Minggu, 09 Januari 2011

makalah Al Qur'an : Fawatihussuwar wakhotimamuhu

BAB I
PENDAHULUAN

Pada Al-Qur’an yang terdiri dari 114 surah, 29 surah dari surah-surah tersebut, diawali dengan satu huruf atau sekelompok huruf yang dibaca hanya sebagai huruf alphabet terpisah, oleh mayoritas ahli tafsir disebut sebagai huruf al-muqoththo’ah, namun adapula yang menyebutnya sebagai huruf al-tahajjii. Huruf-huruf ini misterius. Tidak ada penjelasan yang cukup memuaskan mengenai artinya, kalaupun ada juga tidak pernah didapatkan alasan memungkinkan tentang kemunculannya dalam posisi awal surat-surat al-Qur’an.
Dalam meyikapi persoalan huruf al-muqoththo’ah ini, dahulu sebagian penafsir atau ulama, hanya dengan menyatakan bahwa “Allah a’lam bi muroodihi” tetapi, ini tentunya tidak memuaskan banyak pihak, apalagi kalau kita menggunakan cara berpikir abad 21. Dewasa ini para mufasir mulai beralih pandangan dengan jalan menggunakan ta’wil, tamsil atau metafora. Bagaimanapun juga hal ini perlu kita pelajari dan kita bahas secara khusus dalam usaha untuk mengetahui hikmahnya.
Oleh karena itu, Pada makalah kali ini, kami akan membicarakan tentang fenomena huruf al-muqoththo’ah ini dalam pembahasan fawaatih al-suwar dan khawaatim al-suwar, yang sub-pembahasannya terdiri dari definisi, macam-macamnya, pendapat beberapa penafsir dan kaum orientalis yang berhubungan dengan huruf al-muqoththo’ah yang terdapat pada fawaatih al-suwar, serta urgensi dari ilmu fawaatih al-suwar tersebut.



BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Fawaatihus Al Suwar
Dilihat dari segi bahasa fawaatih adalah jamak dari kata faatihah, yang berarti pembukaan atau awalan. Sedangkan kata al-suwar adalah jamak dari kata al-surah, merupakan sekumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai awalan dan akhiran. Sehingga, fawaatih al-suwar berarti beberapa pembukaan dari surah-surah Al-Qur’an atau beberapa macam awalan dari surah-surah Al-Qur’an.
Istilah fawaatih al-suwar ini memang sering diartikan pula sebagai huruf al-muqoththo’ah (huruf terputus-putus yang terdapat dipermulaan beberapa surah Al-Qur’an).
Diantara mufassir yang mengartikan fawaatih al-suwar sebagai huruf al-muqoththo’ah adalah Subhi Al-Salih dalam kitabnya Mabaahith fi ‘uluum al-Qur’an dan Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Al-Itqaan fi ‘Uluum al-Qur’an. Sehingga perlu ditegaskan bahwa fawa>tih al-suwar itu berbeda dengan huruf al-muqoththo’ah. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa huruf al-muqoththo’ah merupakan bagian dari permasalahan yang dibicarakan dalam ilmu fawaatih al-suwar. Apabila dibedakan, setidaknya ada sepuluh macam fawaatih al-suwar yang digunakan al-Qur’an dalam awalan surah. Dan dari 114 surah yang ada di dalam al-Qur’an, ditemukan 29 surah yang menggunakan huruf al-muqoththo’ah sebagai fawaatih al-suwar-nya.






B. Macam-Macam Fawa>tih Al-Suwar

Macam-macam fawaatih al-suwar ini sebenarnya telah diinventarisir Imam al-Qasthalani dalam kitabnya Lathaa-iful Ishaarat menjadi sepuluh macam pembahasan. Yaitu sebagai berikut:
Pembukaan dengan pujian kepada Allah swt ( بالتحميد او بالمدح او بالثناء :إثبات و تنزيه). Dan terdapat dalam 14 surah, dengan perincian sebagai berikut :
menggunakan lafal hamdalah 5 surah,
Menggunakan lafal tabaaraka 2 surah
c. Memakai lafal tasbih 7 surah

Pembukaan dengan nida’ (panggilan) ( بالنداء ) ini ada 3 macam :
ditujukan kepada Nabi SAW. (5 surah),
kaum mukminin (3 surah)
umat manusia (2 surah), Seperti contoh dalam Surah al-Mudathir :
يَا اَيُّهَا المُدَّثِّرُ.
Pembukaan dengan do’a ( بالدعاء ) dibagi dua :
al-du’a al-ismiyyu (2 surah) dan
al-du’a al-fi’liyyu (1 surah), Seperti contoh dalam Surah al-Muthaffifin :
وِيْلُ لِلْمُطَفِّفِيْنَ.
4. Pembukaan dengan sumpah ( بالقسم ) itu terbagi menjadi 3 yaitu : sumpah dengan benda-benda angkasa (8 surah), benda-benda bawah (4 surah) dan sumpah dengan waktu (3 surah),
a. Sumpah dengan benda-benda angkasa, misalnya (والصفات) (Demi rombongan yang bersaf-saf) dalam QS. Al-Shaffat; (والنجم) (Demi bintang) dalam surat al-Najm; (زالمرسلات) (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa) dalam QS. Al-Nai’at; (والسماء ذات البروج) (Demi lagit yang memiliki gugusan bintang) dalam QS. Al-Buruj; (والسماء و الطارق) (Demi langit dan yang datang pada malam harinya) dalam QS al-Thariq; (والفجروليال عشر) (Demi fajar dan malam yang sepuluh) dalam QS. Al-Fajr; dan (والشمس والضحها) (Demi matahari dan cahanyanya di waktu duha) dalam QS. Al-Syams.
b. Sumpah dengan benda-benda bawah, misalnya (والذاريات ذروا) (Demi angin yang menerbangkan debu dengan sekuat-keuatnya) dalam QS. Al-Dzariyyat; (والطور) (Demi bukit Thur) dalam QS. Al-Thur; (والتين) (Demi buah Tin) dalam QS. Al-Thin; (والعاديت) (Demi kuda perang yang berlari kencang) dalam QS. Al-‘Adiyat.
c. Sumpah dengan waktu, misalnya (واليل) (Demi malam) dalam QS. Al-Layl; (والضحي) (Demi waktu duha) dalam QS. Al-Dhuha; (والعصر) (Demi waktu) dalam QS. Al-Ashr.

5. Pembukaan dengan syarat ( بالشرط ) ada 2 macam :
a. syarat yang masuk kepada jumlah ismiyyah (3 surah), yakni:
(اذالشمس كورت) / Apabila matahari digulung dalam QS. Al-Takwir
(اذالشماء انفطرت) /Apabila langit terbelah, dalam QS. Al-Infithar
(اذالشماء انشقت) /Apabila langit terbelah, dalam QS. Al-Insyiqaq

b. Syarat yang masuk kepada jumlah fi’liyyah (4 surah)
(اذا واقعت الواقعة) /Apabila terjadi hari kiamat , dalam QS. Al-Waqi’ah
(اذاجاءك المنافقون) /Apabila orang-orang munafik datang kepedamu, dalam QS. Al-Munafiqun
(اذا زلزلت الارض زلزالها) /Apabila bumi dogoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dalam QS. Al-Zaljalah;
(اذاجاءنصرالله والفتح) /Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dalam QS. Al-Nashr.

6. Pembukaan dengan kata kerja perintah (بالفعل الأمر: إقرأ و قل ) terdapat dalam 6 surah, Seperti contoh dalam Surah al-‘Alaq :
إِقْرَاْ بِالسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَق.
Pembukaan dengan kalimat tanya ( بالإستفهام ) ada 2 macam :
pertanyaan positif (4 surah)
pertanyaan dalam bentu negative (2 surah) Seperti contoh dalam Surah al-Ghasyiyah:
هَلْ أَتَاكَ حَدِيْثُ الغَشِيَةِ.
8. Pembukaan dengan alasan (التعليل ). Seperti contoh dalam Surah al-Quraish :
لإيْلَـفِ قُرَيْـشٍ.
9. Pembukaan dengan Jumlah Khabariyah ( بالجمل الخبرية ) terbagi menjadi 2 macam , yaitu :
1). Jumlah ismiyyah
Jumlah ismiyyah yang menjadi pembuka surat terdapat 11 surat, yaitu:
(a) (براءة من الله ورسوله) (Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan rasul-Nya (QS. Al-Taubah).
(b) (سورة انزلناها وفرضناها) (ini adalah) satu surat yang Kami nuzulkan dan kami wajibkan (QS. Al-Nur);
(c) (تنزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم) /Kitab Alquran ini dinuzulkan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Zumar);
(d) (الذين كفروا زصلوا عن سبيل الله) (orang-orang kafir dan menghalang-halangi (manusia), dari jalan Allah), (QS. Muhammad);
(e) (ان فتحنالك فتحا مبينا) / Sunngguh kami telah, memberikan keapdamu kemenangan yang nyata (QS. Al-Fath);
(f) (الرحمان علم القران) /Alah Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan, (QS. Al-Rahman);
(g) (الحاقة ماالحاقة) / Kiamat, apakah hari kiamat itu? (QS. Al-Haqqa);
(h) (ان ارسلنانوحا الي قوم) /Sungguh telah mengutus Nuh kepada kaumnya (QS. Nuh)
(i) (انا انزلنه في ليلة القدر) /Sungguh telah menurunkannya (Alquran) pada malam al-
Qadr (QS. Al-Qadr); QS. Al-Qadr;
(j) (القارعة ما القارعة) /Hari Kiamat, apakah Hari kiamat itu?(QS. Al-Qari’ah);
(k) (انا اعطيناك الكوثر) /Sungguh kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (QS. Al-Kawtsar).

2). Jumlah fi’liyah
Jumlah fi’liyah yang menjadi pembuka surat-surat Alquran terdapat dalam 12 surat, yaitu:
(a) (يسئلونك عن الانفال) /Mereka bertanya kepadamu tentang pendistribusian harta rampasan perang (QS. Al-Anfal);
(b) (اتي امرالله فلا تستعجلوه) /Telah pasti datangnya ketetapan Allah itu, maka janganlah minta disegerakan (QS. Al-Nahl),
(c). (اقترب للناس حسابهم) /Telah dekat datangnya saat itu (QS. Al-Qamar);
(d) (قدافلحل المئمنون) /Sungguh beruntung orang-orang yang beriman (QS. Al-Mukminun;
(e) (اقتربت الساعة) /telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalam mereka (QS. Al-Anbiya);
(f) (قدسمع الله قول التي تجادلك) /Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpanya (QS. Al-Ma’arij);
(g) (لاقسم بيوم القيامة) /Aku bersumpah dengan hari kiamat (QS. Al-Qiyamah);
(h) (لااقسم بهذا البلاد) /Aku bersumpah dengan kota ini, Makkah (QS. Balad);
(i) (عبس وتولي) /Dia (Muhammad) bermuka Masam dan berpaling (QS. ‘Abasa)
(j) (لم يكن الذين كفروا من اهل الكتاب) /Dia Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan
orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan agamanya (QS. Al-Bayyinah);
(k) (الهاكمتكاثر) /Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (QS. Al-Takatsur).

Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus (الا ستفتح بالاحرف المنقطعه)
Pembukaan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 surat tanpa diulang yaitu: ا, ى, ه, ن, م, ل, ق ,ع, ط, ص, س, ر,ح. Penggunaan huruf-huruf di atas dalam fawatih al-Suwar disusun dalam 14 rangkaian, yang terdiri dari beberapa bentuk sebagai berikut:
a. Terdiri dari satu huruf, terdapat dalam tiga surat yakni ص (QS.Shad), ق (QS.Qaf), dan ن (QS, Qalam).
b. Terdiri dari dua huruf, terdapat dalam 10 surat, 7 surat dinamakan Hawamim(surat-surat yang dibuka dengan Hamim), yakni: (QS, Al-Mukmin,Al-fussilat, Al-surra, Al- Zuhruf, Al- Dukhan, Al- Jatsiah, Al- Ahqaf), طه (QS, Taha), طس (QS, Naml) يس (QS, Yasin).
c. Terdiri dari tiga huruf, enam surat dimulai dengan الم yaitu: (QS, Al-Baqarah, Al- Imran, Al-Ankabut, Ar-Rum, Lukman, dan Al-Sajdah), lima surat dimulai dengan الر yaitu: (QS, Yunus, Hud, Ibrahim, Yusuf dan Al-Hijr), dan dua surat dimulai denganطسم yaitu: (QS, Qashash dan Asy-Syuaro).
d.. Terdiri dari empat huruf yaitu: المر (QS, Al-Ara’ad) dan المص (QS, Al-A’raf).
e. Terdiri dari lima huruf yaitu: كهيعص (QS, Maryam), dan حم عسق (QS, Al-Syuara).
Dengan beragam macam pembukaan surah, maka kita dapat mengetahui begitu indahnya mu’jizat Allah yakni al-Qur’aan al-kariim yang diawali dengan berbagai macam kalimat dan tentunya terdapat banyak hikmah yang bisa kita ambil.


C. Beberapa Pendapat Tentang Huruf al-Muqoththo’ah
Secara garis besar pendapat para ulama tentang huruf al-Muqoththo’ah ini terbagi dalam dua kelompok. Yaitu :
Bahwa makna-makna huruf al-Muqoththo’ah itu merupakan mutasyabih dalam Al-Qur’an yang tidak ada seorangpun mengetahui maksudnya selain Allah (Wallaahu a’lam bi muroodihi). Pemikiran seperti ini adalah pemikiran yang didapat dari pendapat kaum salaf seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Imam A-Razi, Imam Asy-Sya’bi, Ibnu Mas’ud. Dan sampai saat ini, pendapat ini lah yang dianggap pendapat terunggul karena tidak ada satu riwayatpun yang bisa menjelaskan secara pasti maksud dari huruf-huruf dalam fawaatih al-suwar tersebut.
Bahwa makna huruf-huruf yang terpotong-potong itu dapat diketahui oleh Allah swt dan bisa dipahami oleh manusia terutama oleh orang-orang yang mendalami pengetahuanNya. Hal ini didasarkan pada Surah Ali Imran ayat 7 pula, namun dengan mewaqofkan ayat pada وَالرَّاسِخُوْنَ فِى العِلْمِ.
Mereka yang memilih pendapat ini banyak sekali, tetapi masing-masing memiliki pendirian sendiri-sendiri, ada yang dekat kepada kebenaran, dan ada pula yang jauh. Di antara mereka yang mengikuti pendapat ini ialah :
1. Abu Zahra’ An-Najdi mengatakan dalam bukunya min al-I’jaaz al-balaghii wa al-‘adadii li al-qur’an al-kariim yang diterjemahkan oleh Agus Effendi bahwa para peneliti terdahulu mencatat, surah-surah yang dibuka dengan huruf al-Muqoththo’ah berjumlah 29 surat, sementara jumlah huruf hijaiyah Arab ditambah dengan huruf hamzah juga 29 huruf, dimana hal itu merupakan indikasi bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.
2. Ibnu Abbas dalam berbagai riwayat cenderung berpendapat bahwa huruf-huruf dalam fawaatih al-suwar tersebut merupakan nama-nama surat, nama asma-asmaNya dan pendahuluan surat. Demikian juga pendapat Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Imam Zamakhsyari, Imam ar-Razi dan Imam Syibawaihi.
3. Pendapat As-Suyuti tentang huruf tersebut adalah sebagai berikut: diantaranya: الم berarti الله اعلم انا yang berarti hanya aku yang paling tahu kemudian المص yang berarti A’lamu wa Afshilu yaitu hanya aku yang paling mengetahui dan yang menjelaskan suatu perkara, sedangkan المر berarti Ana Ara yang berarti aku melihat. Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa makna كهيعص yaitu Kaf dari kata Karim yang berarti mulia, Ha adalah Hadin yang berarti memberi petunjuk, Ya adalah Hakim yang berarti yang maha bijaksana, Ain yaitu Alim yang berarti yang maha mengetahui, dan Shad yaitu Shadiq yang berarti yang maha Benar.dan sebagainya. Dikatakan bahwa pendapat ini hanyalah dugaan saja. kemudian As-Suyuti menerangkan bahwa hal itu merupakan rahasia yang hanya Allah swt sendiri yang mengetahuinya.
4. Az- Zarkasyi berkata dalam tafsirnya ‘al-Qassyaf tentang huruf-huruf itu bahwa di dalamnya terdapat beberapa pendapat yaitu: merupakan rahasia Allah yang hanya Allah sendiri nyang mengetahuinya. Atau merupakan nama surat, dan sumpah Allah swt dan supaya dapat menarik perhatian orang yang mendengarnya.
5. Al-Quwaibi mengatakan bahwasanya kalimat itu merupakan peringatan bagi nabi, mungkin pada saat itu beliau dalam keadaan sibuk, maka Allah menyuruh Jibril untuk memberikan perhatian terhadap apa yang disampaikan kepadanya.
6. As-sayyid rasyid ridha tidak membenarkan al-quwaibi diatas, karena nabi senantiasa dalam keadaan sadar dan senantiasa menanti kedatangan wahyu. Rasyid ridha berpendapat sesuai dengan ar-Razi bahwa tanbih ini sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang musyrik mekkah dan ahli kitab madinah. Karena orang-orang kafir apabila nabi membaca al-Qur’an mereka satu sama lain menganjurkan untuk tidak mendengarkannya, seperti dijelaskan dalam surat fushilat ayat 26.
7. Ulama salaf berpendapat bahwa ‘‘Fawatih al-Suwar’’ telah disusun semenjak jaman azali, yang demikian itu melengkapi segala yang melemahkan manusia dari mendatangkan seperti al-Qur,an.
Oleh karena I’tiqad bahwa huruf-huruf itu telah sedemikian daari azalinya, maka banyaklah orang yang telah berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf tersebut.
8. Sebagian ulama berpendapat, bahwa huruf al-Muqoththo’ah merupakan sumpah Allah swt. sebagaimana sumpah Allah yang menggunakan benda-benda seperti bulan, bintang, maka Allah bersumpah pula menggunakan huruf-huruf yang terletak di awal surat tersebut. Hal itu seperti yang pernah dikatakan oleh Ikrimah dan Ali Ibnu Abi Thalhah.
9. Seorang Orientalis Jerman, Noldeke mengisyaratkan bahwa huruf-huruf tersebut menunjukkan nama pengumpul, namun kemudian ia menanggalkan pandangan ini dan menerima pandangan bahwa huruf-huruf itu adalah lambang yang tidak ada artinya, mungkin tanda magis atau tiruan tulisan Kitab Surgawi yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad saw. Pandangan agak sama dikemukakan oleh Alan Jones yang dibahas dalam The Mystical Letters of The Qur’an. Demikian juga Buhl dan Hirsfeld dalam bukunya New Ressarhes of The Coran malah mempertahankan pendapat Noldeke yang pertama, tanpa memperdulikan betapa menyimpangnya pendapat itu.
10. Sedangkan Kaum Syi’ah berpendapat, bahwa jika huruf al-Muqoththo’ah tersebut dikumpulkan tanpa memasukkan yang berulang-ulang, maka akan tersusun kalimat : صِرَاطٌ عَلِىٌّ حَقٌّ يُمْسِكُهُ (Ali itu diatas jalan kebenaran yang harus dipegang teguh). Padahal sebenarnya penta’wilan itu ada setelah huruf-huruf itu disusun terlebih dahulu.
11. Sebagian Ahli Sunnah sebagaimana diceritakan Imam Al-Alusi dalam tafsirnya, mereka mena’wilkan huruf-huruf itu seolah menjawab ta’wilan kaum syi’ah dengan kalimat : صَحَّ طَرِيْقُكَ مَعَ السُّنَّةِ (Jalanmu benar bersama ahli sunnah).
Huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada awal surah dalam al-qur’an adalah jaminan keutuhan al-Qur’an. Sebagaimana diterima oleh Rasulullah saw. Tidak berlebih atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan oleh al-Qur’an. Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan jumlah huruf-huruf B (i) sm All(a)h al-R(a)hm(a)n Al-R(a)him.
(Huruf a dan I dalam kurung tidak tertulis dalam aksara bahasa Arab). Huruf (qaf) yang merupakan awal dari surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3×19. Haruf-huruf kaf, ha, ya, ayn, shad, dalam surah Maryam, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42×19. Haruf nun yang memulai surah al-Qalam, ditemukan sebanyak 133 atau 7×19, kedua ya dan sin pada surah yasin masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15×19. Kedua huruf tha dan ha pada surah Thaha masing-masing terulang sebanyak 342 kali, sama dengan 19×18. Huruf-huruf ha dan mim yang terdapat pada keseluruhan surah yang dimulai dengan kedua huruf ini, ha’mim, kesemuanya merupakan perkalian dari 114×19, yakni masing-masing berjumlah 2.166. bilangan-bilngan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat al-Qur’an. Karena, seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka tentu perkalian-perkalian tersebut akan menjadi kacau. Angka 19 di atas, yang merupakan perkalian dari jumlah-jumlah yang disebut itu, diambil dari peryataan al-Qur’an sendiri, yakni yang termuat dalam surah al-muddatstsir ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap seorang yang meragukan kebenaran al-Qur’an.
Pada dasarnya banyak sekali ta’wil yang muncul mengenai huruf al-Muqoththo’ah tersebut, namun disini kami hanya mencantumkan beberapa saja sebagai wacana dan kajian bersama. Dalam hal ini pemakalah lebih cenderung pada pendapat Ulama’ salaf yang mengatakan bahwa huruf tersebut adalah huruf misterius dan hanyalah Allah yang tahu bisa disebut dengan mutashaabih. Dan huruf muqaththo’ah tersebut merupakan sebuah indikasi bahwa al-Qur’an itu tersusun dari huruf tahajjii yang diketahui secara umum.

D. Urgensi dari Fawaatih al-Suwar
Sebagai ilmu yang khusus mengkaji tentang pembukaan surat-surat dalam al-Qur’an, pengetahuan tentang Fawaatih al-Suwar tentunya sangat penting untuk diketahui dan dikaji, karena hal ini merupakan salah satu khazanah islamiah yang harus dimiliki terutama oleh para pengkaji al-Qur’an.
Pembahasan Fawaatih al-Suwar tidak lain adalah suatu usaha dari para ulama untuk mengetahui hikmah yang terkandung di dalamnya dimana hal ini juga menjadi salah satu rahasia kekuatan i’jaz (daya pelumpuh, disable) yang ada pada al-Qur’an sebagai kitabullah. Diantara ulama yang mengarang ilmu ini ialah Abdul ‘Adhim bin Abdul Wahid, yang terkenal dengan sebutan Ibnul Ishba’. Beliau menulis kitab al-Khawaathir al- Sawaanih Fi Asraar al- Fawaatih.
Sebagai penjelas atas unsur urgen dalam pengkajian Fawaatih al-Suwar ini, kami akan jelaskan hikmah sebagian dari 10 macam Fawaatih al-Suwar yang terdapat dalam al-Qur’an:
1. Pembukaan dengan pujian. Pembukaan dengan pujian ini terdapat dalam 14 surah. Separuhnya sebagai penetapan atas sifat-sifat terpuji Allah swt. dan separuhnya lagi merupakan pen-sucian Dzat Allah dari sifat-sifat negatif.
2. Pembukaan dengan nida’ (panggilan) oleh para mufassir dimaknai sebagai penandasan/penegasan atas peringatan Allah juga sebagai refleksi kata dari bentuk perhatian Allah swt dan untuk memberi peringatan dan perhatian kepada Nabi Muhammad dan ummatnya.
3. Pembukaan dengan kata kerja perintah digunakan sebagai bentuk penegasan perintah Allah kepada hamba-Nya agar diperhatikan dan tidak dilalaikan serta agar hambaNya selalu condong pada petunjuk-petunjukNya.
4. Pembukaan dengan Jumlah Khabariyah sifatnya padat dan penuh makna. Merupakan bentuk kalam yang digunakan untuk memperingatkan Nabi Muhammad dan umat Islam agar memperhatikan firman Allah yang disebutkan setelah pembukaan surah tersebut, serta mengamalkan dan menjadikannya sebagai pedoman.
5. Pembukaan dengan huruf rahasia/ huruf al-Muqoththo’ah oleh Rasyid Ridha dimaknai sebagai bentuk husnu al-bayaan (eloquence) dan balaaghah suatu ungkapan yang bertujuan untuk memberi pengertian suatu maksud dan menarik perhatian orang-orang kepada soal penting dan tujuan utama yang dimaksud.
6. Allah membuka dengan sumpah, maksudnya : pertama, agar manusia meneladani sikap tanggung jawab, bahwa kalau bicara harus jujur dan benar dan bila perlu berani angkat sumpah untuk memperkuat ucapannya. Kedua, manusia bersumpah dengan asma Allah. Ketiga, Allah menggunakan nama makhluq agar selalu diperhatikan oleh ummat manusia.
Dengan hikmah fawaatih al-suwar yang diungkapkan penulis diatas, maka kita dapat lebih mendalami banyaknya kandungan dalam al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman dalam realitas kehidupan kita.


E. Pengertian Khawaatim al- Suwar
Khawaatim adalah jamak dari kata Kha>timah, yang berarti penutup atau akhiran atau penghabisan. maka Khawaatim al-suwar menurut bahasa adalah beberapa penutupan dari surat-surat al-Qur’an.
Menurut istilah Khawaatim al-suwar ialah bebarapa ungkapan yang menjadi penutupan dari surat-surat al-Qur’an yang mengandung arti mengisyaratkan berakhirnya pembicaraan sehingga merangsang untuk mengetahui hal-hal yang akan dibicarakan sesudahnya.




F. Macam-macam Khawaatim al-Suwar
Menurut hasil penelitian Abdul Jalal H.A. Khawaatim al-Suwar dari 114 surah al-Qur’an itu ada 18 macam sebagai berikut :
1. Penutupan surah dengan Doa :
Doa ini menjadi penutupan dari 4 surah al-Qur’an, yaitu al-Baqarah, al-Mukminun, Nuh dan al-Falaq.
Contoh dalam surah al-Mukminun ayat 118 :
@è%ur Éb>§‘ ö�Ïÿøî$# óOymö‘$#ur |MRr&ur çŽö�yz tûüÏH¿qº§�9$# ÇÊÊÑÈ
Artinya : “Dan Katakanlah: Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik."
2. Penutupan surah dengan Wasiat :
Penutupan dengan wasiat ini di pakai dalam surah al-Ruum, al-Dukhaan, ash-Shaffu, al-A’la, al-Fajr, al-Duha, dan al-‘Ashr.
Contoh dalam surah al-Fajr ayat 28-30:
ûÓÉëÅ_ö‘$# 4’n<Î) Å7În/u‘ ZpuŠÅÊ#u‘ Zp¨ŠÅÊó�£D ’Í?ä{÷Š$$sùÇËÑÈ ’Îû “ω»t6Ïã ÇËÒÈ ’Í?ä{÷Š$#ur ÓÉL¨Zy_ ÇÌÉÈ
Artinya : “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”.
3. Penutupan surah dengan perintah / masalah Takwa :
perintah takwa hanya dipakai untuk penutup 3 surah yaitu Ali Imran, al- Nahl, dan al-Qamar.
Contoh dalam surah Ali Imran ayat 200 :
(#qà)¨?$#ur ©!$# öNä3ª=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇËÉÉÈ
Artinya : “dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”.
4. Penutupan surah dengan Faraid :
Hanya satu surah saja yang ditutup dengan soal faraid yaitu al-Nisaa’ dalam ayat 176, sebagaimana berikut :
bÎ)ur (#þqçR%x. Zouq÷zÎ) Zw%y`Íh‘ [ä!$|¡ÎSur Ì�x.©%#Î=sù ã@÷WÏB Åeáym Èû÷üu‹s[RW{$# 3 ßûÎiüt6ムª!$# öNà6s9 br& (#q�=ÅÒs? 3 ª!$#ur Èe@ä3Î/ >äóÓx« 7OŠÎ=tæ ÇÊÐÏÈ
Artinya : “dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
5. Penutupan surah dengan Ta’dhim kepada Allah :
surah-surah yang diakhiri dengan model ini sebanyak 18 surah yaitu, al-Maidah, al-Anfal, al-Anbiyaa’, al-Nuur, al-Luqman, Fathir, Fushilat, al-Hujurat, al-Hadid, al-Hashr, al-Jumu’ah, al-Munaafiqun, al-Taghaabun, al-Thalaq, al-Jin, al-Muddaththir, al-Qiyaamah, dan al-Tin.
Contoh dalam surah al-Maidah ayat 120 :
uqèdur 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« 7�ƒÏ‰s% ÇÊËÉÈ
Artinya : “dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
6. Penutupan surah dengan Janji dan Acaman :
penutupan ini dipakai menutup 24 surah yaitu al-An’am, al-Furqan, al-Ankabut, al-Ahzab, al-Mukmin, al-Ahqaaf, Muhammad, al-Fath, adz-Dzariyat, al-Mujadilah, al-Muzzammil, al-Insan, al-Mut}affifin, al-Insyiqaq, al-T}a>riq, al-Ghaashiyah, al-Balad, al-Shams, al-Bayyinah, al-Zalzalah, al-‘Aadiyat, al-Humazah, al-Maa’un, dan al-Lahab.
Contoh dalam surah al-An’am ayat 165 :
¨bÎ) y7­/u‘ ßìƒÎŽ|  É>$s)Ïèø9$# ¼çm¯RÎ)ur Ö‘qàÿtós9 7LìÏm§‘ ÇÊÏÎÈ
Artinya : “Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.



7. Penutupan surah dengan Anjuran Ibadah/Tasbih :
anjuran beribadah ini menjadi akhiran dari 6 surah al-Qur’an yaitu, surah al-A’raf, Hud, al-Hijr, ath-Thur, an-Najm, dan surah al-A’laq.
Contoh dalam surah an-Najm ayat 62 :
(#r߉ègôž$$sù ¬! (#r߉ç7ôã$#ur ) ÇÏËÈ
Artinya : “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)”.
8. Penutupan surah dengan Hiburan Kepada Nabi :
Nabi Muhammad dihibur Allah di akhir 4 surah yaitu, Yunus, al-Zuhruf, al-Kauthar, dan al-Kaafirun.
Contoh dalam surah al-Kauthar ayat 3 :
žcÎ) š�t¥ÏR$x© uqèd çŽtIö/F{$# ÇÌÈ
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus”.
9. Penutupan surah dengan sifat-sifat al-Qur’an :
sifat-sifat al-Qur’an yang digunakan sebagai penutupan 4 surah yaitu, Yusuf, Shaad, al-Qalam, dan al-Buruj.
Contoh dalam surah al-Qalam ayat 52 :
$tBur uqèd žwÎ) Ö�ø.ÏŒ tûüÏHs>»yèù=Ïj9 ÇÎËÈ
Artinya : “dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat”.
10. Penutupan surah dengan Bantahan :
Bantahan terhadap orang yang mendustakan Rasulullah SAW digunakan sebagai penutupan bagi satu surah yaitu surah al-Ra’du ayat 43 dengan lafal :
ãAqà)tƒur šúïÏ%©!$# (#rã�xÿx. |Mó¡s9 Wxy™ö�ãB 4 ö@è% 4’s"Ÿ2 «!$$Î/ #J‰‹Îgx© ÓÍ_ø‹t/ öNà6uZ÷�t/ur ô`tBur ¼çny‰YÏã ãNù=Ïæ É=»tGÅ3ø9$# ÇÍÌÈ

Artinya : “berkatalah orang-orang kafir: "Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul". Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab".
11. Penutupan surah dengan Ketauhidan :
Penutupan dengan keterangan ketauhidan ini terdapat di akhiran dari 7 surah yaitu, al-Taubah, Ibrahim, al-Kahfi, al-Qashash, al-Lail, al-Inshiraah, dan al-Ikhlaas}.
Contoh dalam surah al-Inshiraah ayat 7-8 :
#sŒÎ*sù |Møît�sù ó=|ÁR$$sù ÇÐÈ 4’n<Î)ur y7În/u‘ =xîö‘$$sù ÇÑÈ
Artinya : “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”.
12. Penutupan surah dengan Tahmid/Pujian :
Penutupan dengan tahmid ini dipakai dalam 10 surah yaitu, al-Isra, al-naml, Yaasin, al-Shaaffat, al-Zumar, al-Jathiiyah, al-Rahmaan, al-Waaqi’ah, al-Haaqqah, dan al-Nashr.
Contoh dalam surah al-Zumar ayat 75 :
Ÿ@ŠÏ%ur ߉ôJptø:$# ¬! Éb>u‘ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÐÎÈ
Artinya : “dan diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam".
13. Penutupan surah dengan Kisah :
Ada 4 surah al-Qur’an yang ditutup dengan kisah yaitu, Maryam, al-tahrim, ‘Abasa, dan al-Fiil.
Contoh dalam surah al-fiil ayat 5 :
öNßgn=yèpgmú 7#óÁyèx. ¥Aqà2ù'¨B ÇÎÈ
Artinya : “lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.


14. Penutupan surah dengan Anjuran Jihad :
Anjuran jihad ini hanya dijadikan penutupan bagi surah al-Hajj ayat 78 :
(#r߉Îg»y_ur ’Îû «!$# ¨,ym ¾ÍnÏŠ$ygÅ_ 4 uqèd öNä38u;tFô_$# $tBur Ÿ@yèy_ ö/ä3ø‹n=tæ ’Îû ÈûïÏd‰9$# ô`ÏB 8lt�ym 4ÇÐÑÈ
Artinya : “dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”.
15. Penutupan surah dengan Rincian maksud :
Ada 6 surah al-Qur’an yang diberi penutupan, berupa perincian terhadap maksud ayat yang sebelumnya, yaitu al-faatihah, al-Shuura, al-Takwir, al-Qadar, al-Qaari’ah, al-Quraish, dan al-Naas.
Contoh dalam surah al-Qaari’ah ayat 9-11 :
¼çm•Bé'sù ×ptƒÍr$yd ÇÒÈ !$tBur y71u‘÷Šr& $tB ÷mu‹Ïd ÇÊÉÈ î‘$tR 8puŠÏB%tn ÇÊÊÈ
Artinya : “Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. tahukah kamu Apakah neraka Hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas”.
16. Penutupan surah dengan Istifham :
Penutupan dengan pertanyaan ini dipaki dalam dua surah yaitu al-Mulk dan al-Mursalat. Contoh dalam surah al-Mursalat ayat 50 :
Äd“r'Î7sù ¤]ƒÏ‰tn ¼çny‰÷èt/ šcqãZÏB÷sムÇÎÉÈ
Artinya : “Maka kepada Perkataan Apakah sesudah Al Quran ini mereka akan beriman?”.
17. Penutupan surah dengan Hari Kiamat :
Keterangan hari kiamat ini dijadikan penutupan bagi 4 surah yaitu, al-Ma’aarij, al-Naba’, al-Naazi’at, dan al-Infithaar.
Contoh dalam surah al-Naba’ ayat 39 :
y7Ï9ºsŒ ãPöqu‹ø9$# ‘,ptø:$# ( `yJsù uä!$x© x‹sƒªB$# 4’n<Î) ¾ÏmÎn/u‘ $¹/$t«tB ÇÌÒÈ
Artinya : “Itulah hari yang pasti terjadi. Maka Barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya”.

18. Penutupan surah dengan Peringatan :
Ada 7 surah yang ditutup dengan peringatan-peringatan yaitu, surah Thaha, asy-Syuara, as-Sajdah, Saba, Qaaf, al-Mumtahanah, dan at-Takathusur.
Contoh dalam surah as-Sajdah ayat 30 :
óÚÍ�ôãr'sù öNßg÷Ytã ö�ÏàtGR$#ur Nßg¯RÎ) šcrã�ÏàtFY•B ÇÌÉÈ
Artinya : “Maka berpalinglah kamu dari mereka dan tunggulah, Sesungguhnya mereka (juga) menunggu”.

Dari berbagai macam khawaatim al-suwar diatas, pemakalah dapat menganalisa bahwa antara fawaatih al-suwar dan khawaatim al-suwar terdapat sebuah korelasi yang saling terkait. Hal ini bisa dibuktikan dalam pembukaan dan penutupan surah al-Mukminun.





BAB III
KESIMPULAN

1. Istilah fawa>tih al-suwar ini sering diartikan sebagai huruf al-muqoththo’ah (huruf terputus-putus yang terdapat dipermulaan beberapa surah Al-Qur’an). Namun pada dasarnya fawaatih al-suwar merupakan pembahasan tentang macam-macam pembukaan surah dalam al-Qur’an, sehingga huruf al-muqoththo’ah merupakan satu dari beberapa bagian pembahasannya.
2. Imam al-Qasthalani mengklasifikasikan macam-macam fawaatih al-suwar dalam 10 point pembahasan, begitu juga dengan Jalaluddin al-Suyuthi. Namun sampai saat ini belum ada penjelasan yang cukup memuaskan mengenai makna dari huruf al-muqoththo’ah yang terdapat dalam pembukaan beberapa surah dalam al-Qur’an.
3. Secara garis besar, pendapat para ulama tentang huruf al-muqoththo’ah ini terbagi dalam dua kelompok. Yaitu :
a. Bahwa makna-makna huruf al-muqoththo’ah itu merupakan mutasyabbih dalam Al-Qur’an yang tidak ada seorangpun mengetahui maksudnya selain Allah.
b. Bahwa makna huruf-huruf yang terpotong-potong itu dapat diketahui oleh Allah swt dan bisa dipahami oleh manusia terutama oleh orang-orang yang mendalami pengetahuanNya.
4. Ilmu Fawaatih al-Suwar dianggap urgen untuk diketahui dan dikaji karena hal ini merupakan salah satu khazanah islamiah yang harus dimiliki terutama oleh para pengkaji al-Qur’an. Dimana hal ini juga menjadi salah satu bukti rahasia kekuatan i’jaz (daya pelumpuh, disable) yang ada pada al-Qur’an sebagai kitabullah.
5. Khawaatim al- suwar ada 18 bagian sebagaimana terinci diatas dengan contoh-contoh ayat al-Qur’an.



DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syadali dan Ahmad rofi’i, Ulumul quran, Bandung ; CV Pustaka Setia, 2000
Al-Abyadi, Ibrahim, Sejarah Al-Qur’an, Jakarta : Rineka Cipta, 1992.
An-Najdi, Abu Zahra’, Min al-I’jaaz al-Balaghii wa al-‘Adadii li al-Qur’an al-Kariim, Terj., Jakarta : Pustaka Hidayah, 1991.
As-Shalih, Subhi, Mabaahith fii ‘uluum al-Qur’an, Terj., Jakarta : Pustaka Firdaus, 2004.
Al-Suyuthi, Jalaluddin, Al-Itqaan fii Uluum Al-Qur’an, Beirut : Dar al-Fikr, tt.
Al-Zarkashi, ‘Abdullah, al-Burhaan fii ‘Uluum al-Qur’aan, Beirut : Daar Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988.
Bell, Richard, Introduction to the Qur’an, Terj., Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1995.
DEPAG RI, Al Qur’anul Kariim, Semarang : Nur Cahaya, 1985
Djalal, Abdul, Ulumul Qur’an, Surabaya : Dunia Ilmu, 2000.
Hasby Ash-Shidiqi, Ulum al-Qur’an, Semarang : Pustaka Rizki Putra, cet, 2002
Jalaluddin As-suyuti. Al-itqan fi ulum al-Qur’an
Katsiir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katsiir, Juz 1., Terj., Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2003.
Shihab, Quraish, Membumikan Al-Qur’an ; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung : Mizan, 1995.
Wahid, Ramli Abdul, Ulumul Qur’an, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1994.
Watt, W. Montgomery, Pengantar Studi Al-Qur’an, Jakarta : Rajawali Press, 1991.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar