Kamis, 13 Januari 2011

Tafsir Bir Ra'yi

TAFSIR BIR- RA'YI
by: Sariono Sby
I. Pendahuluan.
Al-qur'a>n adalah kitab yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada ummatnya tentang apa yang terkandung di dalamnya. Nabi yang mempunyai otoritas penuh untuk menjelaskannya, dibimbing oleh Alla>h selama kurun waktu mulai turunnya hingga terakhir kitab suci ini diturunkan. Keontetikan penjelasan nabi ini tidak diragukan kebenarannnya karena nabi dalam kapasitasnya sebagai rasul dalam hal yang terkait dengan wahyu yang ia terima tidak berjalan di atas hawa nafsunya dalam melakukan interpretasi terhadap al-qur'a>n seperti yang telah diisyaratkan sendiri oleh al-qur'a>n dalam surat al- Najm ayat (3).
وما ينطق عن الهوى
”Dan tiadalah yang yang diucapkannya itu (al-Qur'a>n) menurut kemauan hawa nafsunya"
Setelah nabi wafat, dan telah sempurnanya tugas kerasulan beliau, menjadi tanggungjawab para sahabat radhiya Alla>h 'anhum untuk menjelaskan apa yang mereka terima dari nabi kepada masyarakat muslim waktu itu. Para sahabat dalam menjelaskan apapun yang terkait dengan al- qur'a>n tentu berpijak dari apa yang telah disampaikan oleh nabi. Ketika nabi masih hidup mereka menanyakan persoalan- persoalan yang tidak jelas langsung kepada beliau. Tetapi setelah nabi wafat mereka harus melakukan ijtihad dalam mentafsiri al-qur'a>n terhadap hal-hal yang belum dijelaskan oleh nabi. Sementara itu ada pula sahabat yang menanyakan beberapa masalah yang terkait dengan sejarah nabi-nabi atau kisah-kisah yang ada di dalam al-qur'a>n kepada tokoh-tokoh ahl al-kita>b Yahudi dan Nasrani yang telah memeluk Islam, seperti Abd Alla>h bin Sala>m, Ka'ab al-Akhba>r. Inilah yang selanjutnya menjadi benih lahirnya Isra>iliyya>t
Selanjutnya, setelah masa sahabat adalah masa ta>bi'i>n yang mana mereka adalah murid-murid dari para sahabat tersebut. Diantaranya adalah, (a) Sa'id ibn Jubair, Muja>hid ibn Ja>bir, di Makkah yang berguru kepada Ibn Abba>s; (b) Muhammad ibn Ka'ab, Zaid bin Aslam, di Madinah yang berguru kepada Ubay ibn Ka'ab dan (c) Al-Hasan al-Bashri, Ami>r al- Sha'bi, di Irak yang berguru kepada 'Abd Alla>h bin Mas'u>d. Corak penafsiran mereka mengacu kepada guru-guru mereka, yaitu para sahabat nabi, yang dikenal dengan tafsir bi al- ma'thu>r atau penafsiran dengan riwayat, yang tidak akan di bahas pada tulisan ini.
Gabungan dari ketiga sumber tafsir di atas, yaitu penafsiran Rasullullah, penafsiran para sahabat, serta penafsiran ta>bi'i>n dikelompokkan menjadi satu kelompok yang selanjutnya dijadikan periode pertama dari perkembangan tafsir yang berakhir pada tahun 150 H, dan dimulainya periode kedua dari sejarah perkembangan tafsir.
Dalam makalah ini akan dipaparkan tentang tinjauan umum terhadap Tafsi>r bi Al- Ra'yi serta pendapat Ulama tentangya.
II. Tinjauan Umum Tentang Tafsi>r bi Al- Ra'yi
Aliran ini (tafsi>r bi al-ma'thu>r) mempunyai banyak kelebihan seperti penafsiran yang mendekati objektifitas yang didasarkan atas ayat-ayat al-Qur'an sendiri dan hadith Nabi Saw, tetapi ia juga mempunyai kelemahan, misalnya ada cerita Isra>iliyya>t yang dianggap sebagai hadi>th dan hal itu menyesatkan umat, munculnya hadi>th palsu, dan penelaahan sahabat atau tabi'in terhadap keshahihan hadith belum memadai sehingga mengakiban kesalahan dalam penafsiran. Sehingga diperlukan ijtihad dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an. Hal ini sejalan dengan lajunya perkembangan masyarakat yang mengakibatkan berkembang dan bertambah besar pula porsi peranan akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat al- Qur'a>n, sehingga bermunculanlah berbagai kitab atau penafsiran yang baraneka ragam coraknya. Shekh Muhammad al- Ghaza>li> mengatakan, masalah klasik yang tetap aktual adalah pelarangan terhadap tafsir bi al-ra'yi ( penafsiran dengan pendekatan logika). Pelarangan ini tentu saja mewariskan rasa takut dan menyebabkan penghalang untuk mengkaji isi kandungan al-qur'a>n dan masalah-masalah peradaban yang menjadi salah satu bukti kekalnya al-qur'a>n al-kari>m. Masih banyak kalangan yang berpegang pada jenis pelarangan ini, dengan menggalakkkan atau menekankan pentingnya tafsi>r bi al-ma'thu>r, dengan mengesampingkan peran akal dalam memandang dan menganalisis. Hal serupa ini pula yang melatarbelakangi kejumudan berfikir di kalangan umat Islam. Hal ini dapat dibenarkan jika berkaitan dengan masalah-masalah 'ubudiyah yang tidak mungkin ada perubahan
Tafsi>r bi al-ra'yi atau ta'wi>l juga di pandang atas dasar bahwa tafsir ini bukan tafsir yang obyektif karena sang mufassir tidak memulai dengan fakta-fakta historis dan gejala kebahasaan, akan tetapi dari sikap aslinya, lalu berupaya mencari sandaran sikapnya dalam al-qur'an. Pendukungnya adalah para Filosof, Mu'tazilah, Shi'ah dan para Sufi
Tafsir bi al- Ra'yi menurut al-Dzahabi adalah tafsir al-Qur'a>n dengan ijtihad setelah mufassir mengetahui kaidah-kaidah bahasa Arab dengan seluk beluknya dengan menggunakan bantuan syair-syair jahiliyyah dengan memperhatikan sebab nuzul dan pengetahuannya tentang nasikh mansukh pada ayat-ayat al-Qur'an dan alat alat lain yang dibutuhkan seorang mufassis. Jamal Must}afa> Abd al- Hamid Abd al- Wahha>b al- Najjar, seorang guru besar bidang tafsir dan ulu>m al- Qur'a>n di Kairo Mesir dalam kitabnya Usul al- Dakh>il mengatakan bahwa, jika seorang mufassir tidak menemukan penjelasan mengenai sebuah ayat dalam al- Qur'a>n dan tidak pula di temukan penjelasan dari hadith Nabi, pendapat sahabat atau tabi'i>n maka dia harus mengerahkan kemampuan akal dan fikirannya dengan tetap berpegang pada kaidah-kaidah shara' dan aturan- aturan bahasa, mendahulukan makna-makna hakiki dari ayat tersebut dari pada makna majazi serta menjaga makna- makna yang telah digunakan pada masa nabi. Jika seorang mufassir menafsiri al-Qur'an dengan memperhatikan hal-hal tersebut maka pendapatnya terpuji
Muhammad Tant}a>wi mengatakan bahwa tafsi>r bi al-ra'yi adalah tafsir dengan ijtihad yang disandarkan kepada nas-nas lebih dari pada penyandaran kepada pendapat-pendapat Salaf.
III. Sebab-sebab Timbulnya Tafsir bi al- Ra'yi
Sebab-sebab munculnya tafsi>r bi al- ra'yi adalah ketika masa kebangkitan ilmu-ilmu dalam Islam, di mana para mufassir tidak hanya menafsirkan al-Qur'a>n dengan ayat atau dengan hadi>th, melainkan dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Disiplin ilmu yang dimiliki tersebut digunakan untuk menafsirkan al-Qur'a>n sehingga muncul berbagai corak penafsiran. Misalnya, imam Al-Zamkhshari dalam tafsirnya al-Kassha>f menekankan aspek balaghah, al-Qurthubi menekankan aspek hukum shari>'at, Abu Su'ud menekankan aspek keindahan bahasa dan susunannya, al-Naisa>bu>ri dan imam Nasafi menekankan aspek bacaan, Imam al-Ra>zi menekankan aspek ilmu kalam dan filsafat dan sebagainya. Juga karena adanya perkembangan dalam hal-hal yang terkait dengan peradaban yang bermacam-macam, kelompok-kelompok Islam dan madzhab-madzhab aqidah yang kemudian ikut mewarnai penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur'a>n
Dasar tafsi>r bi al-ra'yi adalah al-Qur'a>n sendiri dan al-Sunnah dan atha>r sahabat, penggalian bahasa asli al-Qur'a>n serta menggunakan makna asli bahasa Arab dan didukung dalil shara', tanpa dasar tersebut memungkinkan kekeliruan dalam pelaksanaan penafsiran. Karena itu ada lima ketentuan kebolehannya menerima tafsiran ini, yaitu:
1. Mengacu kepada maksud al-Qur'a>n,
2. Mufassir menyelami ilmu-ilmu Alla>h sebagai bekal penafsiran,
3. Tidak memegangi hawa nafsu atau membuat hal-hal yang baru,
4. Penafsiran tidak disertai dengan pendapat atau aliran yang sesat dan
5. Penafsiran disertai dalil dan bukan hanya sekedar perkiraan
Muhammad al-Zafza>f dalam kitabnya al-Ta'ri>f bi al-Qur'a>n wa al-Had>ith mengatakan bahwa pada masa-masa awal Islam ada ketakutan untuk melakukan penafsiran dengan ra'yi. Imam Malik meriwayatkan bahwa, Sa'i>d ibn al-Musayyab ketika ditanya tentang tafsir dari sebuah ayat al-Qur'an dia mengatakan" kita tidak berpendapat apapun tentang al-Qur'a>n". Ketakutan ini sangat beralasan karena berdasarkan kehati-hatian atas sabda nabi yang mengindikasiakan adanya ancaman neraka bagi orang yang menafsirkan al-Qur'a>n tidak berdasarkan ilmu. Oleh karena itu ketika menafsirkan ayat-ayat al-Qur'a>n mereka berpegang kepada Naql.
IV. Pendapat 'Ulama> Tentang Tafsi>r bi Al- Ra'yi
Para Ulama> berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya metode tafsi>r bi al–Ra'yi. Sebagian 'ulama> melarang penafsiran Al-Qur'a>n dengan menggunakan metode ini, sebagian yang lain memperbolehkannya. Rincian dari perbedaan ini hanyalah sebatas pada lafadz bukan hakikatnya. Dan golongan pertama berpendapat bahwa penafsiran bi al- Ra'yi tidak sampai melewati batas-batas ketentuan penafsiran. Sedangkan golongan kedua berpendapat bahwa tiap-tiap golongan telah melewati batas, dengan alasan bahwa meniadakan makna dalam lafadz yang manqu>l adalah suatu hal yang berlebihan dan membahas penafsiran bagi semua orang adalah suatu perbuatan yang tercela.
Ibn Taimiyah, ulama> abad pertengahan (w. 1328) dalam Muqaddimah fi Us}u>l al-tafsi>r-nya sangat menilai tinggi pada tafsir yang di interpretasi sendiri oleh al-Qur'a>n atau tafsir yang diberikan oleh nabi sendiri atau oleh para sahabat yang mendapat otoritasnya melalui dugaan kaitanya dengan nabi yang kita kenal dengan tafsir bi al- Ma'thur, ia sama sekali menolak tafsi>r bi al- Ra'yi. Ini bisa di maklumi karena beliau adalah ahli hukum dari Madhab H}ambali yang membatasi masalah hukum hanya pada al-qur'a>n dan hadi>th. Tetapi dalam kitabnya Al-H>}a>wi> F>i> Takhr>iji Ah}a>di>thi Majmu>' al-Fata>wa> beliau mengomentari tentang hadi>th yang diriwayatkan oleh Tirmi>dhi tentang ancaman neraka bagi orang yang menafsirkan al-qur'a>n dengan akalnya bahwa, hadi>th tersebut d{o'i>f karena ada nama Abd al-A'la> ibn 'Ami>r al-Tha'labi yang dianggap dho'if oleh Ahmad, Ibn Sa'ad dan Abu> Zar'ah. Ini mengindikasikan bahwa beliau masih memberikan ruang bagi tafsi>r bi al-ra'yi
Sedangkan menurut Al-Dhahabi dalam menanggapi permasalahan ini beliau berkata: Tafsi>r bi al-Ra'yi ada dua:
1. dengan menggunakan kaidah bahasa Arab, akan tetapi tetap mengikuti Al-Kitab dan Sunnah serta tetap mengikuti kaidah ilmu tafsir. Dan hal ini diperbolehkan.
2. tidak memakai kaidah bahasa Arab dan kaidah-kaidah ilmu shari>'ah serta tidak mengikuti kaidah ilmu tafsir. Dan hal ini sangat dibenci dan tidak di terima oleh para ulama', seperti yang di sampaikan oleh Ibn Mas'u>d akan ada suatu kaum yang mengajak untuk memahami Al-Qur'an, akan tetapi mereka tidak mengamalkannya. Maka wajib bagi kalian untuk mendalami Al-Qur'a>n, dan menjauhi segala bentuk bid'ah
Muhammad Tant}a>wi berpendapat, tafsi>r bi al-ra'yi tidak boleh kecuali bagi orang yang faham terhadap al-qur'a>n, mendalam dalam ilmu-ilmu tentang hadi>th Nabi, pandai dalam rahasia-rahasia bahasa Arab seperti Nahwu, S}orf dan Balaghoh, memahami ilmu shari>'ah seperti fiqh dan tauhid serta ilmu yang mendukung terhadap penafsirannya
Al-Zafzaf membagi pendapat ulama' yang terkait dengan al-tafsi>r bi al-ra'yi kepada tiga kelompok ;
Pertama, al-Muwassi' yaitu orang yang longgar terhadap penafsiran bi al-ra'yi ini. Mereka berpendapat bahwa setiap orang yang baik akhlaknya serta mempunyai kemampuan yang mendalam dalam bahasa Arab, maka ia boleh melakukan penafsiran dengan ijtihadnya.
Kedua, al-Mud{oyyiqun yaitu orang yang sangat ketat dalam masalah tafsi>r bi al-ra'yi ini. Mereka berpendapat tidak boleh bagi seorangpun untuk menafsiri al-qur'a>n dengan pendapatnya sendiri, walaupun ia pandai, berakhlak baik dan sangat luas pengetahuanya tentang dalil-dalil al-qur'a>n dan hadi>th, fiqh, kaidah bahasa Arab dan atha>r sahabat. Ia harus berpegang dengan apa yang sampaikan Nabi Saw, kepada sahabat-sahabat nabi yang tentu mengetahui asbab al-nuzu>l dan dari para tabi'i>n yang mengambil pendapatnya dari para sahabat.
Yang ketiga, mereka adalah kelompok Mutawassit}un atau moderat. Mereka berpendapat bahwa setiap orang yang mengetaui keterbatasan penafsiran al-qur'an dengan dalil-dalil naqli, maka ia boleh meninggalkannya dan kemudia beralih kepada hal-hal yang dibutuhkan dalam penafsiran.
Kelompok pertama menguatkan pendapatnya dengan dalil al-qur'a>n surat S}a>d ayat 29
كتاب انزلناه اليك مبارك ليدبروا اياته وليذكر اولو الالباب
" Inilah Kitab yang Aku turunkan kepadamu penuh dengan berkah suapaya kamu memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran"
Memperhatikan atau tadabbur adalah mengetahui apa-apa yang terkandung dalam al-qur'a>n baik yang terkait dengan hukum-hukum dan peringatan-peringatan. Perhatian tadi tentu tidak akan tercapai kecuali dengan memahami makna-makna yang terkandung dalamnya
Dasar selanjutnya adalah, ketika 'Ali ditanya, apakah Rasul Alla>h mengkhususkan kamu dengan sesuatu?, 'Ali menjawab, kami tidak mempunyai apapun kecuali mushaf ini atau seseorang yang diberi pemahaman tentang kitabnya.
Juga Nabi telah mendoakan Ibn 'Abba>s " ya Alla>h pahamkanlah ia terhadap ilmu agama dan ajarilah ia ta'wi>l". Juga tentang perkataan Ibn 'Abbas tentang kata "hikmah" dalam surat al- Baqarah 296
ومن يؤتى الحكمة فقد اوتى خيرا كثيرا
Kata "hikmah" dalam ayat tersebut berarti tafsir, yaitu memahami al-qur'a>n dan memahami al-qur'a>n adalah tidak terbatas pada al-tafsi>r bi al-manqu>l.
Adapun dasar yang digunakan oleh kelompok al-Mud{oyyiqu>n adalah hadith-hadith nabi yang memberikan ancaman bagi orang-orang yang menafsiri al-qur'a>n dengan akalnya. Diantaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Da>wu>d, al-Tirmi>dhi dan al-Nasa>'i :
عن جندب ابن عبد الله قال قال رسول الله ص. م. : من تكلم فى القران برأيه فاصاب فقد أخطأ. قا ابو عيسى هذا حديث غريب
"Sesungguhnya Nabi Saw bersabda : barang siapa yang berbicara tentang al-qur'a>n dengan ra'yu( akalnya), jika ia (merasa) benar, maka sungguh ia telah keliru"
Dan hadith yang diriwayatkan oleh Abu Da>wu>d :
عن ابن عباس رضى الله عنهما قال قال رسول الله ص. م.: من قال فى القران بغير علم فليتبوأ مقعده من النار. هذا حديث حسن صحيح
"Sesungguhnya Nabi Saw bersabda: barang siapa berbicara tentang al-qur'an tang ilmu pengetahuan, maka hendaklah ia mempersiapkan tempatnya di neraka"
Dan seorang mufassir yang menafsiri al-qur'a>n tanpa bersandar kepada apa yang telah disampaikan oleh nabi, maka ia termasuk orang yang berbicara tanpa ilmu. Inilah yang menjadi dasar pelarangan kelompok ini untuk menafsirkan al-qur'an dengan ra'yu.
Adapun kelompok moderat dalam menanggapi penggunaan tafsi>r bi al-ra'yi berpendapat bahwa hadi>th yang menunjukkan adanya pelarangan yang diriwayatkan oleh Abu Da>wu>d, al-Tirmi>dhi dan al-Nasa>'i :
عن جندب ابن عبد الله قال قالرسول الله ص.م. : من تكلم فى القران برأيه فاصاب فقد أخطأ
adalah d{o'if menurut sebagian 'ulama dalam salah satu perawinya yaitu Sahl ibn Abi Hazm. Dan hadi>th tersebut mempunyai makna, orang yang berkata tentang al-qur'a>n dengan pendapatnya dan hawa nafsunya tanpa bersandar kepada dalil-dalil kebahasaan kemudian menafsirkan al-qur'an, maka ia termasuk orang yang dikatakan dalam hadi>th tersebut.
Adapun hadi>th yang diriwayatkan oleh Abu Da>wu>d di atas, pengertiannya adalah larangan menafsirkan alqur'a>n tanpa didasari oleh ilmu yang mendukung terhadap penafsiran tersebut. Jadi yang benar dalam masalah ini adalah, apa-apa yang terkait dengan masalah penafsiran dalam alqur'an itu ada dua hal:
1. Sesuatu yang hanya bisa diketahui dengan Tauqif , seperti hakikat hal-hal yang samar, contohnya tentang kenikmatan di surga, macam-macam siksaan di neraka, sifat-sifat anjingnya Ash}a>b al-Kahfi serta jumlah mereka dan lain-lain. Itu semua hanya bisa dijelaskan oleh al-qur'a>n sendiri atau apa yang ditetapkan berdasarkan hadi>th nabi.
2. Sesuatu yang diketahui dengan dukungan bahasa Arab, pengetahuan tentang asbab al-nuzu>l, kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab dan hal-hal yang dibutuhkan dalam penafsiran. Bila hal-hal itu terpenuhi maka, mufassir tidak harus selalu menyandarkan penafsirannnya dengan batasan-batasan yang manqu>l.
Dari pemaparan pendapat para ulama diatas, penulis lebih cenderung kepada dimungkinkannya dan diperbolehkannya penafsiran bi al-ra'yi. Alasannya adalah, dalam hadith tentang ancaman neraka bagi penafsir yang tidak berdasarkan ilmu dalam penafsirannya, bisa dilogikakan bahwa jika sebuah penafsiran didasarkan pada ilmu yang mendukung penafsiran tersebut maka hal ini diperbolehkan. Inilah yang diungkapkan oleh Al- S{abuni dengan istilah tafsir bi al-ra'yi yang mah{muri' (Allah), jauh dari kebodohan dan kesesatan, sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dan uslub-uslubnya. Lawan dari penafsiran ini adalah tafsir bi al-ra'yi yang madhmu>m (tercela).
IV. Macam-macam Tafsi>r bi al- Ra'yi dan Contoh- contohnya
IV.1. Macam-macam Tafsi>r bi al-Ra'yi
Di antara kitab-kitab tafsir dengan ciri penafsiran bi al-ra'yi adalah ;
a. Mafa>tih al-Ghoib karya Fakhru al-Di>n al-Ra>zi
b. Anwa>r al-Tanzi>l Wa Asra>r al-Ta'wi>l karya a-Baidowi
c. Luba>b al-Ta'wi>l fi> Ma'a>ni al-Tanzi>l karya al-Kha>zin
d. Ghara>ib al-Qur'a>n karya al- Naisa>bu>ri
e. Ru>h al-Ma'a>ni karya Muhammad al-Alu>si
f. Irsha>d al-'Aqli al-Sali>m karya Abu> Su'ud
g. Al-S>}ira>t al-Muni>r karya al-Ka>tib al-Sharbini
h. Al-Bah{ru al-Muh}i>t karya Abu H{ayyan al-Andalu>si
i. Tafsi>r al-Jala>lain karya al-Suyu>t{i dan al-Mah{alli
Muhammad Tant{a>wi memberikan komentar tentang beberapa kitab tafsir yang termasuk katagori tafsi>r bi al-ra'yi tersebut di antaranya adalah ;
1. Tafsi>r al-Baidowi oleh Na{si>r al-Di>n bin Sa'i>d. Tafsir ini berhaluan ahl al-Sunnah wa al- Jama>'ah
2. Mafa>ti>h al-Ghoib li al-Ra>zi. Tafsir ini memberikan perhatian kepada penyangkalan terhadap pendapat orang-orang yang menyimpang dari agama. Beliau menggunakan jalan filasfat dalam tafsirnya.
3. Tafsi>r al-Kashsha>f (w. 538) oleh Mahmu>d ibn 'Umar al-Zamakhshari. Tafsir ini mempunyai karakteristik antara lain :
a. Tidak panjang lebar
b. Membahas segi balaghoh
c. Menggunakan model tanya jawab dengan kata-kata
ان قلت كذا- قلت كذا
4. Tafsi>r al-Alu>si oleh Muhammad al-Baghda>di (w. 1270) tafsir ini dianggap paling lengkap dan luas serta mendalam, karena menggabungkan pendapat 'ulama-'ulama salaf dan khalaf
Dalam surat al-Baqarah ayat 222 yang berkenaan dengan haid Allah berfirman :

IV.2. Contoh-contoh Tafsi>r bi al-Ra'yi
ويسألونك عن المحيض قل هو اذى فاعتزلوا النساء فى المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فاذا تطهرن فأتوهن من حيث امركم الله ان الله يحب التوابين ويحب المتطهرين
Imam Muslim meriwayatkan dalam Sah{i>h Muslim-nya tentang sebab nuzul ayat ini yang intinya, bahwa jika wanita Yahudi sedang haid, maka dia dijauhi dalam segala hal. Salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi, kemudian Allah menurunkan ayat di atas. Setelah turun ayat ini, Nabi bersabda " lakukanlah segala sesuatu terhadap mereka (istri yang sedang haid) kecuali bersetubuh". Kalangan Yahudi memberikan reaksi terhadap pernyataan Nabi tersebut. Mereka mengatakan bahwa Nabi melakukan penyimpangan terhadap tradisi mereka. Kemudian dua orang sahabat melaporkan reaksi orang-orang Yahudi tersebut kepada nabi, maka berubahlah wajah Nabi karena tidak enak mendengar reaksi tersebut.
Al- Razi membedakan antara kata "al-mah{i>d{" yang pertama dan yang kedua. Kata yang pertama berarti "al-h{aid{ " sedangkan yang kedua bermakna tempat haid. Kalau kata yang pertama dan yang kedua bermakna sama, maka artinya kita harus menjauhi wanita selama dia dalam masa haid. Tetapi kalau kita membedakan makna yang pertama dengan yang kedua, maka artinya yang dijauhi adalah tempat haidnya ( farj) untuk disetubuhi dan tetap bergaul dengan wanita yang sedang haid
Contoh tafsir al-Zamakhshari tentang surat al-Baqarah ayat 7 :
ختم الله على قلوبهم وعلى سمعهم وعلى ابصارهم غشاوة ولهم عذاب عظيم
"Alla>h telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka serta penglihatan mereka tertutup rapat dan bagi mereka adab yang besar"
Yang dimakasud ayat ini bukanlah Allah yang mengunci mati hati mereka. Karena menisbatkan sesuatu yang buruk kepada Allah adalah sesuatu yang buruk. Hal ini berdasar kepada firman Alla>h dalam Su>rat Qa>f ayat 29
وَمَا أَنَاْ بظلام لّلْعَبِيدِ
" Dan tidaklah Aku berbuat dhalim kepada hamba-hamba-Ku"
Juga dalam surat al-Zukhruf ayat 76
وما ظلمناهم ولكن كانوا هم الظالمون
" Dan Kami tidak berbuat dhalim kepada mereka, akan tetapi mereka mendhalimi diri mereka sendiri"
Ada tafsir-tafsir yang yang menggunakan al-Ra'yu, yang dilakukan oleh golongan Batiniyyah tetapi hal ini sangat jauh dari kebenaran. Seperti penafsiran mereka terhadap firman Allah dalam surat al-Naml ayat 16 :
وورث سليمان داود
Mereka memberikan pengertian pada ayat tersebut, bahwa sahabat Ali mewarisi kenabian dari Nabi sebagaimana nabi Dawud mewarisinya dari nabi Sulaiman. Juga mereka menafsiri Ka'bah sebagai Nabi, al-Ba>b adalah 'Ali, S{afa adalah Nabi dan Marwah adalah 'Ali, api Ibrahim adalah kemarahan Namrudh. Ini adalah tafsir bi al-ra'yi yang jauh dari kaedah-kaedah penafsiran
V. Kesimpulan
Tafsi>r bi al-ra'yi - di samping tafsir bi al-ma'thu>r yang merupakan sebuah keharusan karena sifat otentiknya - tidaklah dapat dipandang remeh apalagi dipersalahkan secara membabi buta. Karena berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan yang begitu dinamis dan berkembang pesat, yang mengharuskan kita berfikir dan mengkajinya sesuai dengan petunjuk al-qur'a>n sendiri, untuk kemudian membangun teori yang relevan dengan dinamika yang ada. Penggunaan akal dalam penafsiran yang dilarang adalah adalah penafsiran yang dicampur aduk dengan hawa nafsu. Tetapi tidak demikian dengan orang yang menafsirkan dengan kecerdasan dan kekuatan akalnya dengan diiringi dengan batasan-batasan bahasa yang ia kuasai dengan sempurna dan hal-hal lain yang telah disebutkan di atas. Ini sesuai dengan semangat al-qur'a>n yang mengharuskan kepada penganutnya untuk selalu bertadabbur dan menggunakan kemampuannya untuk menangkap pesan-pesannya. Juga karena al-quran yang digambarkan bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari apa yang terpancar dari sudut yang lain, dan tidak mustahil jika anda mempersilahkan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak dari apa yang anda lihat. Wa Alla>hu a'lam bi al-s{awa>b

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar