baku.
4. Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
5. pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari pada: kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Pengertian itu semua milik atau isi pikiran.




http://referensiagama.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar