Minggu, 09 Januari 2011

makalah filsafat ilmu dan pengetahuan

BAB I
PENDAHULUAN

Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah. Dengan munculnya Ilmu Pengetahuan Alam pada abad ke 17, mulai terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat.
Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar- bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.
Dengan demikian perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan ke arah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu sangat tepat bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.
Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F.Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge Is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan.
Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karenanya, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel Kant (dalam Kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis Bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences). Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan).










BAB II
PEMBAHASAN

Sebenarnya kata ‘Ilmu’ dan ‘Pengetahuan’ yang sering kita dengar dalam satu rangkaian sebutan, tanpa mengerti lebih detail dari masing-masing definisinya, seperti yang dipakai dalam istilah nama lembaga ‘Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia’ (LIPI) dan sebutan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) , merupakan pleonasme yaitu pemakaian lebih dari satu perkataan yang sama artinya dan sudah menjadi salah kaprah. Untuk pengertian yang dicakup kata Inggris ‘science’ cukuplah disebut ‘ilmu’ saja tanpa menyebut perkataan ‘pengetahuan’.

A. DEFINISI ILMU PENGETAHUAN DAN FILSAFAT
Untuk mendapatkan pengertian yang luas tentang ilmu pengetahuan dan tidak melebar pada pembahasan yang tidak relevan, maka pemakalah akan membahas secara detail dengan mengacu pada kompetensi dasar dan indikator kompetensi pada silabi yang telah ditetapkan dosen pengampu pada bahasan sebagai berikut :
Pengertian Ilmu
Ilmu berasal dari bahasa arab yaitu alima – ya’lamu – ‘ilman dengan wazan fa’ala – yaf’alu – fi’lan yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Ilmu dalam kamus Indonesia adalah pengetahuan suatu bidang yang disusun secara konsisten menurut metode-metode tertentu, juga dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
Ilmu merupakan terjemahan kata science (sain) yaitu pengetahuan yang rasional dan didukung dengan bukti empiris. Dalam bentuk yang baku, pengetahuan ilmu itu mempunyai paradigma dan metode tertentu. Paradigmanya disebut paradigma ilmu dan metodenya disebut metode ilmiah. Formula utama dalam pengetahuan ilmu (science) adalah buktikan bahwa itu rasional dan tunjukkan bukti empirisnya. Jadi pengetahuan dapat berkembang menjadi ilmu apabila memenuhi kriteria antara lain; mempunyai obyek kajian mempunyai metode pendekatan, dan bersifat universal.
Ilmu merupakan sistem dari dari berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu pengalaman tertentu yang disusun melalui sistem tertentu, sehingga menjadi suatu kesatuan, atau merupakan suatu sistem dari pengetahuan yang masing-masing diperoleh sebagai hasil pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memahami metode-metode tertentu yaitu induksi (kesimpulan yang dimulai dari kasus perkasus) dan deduksi (kesimpulan yang dimulai dari pernyataan umum).

Pengertian Pengetahuan
Ditinjau dari segi etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris, yaitu Knowledge. Dalam Encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar. Sedangkan dari segi terminology menurut Sidi Gazalba dalam kitab Sistematika Filsafat Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik pukiran. Dengan demikian pengetahuan adalah merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
Pengetahuan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya adalah selalu terdiri atas unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya itu. Oleh Karena itu pengetahuan selalu menuntut adanya subyek yang mempunyai kesadaran untuk mengetahui tentang sesuatu dan obyek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin diketahuinya. Jadi bisa dikatakan pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu obyek yang dihadapinya, atau hasil usaha manusia untuk memahami suatu obyek tertentu.
Di sini yang menjadi sumbernya adalah hasil penyelidikan dengan pengalaman (empirik) dan percobaan (eksperimen) yang kemudian diolah dengan pikiran. Nilai kebenarannya adalah positif, sepanjang positifnya peralatan yang digunakan dalam penyelidikannya, yaitu indera, pengalaman dan percobaannya, maka ilmu pengetahuan selalu siap untuk diuji lagi kebenarannya, karenanya kebenaran ilmu pengetahuan tetap diakui sebagai benar sampai ada pembuktian dengan bukti yang lebih kuat.
Jadi pengetahuan dapat berkembang menjadi ilmu , apabila memenuhi criteria antara lain; mempunyai obyek kajian, mempunyai metode pendekatan dan bersifat universal.

Pengertian Filsafat
Dalam perkembangan sejarah ilmu filsafat, antara satu ahli filsafat dengan ahli filsafat lainnya selalu berbeda seiring banyaknya ahli filsafat itu sendiri. Pengertian filsafat dapat ditinjau secara etimologi dan terminology.
Arti Secara Etimologi
Kata Filsafat yang dalam bahasa Arab falsafah dan bahasa inggrisnya dikenal dengan istilah Philosophy adalah berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosopic. Kata Philosophic terdiri dari kata Philein yang berarti cinta (Love) dan sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan.
Menurut Cicero, penulis Romawi (106-43 SM) kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras (497 SM), sebagai reaksi terhadap orang-orang cendekiawan pada masanya yang menamakan dirinya “ahli pengetahuan”.
Arti filsafat saat itu belum begitu jelas, kemudian pengertian filsafat itu diperjelas seperti halnya yang banyak dipakai sekarang ini oleh para kaum sophist.

Arti secara terminology
Secara terminologi, para filsuf berbeda-beda pendapat dalam memberikan definisi, sehingga dalam makalah ini penulis cukuplah memaparkan tiga definisi, sebagai berikut :
1). Menurut Plato Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Plato juga mengatakan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada.
2. Menurut Al farabi, filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada.
3. Sedangkan menurut Sidi Gazalba, filsafat adalah system kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil dari berpikir secara radikal, sistematis dan universal.
Karena memperhatikan berbagai batasan, tentunya masih banyak yang belum dicantumkan. Namun dari yang terurai di atas dapatlah ditarik benang merah sebagai kesimpulan bahwa fisafat adalah ilmu pngetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukannya mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah hakekat dari fenomena.

B. GENEALOGI ILMU PENGETAHUAN
Yang dimaksud genealogi ilmu pengetahuan disini adalah sejarah atau asal usul ilmu pengetahuan. Seperti telah disinggung pada pembahasan pengertian ilmu dan pengetahuan di atas, telah kita pahami bahwa pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu obyek yang dihadapinya, atau hasil usaha manusia untuk memahami suatu obyek tertentu, dan yang menjadi sumbernya adalah hasil penyelidikan dengan pengalaman (empirik) dan percobaan (eksperimen) yang kemudian diolah dengan pikiran.
Pythagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak sesuai untuk manusia. Tiap-tiap orang mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya, namun ia tidak mencapai tepinya, jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian darinyatanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu kita ini bukan ahli pngetahuan, melainkan pencari dan pecinta pengetahuan, yaitu filosuf.
Aristoteles mengawali metafisiknya dengan pernyataan” setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”. Tetapi jauh sebelum Aristoteles Socrates mengatakan hal yang nampaknya bertentangan dengan ungkapan Aristoteles tersebut, yaitu bahwa tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan. Kontradiktif ini tidak perlu diperdebatkan, karena menurut Plato filsafat dimulai dari rasa kagum. Kekaguman filosofis ini bukanlah kekaguman akan hal-hal yang rumit, canggih atau kompleks, tetapi justru kekaguman akan sesuatu yang sederhana dan tampaknya jelas dalam kehidupan sehari-hari. Menyatakan kekaguman dalam hal ini adalah mempertanyakan hal-hal yang ada di hadapan kita yang dalam anggapan umum dianggap telah diketahui. Karena itu seseorang harus tahu apa yang dicarinya dan berusaha untuk menemukan apa yang dicari tersebut.
Walaupun demikian ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan tetap berasal dari filsafat sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan yang berdasarkan kekaguman atau keheranan yang mendorong rasa ingin tahu untuk menyelidikinya, kesangsian, kesadaran dan keterbatasan. Untuk mencapai pengetahuan, seseorang harus sadar bahwa ia ‘belum tahu’ dan karena itu ia “ingin tahu”
Dengan uraian di atas, kita dapat melihat adanya dua macam bentuk pengetahuan yaitu pengetahuan harian atau pengetahuan biasa (common sesnse) yang sering dianggap sebagai pengetahuan inderawi dan pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang berdasarkan akal budi (intelektif).

C. KEDUDUKAN ILMU PENGETAHUAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia dapat pemakalah jelaskan dalam tiga hal sebagai berikut :
Ilmu sebagai proses ( kegiatan penelitian)
Ilmu pengetahuan sebagai proses juga dinamakan suatu aktifitas penelitian. Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktifitas manusia yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktifitas saja, melainkan suatu rangkaian aktifitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktifitas itu bersifat rasional, kognitif dan teologis.
Ilmu pengetahuan sebagai proses artinya kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan demi penemuan dan pemahaman dunia alami sebagaaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki. Metode ilmiah yang khas dipakai dalam proses ini adalah anatis rasionalis, obyektif, sejauh mungkin “ impersonal” dari masalah yang didasarkan pada percobaan dan data yang dapat di amati.
Dari dua pendapat di atas, menyebabkan adanya seseorang yang melaksanakan rangkaian aktifitas penelitian dalam bidang keilmuan, dan sekarang lazim dinamakan ilmuwan (scientis)
Ilmu sebagai prosedur (Metode ilmiah)
Untuk memperjelas pengertian ilmu sebagai aktifitas penelitian, maka harus diuraikan lebih lanjut dan lengkap mengenai cara dan langkah menuju hasil ilmiah. Penelitian sebagai serangkaian aktifitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan disebut metode.. Untuk lebih jelasnya dipakai istilah ‘metode ilmiah’ (scientific method).
Secara lebih khusus archie J. Bahm dalam bukunya “What in Science?” menjelaskan bahwa metode ilmiah meliputi 5 langkah yaitu :
Menyadari akan masalah.
Menguji masalah.
Mengusulkan solusi.
Menguji usulan atau proposal masalah/pengujian hipotesa.
Memecahkan masalah.
Ilmu sebagai Produk (pengetahuan sistematis)
Dari pengertian ilmu sebagai proses yang merupakan penelitian ilmiah dan prosedur yang mewujudkan metode ilmiah di atas, pada akhirnya keluarlah produk berupa pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Ini merupakan pengertian dan posisi ilmu yang ketiga.
Menurut Daoed Joesoef (1987) ilmu pengetahuan sebagai produk pengetahuan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya oleh masyarakat ilmuwan. Pengetahuan dalam hal ini terbatas pada kenyataan yang mengandung kemungkinan untuk disepakati dan terbuka untuk diteliti, diuji, dan dibantah oleh seseorang.
Pengetahuan ilmiah dapat dibaca dalam buku-buku pelajaran, majalah-majalah dan bahan-bahan bacaan lainnya yang ada dalam halaman- halaman bacaan itu. Pengetahuan ilmiah dapat juga diserap dari pernyataan-pernyataan yang diucapkan oleh seseorang dalam mimbar kuliah atau pertemuan.
Dari uraian-uraian pendapat di atas, menjelaskan bahwa ilmu merupakan pengetahuan. Pengetahuan secara sederhana pada dasarnya adalah keseluruhan keterangan dan ide yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang dibuat mengenai sesuatu gejala-peristiwa baik yang bersifat alamiah, social maupun keorangan. Jadi pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi (fakta) substantive yang terkandung dalam ilmu.

D. TUJUAN ILMU PENGETAHUAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Tujuan ilmu terdapat bermacam-macam versi sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuwan. Di antara pendapat-pendapat ilmuwan tersebut adalah :
Pendapat Robert Ackerman :
“ It is sometimes said that the aim science is to control nature, and sometimes thst it is to understand nature”
(Kadang-kadang dikatakan bahwa tujuan ilmu ialah mengendalikan alam, dan kadang-kadang untuk memahami alam)
Francis Bacon berpendapat bahwa “ The real end legitimate goal of the sciences is the endowment of human life with new inventions and riches”
(Tujuan sah dan senyatanya dari ilmu-ilmu adalah sumbangan terhadap hidup manusia dengan ciptaan-ciptaan baru dan kekayaan)
Pendapat Mario Bronowski
“The end Of scienceis to discover what true about the world. The activity of science is ddirected to seek the truth, and it is judged by the criterion of being true to the fact”
(Tujuan ilmu adalah menemukan apa yang benar mengenai dunia ini. Aktivitas ilmu diarahkan untuk mencari kebenaran, dan ini dinilai dengan ukuran apakah benar terhadap fakta-fakta)
Pendapat Mario Bunge
“Primarily to increase our knowledge (intrinsic or cognitive goal); derivatively, to increase our welfare and power (extrinsic or utilitarian goals)”
(pertama-tama, meningkatkan pengetahuan kita (tujuan intrisik atau kognitif); kelanjutannya meningkatkan kesejahteraan dan kekuasaan kita (tujuan ektrinsik atau kemanfaatan)

Dari kutipan beberapa pendapat di atas ternyata ilmu mengarah pada berbagai tujuan yang ingin dicapai atau dilaksanakan, dapat dirinci sebagai berikut:
Pengetahuan (knowledge)
Kebenaran (truth)
Pemahaman (understanding, comprehension, insigt)
Penjelasan (explanation)
Peramalan (prediction)
Pengendalian (control)
Penerapan (application, invention, production)
Ilmu dikembangkan oleh para ilmuwan untuk mencapai kebenaran atau memperoleh pengetahuan. Dari kedua hal itu ilmu diharapkan dapat pula mendatangkan pemahaman kepada manusia mengenai alam semestanya, dunia sekelilingnya, atau sekarang bahkan juga mengenai masyarakat lingkungannya dan dirinya sendiri. Berdasarkan pemahaman itu ilmu dapat memberikan penjelasan tentang gejala alam, peristiwa masyarakat, atau perilaku manusia yang perlu Dijelaskan. Penjelasan dapat menjadi landasan untuk peramalan yang selanjutnya bias merupakan pangkal bagi pengendalian terhadap sesuatu hal. Akhirnya ilmu juga diarahkan pada tujuan penerapan yaitu untuk membuat aneka sarana yang akan membantu manusia mengendalikan alam atau mencapai tujuan praktis apapun. Dengan demikian ilmu tidak mengarah pada tujuan tunggal yang terbatas melainkan pada macam-macam tujuan yang tampaknya dapat berkembang terus sejalan dengan pemikiran para ilmuwan.















BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian makalah di atas dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :
Ilmu berasal dari bahasa arab yaitu alima – ya’lamu – ‘ilman dengan wazan fa’ala – yaf’alu – fi’lan yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang mengenai suatu kenyataan yang tersusun sistematis, dari usaha manusia yang dilakukan dengan penyelidikan, pengalaman dan percobaan-percobaan.
Ditinjau dari segi etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris, yaitu Knowledge. Dalam Encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar. Sedangkan dari segi terminology menurut Sidi Gazalba dalam kitab Sistematika Filsafat Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik pukiran. Dengan demikian pengetahuan adalah merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakekatnya. Filsafat bukannya mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah hakikat dari suatu fenomena.
Posisi ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia adalah : a. ilmu sebagai proses (aktivitas penelitian), b. Ilmu sebagai prosedur (metode ilmiah) dan c. ilmu sebagai produk(pengetahuan sistematis)
Tujuan-tujuan ilmu oleh para ilmuwan dan filsuf antara lain adalah bahwa ilmu itu bertujuan untuk mencapai kebenaran atau memperoleh pengetahuan. Dari kedua hal itu ilmu diharapkan dapat pula mendatangkan pemahaman kepada manusia mengenai alam semestanya, dunia sekelilingnya, atau sekarang bahkan juga mengenai masyarakat lingkungannya dan dirinya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad hanafi, MA, Pengantar Filsafat Islam, (jakarta: Bulan Bintang, 1990)
Ahmad, Syadali, Mudzakir, Filsafat Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 1999)
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Mengurai ontology, epistemology, dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2006)
A. Khozin Afandi, Filsafat Ilmu dan beberapa pokok Ajaran Fenomenologi (tt, tt, 1997)
Amtsal, Bakhtir, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004)
Ananda, Santoso, Priyanti S, Kamus Lengkap bahasa Indonesia, (Surabaya : Kartika, 2005)
Ali Maksum, Pengantar Filsafat dari Masa klasik Hingga Postmodernisme, (Yogyakarta, Ar Ruzz Media, 2008)
Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada)
Daoed Joesoef, Pancasila kebudayaan dan ilmu pengetahuan’dalam Pancasila sebagai Orientasi Pengembangan Ilmu, editor: Soeroso Prawiharjo dkk, Yogyakarta: Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat)
Hasan, Bakti, Nasution, Filsafat Umum, (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2001)
Lasiyo dan Yuwono, Pengantar Ilmu Filsafat, (Yogyakarta: Liberty, 1985)
Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta: Belukar, 2006)
Rone, “Filsafat ilmu Pengetahuan”, dalam http ://blog.unila.ac.id , tt
Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008)
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Edisi Kedua Cetakan Ketujuh (Yogyakaarta: Liberty, 2007)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar