Sabtu, 15 Januari 2011

AQSAM AL-QUR’AN





AQSAM AL-QUR’AN
by Sariono sby

PENDAHULUAN


Al-Qur’an diturunkan dalam bentuk bahasa Arab, sebab masyarakat yang dihadapi pada masa itu adalah masyarakat Arab. Ketika mereka menerima pemberitaan ini, tentunya ada yang percaya dan mengimani sepenuh hatinya, tetapi tidak menutup kemungkinan juga ada yang mengingkari dan tidak mau mempercayai kebenaran Al-Qur’an.
Kesiapan jiwa setiap individu sangat menentukan bagaimana reaksinya terhadap penerimaan kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Illahi. Bermacam-macam uslub dalam Al-Qur’an ditujukan untuk memikat hati mereka, agar mereka tertarik untuk menerima kebenaran wahyu. Di antara uslub yang dipergunakan adalah qasam, untuk memperkuat kebenaran berita yang akan disampaikan kepada manusia. Tidak sedikit sumpah yang dipergunakan Allah SWT dalam Al-Qur’an, agar manusia menjadi terbuka hatinya, menerima suatu kebenaran (Syafei, 2006:155).
Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk mendalami materi Aqsa>m Al-Qur’a>n dalam materi pembelajaran ini, kaitannya untuk menambah keyakinan kita tehadap kebenaran Al-Qur’an dan khazanah keilmuan yang ada di dalamnya.


PEMBAHASAN

A. Tinjauan Umum Qasam
1. Pengertian Qasam

Menurut bahasa aqsam adalah jama’ dari qasam adalah sinonim dari al-hilf dan al-yamin yang mempunyai arti “sumpah” الاقسام جمع قسم بمعنى الحلف واليمين Menurut Louis Ma’luf qasam berarti bersumpah dengan Allah atau lainnya ( اليمين بالله تعا لى اوغيره ).
Ada yang berpendapat bahwa terdapat perbedaan antara qasam dengan “half”.dalam Al-Qur’an, kata “half” disebutkan 13 kali. Sedangkan kata “qasam” disebutkan sebanyak 24 kali. Sedangkan menurut M. Quraish Shihab, dari segi bahasan, kata qasam, yamin dan half sama saja.
Dalam pembahasan ini pemakalah lebih cenderung pada qasam, yamin dan half adalah sama, sehingga disini tidak akan membedakan antara ketiganya. Qasam dinamakan juga yamin (tangan kanan), karena orang Arab ketika sedang bersumpah memegang tangan kanan sahabatnya.
Dari definisi menurut bahasa ini kita dapat menyimpulkan bahwa secara umum segala perbuatan atau tingkahlaku yang kita lakukan dengan pemberian penguatan, entah penguatan itu kita sandarkan kepada Allah SWT atau yang lain maka ini di namakan” sumpah”. Contoh demi langit, demi ibuku, demi Allah dan seterusnya.
Adapun Pengertian qasam menurut istilah adalah sebagai berikut. Menurut Imam Az-Zarqani, yang dimaksud sumpah adalah جعله يؤكدبهاالخيبر (kalimat untuk mentaukidkan menguatkan suatu pemberitaan). Ibn Al-Qayyim, dalam bukunya Al-Tibyan, memberikan definisi sumpah dengan kalimat تحقيق الحبروتاكيده (untuk mentahqiq perintah dan mentaukidkannya).
Sedangkan menurut Manna’ Al-Qattan, sumpah ialah:
ربط النفسو بالامتناع عن شيء او الاقدام عليه بمعنى معظم عند الحالف حقيقة او اعتقادا Artinya: Untuk menguatkan jiwa agar orang tidak melaksanakan sesuatu, atau melakukan sesuatu, dengan sesuatu yang diagungkan/dimuliakan, baik dalam wujudnya yang hakiki, maupun hanya dalam keyakinan.
Adapun menurut Ridwan Nasir8, secara istilah qasam berarti ikatan jiwa untuk melakukan sesuatu perbuatan, yang diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata maupun hanya keyakinan saja.
Dari berbagai macam dan perbedaan definisi tersebut secara garis besar qasam dapat disimpulkan sebagai berikut: Sumpah adalah ikataan jiwa (hati) untuk tidak melakukan atau melakukan suatu perbuatan, yang diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata ataupun keyakinan saja. Hal ini dapat menunjukkan pada kita bahwa dalam bersumpah itu ada keyakinan untuk memenuhi sumpah tersebut dan tidak ada peluang untuk mengingkari karena ada ikatan keyakinan dengan yang diagungkan (dimuliakan).
Dari kesimpulan dan beberapa definisi, penulis cenderung mengikuti pendapat Mana>’ al-qatta>n dalam Maba>h}ith fi> ‘ulu>m al-qur’a>n, karena dalam penjelasannya lebih lengkap dan jelas sehingga penulis lebih mudah untuk memahami.
Akan tetapi tidak menutup kemungkinan dalam pendapat yang lain penulis akan memilih pendapat lain yang lebih dapat diterima menurut hemat penulis.

B.Unsur-Unsur Dan Redaksi Dasar Qasam

1. Fi’il Qasam (Yang di-Muta’addikan Dengan Huruf Ba’, Ta’ dan Wawu)
Sighat qasam baik yang berbentuk uqsimu ataupun yang berbentuk akhlifu tidak akan berfungsi tanpa di-ta’adiyah-kan dengan huruf ba’. Sebagai contohnya:
a. Yang menggunakan uqsimu dalam Al-Nahl ayat 38 :
b. menggunakan ahlifu Qs. Al-Taubah/9: 56
c. Namun kadang kala dalam suatu ayat, sighat qasam langsung disebutkan dengan huruf wawu pada isim dzahir, kadang kala langsung disebutkan dengan huruf ta’ pada lafal jalalah. Hal ini terjadi mana kala fi’il qasam tidak disebutkan dalam ayat tersebut.
Contoh :
1) Dengan huruf wawu, dalam QS al Lail ayat 1 :
2) Dengan huruf ta’

2. Muqsam Bih
Muqsam bih ialah lafaz yang terletak setelah qasam yang dijadikan sebagai sandaran dalam bersumpah yang juga disebut sebagai syarat. Atau dengan kata lain muqsam bih adalah sesuatu yang dengannya seseorang bersumpah atau penguat sumpah. Harus diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan.
Dalam al-qur’an, Allah bersumpah dengan zat-Nya sendiri yang Maha Agung atau dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang Maha Besar.
a. Allah bersumpah dengan zat-Nya sendiri :
b. Allah bersumpah dengan makhluk ciptaannya, dalam Surat At Tiin ayat 1-2:

Ridwan Nasir meringkas jika ditinjau dari muqsam bih, qasam dibagi menjadi 7, yaitu:
a. Dzat Allah atau sifat-sifat Allah (Seperti dalam Al Hijr: 92)
b. Kehidupan nabi Muhammad ((Al Hijr: 72)
c. Hari Kiamat (Al Qiyamat: 1)
d. Al Qur’an (Yaasin:1-2)
Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif la>m mi>m, Alif la>m ra>, Alif la>m mi>m s{a>d dan sebagainya. Diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasya>biha>t, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Jika mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
e. Makhluk benda-benda angkasa (An Najm: 1-2)
f. Makhluk benda-benda bumi (Al Thin: 1-2)
g. Waktu (Al Ashar: 1-2).

Dapat saja Allah bersumpah dengan apapun yang Dia kehendaki. Akan tetapi sumpah manusia hanya boleh diperkuat atau disandarkan hanya kepada Allah SWT. Dan jika sumpah manusia itu diperkuat dengan selain Allah SWT maka termasuk perbuatan musyrik. Sebagaimana Hadis Nabi:
عن عمرابن الخطاب ر ع ان رسول ا لله ص م قال من حلف بغيرالله فقدكفرأوأشرك [رواه الترمذى]
Artinya: Dari Umar Bin Khat}ab ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: Barang siapa bersumpah dengan selain (nama) Allah, maka ia telah kafir atau telah mempersekutukan (Allah). (HR. Al-Turmudzi)
Dalam hadis lain Muhmmad ‘Abduh menyebutkan dalam Syafe’I (2006:160):
من كان حالفافليحلف با لله أوليصمت
Allah bersumpah dengan makhluk-Nya, karena maakhluk itu menunjukkan penciptanya, yaitu Allah, juga menunjukkan keutamaan dan kemanfaatan makhluk tersebut, agar dijadikan pelajaran bagi manusia. Dari Al Hasan diriwayatkan, ia berkata:
ان الله يقسم بماشاءمن خلقه وليس لأحد أن يقسم الأ بالله [ أخرجه ابن أبى حا ]
“Allah boleh bersumpah dengan makhluk yang dikehendaki-Nya. Namun tidak boleh bagi seorang pun bersumpah kecuali dengan (nama) Allah”.
Dari beberapa pendapat tentang muqsam bih , disini pemakalah cenderung memakai pendapat dari Ridlwan Nasir, karena disini pendapatnya lebih luas dan terinci.

3.Muqsam‘alaih
Muqsam alaih ialah bentuk jawaban dari syarat yang telah disebutkan sebelumnya (muqsam bih). Atau dengan kata lain, muqsam ‘alaih adalah jawaban yang karena qasam diucapkan. Posisi muqsam alaih terkadang bisa menjadi taukid, sebagai jawaban qasam. Karena yang dikehendaki dengan qasam adalah untuk mentaukidi muqsam ‘alaih (menguatkannya).

Ada empat hal yang harus dipenuhi muqsam alaih, yaitu :
a. Muqsam alaih/ berita itu harus terdiri dari hal-hal yang baik, terpuji, atau hal-hal yang penting.
b. Muqsam alaih itu sebaiknya disebutkan dalam setiap bentuk sumpah. Jika kalimat muqsam alaih tersebut terlalu panjang, maka muqsam alaihnya boleh dibuang. Seperti yang terdapat dalam surah al-Qiyamah ayat 1- 2 :


Muqsam alaih dari qasam tersebut dibuang, karena terlalu panjang. Yang menunjukkan adanya muqsam alaih adalah ayat setelahnya, yaitu ayat 3-4 :

Sedangkan takdir dari muqsam alaihnya bila didatangkan ialah kalimat : “Pasti kalian akan dibangkitkan dari kubur.”

c. Jika jawab qasamnya berupa fi’il madhi mutaharrif yang positif (tidak dinegatifkan), maka muqsam alaihnya harus dimasuki huruf “lam” dan “qod”.
Contohnya :
1. Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah),
2. Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini,
3. Dan demi bapak dan anaknya.
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

d. Materi isi muqsam alaih itu bisa bermacam-macam, terdiri dari berbagai bidang pembicaraan yang baik-baik dan penting. Seperti keterangan bahwa Rasulullah saw adalah benar-benar utusan allah dalam QS ya sin 1-3:
Dari muqsam alaih (sesuatu yang dimaksud, diagungkan sekaligus sebagai peringatan), Ridwan Nasir (2009) membagi dua isi pokok dalam qasam tersebut, yaitu qasam yang berisi:
1. Pokok Keimanan (Ash Shafat:1-4)
Yang dimaksud dengan rombongan yang bershaf-shaf ialah Para Malaikat atau makhluk lain seperti burung-burung.
2. Pokok Kemanusiaan (Al lail: 1-4)

C. Uslub Qasam dan Macam-Macamnya.
Seperti yang dikutip dari pernyataan Syafei (2006:155) bahwa berbagai macam uslub dalam Al-Qur’an ditujukan untuk mengikat hati mereka, agar mereka tertarik untuk menerima kebenaran wahyu. Di antara uslub yang dipergunakan adalah qasam (sumpah). Dilihat dari segi fi’ilnya, Ridwan Nasir (2009) dan Qattan (1996: 417) membagi qasam dalam Al-Qur’an ada dua macam, yaitu ;
1. Qasam dhahir (nampak/ jelas), yaitu qasam yang fi’il qasamnya disebutkan bersama dengan muqsam bih-nya (al maarij). Seperti ayat berikut :

وَأَقْسَمُواْ بِاللّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لاَ يَبْعَثُ اللّهُ مَن يَمُوتُ.... ( النحل: ٣٨ )
Artinya : “Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati’.”

Dan diantaranya ada yang dihilangkan fi’il qasam-nya, dan dicukupkan dengan huruf “ba’”, “wawu”, dan ta’”. Seperti :
وَالضُّحَى. وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى ( الضحى : ١-٢­ )
Artinya : “Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).”

2. Qasam Mudhmar (tersimpan/ samar) yaitu qasam yang didalamnya tidak dijelaskan/ disebutkan fi’il qasam dan muqsam bih-nya. Tetapi yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut adalah qasam adalah kata-kata setelahnya yang diberi lam taukid yang masuk kedalam jawab qasamnya. Seperti :

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ...( آل عمران : ١٨٦ )
Artinya : “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.”

D. Faedah dan Fungsi Qasam
1. Faedah qasam menurut Ridwan Nasir ada 3 yaitu:
a. Menyempurnakan bukti. Digunakan untuk memperkuat dalil yang disampaikan bagi orang yang mengingkarinya.
b. Menegaskan kebenarannya. Sehingga dapat menghilangkan keragu-raguan terhadap kebenaran yang telah nyata
c. Untuk memperkuat pembicaraan agar dapat diterima dan dipercaya oleh pendengarnya. Djalal (dalam Nasir, 2009) menjelaskan bahwa pendengar berita itu dapat bersikap dengan 3 kemungkinan, yaitu:
1) Orang netral. Orang yang netral apabila diberi kabar tanpa penguat sudah merasa yakin . Atau dengan kata lain apabila mukhatabnya merupakan orang yang belum mempunyai persepsi akan pernyataan yang diterangkan padanya, maka perkataan yang disampaikan padanya tidak perlu memakaimpenguat (ta’kid). (disebut Kalam Ibtida’y: Al Baqarah:2)
2) Orang ragu-ragu. Orang yang ragu-ragu apabila diberi khabar perlu sedikit penguat (disebut Kalam Thalaby, Al-Hadi>d:8)
Yang dimaksud dengan perjanjianmu ialah Perjanjian ruh Bani Adam sebelum dilahirkan ke dunia bahwa Dia mengakui (naik saksi), bahwa Tuhan-nya ialah Allah, seperti tersebut dalam ayat 172 surat Al-A´ra>f.
3) Orang Ingkar. Orang yang inkar saat diberi khabar akan menyangkal berita itu sehingga perlu ada penguat berupa kalam ingkar sebagai Ta’kid kebenaran berita ( Kalam Inkari: Al-Nisa’: 40)
Maksudnya: Allah tidak akan mengurangi pahala orang-orang yang mengerjakan kebajikan walaupun sebesar zarrah, bahkan kalau Dia berbuat baik pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allah.

2. Fungsi Qasam menurut Ridwan Nasir ada 3 yaitu:
a. Berita yang disampaikan bila tidak apriori untuk menolak maka berita tersebut sudah diterima dan dipercaya karena telah diperkuat dengan sumpah nama Allah.
b. Pembawa berita akan merasa puas karena berita yang disampaikan dapat diterima oleh pendengar
c. dengan membawa nama Allah maka secara otomatis memuliakan Allah selaku dzat yang diagungkan sebagai penguat sumpah dan tidak memakai nama lain.

KESIMPULAN


Secara etimologi aqsam adalah jamak dari Qasam. Kata Qasam memiliki makna yang sama dengan kata Half dan Yamin. Secara terminologi memiliki defenisi: “Mengikat hati (Jiwa) untuk melakukan sesuatu atau tidak.
Unsur-unsur Qasam :
1. Fi’il Qasam (yang muta’addikan dengan huruf Ba’, Wawu, dan Ta’)
2. Muqsam Bih
3. Muqsam Alaih

Sumpah (qasam) dalam ucapan sehari-hari merupakan salah satu cara untuk menguatkan pembicaraan yang diselingi dengan pembuktian untuk mendorong lawan bicara agar bisa menerima atau mempercayai.

Dalam kehidupan sehari-hari orang Arab sering menggunakan sumpah dengan selain Allah (muqsam bih), menurut aturan bersumpah dalam Islam bersumpah harus menggunakan muqsam bih yaitu nama Allah, Dzat atau sifat-sifat-Nya. Bagi Allah boleh bersumpah dengan muqsam bih apa saja.
Aqsam digunakan dalam Al-Qur’an berfungsi untuk menghilangkan keraguan, melenyapkan kesalahpahaman, menegakkan hujjah, menguatkan khabar dan mnenetapkan hukum dengan cara paling sempurna.
Untuk memperkuat pemberitaan yang disampaikan Allah kepada manusia, baik mengenai hal-hal yang gaib maupun tentang kejadian-kejadian yang akan datang, sehingga mereka menerima dan meyakini kebenarannya.

http//:referensiagama.blogspot.com/januari/2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar