Jumat, 14 Januari 2011

DINASTI MAMLUK

DINASTI MAMLUK
by Sariono Sby


BAB I
PENDAHULUAN

Pada tradisi tradisi lain selain Islam, kemunculan dan kebangkitan suatu dinasti semacam Dinasti Mamluk merupakan satu fenomena yang sulit dipahami. Bahkan dalam tradisi islam pun, fenomena ini terbilang ajaib ataupun unik. Dinasti Mamluk, sebagaimana di tunjukkan oleh namanya, merupakan dinasti para budak, yang berasal dari berbagai suku dan bangsa menciptakan satu tatanan oligarki militer di wilayah asing. Para sultan-budak ini menegaskan kekuasaan mereka atas wilayah suriah-mesir, yang sebelumnya dikuasi tentara salib. Selama beberapa waktu mereka berhasil menahan laju serangan pasukan Mongol pimpinan Hulagu dan Timur Lenk. Seandainya mereka gagal bertahan, tentu seluruh tatanan sejarah dan kebudayaan di Asia Barat damn Mesir akan berubah drastis. Berkat kegigihan mereka , Mesir bisa bertahan, dan selamat dari serangan mongol yang telah menghancurkan suriah dan irak, sehingga penduduk Mesir bisa tetap menyaksiakn kesinambungan budaya dan institusi politis, suatu fenomena yang tiadak dinikmati oleh negara negara islam lainnya di luar daratan Arab.
Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Baghdad sebagai pusat peradaban dan kebudayaan Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan Timur lenk.
Karena negeri Mesir yang saat itu di bawah kekuasaan Mamluk terhindar dari kehancuran, maka persambungan perkembangan peradaban dengan masa klasik relatif terlihat dari beberapa diantara prestasi yang pernah dicapai pada masa klasik bertahan di Mesir. Walaupun demikian kemajuan yang dicapai oleh dinasti ini, masih dibawah prestasi yang dicapai oleh umat Islam pada masa klasik. Hal itu mungkin karena metode barfikir tradisional sudah tertanam sangat kuat sejak berkembangnya aliran teologi ‘Asy’ariyah, filsafat mendapat kecaman sejak pemikiran al-Ghazali mewarnai pemikiran mayoritas umat Islam, dan yang lebih penting lagi adalah karena Baghdad dengan fasilita-fasilitas ilmiahnya yang banyak memberi inspirsasi kepusat-pusat peradaban islam, hancur.
Sekitar dua dan tiga perempat abad (1250-1517) dinasti mamluk menguasai suatu kawasan paling panas di dunia dan memelihara keutuhan daerah itu. Meskipun secara umum mereka tidak berbudaya dan haus perang mereka mengapresiasi dengan baik pembangunan dalam bidang arsitektur dan dan kesenian, sehingg dalam bidang itu, mesir boleh dibandingkan dengan dinasti berbudaya lainnya, bahkan kairo hingga saat ini pun masih menjadi tempat paling indah di dunia muslim. Dan akhirnya mereka di gulingkan oleh khalifah salim dari dinasti uthmani pada 1517 M.










BAB II
PEMBAHASAN

A.Dinasti Mamluk Di Mesir
Dasar-dasar kekuasaan Mamluk diletakkan oleh Shajarah al-Durr, janda al-s}a>lih dari dinasti Ayyubiyah yang tadinya merupakan seorang budak dari turki dan Armenia. Pada awalnya ia adalah seorang pengurus rumah tangga, dan salah satu harem khalifah al-Mu’tas}im. Kemudian ia mengabdi pada al-S}a>lih khalifah yang yang membebaskannya setelah setelah ia melahirkan anak laki laki.
Kepemimpinan Shajarah al-Durr berlangsung sekitar tiga
bulan. Ia kemudian kawin dengan seorang tokoh Mamluk bernama Aybak dan
menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya (sebagai sultan), sambil berharap dapat terus berkuasa dibelakang tabir. Akan tetapi setelah itu Syajarah al-Dur membunuh Aybak karena terdengar desas desus bahwa sultan berencana untuk kawin lagi, ia membunuh suaminya ketika mandi setelah pertandingan bola di istana raja di dalam kompleks benteng pertahanan Kairo.
Aybak berkuasa selama 7 tahun (1250-1257 M). Setelah meninggal ia
digantikan oleh anaknya Ali yang masih berusia muda. Ali kemudian
mengundurkan diri pada tahun 1259 M dan digantikan oleh wakilnya, Qutuz.
Setelah Qutuz naik tahta, Baybars yang mengasingkan diri ke Shiria karena tidak
senang dengan kepemimpinan Aybak kembali ke Mesir. Diawal tahun 1260 M
Mesir terancam serangan bangsa Mongol yang sudah berhasil menduduki hampir
seluruh dunia Islam. Kedua tentara bertemu di Ayn Jalut, dan pada taggal 13
September 1260 M, tentara Mamluk dibawah pimpinan Qutuz dan Baybars
berhasil menghancurkan pasukan Mongol tersebut. Kemenangan atas tentara
Mongol ini membuat kekuasaan Mamluk di Mesir menjadi tumpuan harapan
umat Islam disekitarnya. Penguasa-penguasa di Shiria segera mengatakan setia
kepada penguasa Mamluk.
Tidak lama setelah itu Qutuz meninggal dunia. Baybars, seorang
pemimpin militer yang tangguh dan cerdas, diangkat oleh pasukannya menjadi
Sultan (1260-1277 M). Ia adalah sultan terbesar dan termashur diantara 47
sultan Mamluk. Ia pula yang dipandang sebagai pembangun hakiki dinasti
Mamluk.
Sejarah dinasti yang berlangsung sampai pada tahun 1517 M tersebut dibagi menjadi 2 periode.
· Pertama, periode kekuasaan Mamluk Bah}ri, sejak berdirinya (1250 M)sampai berakhirnya pemerintahan Hajji II tahun 1389 M,
· periode kekuasaan Mamluk Burji, sejak berkuasanya Burquq untuk kedua kalinya tahun 1389 M sampai akhirnya tumbang pada tahun 1517 M, dikalahkan oleh khalifah salim dari kerajaan Usmani.

B. Kontribusi Dinasti Mamluk Terhadap Dunia Islam

1. Kairo Sebagai Pusat Peradaban.
Kota Kairo dibangun pada tahun 969 M oleh panglima perang dinasti Fatimiah yang beraliran Shiah Jawhar al-Siqly, atas perintah khalifah al-Mu’izz Lidinillah (953-975)
Kota yang terletak di tepi sungai Nil ini mengalami tiga kali masa kejayaan, yaitu pada masa dinasti Fatimiah, di masa Salah al-Din al-Ayyubi, dan di bawah Baybars pada dinasti Mamluk.
Setelah khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh pada tahun 1258 M akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan Mongol itu. Lebih dari itu , Timur Lenk sebagaimana telah disebut, menghancurkan pusat pusat kekuasaan Islam yang lain.
Pada masa itu, Kairo menjadi satu satunya pusat peradaban Islam yang selamat dari serangan Mongol. Oleh karenanya, Kairo menjadi pusat peradaban dan kebudayaan Islam terpenting. Baybars memugar bangunan bangunan kota, merenovasi al-Azhar, dan pada tahun 1261 M mengundang keturunan Abbasiyah untuk melanjutkan Khilafahnya di Kairo. Dengan demikian prestise kota ini semakin menanjak. Banyak bangunan dengan arsitektur yang indah dibangun pada masa dinasti Mamluk berikutnya.
2. Kemajuan Dinasti Mamluk di Berbagai Bidang

1. Bidang Politik
Dinasti Mamluk membawa warna baru dalam sejarah politik Islam.
Pemerintahan dinasti ini bersifat oligarki militer, kecuali dalam waktu yang
singkat ketika Qalawun (1280-1290 M) menerapkan pergantian sultan secara turun temurun. Anak Qalawun berkuasa hanya 4 tahun, karena kekuasaanya direbut oleh Kitbugha (1295-1297 M). Sistem pemerintahan oligarki ini banyak mendatangkan kemajuan di Mesir. Kedudukan Amir menjadi sangat penting. Para Amir berkompetisi dalam prestasi, karena mereka merupakan kandidat Sultan. Kemajuan-kemajuan itu dicapai dalam berbagai bidang, seperti konsolidasi pemerintahan, perekonomian, dan ilmu pengetahuan.

2. Bidang Pemerintahan
Dalam bidang pemerintahan, kemenangan dinasti Mamluk atas tentara
Mongol di Ayn Jalut menjadi modal besar untuk menguasai daera-daerah
sekitarnya. Banyak penguasa dinasti kecil mengatakan setia kepada kerajaan ini.
Untuk menjalankan pemerintahan didalam negeri, Baybars mengangkat kelompok
militer sebagai elit politik. Disamping itu, untuk memperoleh simpati dari
kerajaan-kerajaan Islam lainnya, BayBars membaiat keturunan Bani Abbas yag
berhasil meloloskan diri dari serangan bangs Mongol, al-Mustansir sebagai
Kholifah. Dengan demikian, Khilafah Abbasiyah setelah dihancurkan oleh tentara
Hulago di Baghdad, berhasil dipertahankan oleh dinasti ini denga Kairo sebagai
pusatnya. Sementara itu, kekuatan-kekuatan yang dapat mengancam kekuasaan
Baybars dapat dilumpuhkan, seperti tentara Salib disepanjang laut tengah, Assasin
di pegunungan Shiria, Cyrenia (tempat berkuasanya orang-orang Armenia), dan
kapal-kapal Mongo; di Anatolia.

3. Bidang Perekonomian
Di bidang perekonomian, Mamluk membuka hubungan dagang dengan Perancis dan Italia melalui jalur perdagangan yang sudah dirintis oleh dinasti Fatimiyah di Mesir sebelumnya. Jatuhnya Baghdad membuat Kairo, sebagai jalur perdagangan antara Asia dan Eropa, menjadi lebih penting karena Kairo menghubugkan jalur perdagangan Laut Merah Laut Tengah dengan Eropa. Disamping itu, hasil pertanian juga meningkat, keberhasilan dalam bidang ekonomi ini didukung oleh pembangunan jaringan trasportasi dan komunikasi antar kota, baik laut maupun darat. Ketangguhan angkatan laut Mamluk sangat membantu pengembangan perekonomiannya.

4. Bidang Ilmu Pengetahuan
Dibidang ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuan-ilmuan
asal Baghdad dari serangan tentara Mongol. Karena itu, ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir seperti sejarah, kedokteran, astronomi, matematika, dan
ilmu agama. Dalam ilmu sejarah tercatat nama-nama besar, seperti Ibn Khalikan,
Ibn Takribadi, dan Ibn Khaldun. Dibidang astronomi dikenal Nas}i>r al-Di>n al-
T}u>si. Dibidang matematika Abu al- Faraj al-Ibry. Dalam bidang kedokteran: Abu
al-Hasan Ali al-Nafi>s penemu susunan dan peredaran darah dalam paru-paru
manusia, Abd al-Mun’in al-Dimyat}i, seorang dokter hewan, dan al-Ra>zi, perintis
pesikoterapy. Dalam bidang Opthalmologi dikenal nama S}alah al-Di>n Ibn Yusuf.
Sedangkan dalam ilmu keagamaan, tersohor nama Ibn Taimiyah, seorang pemikir
reformis dalam Islam, al-Suyut}i yang menguasai banyak ilmu keagamaan, Ibn
H}ajar al-‘Asqala>ni dalam ilmu hadist dan lain-lain.

5. Bidang Seni
Dinasti Mamluk juga ditandai dengan melimpahnya karya yang semi-ginekolis dan semi erotis. Karya semacam itu masa sekarang kita kenal sebagai buku seks. Karya karya sastra Arab, di hampir sepanjang perkembangannya, adalah karya satra maskulin, yang disesaki oleh anekdot anekdot , dan macam macam canda.

6. Bidang Arsitektur dan Pembangunan
Dinasti Mamluk juga banyak mengalami kemajuan di bidang arsitektur. Banyak arsitek didatangkan ke Mesir untuk membangun sekolah dan masjid yang indah.Bangunan lain yang didirikan pada masa ini di antaranya adalah rumah sakit, museum, perpustakaan, vila vila, kubah dan menara masjid .

Kemajuan-kemajuan itu tercapai berkat keperibadian dan wibawa sultan
yang tinggi, solidaritas sesama militer yang kuat, stabilitas negara yang aman dari
gangguan. Akan tetapi, ketika dikdaktor tersebut menghilang, dinasti Mamluk
sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. Semenjak masuknya budak dari
Sirkasia yang kemudian di kenal dengan nama Mamluk Burji yang untuk
pertamakalinya dibawa oleh Qalawun, solidaritas antar sesama militer terutama
setelah Mamluk Burji berkuasa. Banyak penguasa Mamluk Burji yang bermoral
rendah dan tidak menyukai ilmu pengetahuan. Kemewahan dan kebiasaan
berfoya-foya dikalangan penguasa menyebabkan pajak dinaikkan. Akibatnya,
semangat kerja rakyat menurun, dan perekonomian negara tidak stabil. Disamping
itu, ditemukannya Tanjung Harapan oleh Eropa tahun 1498 M, menyebabkan
perdagangan Asia sampai Eropa melalui Mesir menurun fungsinya. Kondisi ini
diperparah oleh datangnya kemarau panjang dan berjangkitnya wabah penyakit.
Dipihak lain, suatu kekuatan politik baru yang besar sebagai tantangan dari
Mamluk, yaitu kerajaan Usmani. Kerajaan inilah yang mengakhiri riwayat
Mamluk di Mesir. Dinasti Mamluk kalah melawan pasukan Usmani dalam
pertempuran menentukan diluar kota Kairo pada tahun 1517 M. Sejak itu wilayah Mesir berada di bawah kekuasaan kerajaan Usmani sebagai salah satu propinsinya.










BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat kami simpulkan :

1. Satu fenomena yang sulit dipahami. Bahkan dalam tradisi Islam pun, fenomena ini terbilang ajaib ataupun unik. Dinasti Mamluk, sebagaimana di tunjukkan oleh namanya, merupakan dinasti para budak, merupakan sebuah dinasti di Mesir yang selamat dari kehancuran pada masa Abbasiyah akibat serangan Mongol, Berjaya pada masa pemerintahan Sultan Baybars yang dipandang sejarah sebagai pendiri hakiki dinasti Mamluk.
2. Sumbangsih terbesarnya pada dunia Islam yaitu ketika dinasti Mamluk menjadi penyambung peradaban dan kebudayaan Islam masa klasik yang telah hancur dengan masa sesudahnya. Sehingga Mesir bisa tetap menyaksiakn kesinambungan budaya dan institusi politis, suatu fenomena yang tidak dinikmati oleh negara negara islam lainnya di luar daratan Arab.
3. Dinasti Mamluk mengalami kemajuan di berbagai bidang saat itu. Meskipun tidak semaju dinasti sebelumnya, ini menunjukkan bahwa khilafah Islam masih eksis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar